FacebookTwitter
Page 25 of 26« First...10...2223242526

Romantic Ulzzang in Lace and Tulle

By on Aug 11, 2014 in Fashion, Narsis

Halo teman-teman yang kusayangi. Masih ingat kalau Kak Uung janji mau upload lebih banyak foto, selain cerita ngalor-ngidul nggak jelas? Nah, kali ini Kak Uung kembali menepati janjinya dengan bikin fashion blog. Di postingan yang sebelumnya, 5 Kg of Happiness, gue bilang kalau berapa pun berat barbel yang lo orang angkat, lo orang tetep bisa jadi perempuan tulen? Dan gue pun bisa membuktikannya. Kak Uung tetap bisa jadi perempuan tulen ketika jalan-jalan di Gading Walk, Mal Kelapa Gading. HAHAHAHA…. Sebenernya gue nggak terlalu suka pake bolero kalau bentuknya terlalu polos. Kesannya biasa banget, tapi kalau ada variasinya kayak kera lace dan banyak mutiaranya kayak begini, menurut gue lebih bagus. Kesannya perempuan banget. Biar makin perempuan, bolehlah di-mix and match sama rok tulle kembang-kembang warna krem. Perempuan banget, beda dari keseharian Kak Uung, tapi nggak menghilangkan gaya Kak Uung yang emang suka banget pake rok tulle. Udah gitu, sepatu platform hitam dan kaos kaki yang ada motifnya sedikit ini, menurut gue sih cocok banget buat dipadu-padankan sama rok tulle. Kesannya vintage gimana gitu. Karena udah perempuan banget, rasanya gue harus menggerai rambut gue buat menimbulkan kesan romantic. Tapi, berhubung rambut gue belum terlalu panjang dan tipis, lebih bagus kalau ditambahkan hair clip panjang dan bergelombang kayak begini. Tas yang gue pake emang leopard. Kesannya agak daring gitu, tapi menurut gue nggak masalah sih, karena bentuknya masih perempuan banget. Dan warna leopard bag-nya masih senada sama rok tulle-nya.   Hair Clip: Belle Wonderful Hair Cammomile Black Pearl Bolero: @preloved_room Tulle Skirt: Whateveryoursize Socks: Naughty Devany Black Platform Shoes: Adorable Projects Leopard Bag: Beli di...

5Kg of Happiness

By on Aug 8, 2014 in Diary

Sejak duduk di bangku kuliah, gue udah suka banget angkat barbel buat bentuk bicep dan tricep. Tapi, nggak rutin sih. Kalau lagi mood aja. Kalau lagi nggak mood, gue lebih memilih buat nambah lemak di mal. Angkat barbelnya juga nggak berat-berat amat. Cuma 2 kg. Ketika itu, beban dengan angka segitu udah cukup berat buat gue. Makanya, gue bangga banget bisa angkat barbel dengan berat segitu di usia yang masih muda. Temen-temen gue yang cewek aja nggak ada yang angkat barbel. Kebanyakan dari mereka lebih memilih buat shopping atau dandan. Dengan otot lengan yang makin kuat, gue pun bisa membantu teman yang tengah mengalami kesulitan. Waktu itu, gue punya teman cowok yang badannya lumayan gemuk dan bulet. Jauh lebih gede daripada gue, tapi dia nggak punya tenaga sama sekali. Payah banget kan! Ceritanya, di siang hari bolong, abis kelar ujian tengah semester, gue melihat dia kebingungan.  Bingung gimana caranya mendorong sebuah mobil besar yang menghalangi mobil dia supaya bisa dikeluarin dari parkiran kampus. Hoki aja dia ketemu gue saat itu! Coba kalau nggak, habislah hidupnya! Jarang banget kan ada cewek mau bantuin temen cowok buat dorong mobil. Hampir nggak ada malah karena itu bisa mengurangi kadar feminin seseorang. Tapi, karena gue baik hati dan nggak sombong, gue pun mau nolongin dia tanpa minta bayaran sama sekali. Itu adalah pengalaman pertama gue dorong mobil. Ternyata gampang banget, kok. Semudah membalikan telapak tangan. Seketika itu pula, gue merasa bagaikan superhero di komik Marvel yang suka banget menolong orang. Waktu pun berlalu begitu saja. Tiba-tiba, nggak tau kenapa barbel gue yang 2 kg itu hilang begitu aja. Entah diambil orang atau gue lupa taroh di mana. Padahal, bentuknya lumayan gede dan eye catching. Sampai sekarang gue juga heran kenapa bisa nggak ketemu tuh barbel. Nah, cari barbel aja susah. Apalagi cari jodoh!...

Kontes Kecantikan Sesat

By on Aug 7, 2014 in Diary

Beberapa waktu lalu, ada tren kecantikan di dunia yang disebut thigh gap (paha berjarak). Maksudnya paha kita itu ada celahnya gitu. Kayak musuhan dan nggak dempet. Jadi, cewek-cewek pada berlomba buat kecilin paha supaya paha mereka jadi musuhan. Itu bisa membuat kesan kurus dan feminin. Sementara, gue males ikutin tren kayak begitu. Emang penting, ya? Buat gue, paha yang sehat itu yang keras banyak ototnya dan nggak sesak pas lagi jalan. Nggak perlu sampe harus musuhan segala karena damai itu indah. Di saat cewek-cewek lagi mati-matian kecilin paha mereka, ada lagi tren kecantikan baru yang dikenal dengan nama finger trap test. Ini lagi terkenal banget, terutama di China. Orang-orang China itu pada berlomba-lomba kasih lihat hasil selfie mereka saat mengikuti finger trap test.  Pengin tau lo orang cantik atau nggak lewat tes ini, caranya gampang banget. Tinggal tempelin jari telunjuk di tengah-tengah hidung dan dagu. Kalau misalnya jari telunjuk lo nggak menyentuh bibir, berarti lo cantik atau ganteng! Kalau misalnya nyentuh, wah, maaf banget. Berarti lo kurang beruntung a.k.a nggak cantik. Gue pun pernah mencoba peruntungan tersebut dan yakin bisa lolos tes kecantikan yang aneh itu. Dan hasilnya adalah.. Bangkek! Kok bibir gue kesentuh sama jari, ya? Berarti gue… Ah, gue nggak rela buat meneruskan kalimatnya.  Ini pasti cuma mimpi! Lalu, Kak RG yang memperkenalkan tes kampret ini juga ikutan mencobanya. Mari kita lihat hasilnya.. Kok hasilnya juga bangkek, ya! Jari telunjuknya nggak nempel sama bibir. Berarti dia ganteng, dong? Duh, gue nggak bisa menerima kenyataan tersebut. Terlalu menyakitkan. Berarti hidung mancung gue sama sekali nggak menolong gue buat lolos dari tes laknat ini. Berarti masih diperlukan bibir tipis dan dagu panjang. Pantesan aja, Kevin Aprilio, artis yang sering gue wawancarain itu suka banget sama cewek yang dagunya panjang. Mungkin setelah ini, tren dagu panjang bakal jadi tren kecantikan di...

Hotel Bintang Satu

By on Jul 31, 2014 in Cerpen

Anak kecil berbaju ungu, berambut keriting itu berlutut dan membuat kedua telapak tangannya seperti sedang dalam posisi berdoa. Momen itu terekam dan tertoreh dalam sebuah lukisan yang diambil dari angle samping. Bukan panorama nyata yang biasa dilihat dengan mata telanjang. Sebuah lukisan yang meramaikan pemandangan di dalam hotel bintang satu yang tengah kutinggali saat ini. Mungkin, lukisan itu terihat begitu berseni bagi sang pemilik hotel, tapi buatku tidak! Karena, aku hanya merasakan aura seram di dalam kamar ini. Untungnya, aku tidak punya indra keenam yang bisa melihat penampakan mahkluk halus. Untungnya juga, aku tidak sekamar dengan Lina, teman kantorku yang punya kemampuan melihat hantu gentayangan. Lebih baik, aku bersyukur saja karena bisa mencicipi kehidupan yang terlihat keren dan ‘mewah’. Sebuah momen yang membuat cerita hidupku agak mirip dengan cerita si dia. Ngomong-ngomong soal si dia, mengapa hari ini dia belum menelepon, ya? Padahal, matahari sudah menenggelamkan diri tanpa rasa malu. Mengapa tiba-tiba aku sangat merindukan panggilan darinya? Apakah ini yang namanya kerinduan terhadap seseorang? Ah, tidak juga! Mungkin karena dia terbiasa meneleponku setiap hari, sehingga ketika dia terlambat menelepon, aku merasakan kehilangan yang luar biasa. Ini hanya bicara soal kebiasaan, bukan pemenuhan kebutuhan hati. Dan, aku sadar betul kalau aku baru saja berbohong. Smartphone-ku berbunyi setelah sepi berjam-jam. Lagu Dekat di Hati milik RAN pun terdengar merdu di telingaku. Aku sengaja memasang lagu itu selama di Bandung sebagai ring tone karena sepertinya lagu itu menggambarkan isi hatiku. Padahal, lagu itu kan tentang hubungan berpacaran jarak jauh. Sementara, aku belum punya siapa-siapa untuk dirindukan. Kalau orang lain yang menelepon, aku nggak langsung mengangkat telepon supaya aku bisa mendengarkan lagu romantis itu lebih lama, tapi kali ini tidak. Karena dia yang menelepon. Pertanyaan akan kerinduan hatiku terjawab sudah. “Halo,” sapaku dari kota lautan api. “Halo Rena, apa kabar?” tanyanya. Dan itu...

Review Kolor Anti Air dari Cina

By on Jul 26, 2014 in Diary, Review Produk

Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba temen kantor gue si Vinty ajakin beli kolor di Groupon.com. Katanya sih, kolornya itu bukan kolor biasa, meskipun warnanya bukan ijo. Entah apa yang istimewa dari kolor ini sampe-sampe bisa dijual di Groupon. “Kak Uung, mau ikutan beli kolor nggak? Lagi diskon gede, nih,” ajak Vinty. “Kolor apaan, Kak?” tanya gue sembari liat layar komputernya yang lagi buka situs jualan itu. “Kolor anti air, Kak.” Gue pun ikutan baca iklannya. Dalam bahasa Inggrisnya, kolor ini disebut waterproof underwear panties. Berarti kolornya itu nggak bakal bisa basah selamanya, dong? Tiba-tiba gue jadi teringat sama rambut temen gue si Alen yang kelihatannya waterproof banget! Soalnya, pas lagi berenang, rambutnya cuma basah sebentar, abis itu langsung kering dalam hitungan detik. Rambutnya bisa kayak begitu karena kribo persis kayak Edi Brokoli kalau digondrongin. Enak juga sih kalau punya rambut kayak begitu. Bisa hemat waktu karena nggak perlu repot-repot keringin rambut pake hair dryer. Lalu, apakah cara kerja kolor itu sama kayak rambutnya Alen? Berarti nggak perlu dicuci dong? “Jadi kalau pake kolor itu nggak perlu takut basah gitu, ya? Buat yang sering ngompol cocok dong, Kak?” tanya gue. “Bukan begitu, Kak. Maksudnya biar pas olahraga nggak keringetan sampe celana bagian luarnya basah. Biar nyaman gitu. Terus kalau tembus pas mens, nggak bakal bocor kena celana luar,” jelas Vinty dengan bijak. “Ouwwww,” gue cuma bisa ngangguk-ngangguk seolah-olah udah ngerti banget. “Mau coba beli nggak, Kak? Kalau mau, kita kumpulin orang lebih banyak lagi biar ongkirnya murah,” bilang Vinty yang otaknya emang dagang banget. Makanya, dia sampe punya akun di  olx.co.id buat jualan barang bekas di rumah. Kayaknya ruangan-ruangan di rumah Vinty lega banget deh, karena kalau ada barang nganggur di rumah, pasti langsung dijual. “Harganya murah juga, ya! Dari Rp 70 ribu jadi 36 ribu. Ya, boleh...

Sepatu Baruku, Sepatu Disko Dong!

By on Jul 22, 2014 in Diary

Dari beberapa tahun yang lalu, sebenernya gue udah naksir sama sepatu glitter. Itu lho, sepatu yang seolah-olah disirem sama glitter seember hingga menimbulkan efek silau bak ingin diajak berdisko. Bahkan, waktu gue jalan-jalan ke Bangkok setahun yang lalu, bayangan sepatu glitter yang ada di berbagai tempat shopping terus-terusan menghantui pikiran gue sepanjang perjalanan. Tapi, kalau buat beli sepatu kayak begitu kayaknya gue harus mikir ribuan kali. Kayak mikir mau beli high heels atau nggak? Tau sendiri kan kalau pake high heels itu bisa nyiksa badan lahir dan batin? Kalau sepatu glitter, nggak nyiksa badan sama sekali, sih, asalkan belinya jangan yang pake heels. Yang gue takutin adalah takut glitternya copot-copot. Glitternya copot seupil aja rasanya pengin nangis. Sakitnya, kayak abis disunat di usia remaja. Gue udah trauma sih, beli sepatu yang aneh-aneh karena akhirnya berujung sakit hati. Ibaratnya makan ayam KFC, udah bela-belain makan kulitnya terakhir, tapi malah dimakan sama temen. Sakitnya tuh di sini (sambil pegang dada kiri). Gue pernah beli sepatu warna pastel gitu ada kembang-kembangnya. Shabby chic dan vintage banget, sesuai sama selera gue. Tapi, baru dicuci beberapa kali, warnanya malah pudar. Coba, bayangin kalau sepatu glitter yang dicuci? Beh, pasti glitternya hilang semua. Botak. Akhirnya, gue melupakan keinginan buat sepatu yang “nggak etis” kayak gitu dan memutuskan buat beli sepatu yang aman-aman aja. Kayak hitam, cokelat dan nggak ada motifnya. Udah gitu, gue kan pergi ke kantor kebanyakan naik bus Transjakarta. Risiko sepatu diinjak orang, udah pasti gede banget! Tuh sepatu bakal cepet kotor dan minta banget dicuci! Belum lagi kalau harus ngadepin jalanan berdebut, becek hingga banjir. Kebayang nggak kalau misalnya sepatu glitter gue diinjek orang? Rasanya pengin banget nendang tuh orang pake sepatu glitter ternoda itu persis di mukanya. Biar pipinya kena sentuhan glitter, sehingga menimbulkan efek abis pake blush on berglitter. Daripada...

Nyalon Bersama Kak Bantjik Salon

By on Jul 15, 2014 in Beauty, Diary

Waktu gue dan Kak RG masih dalam masa pedekate (emangnya sempet pedekate? Kayaknya langsung jadian, deh!), gue langsung tau kalau dia itu adalah bantjik salon (baca: banci salon). Sengaja pake kata ‘bantjik’ yang merupakan ejaan lama, biar kesannya vintage banget kayak lagi hidup di zaman Soekarno-Hatta. Psst, bantjik yang dimaksud di sini, bukanlah bantjik dengan arti kata yang sesungguhnya. Bukan berarti Kak RG itu jari kelingkingnya ngetril, cara ngomongnya melambay dan jalannya rapet banget kayak lagi pake kebaya pas wisuda. Bukan. Jelas bukan itu! Bantjik yang dimaksud di sini adalah orang yang ngerti banget dengan dunia persalonan. Dia tau segala macam soal cat rambut dan ngerti berbagai macam gaya rambut. Ya, meskipun nggak semua hal soal rambut dikuasai kak RG, setidaknya dia ngerti dikit-dikitlah. Dulu, pas dia masih deketin gue, dia sempet ngajak gue nge-date di Pizza Hut, Gajah Mada Plaza. Gue masih inget banget, waktu itu dia ajak pergi ngemil pizza malam-malam dan bikin OCD gue batal. Kak RG ini emang tega bikin anak orang gendut. Kalau Kak Deddy Corbuzier tau OCD gue batal, beliau pasti kecewa! Di resto itu ada kaca tembus pandang gede banget dan persis di seberangnya ada sebuah salon. Di kaca salon yang tembus pandang itu, banyak banget tulisan merek-merek cat rambut beserta jenisnya. Begitu melihat pemandangan itu, Kak RG langsung terpesona. Dia bagaikan melihat seperangkat PC dan keyboard yang selama ini digunakan untuk coding demi menghasilkan aplikasi baru. “Ung, kamu kalau lagi di salon suka kagum dengan diri sendiri nggak?” tanya Kak RG dengan mimik muka cukup serius. Dahinya tampak mengerut bak dosen yang tengah mengajar kelas makeup di London School of Public Relations (LSPR). “Nggak, tuh! Biasa aja. Cuma berasa keren dikit karena baru di-blow!” “Kalau aku sih berasa jadi tambah keren karena kalau abis keluar dari salon, kayaknya semua orang langsung...

Review SugarPot Wax, Pembasmi Bulu Laknat

By on Jul 11, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Sejak SMA, gue udah suka cukur bulu ketek pake alat cukur cowok yang dijual di pasaran. Soalnya, gampang banget dipakenya. Bulu langsung hilang dan gue bisa pake baju atau dress tangan buntung sesuka hati tanpa rasa bersalah. Tapi, lama-lama ketek gue jadi nggak merata warnanya. Persis kayak yang pernah gue curhatin di Review Bedak Ketek MBK. Udah gitu, tumbuhnya kok cepet banget, ya! Baru cukur hari ini, dua harinya langsung tumbuh lagi dan lebat kayak tanaman di hutan Mangrove. Eh, nggak sampe lebat, sih. Cuma ya itu, jadinya tajem-tajem kayak kaktus. Terus, ada seorang temen yang kasih tau gue kalau ilangin bulu ketek dengan cara dicabut itu lebih bagus ke mana-mana daripada dicukur. Tumbuhnya pun bisa lebih lama dan nggak tajem-tajem. Caranya itu dicabut pake pinset yang biasa dipakai buat rapihin alis itu. Gue kan suka cabut alis pake pinset. Nggak terlalu sakit, kok. Gue pikir, ya udah, boleh deh cobain! Dan emang nggak terlalu sakit, sih. Cuma leher gue pegel aja pas cabutin bulu ketek satu per satu. Dan nggak terasa, udah berjam-jam lamanya gue abisin waktu cuma demi cabut bulu ketek. Abis itu, badan gue langsung tepar dan butuh pijat leher. Tapi, bukan berarti gue pengin dipijat sama terapis asli China yang sadis itu, ya! Dan akhirnya, gue kembali lagi ke pelukan pisau cukur. Karena gue nggak mau merepotkan hidup gue sendiri hanya untuk kebersihan ketek. Ketika kuliah, masalah perbuluan nggak hanya bertengger di ketek. tapi juga di kaki. Jadi begini, sebelum kuliah, bulu kaki gue itu normal. Pas udah kuliah, malah jadi panen bulu kaki (di betis doang, sih). Bulunya lumayan lebat, panjang dan keriting-keriting. Nah lho, gue nggak ngerti kenapa bisa begitu. Padahal, gue nggak pake ramuan penumbuh rambut dari Arab yang suka dijual di pasar-pasar. Gue juga nggak suka cukur atau gunting bulu kaki....

Page 25 of 26« First...10...2223242526
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy