FacebookTwitter
Page 6 of 26« First...45678...20...Last »

Dear Mantan, Maafkan Aku yang Dulu

By on May 1, 2016 in Diary

Pala lo!   Ngapain juga gue minta maaf sama mantan, orang gue nggak punya mantan. Hahaha… Tapi, gue lagi ngomongin orang-orang yang mantannya banyak banget itu, terus mereka bikin meme “Dear Mantan, Maafkan Aku yang Dulu“? Emangnya kalian punya salah apa sama mantan? Mentang-mentang dulunya jelek jadi harus minta maaf? Hahaha… Lagipula, kalian sudah berubah jadi secakep apa pun, belum tentu mantan masih peduli. Yang ada sih, malah jijik dan kalian dianggap belum move on. Kelihatan banget bahwa kalian masih inget banget sama mantan, minta banget dilihat perubahannya sama si mantan, terus berharap si mantan pengin balikan. Ah, nggak gitu juga kali. Apalagi kalau kalian berubahnya karena pakai aplikasi Camera 360 atau Beauty Plus. Hahaha… Orang yang sudah move on, nggak bakal keingetan mantan sama sekali. Nggak bakal inget mukanya kayak gimana, juga bakal males omongin soal mantan, termasuk minta maaf pakai meme. Jadi, kalau ada orang yang suka banget ngomongin masa lalu termasuk mantan, baik itu cuma sebut namanya, berarti doi belum move on. Nah, orang-orang kayak begini yang perlu disunat. Dengan kata lain, sembuhin dulu deh, penyakit belum move on-nya, sebelum cari pacar baru. Karena, nanti pacar barunya bakal kasihan banget. Kerjaannya bakal ngomel-ngomel sepanjang hari. Sebenarnya, untuk membuktikan kalian sudah move on atau belum, itu gampang banget! Caranya bukan dengan bikin meme pathetic kayak yang gue omongin sebelumnya. Tapi, caranya adalah dengan nggak melakukan apa-apa. Eh serius deh, kalian sudah move on, sudah bahagia atau belum, kalian nggak perlu kasih bukti apa-apa. Karena, kalau kalian masih butuh pengakuan dari mantan atau orang sekitar bahwa kalian sudah move on, berarti sebenarnya kalian belum move on. Kalian masih berharap si mantan menyesal dan minta balikan. Cara simpel supaya move on adalah cukup dengan jalani hidup kayak biasa tanpa doi. Itu aja cukup, kok. Kalian bisa mulai dengan menghapus...

Jadi Kekinian dengan Lipstik Purbasari Color Matte

By on Apr 24, 2016 in Beauty, Diary, Review Produk

Sebenarnya sih, Lisptik Purbasari Color Matte sudah tren beberapa bulan lalu, jadi kalau gue baru pakai sekarang berarti gue termasuk anak kurang gaul atau kekinian. Tapi, nggak apa-apa deh telat daripada nggak gaul sama sekali. Maklum, soalnya gue memang butuh diakui sebagai anak gaul. Meskipun sudah agak telat, tapi lipstik ini masih dicari banget kok sama perempewi-perempewi di Indonesia yang katanya cinta banget sama produk lokal. Oke, langsung aja deh gue bahas lipstik yang satu ini. Begitu denger namanya, gue langsung underestimate. Kok, namanya Purbasari? Desa banget nggak, sih? Jangan-jangan warnanya purba a.k.a jadul banget! Tapi, begitu gue browsing lipstik Purbasari, ternyata pilihan warnanya banyak dan nggak termasuk purba, kok! Termasuk ucul di mata gue. Kalau kata Peggy, temen gue, cari lipstik Purbasari agak susah. Susah bukan karena tokonya harus masuk gang sempit, tapi nggak semua tempat jual lipstik ini. Pas kami mampir ke Guardian di Lippo Mal Puri aja, stoknya nggak ada. Menurut SPG di sana, lipstik ini memang lagi banyak penggemarnya. Dengan kerja keras Peggy dan nyokapnya, akhirnya doi berhasil mendapatkan lipstik Purbasari di Toko Kosmetik Raya, Tangerang. Gila, ya, cari lipstik jauh bener. Cari jodoh aja nggak sejauh itu. Hahaha… Meskipun sudah ketemu tempat beli lipstik Purbasari, tapi nggak semua nomor lipstik tersedia lengkap di sana. Jadi, gue pilih warnanya random dan dikira-kira aja. Gue whatsapp Peggy, bilang mau titip lipstik Purbasari nomor 85 dan 86. Soal cocok atau nggak di bibir, itu urusan belakangan aja. Yang penting bisa jadi anak kekinian dengan lipstik Purbasari. Langsung aja, ya, gue coba satu per satu. Mulai dari yang nomor 85 aja yang disebut Safir. Pas diolesin ke tangan, warnanya lumayan merah kayak cabai, tapi begitu diolesin ke bibir, warna merahnya nggak terlalu mencolok. Lebih ke merah agak pink. Cocok buat kalian yang pengin cobain warna merah, tapi masih...

Hidup Sehat dengan BON Homemade Granola

By on Apr 24, 2016 in Diary, Food Porn, Review Produk

Gue punya temen namanya Hendry Lam. Body fat-nya cuma 9%. Dengan kata lain, body-nya ideal banget untuk ukuran cowok dan tentu aja perutnya six pack tak terkendali. Kalian tahu sendiri kan susahnya bikin perut six pack! Lebih susah bikin perut six pack ketimbang bikin seribu candi untuk gebetan. Pastinya, tubuh ideal kak Hendry nggak lepas dari kerja kerasnya selama ini. Selain rajin berkunjung ke tempat gym. doi juga rajin makan makanan sehat a.k.a eat clean dari hari Senin sampai Kamis. Cheating-nya cuma dari hari Jumat sampai Minggu. Cheating sekalian nge-date katanya. Salah satu makanan sehat yang kak Hendry konsumsi adalah granola. Saking cintanya doi sama granola, doi pun bikin bisnis homemade granola dengan nama BON Homemade Granola bareng kak Nani Fernandez. BON Homemade Granola produksi kak Hendry terbuat dari campuran rolled oats, kacang almond yang sudah dihancurkan, biji sunflower, biji pumpkin, kismis, madu, dan bahan makanan sehat lainnya. Lengkap banget kan isinya! Dengan kata lain, kalian nggak perlu beli bahan-bahan makanan sehat secara terpisah. Biaya makan sehat pun jadi lebih murah. Packaging BON Homemade Granola seperti ini. Ada yang 250 gram dan 70 gram. Buat melindungi granola supaya tetap fresh, kak Hendry pakai zipper bag supaya granola lebih gampang disimpan kembali dan nggak masuk angin. Buat yang belum pernah lihat bentuk granola, kayak begini bentuknya. Sekilas, campuran bahan granolanya terlihat sama semua, tapi kalau diperhatikan lebih lagi, komposisi bahannya seimbang banget, lho. Baik itu rolled oats, biji pumpkin, biji sunflower, kismis, almond, dan lain-lain, semuanya ada di setiap comotan. Nggak kayak granola merk lain yang lebih banyak rolled oats-nya, sedangkan bahan lain cuma dikasih seiprit. Kalau nggak percaya, nih buktinya. Cara makannya gampang banget. Tinggal dicomot, terus dimasukin ke mulut. Rasanya enak banget! Nggak hambar kayak makanan sehat pada umumnya. Soalnya, ada campuran madu dan kismis yang bikin granola...

Aroy Mak Mak: Kerupuk Kulit Babi Homemade

By on Apr 17, 2016 in Diary, Food Porn, Review Produk

Aroy Mak Mak di sini artinya bukan emak-emak atau ibu-ibu, tapi  artinya enak banget dalam bahasa Thailand. Temen gue, si engkoh-engkoh bernama Andry Ho pakai nama itu buat dijadiin brand kerupuk kulit babinya. Karena Koh Andry sangat baik hati dan tidak sombong, doi pun endorse gue kerupuk kulit babi Aroy Mak Mak. Gue sih seneng banget di-endorse kerupuk kulit babi soalnya kulit yang enak bukan cuma kulit ayam, tapi juga kulit babi. Dengan munculnya Aroy Mak Mak, tentu aja kalian nggak perlu repot-repot cari kerupuk kulit babi sampai ke Bali. Kalian tahu nggak, kenapa kita harus makan kerupuk kulit babi? Karena makan kerupuk kulit babi lebih baik daripada jadi koruptor. Hahaha… Kalau nggak percaya, tanya aja sama engkong Soekarno. Lalu, sampailah berbungkus-bungkus kerupuk kulit babi Aroy Mak-Mak di rumah gue. Soal proses pengiriman, kalian bisa pilih sendiri, mau pakai paket JNE atau Gojek. Kalau buru-buru, kalian bisa pakai Gojek. Gue suka sama packaging-nya. Plastiknya ketutup rapat dan bikin kerupuk kulit babinya nggak masuk angin. Repot kan kalau masuk angin kulit babinya harus minum Tolak angin atau dikerok. Di bungkusnya juga ada stiker gambar babi pink yang ucul bingit. Jadi, kalau kerupuk kulit babi Aroy Mak-Mak dijadiin oleh-oleh buat teman, pacar, atau keluarga, nggak bakal malu-maluin. Kalau menurut gue, kerupuk kulit babi Aroy Mak-Mak cocok juga buat dijadikan kado Valentine. Kesannya unyu, sweet gimana gitu mentang-mentang stikernya warna pink. Hihihi… Isinya juga nggak kalah ucul jika dibandingkan dengan packaging-nya. Ada yang lurus sampai keriting. Karena packaging-nya sempurna, kualitas kerupuk kulit babinya juga tetap terjaga dengan baik, apalagi kerupuk kulit babi ini emang sengaja dibuat secara homemade. Jadi, nggak perlu khawatir teksturnya bakal berubah atau terasa alot. Pas gue makan, rasanya enak bingit! Nggak kurang asin atau terlalu asin. Gurih dan garingnya juga pas. Sekali makan nggak mau berhenti, padahal makannya...

Custom OPPAI Snapback from @quotenation.id

By on Apr 13, 2016 in Diary, Fashion, Review Produk

Kak Uung adalah manusia biasa yang suka banget di-endorse. Kali ini, Kak Uung di-endorse custom snapback sama Kak Dennys (@quotenation.id). Langsung aja deh, doi tanya ke gue, mau bikin snapback yang tulisannya apa? Karena gue lagi suka banget sama OPPAI, jadi gue minta snapback-nya ditulis “OPPAI” aja, sekaligus ada gambar teteknya. Soalnya, OPPAI kan bahasa Jepang yang berarti tetek. Hahaha… Kak Dennys pun saranin ke gue supaya warna snapback-nya merah dan kuning biar ngejreng kayak hoodie OPPAI yang gue pernah gue pakai. Kalau mau lihat hoodie-nya, kalian bisa masuk ke sini. Proses pembuatan snapback-nya cepet banget. Request hari ini, besok udah langsung jadi snapback-nya dan sudah siap dikirim. Warbiyasak! Seperti ini deh custom OPPAI snapback buatan @quotenation.id. Gimana menurut kalian? Gue sih suka banget sama custom snapback dari @quotenation.id. Soalnya, gue jadi bisa mengekspresikan diri semau gue lewat quote yang ditulis di snapback. Bukan cuma snapback, tapi kalian juga bisa tulis quote semau kalian di kaus. Kalau pengin tanya-tanya atau pesan custom snapback-nya, kalian bisa langsung langsung capcus ke: QuoteNation.ID Instagram: @quotenation.id LINE: @qap6835q (pakai @) Foto:...

Kelasi: Makan Es Krim dalam Batok Kelapa

By on Apr 11, 2016 in Diary, Food Porn

Menjelang musim panas yang sudah menusuk kolbu, alangkah baiknya kita makan es krim kelapa. Biar nggak biasa, makan es krimnya harus pakai batok kelapa, dong. Sukur-sukur berasa kayak lagi liburan di Bangkok. Makanya, hari Minggu kemarin gue sama Kak RG main ke Kelasi, Mal Kelapa Gading. Tempatnya kecil dan nggak luas, jadi kita nggak bisa nongkrong lama-lama di sini, tapi suasananya homey. Mungkin karena interiornya dibuat lucu. Lumayan buat bagus-bagusin feed Instagram. Kelasi merupakan kependekan dari kelapa isi. Jadi, es krim kelapa di sini disajikan di dalam batok kelapa dan ditambahkan berbagai macam toping. Kalian bisa milih berbagai macam menu es krim batok kelapa di sana. Bahkan, kalian bisa kreasiin sendiri pengin makan es krim kelapa sama toping apa aja. Jika pengin pesan minuman, kalian bisa pesan minuman ini. Gue pesan Choco Boat (Rp 28 ribu) dengan tambahan toping mochi berry (Rp 5 ribu). Choco Boat ini isinya ada es krim kelapa, sticky rice, dan peanuts yang tentu aja disajikan di dalam batok kelapa. Penampilannya tentu aja cantik bingit. Bolehlah buat penuh-penuhin hashtag #foodporn Instagram kalian. Gue sih suka banget sama menu pilihan gue yang ini. Soalnya, perpaduan antara es krim kelapa, parutan kelapa dari batok kelapa, ketan hitam, dan kacang-kacangan cocok banget. Ditambahin toping mochi berry juga masih nyambung. Manisnya pas, nggak berlebihan. Isi topingnya juga nggak berlebihan. Kalian cuma perlu hati-hati aja pas makan mochinya. Soalnya, ada serbuk tepungnya. Kalau kehirup, bisa batuk-batuk. Tapi, batuk-batuknya nggak sampai TBC, kok. Tenang aja. Sementara itu, Kak RG pilih menu Choco Cruise (Rp 35 ribu) dengan tambahan toping mochi berry (Rp 5 ribu) dan mochi melon (Rp 5 ribu). Choco Cruise itu lebih meriah daripada Choco Boat yang gue pesan. Karena, menu ini terdiri dari es krim kelapa, choco candy, choco stick, milo balls, choco sauce, dan regal. Penampakan Choco...

Pertanyaan “Kapan Nikah?” Masih Dianggap Sopan oleh Angkatan Tua

By on Apr 10, 2016 in Diary

Menjelang Imlek, Lebaran, atau hari raya apa pun, biasanya pertanyaan “kapan nikah?’ jadi pertanyaan paling najis ketika lagi kumpul keluarga. Yang sudah punya pacar aja bete banget dengernya, apalagi yang masih jomlo. Kalau jomlo, mau nikah sama siapa coba? Pertanyaan itu bikin bete soalnya, masalah mau nikah atau nggak adalah urusan pribadi yang sepertinya nggak perlu diumbar ke semua orang. Ada orang yang menganggap nikah itu ibadah, penting banget, dan harus banget dilakuin karena kalau nggak nikah, bisa gatel-gatel. Ada juga yang menganggap nikah itu nggak penting dan emang nggak mau nikah. Toh, kalau nggak nikah juga nggak bakal langsung mati atau masuk neraka. Buat yang sudah lumayan lama pacaran, tapi belum nikah-nikah juga, tentu aja mereka juga punya alasan sendiri. Karena, nikah itu nggak gampang, harus mikirin kestabilan duit dan emosional juga. Jadi, ngapain sih harus ikut campur segala? Emang situ yang bayarin bujet nikah atau biaya kehidupan rumah tangga mereka nantinya? Begitu pula dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan setelah menikah, seperti “kapan punya anak?”, “kapan punya anak kedua?”, “kapan punya cucu?”, dan sebagainya. Nggak sekalian aja tanya kapan mati? Dan buat yang masih jomlo karena emang masih pengin sendiri atau karena belum ketemu orang yang cocok, gue rasa itu adalah hal yang wajar. Semua orang juga pasti pernah alamin hal itu. Jadi, daripada maksa orang supaya cepat-cepat punya pacar, terus malah bikin orang itu salah milih pacar, bahkan menikah dengan orang yang salah, mendingan urus aja kehidupan pribadi masing-masing. Buat kalian yang termasuk generasi nggak tua-tua amat dan generasi millennial, mungkin kalian sudah tahu bahwa pertanyaan “kapan nikah?” itu emang nggak sopan. Karena kalian sudah bersentuhan dengan meme “kapan nikah?” di Path yang sangat menyentuh kolbu, seperti ini. Nah, buat yang sudah sering lihat dan baca meme kayak begitu kan jadi sadar sendiri bahwa tanya “kapan nikah?” adalah pertanyaan...

Review Hada Labo CC Cream Ultimate Anti Aging

By on Apr 4, 2016 in Beauty, Diary, Review Produk

Seiring bertambahnya usia, kalau memilih produk kecantikan, gue pasti milih produk yang mengandung anti aging ketimbang whitening. Bukan karena gue Cina, jadi sudah putih, terus nggak butuh whitening lagi. Tentu aja gue masih butuh produk yang bisa mencerahkan kulit karena matahari di Jakarta sangatlah JAHAP, kalau kata Bang Ipul. Tapi, untuk saat ini gue lebih fokus pada anti aging. Karena, gue ingin mengubah destiny. Ciyeee, kayak iklan apa gitu, ya! Jadi, gue memilih Hada Labo CC Cream Ultimate Anti Aging, ketimbang Hada Labo CC Cream Ultimate Whitening. Gue pilih CC cream yang warnanya royal ivory, ketimbang elegant beige. Soalnya, lebih cocok buat kulit gue yang putih bak orang Cina. Ukurannya cuma 25 gram, tapi biasanya sih BB atau CC cream lama habisnya. Malah kadang nggak abis-abis, lalu bingung gimana cara habisinnya! Dari awal, gue agak bingung, apa sih bedanya BB cream dan CC cream? Kayaknya sama aja, deh. Tapi, ternyata ada bedanya dikit nih, Kak! BB cream yang dikenal sebagai blemish balm atau beauty balm adalah bentuk ringan dari foundation dengan rangkaian formula pelembab, SPF, dan antioksidan dengan tingkat coverage medium. Karena kandungannya, kalian tidak perlu menggunakan pelembap atau tabir surya saat menggunakan krim ini. Karena coverage yang lebih ringan daripada foundation, saat kalian menggunakan BB cream, kulit kalian nggak akan terlihat seperti memakai topeng, jadi cocok untuk dipakai sehari-hari dengan makeup ringan. Sedangkan CC cream diunggulkan sebagai versi yang formulanya merupakan penyempurnaan dari BB cream. CC cream punya beberapa fungsi yang membuat kalian makin jatuh cinta. CC berarti colour control, colour correcting atau complexion care. Artinya, redness (bintik-bintik merah, bekas jerawat) di wajah akan lebih teratasi karena kandungan dari CC cream lebih mampu menyamarkan redness di kulit wajah. Dengan formula yang menutrisi kulit dan mampu membantu mengatasi problem di kulit, CC cream dipercaya dapat menutrisi, mencerahkan, memperbaiki tekstur dan...

Page 6 of 26« First...45678...20...Last »
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy