FacebookTwitter
Page 7 of 25« First...56789...20...Last »

Dihipnotis Pelayan Nasi Campur di Gang Gloria Glodok

By on Feb 19, 2016 in Diary

Beberapa waktu lalu sebelum Shincia gue sempat main ke Glodok sama Cik Peggy, tapi baru sempat bikin blognya sekarang. Maklum, gue kan sibuk bingit soalnya udah jadi artis internasional. Karena waktu itu Glodok lagi menyambut Shincia, penampakannya pun jadi kayak begini. Serasa kayak di negeri CINA. Eh, Tiongkok aja, deh, biar nggak di-bully sama orang-orang primitif yang sensitif sama kata Cina. Hahaha… Cina Cina Cina… Baru aja sampe tapi perut udah keroncongan dan terasa kosong bak hati abege yang perlu diisi kasih sayang. Akhirnya gue sama Cik Peggy mampir ke Pempek Eirin 10 Ulu yang tenar banget itu. Ketenarannya kira-kira beda tipis sama Justin Bieber gitu, deh. Kalau kata Cik Peggy sih, dulunya dagangan pempek ini cuma berupa gerobak. Bukan ruko kayak sekarang. Jualan pempek aja bisa jadi tajir, apalagi kalau korupsi harta negara!   Yang waktu itu kami pesan adalah pempek kapal selam, pempek lenjer kecil, pempek keriting, dan pempek kulit. Rasanya gimana? Mancaapp banget, Bray! Menurut gue sih, ini adalah pempek paling enak di kawasan Glodok. Pempeknya garing, renyah, ikannya berasa, bukan ikan campuran abal-abal, dan ukurannya lumayan gede. Btw, itu pempek yang di foto gue udah dipotong-potong jadi lebih kecil. Aslinya sih lebih gede lagi. Dan yang nggak kalah penting, kuahnya terasa banget cukanya. Apalagi kalau tambah sambal ijonya. Lebih mantap lagi, Bray. Abis makan pempek, kami pun tak lupa minum es jeruk murni yang segarnya aduhai. Gerobak es jeruk murni ini bertebaran di sepanjang Glodok. Kalian bisa minum es jeruk murni yang diperas langsung dari tangan si abang. Harganya cuma Rp 8 ribu. Kalau bawa Rp 1 miliar, kamu bisa beli es jeruk murni berserta alat buat peras jeruk, gerobak sampai abangnya. Abis menyegarkan tenggorokan, kami pun langsung keingetan buat mampir ke Kopi Es Tak Kie yang old school dan hits. Tapi, kami nggak tahu jalan. Hahaha… Dengan kekuatan Sailor Moon, akhirnya...

5 “Kebohongan” Kopi Instan yang Perlu Kalian Tahu

By on Feb 16, 2016 in Diary

Kata orang di luar sana, sebaiknya kita nggak minum kopi instan karena nggak baik untuk kesehatan dan karena banyak kebohongan di dalamnya. Siap-siap aja bakal terkeZut karena bukan hanya berpengaruh terhadap kesehatan kamu, tapi juga kebahagiaan kamu. Kebohongannya kira-kira kayak begini:   1. Kopi Instan Ternyata Nggak Mengandung Antioksidan   Katanya, kopi kan mengandung antioksidan tinggi yang baik untuk mencegah penuaan dini, mencegah kanker, mencegah stroke, dan lain-lain. Tapi, antioksidan nggak terdapat di kopi instan, cuma terdapat di kopi super mahal yang pake embel biji-bijian itu. Nggak tahu deh, itu bener atau nggak. Yang jelas sih, penggemar kopi instan kan mengonsumsi kopi instan tujuan utamanya supaya nggak ngantuk dan lebih efektif. Kayaknya ada antioksidan atau nggak di kopi instan, bukan suatu hal yang penting, deh. Kalau gue pribadi sih, gue lebih memilih mengonsumsi makanan atau minuman lain yang mengandung antioksidan, selain kopi. Misal teh hijau yang gue seduh sendiri di rumah. Lah, itu teh hijau aja yang kita seduh di rumah aja merupakan teh hijau instan yang bikinnya gampang banget! Terus kenapa nggak diklaim sekalian dibilang bohong karena nggak ada antioksidannya?   2. Kopi Instan Diolah dengan Tidak Alami   Katanya, banyak zat kimia yang terlibat sangat kopi instan diolah. Nggak seperti menyeduh kopi segar, kopi instan telah diciptakan sedemikian rumit agar dapat dinikmati dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Kopi instan memakan banyak sekali zat kimia yang jika dipaparkan terdengar sangat mengerikan. Banyak bahan pengawet yang digunakan untuk campuran kopi yang membuat kopi instan tahan lama. Kayak yang tadi gue bilang sebelumnya. Teh hijau seduh aja instan. Terus produk apa lagi yang kalian konsumsi di rumah, tapi nggak instan? Oatmeal aja yang sehat banget itu instan, susu instan, dan lain-lain. Hampir semua produk yang kita pakai itu instan dan pakai bahan kimia atau pengawet, kok. Emang sih bagus-bagus aja minum kopi BIJI...

Minum Es Kopi Vietnam Bareng Kak Uung di Olivier, yuk!

By on Feb 9, 2016 in Diary, Food Porn

Weekend kemarin (dua hari sebelum Shincia), gue ajak Kak RG ngopi-ngopi cantik di Olivier, Grand Indonesia dalam rangka cobain es kopi Vietnam yang lagi hits itu. Pastinya, Kak RG sudah baca blog gue sebelumya yang juga berhubungan dengan kopi, yaitu blog Gue Ngerti Perasaan Jessica Wongso. Gue bingung deh, meskipun dia sudah baca, tapi dia sama sekali nggak ngeri atau takut diracuni. Kalau dia tenang-tenang aja, gue kan jadi nggak tega buat kasih racun. Upsss… Lalu, mampirlah kami ke Grand Indonesia pagi-pagi buta sekali, yaitu jam 11 pagi. Eh, kalau dipikir-pikir nggak pagi-pagi buta amat, ya! Soalnya jam segitu mal sudah buka, kok. Tapi, tetap aja terlalu pagi buat perempuan yang pernah jadi kalong kayak gue. Kami sengaja datang pagi-pagi soalnya banyak yang bilang tempatnya rame bingit. Antriannya panjang dan es kopi Vietnamnya cepat habis! Daripada sudah capek beli tiket pesawat murah di pegipegi.com cuma buat main ke Grand Indonesia, tapi nggak bisa minum kopi fenomenal itu, gue mendingan berkorban dengan cara bangun pagi! Abis gue upload foto itu di media sosial, orang-orang bilang baju gue bagus dong. Hahaha… Duh, jadi seneng. Okelah, lupakan pujian sesa(a)t itu. Marilah kita fokus minum es kopi Vietnam. Begitu masuk ke sana, kami minta duduk di ruangan non smoking room. Karena, gue kan nggak suka merokok. Sukanya jualan rokok. Si mbak-mbak PR Olivier pun mengantarkan kami ke ruangan outdoor yang merupakan non smoking room. Ruangannya asri, indah, elegan, dan sedikit hangat karena sudah mau siang. Lumayan buat bikin badan jadi agak tan. Kalau ruangan smoking room-nya (in door) kayak begini. Dan, inilah saat yang ditunggu-tunggu! Karena, es kopi Vietnam gue akhirnya datang juga. Bentuk es kopinya, wah, menggoda abis! Rasanya pengin gue bawa pulang dripper-nya buat dijual lagi di Asemka. Kalian tinggal nungguin kopinya jatuh ke gelas. Nunggunya nggak lama, kok. Cuma tiga tahun. Makanya kopi ini...

Gue Ngerti Perasaan Jessica Wongso

By on Feb 5, 2016 in Diary

Sebagai anak gaul, gue rasa kalian tahu soal cerita Jessica yang taburin sianida di es kopi Vietnam-nya Mirna hingga Mirna tewas. Gue rasa normal banget kalau kalian nyalahin tindakan Jessica yang sudah seenak jidat hilangin nyawa anak orang. Hilangin nyawa anak kucing aja dosanya sudah kayak abis korupsi! Coba deh bayangin kalau Mirna itu adalah anak, istri, atau saudara kalian. Kalian pasti gemes, pengin ancurin, dan bakar mukanya si Jessica. Gue sempat mikir, sebenci-bencinya gue sama orang, kayaknya gue nggak bakal tega bunuh dia, deh. Ah, emang dasar si Jessica aja yang psikopat! Kak, gue ludahin makanan orang yang gue sebel aja nggak tega! Gue pernah bilang kayak gitu ke Peggy. Iyalah, ludahin makanan orang aja nggak tega, apalagi bunuh orang. Eh, beneran lho. Sampai sekarang, di dalam otak gue sama sekali nggak pernah ada pikiran buat bunuh orang. Kalian mungkin menilai gue sadis, kasar, mukanya seram, dan lain-lain, tapi percayalah bahwa gue bukan orang seperti itu. Kalau nggak percaya, belah aja duren di Mangga Besar. Waktu kena kasus sama sebuah institusi yang merk-nya enggan disebut itu, gue aja sama sekali nggak pernah kepikiran buat bunuh si oknum. Padahal, gue gondok setengah mati! Tapi, tiba-tiba pikiran gue mulai mengarah ke masa lalu yang menurut gue cukup kelam buat diceritain. Gue jadi keingetan sama salah satu cerita pendek di buku pertama gue, Air Mata Ibuku dalam Semangkuk Sup Ayam. Di cerita pendek itu, gue ceritain soal cewek yang berencana membunuh mantan pacarnya pakai racun yang ditaburin di kopi. HAHAHA…. Gue sendiri bingung kenapa gue bisa bikin cerita fiksi macam sinetron Indonesia itu! Sinetron apa aja yang sudah pernah gue tonton hingga gue nekat nulis kayak begitu sampai diterbitkan jadi buku dan sempat beredar di Gramedia. Pas gue baca lagi buku lawas gue itu, gue jadi geli-geli sendiri gimana gitu. Hahaha…...

Permintaan Maaf dari Mariska Tracy – Part 2

By on Jan 30, 2016 in Diary

Kemarin kan gue pernah bikin blog soal permintaan maaf. Nah, di blog itu kan gue janji mau bikin lanjutannya. Kalian dari kemarin sudah kepo berat kan pengin tahu gue mau minta maaf sama siapa? Hahaha… Meskipun Hari Raya Lebaran masih lama banget, tapi gue ikhlas kok kalau minta maafnya sekarang aja. Karena, gue sudah melukai banyak merk yang tadinya nggak bisa gue sebutin satu per satu. Soalnya, zaman sekarang serba salah banget kalau harus sebut merk. Bisa-bisa nanti malah di-bully lagi. Pertama-tama, gue pengin ucapin maaf ke sebuah KAMPUS tercinta, yaitu kampus Kwik Kian Gue Business School (IBII) yang beberapa hari lalu mengalami musibah kebakaran. Gue merasa bersalah karena nggak bisa bantu memadamkan api di sana. Soalnya harus kerja. Hiksss…  Coba kalau gue ada di sana, pasti kebakaran nggak akan terjadi karena api takut sama gue. Muka gue kan serem. Kayak setan Cina. Tapi, keesokan harinya pas weekend, gue sempat mampir ke sana kok buat lihat keadaan. Untungnya sih, kampus gue masih terlihat baik-baik aja. Nggak tahu deh gimana dalamnya. Gue juga mau minta maaf sama Adisti karena gue sempat kesal sama dia! Abisnya gue mau pesan shampoo kering sama dia, eh shampoo-nya malah abis! Kan rese. Minta dimakan banget lo, Kak! Tak lupa meminta maaf kepada Kak Cumi di kantor karena gue suka ngata-ngatain dia jomlo. Eh, itu bukan typo, ya! Emang bener tulisannya kayak begitu. JOMLO. Cek deh, di KBBI. Pengin minta maaf sama Ariel karena gue suka ketawain dia. Soalnya, dia sebut ‘kol goreng’ jadi ‘kubis goreng’. Sebenarnya artinya sama aja, sih. Cuma gue suka geli sama orang yang anti mainstream-nya kelewatan kayak dia. Mau minta maaf sama Kak Any juga karena belum sempat kirim naskah buku ketiga sampe lengkap. Abis si Anu, tuh, nggak bisa ditemuin. Sebel. Minta digigit. Mohon ampun juga sama Kak Peggy...

Endorphin: Kafe di Kemanggisan dengan Harga Mahasiswa

By on Jan 27, 2016 in Diary, Food Porn

Beberapa waktu lalu, gue, Peggy, dan Kak RG mampir ke kafe Cik Selphie Usagi buat review makanan di sana. Kebetulan banget, letak kafenya di Kemanggisan dan dekat sama kantor gue (Kebon Jeruk). Meskipun gue sudah jadi preman di kawasan Kebon Jeruk, tapi jujur aja gue kurang menguasai jalan di Kebon Jeruk, Kemanggisan, dan sekitarnya. Kalau kata Cik Selphie, kafenya dekat banget sama kampus BiNus. Waktu gue dengar kampus BiNus, gue langsung tercengang, padahal gue nggak pernah kuliah di sana. Gue langsung sadar kenapa gue tercengang. Soalnya… ehmm, bilang nggak, ya? OH, YA! Soalnya, hopeng gue si Alen dulu kuliah di sana! Gue baru inget! Hahaha… Dan ngomong-ngomong soal jalan Kemanggisan, dulu gue pernah datang ke sebuah acara di sana. Acaranya busyet deh, super duper “keren” cekalih. Di sana gue di-service dengan sangat baik. Sampai-sampai gue ketagihan isi acara di sana. Soalnya gatel pengin bully-bully acaranya lagi! Eh, ngapain gue ngomong ngelantur kayak begini, ya? Balik lagi deh ke topik kafe Cik Selphie yang namanya Endorphin. Kafe ini dibilang baru juga nggak sih, soalnya sebelumnya sudah ada Endorphin Caffeine Bar di Tanjung Duren, Jakarta Barat yang menyediakan aneka kopi. Bulan Desember 2015 kemarin, mereka buka cabang lagi di Kemanggisan dengan Endorphin Eatery & Brew yang nggak cuma jualan kopi, tapi juga jualan berbagai macam makanan dan minuman dengan konsep eastern dan western yang cocok untuk anak muda. Tempat dan dekorasinya juga anak muda banget. Cocok banget buat makan enak sekaligus nongkrong! Apalagi di sana juga ada fasilitas Wi-Fi gratis. Jadi, kafe ini memang konsepnya Jakarta Selatan banget, meskipun lokasinya di Jakarta Barat. Kelihatan dari tempat dan menu-menu yang ditawarkan. Tapi, harganya super terjangkau. Harga mahasiswa banget! Lalu, makanan dan minuman apa aja yang kami pesan? 1. Macaroni Blackpaper Mushroom     Bisa dibilang, ini adalah menu yang cocok untuk vegetarian soalnya nggak mengandung daging sama sekali. Hidangan ini...

Enoshima: Kuliner Bandung Super Laknat

By on Jan 23, 2016 in Diary, Food Porn

Sudah dengar kan kisah gue jadi pembicara di The Pink Road Show dengan tema “The Blessings of Being Single”? Abis kelar dari acara itu, gue, Maeya, dan kawan-kawan mampir ke restonya sepupu Maeya. Nama restonya Enoshima. Namanya kok berbau Jepang, ya? Tentu. Soalnya, kata “Enoshima” sendiri berasal nama pulau kecil yang terletak di Kanagawa, sebelah selatan Tokyo yang terhubung oleh jembatan sepanjang 600 meter. Penduduk Tokyo dan Yokohama yang sudah merasa penat dengan kesibukan mereka, gedung-gedung pencakar langit, dan kemacetan, biasanya mereka singgah ke Enoshima yang memiliki suasana mirip Hawaii. Jadi, kalau kalian makan di Enoshima, kalian bakal merasa sedang makan di Hawaii dengan menu istimewa. Gue suka sih interior dan suasana di sana. Tempatnya instagenic banget, cozy, dan homy. Waktu kami dijamu di sana, Maeya kasih makanan banyak banget! Gue sampai nggak bisa berkata apa-apa. Hahaha… Cuma bisa bilang, “LAKNAT” banget nih menu! Sudah enak, banyak pula! Apa aja yang gue makan di sana? 1. Enoshima Big Breaky (Rp 50 Ribu)   Ini adalah menu breakfast paling best seller di Enoshima. Kalian bisa merasakan menu breakfast ala raja dan ratu jika memesan menu ini karena isinya lengkap. Ada sosis, ham, roti, baked bean, kentang, coleslaw, dan telur setengah matang. Telor setengah matangnya meleleh di mulut ketika dimakan. Cocok dimakan bersama rotinya yang agak keras karena dipanggang. Bahan-bahan lainnya seperti sosis, baked bean, kentang, dan coleslaw-nya juga turut bikin menu ini makin terasa yummy! Menu breakfast ini sangat mengenyangkan. Jika kamu nggak mau makan pagi terlalu banyak, kamu bisa bagi dua dengan teman kalian.   2. Combo Platter (Rp 45 Ribu)   Pengin makan camilan yang super lengkap? Kalian bisa mencoba menu combo platter yang best seller ini! Isinya ada sayap ayam, jamur, poprock chicken, dan kentang goreng. Sayap ayamnya nggak cuma digoreng seperti biasanya tapi juga dilumuri saos...

Permintaan Maaf dari Mariska Tracy

By on Jan 22, 2016 in Diary

Sesuai janji Kak Uung, kali ini gue mau bahas kenapa gue harus minta maaf dari hati yang terdalam. Sebelumnya, gue pengin ceritain dulu soal latar belakang masalahnya yang cukup panjang. Gue ceritain latar belakangnya supaya kalian tahu bahwa gue benar-benar tulus. Tulus di sini beda banget sama bapak Tulus yang biasa menyanyikan lagu “Teman Hidup”. Okelah langsung aja gue bahas satu per satu dengan banyak cerita yang saling berhubungan. Sabtu, 16 Januari 2016 kemarin di Gramedia, Trans Studio Mal Bandung, gue diundang sama hopeng gue, cik Maeya Zee buat jadi pembicara di The Pink Road Show dengan tema “The Blessings of Being Single”. Sekalian promo buku Maeya yang baru dirilis judulnya Thirty One Guys Thirty One Lessons. Jadi, di buku itu, kita bakal belajar mengenali dan merasakan 31 cowok. Seperti apa bentuknya, aromanya, hingga kebusukannya. Gue berangkat ke Bandung hari Jumat malam naik travel Day Trans (nggak salah kan nyebut merk di sini? Nanti di-bully lagi. Ups!) dari Lippo Mal Puri pukul 20.00 WIB. Malam banget, ya, Bray! Maklum deh, gue kan harus kerja dulu. Malam itu, sambil nunggu jam berangkat tiba, gue sempat ngopi-ngopi cantik di Starbucks pesan caramel macchiato. Ya ampun, kok gue sebut merk lagi, ya? Gue takut banget di-bully, nih. Kemarin aja gue sudah menyamarkan merk, tapi tetap aja di-bully. Sedih, deh. Karena gue berangkatnya di malam Sabtu, jadi jalanan ke Bandung itu macetnya laknat banget! Meskipun sudah minum kopi di tempat mahal, tapi tetap aja gue nggak bisa menahan rasa kantuk yang bergelora dalam jiwa. Untung aja gue duduk di belakang dan mengambil jatah kursi 4 orang di mobil travel, jadi gue bisa tidur selonjoran, deh. Sudah tidur selonjoran berkali-kali sampai ileran, pas bangun belum nyampe juga! Berkali-kali lihat hape, terus chat sama Kak RG dan beberapa teman, tapi nggak bisa sering-sering soalnya kondisi baterai...

Page 7 of 25« First...56789...20...Last »
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy