FacebookTwitter
Page 9 of 25« First...7891011...20...Last »

Sulam Alis Microblading 6D by Wiwi Lim (Candy Brows)

By on Nov 20, 2015 in Beauty, Diary

Sebenarnya gue agak trauma sama sulam alis gara-gara tahun 2013 kemarin sempat diiming-imingi sulam alis gratis sama tante kebelet eksis. Ceritanya doi menyulam 100 cewek di MOI (Mal Of Indonesia), Kelapa Gading lalu dapet rekor muri sebagai tante-tante yang berhasil menyulam alis cewek dalam sehari. Salah satunya gue. Karena sulamnya cuma sehari, jadi per orang cuma disulam selama 1,5 menit. Gue pikir enak cepet kelar, nggak perlu nunggu lama, gratis pula. Tapi, pas dicuci semuanya luntur dan alis kembali botak. Bangke banget tante-tante itu! Ya gitu deh, namanya juga gratisan. Belum tentu hasilnya beres! Udahlah lupakan soal tante-tante laknat yang haus prestasi itu. Sekarang kembali ke gue yang juga haus akan prestasi. Di bulan September 2015 kemarin, gue sempat diajak sama Adel buat sulam alis sama temennya yang bernama kak Wiwi Lim (Candy Brows). Katanya murah meriah. Cuma Rp1 juta termasuk retouch. Mumpung masih promo. Kalau udah nggak promo, harganya naik jadi Rp1,5 juta. Rp1,5 juta aja menurut gue masih tergolong murah untuk sulam alis karena setahu gue biasanya harganya lumayan najis. Paling murah itu Rp3 juta kalau nggak salah. Karena harganya miring, gue pun berniat buat coba. Apalagi udah dikasih lihat hasil-hasil sulamannya kak Wiwi dan hasilnya bagus. Ya udah, capcus deh! Gue pun sulam alis tanggal 17 September 2015 di kosannya kak Wiwi. Soal tempat sulam, kita bisa janjian mau sulam di mana. Dateng ke kosannya kak Wiwi bisa, minta kak Wiwi buat datang ke rumah kita juga bisa. Gue nggak sempat foto-foto sih gimana proses sulamnya. Yang jelas, pertama-tama alis kita digambar dulu sesuai dengan keinginan dan dirapihin bulu-bulunya. Lalu, dikasih anestesi selama setengah jam buat meredakan rasa sakit ketika digorok, eh disulam. Abis itu penyiksaan dimulai, deh! Seharusnya kalau udah dikasih anestesi, pas disulam kita nggak bakal merasakan sakit, tapi ada orang yang kulitnya sensitif...

Kisah Cina dengan Pribumi

By on Nov 16, 2015 in Diary

Gue bikin blog ini sebagai lanjutan dari blog Kenapa Orang Cina Nikahnya Sama Orang Cina Lagi?. Gue nggak menyangka sih blog tersebut jadi fenomenal banget hingga sempat menghasilkan lebih dari 100ribu views. Hahaha… Itu termasuk salah satu stats tertinggi gue selama hampir 1,5 tahun nge-blog. Kalau diuangkan dengan dikalikan kurs USD, gue udah bisa beli apartemen mewah, kebun binatang, bahkan kasino di Marina Bay Sands Singapura kayaknya. Kalau baca judul blog ini, pasti ada orang-orang berpikiran sempit yang berpikiran negatif. Sebelum mikir negatif, mending dibaca dulu aja. Hehehe… Selain mendapatkan pujian, peningkatan temen Facebook, jumlah likers di fan page, followers Instagram, Twitter, dan menerima beberapa pertanyaan di Ask.fm, gue juga menerima caci maki yang nggak mengenakan abis bikin blog fenomenal itu. Ada yang bilang artikelnya SARA. Hello, SARA dari mananya coba? Guma menjawab pertanyaan dari banyak orang selama ini. Serius, banyak yang penasaran mengenai hal ini. Kalau nggak banyak yang penasaran, nggak mungkin kan artikel itu dibaca sama banyak orang. Dan gue menjelaskan hal itu dari sudut padang gue sebagai orang Cina dan gue sama sekali nggak menyudutkan orang Cina atau pun pribumi. Tujuan utama gue bikin artikel itu adalah untuk membuktikan bahwa nggak semua orang Cina itu eksklusif dan hanya ingin bergaul dengan kaum mereka. Lalu, ada juga yang bilang gue nggak etis pakai kata ‘Cina’ karena dianggap menghina dan harus mengganti kata tersebut dengan ‘Tionghoa’. Apalagi, hal itu udah sesuai dengan Keppres 2014 yang ditetapkan oleh Presiden SBY pada zamannya. Jadi, nggak boleh pake kata Cina untuk keperluan publikasi apa pun di media cetak maupun elektronik. Lah, blog gue kan blog pribadi. Bukan media besar kayak Liputan 6, Kompas, atau Detik. Kalian kasih lihat blog ini ke Pak Joko Widodo, gue rasa dia cuma ketawa-ketawa. Kata Cina yang gue pakai sama sekali nggak ditujukan untuk menghina kaum...

Pentingkah Keperawanan Itu?

By on Nov 11, 2015 in Diary

Belakangan ini, gue sering main Ask.fm dan follow lumayan banyak seleb Ask. Seleb-seleb itu dapet pertanyaan banyak banget dari orang-orang yang nggak munculin nama (anonymous). Karena enak bisa pake fitur anon, mereka bisa tanya sepuasnya. Bahkan, tanya-tanya soal hal tabu pun nggak sungkan. Ada salah satu bahan obrolan yang suka ditanyain anon, yaitu soal keperawanan. Mereka tanyanya macam-macam kayak: Kak, masih perawan nggak? Kak, apa rasanya ML (making love)? Kak, kapan pertama kali melepas keperawanan? Sebelum nikah udah nggak perawan, ya? Kalau kamu punya pacar ternyata dia nggak perawan, kamu tinggalin nggak? Kak, cewek gue udah nggak perawan. Gue harus gimana? Cewek yang udah nggak perawan kayak barang bekas nggak menurut Kakak? Gue rasa nggak cuma di Ask.fm aja yang bahas soal keperawanan, tapi di berbagai forum pun gue rasa udah banyak dibahas. Gue pun jadi pengin ikutan bahas. Setelah bertapa selama bertahun-tahun, akhirnya gue memberanikan diri buat bahas ginian. Yang pertama soal tanya keperawanan cewek. Menurut gue, nggak etis banget kalau kita tanya-tanya soal keperawanan seseorang. Jangankan tanya ke orang nggak dikenal kayak di Ask.fm, tanya ke temen deket aja menurut gue nggak sopan. Kalau mau ditampar, coba aja tanya ke cewek yang baru kalian kenal ‘Halo namanya siapa? Masih perawan nggak?’. Seumur-umur, gue nggak pernah tanya ke temen-temen deket gue, dia masih perawan atau nggak. Karena keperawanan itu adalah privasi setiap orang. Hal itu adalah urusan dia sama Tuhan. Saking privasinya, kata orang sih, kita jadi nggak bisa bedain mana cewek yang masih perawan sama yang udah nggak perawan. Keluar darah atau nggak pas malam pertama bukanlah patokan yang tepat. Soalnya, selaput dara itu bisa robek karena olahraga berat atau kecelakaan. Dan ada juga cewek yang selaput darahnya elastis, nggak gampang robek. Lagian, buat apa kalian tau soal identitas selaput dara seorang cewek? Toh, hal itu juga...

Review L.A. Girl Matte Flat Velvet Lipstick

By on Nov 11, 2015 in Beauty, Diary, Review Produk

Gara-gara lihat Cicik fashion blogger Olivia Fabrianne pake lipstik warna hitam, gue jadi kena racun dan akhirnya cari lipstik sejenis itu di online shop. Hahaha… Tapi, gue nggak pengin pake yang warna hitam, gue lebih pengin pake yang warna biru atau hijau tua gitu. Setelah gue telusuri Instagram, gue ketemu lipstik L.A. Girl Matte Flat Velvet Lipstick warna blue valentine. Dengan lipstik ini, bibir kita bisa jadi cetar membahani kayak dajjal. Hahaha… Siap-siap aja dilihatin orang-orang sampe jaw drop kalau jalan di mal, kebun binatang, sekolah, rumah sakit, dan lain sebagainya. Karena orang-orang kan cuma menganggap bahwa lipstik yang etis itu warnanya kalau nggak merah, ya, pink! Dasar orang-orang kuno! Kembali aja ke zaman di mana Cleopatra masih hidup! Meskipun terlihat aneh, tapi gue suka banget sama lipstik ini. Kalau kalian udah kenal gue lama, pasti nggak heran kenapa gue suka banget sama lipstik ini. Ini hasilnya. Gue selfie pake lipstik itu di toilet Blitz Grand Indonesia. Bagus, ya, hasil selfienya! Soalnya lampunya banyak dan terang bingit. Kalau kata orang-orang, toiletnya cocok buat foto studio atau foto pre-wedding. Hahaha… Saking bagusnya, gue nggak perlu pake filter apa pun. Camera 360 mah lewat, Cuy! Dan abaikan aja alis gue yang masih hitamnya masih terlalu cetar karena gue baru aja me-retouch sulam alis gue. Nanti kalau udah lewat masa pengelupasan, gue bakal review soal sulam alisnya di blog ini, deh. Kalau pake lipstik biru gelap, tapi ada nuansa sedikit elektrik kayak begitu, kayaknya gigi berasa lebih putih, ya? Duh, gue jadi pengin cari warna lain lagi yang lebih membahana jadinya! Hehehe… Nah, kalau difoto malam-malam di luar ruangan, hasilnya jadi lebih gelap. Kalau di-zoom lebih dekat, barulah kelihat birunya. Tergantung mata batin masing-masing yang lihat, sih. Setelah jadi rebel karena pake lipstik super cetar membahana ini, gue pun membuat kesimpulan: Kelebihan:...

Kenapa Orang Cina Nikahnya Sama Orang Cina Lagi?

By on Nov 8, 2015 in Diary

Lah, emang salah? Gue cuma bisa jawab begitu kalau ditanya pertanyaan kayak begitu. Daripada membahas benar atau salah, gue bahas dulu kenapa gue bikin blog ini. Karena di search engine terms blog gue, banyak banget yang mencari jawaban atas pertanyaan ini. Blog gue kan suka banget bahas hal-hal yang berhubungan dengan kecinaan, jadi ketika mereka mencari jawaban, mereka malah nyasar di blog gue. Kasihan, ya, udah capek-capek buka blog gue ternyata malah nggak mendapatkan jawaban apa-apa. Udah gitu, banyak juga yang kirim komentar dan bertanya soal pernikahan beda ras dan sejenisnya. Banyak juga yang galau karena nggak bisa pacaran sama orang Cina karena dirinya pribumi. Padahal, di luar sana banyak juga kok orang pribumi yang akhirnya menikah sama orang Cina. Karena pada dasarnya jodoh itu kan pilihan manusia. Bukan dicomblangin sama Tuhan sejak kita masih di dalam kandungan. Kita bebas menikah sama siapa aja, bebas jika ingin bercerai, bebas jika ingin berpoligami, dan lain-lain. Mau jadi jomlo dan nggak menikah seumur hidup juga boleh. Semua pilihan ada di tangan kita. Meskipun gue belum nikah, tapi yang gue tahu sih, memilih jodoh itu nggak cuma berdasarkan keinginan sendiri, tapi banyak faktor lain yang harus dipikirin sebelum akhirnya menikah. Salah satunya faktor orangtua. Menikah itu bukan cuma menikahkan 2 orang, tapi juga 2 keluarga besar. Biasanya, orangtua ingin tetap mempertahankan tradisi atau adat istiadat di keluarga, jadi mereka lebih memilih untuk menikahkan anak mereka dengan seseorang yang rasnya sama. Biar nggak ribet nantinya. Begitu pula dengan orangtua Cina yang masih totok dengan tradisi yang mereka miliki. Mereka nggak mau tradisi di keluarga nantinya punah karena anak mereka menikah dengan seseorang yang berbeda ras dan memiliki tradisi yang juga berbeda. Meskipun di zaman modern seperti sekarang ini orang Cina udah nggak terlalu mengikuti tradisi dan adat istiadat, tapi tetep aja mereka berprinsip...

Everyday is No Beha Day!

By on Nov 5, 2015 in Diary

Gue punya temen yang suka banget nggak pake beha namanya Peggy. Bahkan, dia sering ke kantor nggak pake beha dan dia nutupin payudaranya pake tanktop atau kemben yang cukup tebel. Katanya, itu nyaman banget. Serasa di surga. Dulu, gue nggak ngerti apa enaknya lepas beha karena gue selalu pake beha, bahkan tidur pun gue masih pake beha. Sama kayak temen gue si Uthie yang nggak masalah nggak punya BB (BlackBerry) asal masih bisa pake BH. Soalnya, kalau nggak pake beha, payudara kan jadi gondal-gandul nggak jelas arahnya. Kata orang-orang sih, lebih bagus nggak pake beha karena beha dianggap sebagai penyebab kanker payudara, apalagi beha yang berkawat. Makanya, setiap setahun sekali ada peringatan yang namanya ‘No Bra Day’, di mana semua cewek dianjurkan buat melepas beha seharian. Perayaan tersebut diadakan demi mencegah kanker payudara. Tapi, ada juga yang bilang bahwa itu cuma mitos dan beha tetap harus dipake supaya payudara nggak turun kayak cewek-cewek di suku pedalaman yang nggak mengenal beha. Di balik semua itu, gue tetep bersyukur dengan adanya beha karena kalau tanpa beha, nggak kebayang deh, betapa risihnya kita pas mau keluar rumah. Masa tutupin payudara pake daun atau rambut kayak zaman Adam dan Hawa? Apalagi, gue belum pede jika harus tampil bak cewek-cewek suku pedalaman yang oke-oke aja waktu keluar rumah tanpa beha sekalipun. Waktu bulan Juli 2015 kemarin, gue kan udah resign dari kantor dan waktu gue lebih banyak dihabiskan di rumah ketimbang di luar rumah. Perlahan-lahan gue mengurangi ketergantungan gue sama beha. Awal-awal sih, gue lepas beha cuma pas mau tidur. Gile deh, tidur gue berasa langsung nyenyak banget soalnya nggak ada yang ngeganjel, meskipun belum terbiasa. Bekas-bekas tanda beha sekitar punggung pun berkurang banyak. Karena merasa enak, akhirnya gue mencoba buat nggak pake beha seharian di rumah dan ternyata gue makin keenakan. Hahaha… Punggung...

Buat yang Suka Minta Gratisan, Baca, ya!

By on Nov 5, 2015 in Diary

Semua orang pasti suka sama gratisan, termasuk gue. Sekaya apa pun orang itu, kalau dikasih gratisan kayaknya nggak bakal nolak, deh. Waktu gue kerja di kantor majalah, gue sering dapet gratisan, entah itu makanan, tiket konser, buku, CD, atau apa pun. Tapi, setelah dipikir-pikir, itu nggak sepenuhnya gratis karena gue membayar hal itu dengan tulisan yang diterbitkan di majalah. Itu yang disebut sebagai simbiosis mutualisme. Kadang, gue juga suka terima gratisan sih dan senengnya bukan main. Pantesan badan sempet melar kayak pejabat yang suka korupsi. Ada juga beberapa produk yang menawarkan gratisan, tapi kita harus ikut undian atau ikut kuisnya dulu. Kalau menang, barulah kita bisa dapetin reward-nya. Wajar aja kalau kalian mau dapat gratisan dengan cara seperti itu. Namanya juga usaha dan itu sama sekali nggak merugikan orang lain. Gue juga masih suka kok ikutan kuis. Apalagi buat mengasah jiwa kompetitif gue. Cieileh… Di balik jiwa kompetitif gue, sebenarnya ada tersimpan hal lain, yaitu gue pelit karena gue masih berdarah Cina. Hahaha… Kalau bisa dapat gratisan, ngapain bayar! Jadi, mending usaha dapetin gratisan dengan ikutan kuis dulu. Makin dewasa, gue makin sadar bahwa usaha seperti itu lebih berkelas ketimbang minta gratisan tanpa usaha apa-apa. Contohnya, ada saudara atau temen yang baru buka resto, terus  kita minta makan gratis sama dia atau minta diskon gede. Menurut gue, yang kayak begitu justru kurang ajar banget. Siapa pun yang pernah buka usaha, jualan, atau nerbitin karya pasti pernah merasakan hal ini. Dulu gue juga suka begitu. Suka banget minta gratisan atau diskon di mana-mana. Tapi, sejak gue terbitin buku pertama kali tahun 2010, gue jadi ngerti bahwa hal itu nggak etis. Gue bikin buku dengan perjuangannya yang berat. Cari ide terus-terusan, bergadang buat nulis, nge-print tebel-tebel, terus foto kopi banyak-banyak supaya bisa dikirim ke banyak penerbit, dan lain-lain. Waktu, otak, mental...

Bumbu Bali dan Menu Lunch di The Holy Crab Gunawarman

By on Oct 31, 2015 in Diary, Food Porn

Sebelumnya, gue pernah review Holy Smokes yang merupakan salah satu resto di grup Ersons Food. Sekarang, Ersons Food bikin sesuatu yang baru di restonya yang lain, yaitu The Holy Crab yang terkenal banget dengan hidangan lautnya (kepiting dan udang). Sekadar mengingatkan, The Holy Crab didirikan pada Februari 2014 lalu dengan mengusung konsep Louisiana Seafood. Maksudnya, kita bisa makan seafood dengan asyik tanpa pake piring dan alat makan lainnya. Kalau sering main Instagram, pasti bakal sering temuin anak-anak kekinian makan di The Holy Crab pake celemek dari plastik supaya bajunya nggak kecipratan saos kepiting. Saos kepiting yang terkenal di sana adalah Cajun Sauce dan Garlic Pepper Sauce yang punya 4 tingkat kepedasan (mild, medium, spicy, dan holy moly). Selain tata cara makannya yang unik, The Holy Cran juga menyajikan resto yang cozy, nyaman, bersih, dan luas. Bisa ajak orang se-RT kalau makan di sini. Di menu baru kali ini, mereka mengusung konsep Discovering The Authentic Taste of Bali. Pastinya, bakal bikin kita jadi makin kangen sama makanan laut di Bali beserta bumbu-bumbunya! Duh, jadi pengin pergi ke Bali! Kedua menu khas Bali yang disajikan adalah Blue Crab (Ranjungan) dan River Prawn (Udang Galah). Blue Crab memiliki warna yang berbeda dari kepiting biasanya, yaitu kebiru-biruan dengan bercak putih pada tempurungnya. Dagingnya empuk, padat, proteinnya tinggi, dan rendah lemak. Duh, rasanya pengin makan banyak-banyak! Kayaknya nggak bakal gemuk! Sedangkan River Prawn didatangkan dari Sumatera dan Kalimantan, memiliki ukuran yang besar dibandingkan udang jenis lainnya. Rasanya gurih dan manis. Kedua menu tersebut bisa dinikmati bersama 2 pilihan bumbu Bali, yaitu Bumbu Genep dan Sambal Matah. Bumbu Genep diracik dengan menggunakan 12 jenis bumbu dan rempah-rempah, sedangkan Sambal Matah menggunakan bawang merah dan cabe rawit sebagai bahan utama dan dipadukan dengan 4 bahan lainnya. Kedua bumbu Bali itu diracik sendiri oleh Albert Wijaya selaku...

Page 9 of 25« First...7891011...20...Last »
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy