FacebookTwitter
Page 25 of 27« First...1020...2324252627

Rambut Baru Kak Uung: Normal Banget!

By on Oct 4, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Kira-kira, tiga minggu yang lalu, gue mengalami ‘kecelakaan’ poni yang menyebabkan gue trauma dengan gunting dan benda tajam lainnya. Poni gue yang tadinya mirip bulan sabit mendadak berubah jadi kayak batok kelapa. Padahal, dari dulu gue selalu ahli dalam menggunting poni sampai-sampai pernah kepikiran buat buka salon, tapi khusus buat potong poni. Dan itu menyebabkan gue harus menunda cat rambut, karena poni gue ancur banget! Kayaknya nggak etis aja kalau harus cat rambut, padahal potongan rambut lagi nggak oke. Meskipun poni lagi dalam masa kehancuran, tapi gue tetap berusaha tawakal. Sekarang, poni gue udah agak bagusan. Kalau kata orang-orang sih kayaknya berkat kekuatan shampoo kuda Mane and Tail. Gue pikir, ini adalah saat yang tepat untuk cat rambut lagi demi benerin warna rambut gue yang udah hancur berantakan kayak hidup para koruptor. Dan warna rambut terbaru gue yang sekarang terinspirasi dari Kak RG. Nama warna rambutnya mahogany copper brown, merk Loreal Paris. Kalau kata Kak RG, warna itu adalah warna rambut pertama dia saat pertama kali cat rambut. Saat itu, Kak RG masih belia banget karena baru lulus SMA (pertengahan 2002). Walaupun masih tergolong muda, namun dia udah jadi bantjik salon. Pencapaian tersebut kira-kira mirip kayak prestasi Mark Zuckerberg yang sukses di usia muda karena mendirikan Facebook. Warnanya, terlihat lebih gelap dan ‘normal’ jika dibandingkan dengan warna rambut gue yang sebelumnya. Ya, sekali-kali bolehlah terlihat lebih normal. Kalau lagi normal, biasanya langsung banyak yang naksir sama gue. Suwer. Beh, kalau gue bergaya normal dari dulu, gue pasti udah pacaran sejak duduk di bangku TK. Dengan kekuatan bulan, gue berhasil ngecat rambut gue sendiri. Seadanya gitu, deh. Tadinya, gue pengin minta bantuan Kak RG, tapi takutnya dia sibuk. Maklum aja, sebentar lagi dia bakal jadi CEO dan pake kartu nama yang tulisannya ‘I’m CEO, bitches!’. Tengil banget, kan! Setelah cat...

Foto Gahul Wajib Posting!

By on Oct 3, 2014 in Diary

Kalau kalian nggak pernah foto kayak begini di media sosial, berarti kalian kurang gahul! Percuma deh punya hape canggih yang kameranya depan belakang dan mega pixel-nya tinggi. Mendingan kalian pake hape jadul yang bisa buat nimpuk anjing, terus anjingnya langsung wafat saat itu juga. Emangnya, foto apa sih yang bisa dibilang gahul menurut anak zaman sekarang?   1. Foto di Pantai yang Masih “Perawan” Kayaknya, udah nggak zaman foto-foto di pantai yang mainstream, kayak Ancol. Karena pantainya udah nggak terlalu bagus. Udah terlalu rame dan istilah kasarnya, tuh pantai udah nggak “perawan”. Sekarang, orang lebih bangga foto di pantai yang masih perawan. Pantainya belum terlalu rame. Air lautnya masih jernih, biru banget dan pasirnya masih putih banget. Kalau main ke sana, bawaannya betah banget, pengin jemuran sampe kulit kayak orang Papua. Salah satu pantai yang masih bagus banget adalah pantai Padang-Padang, Bali. Gue pernah foto di sana dong. Foto di sana nggak harus pake bikini, kok. Biasanya, cewek-cewek suka pake maxi dress, tapi yang punggungnya kelihatan atau halter neck gitu. Tapi, kalau maxi dress yang gue pake sih bener-bener menutup aurat dan sopan banget. Ditambah lagi kacamata hitam yang bikin penampilan gue mirip kayak orang buta. Bodoh amat, deh. Yang penting gahul, Mamen!   2. Foto Pake Bikini Udah gahul karena sering main ke pantai, masa nggak pernah foto pake bikini? Kalau nggak pernah foto pake bikini, berarti masa muda kalian cupu! Meskipun belum terlalu pede sama bentuk badan, cobalah untuk berpose dengan bikini dari belakang. Jujur aja, dalam hal ini gue juga merasa kurang gahul karena nggak pernah foto pake bikini. Maklum aja, selain karena nggak punya bikini, gue belum pede sama bentuk badan gue. Gue pengin pake bikini pas perut gue udah 6 pack. Jadi, tungguin aja perut gue 6 pack. Untuk menghibur kalian, gue persembahkan foto...

Timbangan Canggih Pengukur Dosa

By on Sep 28, 2014 in Diary

Baru aja kelar body pump, kak Hellen langsung ajak gue dan kak Susi selfie di depan kaca gede buat adu pantat. Si Hellen emang hobi ajak cewe-cewe selfie adu pantat. Kayaknya udah hampir seribu cewek yang diajak foto kayak begini sama dia. Tujuannya cuma satu, yaitu buat ukur hasil squat dan body pump. Tapi, dia selalu KZL sama selfie adu pantatnya karena pantat dia nggak ada tonjolan naiknya. Padahal, dia paling total body pump dan squat-nya. Nah, dari foto adu pantat di atas, kalian pasti bisa tebak dong mana gue, Hellen, dan Susi? Latihan gue setiap pagi di rumah itu nggak ada tai-tainya jika dibandingkan latihan body pump kemarin. Beh, pegelnya terasa banget kayak abis jadi kuli bangunan di gedung pencakar langit. Tapi, otot langsung kenceng banget, Kak! Kalau rutin dilakukan, bukan tidak mungkin tubuh perkasa impian bagaikan Agnez Mo bisa didapatkan dengan mudah. Setelah kelar ikutan kelas body pump, kami bertiga ikutan kelas RPM. Itu lho kelas main sepeda di tempat. Gue pikir gampang karena cuma ngayuh sepeda berkali-kali, tapi kenyataannya nggak semudah yang dibayangkan. Meskipun cuma sepedaan, tapi gerakannya nggak bisa sembarangan karena ada instrukturnya. Ini nih yang gue nggak terlalu suka sama tempat gym. Sekalinya diatur sama instruktur, rasanya nggak bebas banget. Kalau udah nggak kuat, pengin banget lambai-lambaikan bendera putih tanda menyerah. Selama 30 menit, kami diajarkan mengayuh sepeda dengan gaya-gaya yang berbeda. Kecepatannya pun juga berubah-ubah. Ada masa di mana kami harus mengayuh sepeda pelan-pelan, cepet-cepetan terus pelan lagi. Begitu terus sampe bosen. Rasanya kayak lagi sepedaan dari Taman Sari ke Gajah Mada. Deket banget, tapi nggak pernah sampe. Gue lelah banget, Kak! Begitu kelas berakhir, rasanya pengin banget ngelus dada. Lega, coy! Tapi, begitu gue turun dari sepeda, gue jalan dengan kaki setengah pincang. Pantat gue juga sakit karena kebanyakan duduk di atas...

Gelato Greendale: Es Krim Rendah Lemak

By on Sep 21, 2014 in Diary, Food Porn

Kalau kata Ivan, adek gue, makan es krim Gelato Greendale ini nggak bakal bikin gemuk. Soalnya, kalau es krim lain itu kebanyakan pake krim sebagai bahan dasarnya, tapi Gelato Greendale pake bahan dasar susu low fat. Udah gitu, es krim ini juga nggak pake bahan pengawet dan pemanis buatan. Ketika mendengar hal itu rasanya pengin banget makan es krim ini segentong. Bicara soal latar belakang Gelato Greendale, ini adalah bisnis yang didirikan Ivan bareng temen SMP-nya, Rio di awal bulan September 2014. Ternyata, mereka udah lama belajar bikin es krim. Sementara, kakaknya sama sekali nggak bisa bikin es krim. Bisanya cuma makan. Miris. Menurut mereka, kelebihan  Gelato Greendale dibandingkan es krim di lapak lain adalah selain sehat dan rendah lemak, rasa yang ditawarkan juga lebih banyak. Ada 13 pilihan rasa yang mereka jual di sini, yaitu: Strawberry Yoghurt Choco Peanut Tiramisu Banana and Wheat Lemon Biscuit Oreo Sweet Cream Rock Salt Coffee Avocado Ovomaltine Apple Yoghurt Rhum Raisin Green Tea Tapi, nggak semua rasa dijual dalam satu hari. Biasanya mereka rolling rasa-rasanya, kayak poligami gitu. Hari ini pacaran sama siapa, besok pacaran sama siapa. Dalam sehari, kurang lebih ada 6 rasa yang dijual. Nah, pas gue dateng ke sana, gue penasaran banget sama rasa Ovomaltine! Karena makanan itu kan lagi high demand dan hit banget! Sayangnya, kata Rio, es krim rasa itu udah diborong habis sama anak sekolahan tanpa sisa. Masya Allah, anak sekolah macam apa yang kerjaannya cuma makan Ovomaltine? Jadi, tentu aja es krim Ovomaltine adalah produk best seller di Gelato Greendale. Selain itu, banyak juga kaum penyuka gym yang suka pesan rasa Banana and Wheat (emang kebetulan, di atas ada gym centre). Konon katanya mereka suka pesan ini sebelum ngegym karena selain rasanya enak, es krim tersebut juga mengandung banyak protein. Tau sendiri kan, kalau protein...

Menstruasi Kak Alay

By on Sep 14, 2014 in Diary

Gambar di atas adalah kejadian di mana gue hampir membunuh kak Adis sewaktu emosi gue memuncak karena datang bulan. Bagaimana ceritanya? Kita kembali ke tahun 2011 di mana semua ini dimulai. Pada hari Selasa itu gue sedang mengalami datang bulan, sebuah rutinitas berbahaya yang harus gue alami sebulan sekali. Waktu itu rasanya emosi gue jadi labil bingit, rasanya pengen bunuh orang. Dan di hari yang suram itu, kak Adis tiba-tiba ngomong sesuatu yang bikin gue jengkel banget. Emosi gue pun langsung memuncak. Gue ambil gunting besar di meja dan langsung samperin kak Adis. Lalu, sambil teriak kenceng, gue angkat tuh gunting dan… nggak, nggak… just kidding, teman-teman. Gue ini anak alim kok bukan pembunuh. Percaya deh. Datang bulan a.k.a menstruasi adalah momok yang harus dialami oleh setiap cewek, kurang lebih selama 40 tahun semasa ia hidup. Karena, biasanya, cewek itu pertama kali datang bulan di umur 12 tahun dan berakhir (menopause) di umur 50-an. Dan kayaknya, pembaca di sini udah pada tau datang bulan itu apaan, jadi gue nggak perlu jelasin lagi soal itu. Meskipun kalian adalah cowok tulen yang nggak akan pernah datang bulan, tapi gue yakin kalian pasti mengerti tentang hal ini. Tapi, sebagai cowok tulen, kalian mungkin nggak tau betapa ribetnya cewek kalau lagi datang bulan. Bahkan, udah ribet ketika 7 atau 14 hari sebelum datang bulan. Masa ini disebut PMS (Pra Menstruasi Syndrome). Serba salah kalau jadi cewek. Datang bulan ribet. Kalau nggak dateng bulan, otomatis kulit jadi cepet tua dan nggak bisa punya anak. Sebagai perempuan tulen yang mengalami menstruasi setiap bulannya, gue sih nggak pernah mengalami masalah ribet yang berkaitan dengan fisik sejak pertama kali datang bulan sampai sekarang. Beda sama temen kantor gue si Mayseeta. Dia itu kalau dateng bulan, pasti jadi alay banget! Sebutan ‘datang bulan alay’ di kantor itu tenar...

Disney Princess Pajama

By on Sep 10, 2014 in Fashion, Narsis

Gue suka banget tidur pake piyama karena nyaman banget. Bahkan, gue pernah jalan-jalan ke mal pake piyama beneran karena menurut gue itu nggak etis. Serasa abis bangun tidur, terus langsung main ke mal. Gahul banget gitu! Seolah-olah mal-nya itu punya bapak gue. Tapi, waktu gue main ke MOI, Kelapa Gading kemarin, gue nggak pake piyama lagi, kok. Soalnya otak gue udah agak waras. Buat kalian yang ketagihan pake piyama di tempat umum kayak gue, kalian bisa coba pake pajama shirt. Kebetulan, pajama shirt yang gue pake kali ini full of Disney Princess prints yang bisa bikin kita kembali teringat dengan masa kecil. Ternyata, pajama shirt sempat hip di koleksi spring/summer 2013, lho. Tiba-tiba gue berasa keren kayak fashion stylist karena tau soal beginian. Kalian pasti kagum sama pengetahuan gue soal fashion! Padahal gue tau hal ini dari temen gue, Kak Alex. Hahaha.. Karena gue juga pengin memberikan kesan childish dan quirky, gue pun memadu-padankan pajama shirt itu dengan skort biru, black knee length socks dan sepatu disko penuh glitter. Kaos kaki hitamnya berguna juga buat nutupin bulu kaki gue yang belum sempat di-wax. Super sekali, kan? Kalau buat urusan rambut, gue pake wig panjang bergelombang, sekaligus ada poninya karena biar kelihatan agak princess gimana gitu. Sekalian buat nutupin poni gue yang abis mengalami “kecelakaan” kecil. Buat yang pengin tau, ada apa dengan poni Kak Uung? Jangan kuatir karena gue juga bakal nge-blog soal poni gagal ini, kok. Kalian tunggu aja tanggal mainnya, ya! Terus, gue juga iseng pake bulu mata palsu supaya kesannya lebih perempuan gitu. Karena cuma main ke mal, gue pun pake bulu mata palsu yang bisa dibilang paling pendek dan bentuknya juga simpel. Jadi, pas dipake jatuhnya nggak lebay kayak bulu mata badainya Kak Syahrini. Bulu mata jenis ini cocok banget buat tipe mata monolid eyelid kayak gue.   Dolly Wig: Belle Wonderful Hair “Rosie” Lash: Lavie Lash Pajama Shirt: Whateveryoursize Blue Skort: Shoppers_Shopp Black Knee Length Socks: Akari_Shoppu Disco Glittery Shoes: Beli di Kak Asri Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama...

Memanjangkan Rambut dengan Shampoo Kuda Mane and Tail (Part 2)

By on Sep 6, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Sejak potong rambut model jamur tahun 2012 kemarin, petualangan gue dalam hal memanjangkan rambut jadi nggak pernah ada habisnya. Kisahnya mirip kayak film The Hunger Games. Ada The Hunger Games Mockingjay – Part 1 dan The Hunger Games Mockingjay – Part 2. Sebelumnya, mungkin kalian pernah baca kisah gue pake Shampoo Kuda Mane and Tail. Nah, itu Part 1-nya tulisan ini. Nah, ceritanya belum kelar sampe di situ. Sekadar mengingatkan, pertama kali gue beli shampoo kuda, belinya titip sama temen gue si Sherly lewat salah satu online shop. Hasilnya, rambut gue lumayan panjang, tapi rambut gue jadi kasar banget. Terus, shampoo-nya habis dan gue belum beli lagi yang baru karena gue masih ragu, apakah gue harus lanjut pake shampoo kuda atau nggak. Di saat yang sama, gue juga sempet rapihin rambut di salon bersama Kak RG tanggal 12 Juli 2014 kemarin dengan hasil potongan rambut setjantik ini. Kemudian, di hari yang Fitri, tanggal 28 Juli 2014 kemarin, gue sempet jalan-jalan ke mal Taman Anggrek bareng Kak RG dan Mastini. Di sana, nggak sengaja ketemu booth yang jualan shampoo kuda jenis Herbal Grow dengan harga yang cukup miring, yaitu Rp 160 ribu. Wih, lebih murah daripada yang kemarin Sherly beli (Rp 170 ribu). Tanpa pikir panjang, gue langsung beli! Meskipun gue cukup trauma karena shampoo itu udah bikin rambut gue makin kasar. Tapi, setidaknya gue masih punya harapan besar dalam hal memanjangkan rambut. Rupanya, Sista yang jualan di booth mal Taman Anggrek itu juga jualan secara online di Instagram. Si Sista cantumin nama web dan semua kontak yang bisa dihubungi di kartu nama yang dipajang di booth. Gue pikir, kalau misalnya nanti shampoo kudanya udah mau habis, gue bisa pesan lagi sama dia. Kalau kalian tertarik, kalian bisa cek langsung webnya di www.urbanindostore.net. Pas malemnya, shampoo itu langsung gue pake...

GADIS Magazine School is Cool!

By on Aug 23, 2014 in Diary, Fashion, Narsis

Tanggal 21 Agustus 2014 kemarin, kantor gue, Femina Group kembali mengadakan halal bihalal di gedung Nyi Ageng Serang, Rasuna Said. Halal bihalal itu tradisi meminta maaf dan memberi maaf yang biasanya dilakukan setelah bulan Ramadhan dan Lebaran usai. Ibaratnya kalau di lingkungan Cina Kota, kita mengenal istilah Cap Go Meh (2 minggu setelah Imlek). Nah, di halal bi halal itu ada lomba dress code yang harus diikuti setiap majalah. Kak Asri yang merupakan editor, sekaligus ibu pencetus dress code di GADIS (majalah tempat gue mencari sesuap nasi) pun awalnya kebingungan buat nentuin dress code apa yang mau dipake. Denger-denger sih, dia sampe nggak bisa tidur. Dua hari sebelum hari-H, Kak Asri pun kepikiran supaya kami pake seragam sekolah. Apa pun itu. Mau seragam sekolah asli, atau pun seragam-seragaman khayalan sendiri juga boleh. Yang penting dasarnya kemeja putih gitu. Kenapa harus seragam sekolah? Karena GADIS itu kan majalah anak SMP dan SMA, jadi kami harus bergaya bak anak sekolah supaya bisa merasa lebih dekat dengan kehidupan pelajar Indonesia. Idenya udah mirip kayak yang diomongin di debat capres aja. Orang-orang pun cemas dan hampir kebakaran jenggotnya karena menurut mereka dress code-nya agak susah. Kecuali gue. Gue sih tenang-tenang aja mamen karena gue pernah kok jalan-jalan ke mal pake kostum seragam. Hahahaha.. Karena gue ahli kostum dan punya banyak atribut di rumah, gue pun diminta buat berinisiatif meminjamkan atribut ke teman-teman yang membutuhkan. Nampaknya, jasa penyewaan barang-barang Kak Uung sudah bisa diresmikan bulan depan. Tunggu launching-nya aja, ya!         Kabar gembiranya! Tim GADIS pun menang dan berhasil membawa pulang vocher buat nail art dan potong rambut anak-anak senilai jutaan rupiah. Hadiahnya cukup “nggak etis”, ya! Nggak tau deh nanti pakenya gimana. Yang penting menang....

Page 25 of 27« First...1020...2324252627
Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy