FacebookTwitter
Page 24 of 27« First...10...2223242526...Last »

Review Garnier BB Cream Miracle Skin Perfector

By on Oct 20, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

“BB cream is like money to me. I always need to carry it around,” kata Key , personel boyband Shinee yang suka banget pake BB cream. Bahkan, dia juga sempet mendoakan agar pencipta BB cream bisa masuk surga, karena jasanya begitu besar. Cowok aja bisa antusias banget sama BB cream, apalagi cewek! Kayaknya haram hukumnya kalau cewek nggak tau apa itu BB cream. Sebelum ada BB cream, kita mengandalkan foundation buat makeup. Tapi, nggak mungkin kan kita pake foundation setiap hari. Karena, foundation itu covering-nya lebih berat. Nggak jarang, pas dipake tampilan muka lebih mirip kayak mau ngelenong atau syuting sinetron stripping yang episodenya panjang banget! Tebel banget, Kak! Kalau udah makin lama dipake, bisa menimbulkan efek cakey. Itu lho, kalau ketawa, muka kayak retak-retak. Udah gitu, foundation juga bisa nutupin pori-pori, bikin kulit nggak bisa nafas. Akhirnya, kulit malah jerawatan dan rusak. Kalau gue pribadi sih, selain bisa jerawatan, foundation juga bisa bikin kulit gue gatel-gatel. Makanya gue nggak bisa pake foundation lama-lama. Paling cuma buat photo shoot pas gue jadi model selama beberapa jam, abis itu langsung gue hapus. Aih, sedap banget! Photo shoot, mamen! Di era modern seperti sekarang ini, untungnya udah banyak BB cream beredar di mana-mana. Sekilas, bentuknya mirip kayak foundation, tapi covering-nya nggak setebel foundation. Jadi, pas dipake hasilnya terlihat natural. Cocok banget buat aplikasi “no makeup” makeup. Itu lho makeup natural yang bikin kita kelihatan kayak nggak pake makeup, padahal sebeneranya pake makeup. Buat tipu-tipu laki bolehlah. Selain itu, BB cream itu nggak cuma buat covering kulit wajah, tapi manfaatnya juga banyak. Antara lain bisa melembapkan, mencerahkan wajah, memudarkan bekas jerawat dan noda pada wajah, melindungi kulit wajah dari sinar matahari dan meratakan warna kulit. Tapi, bukan berarti bisa dipake buat tidur, ya, karena BB cream itu bukan krim malam. Kebetulan, kemarin...

Jika Kalian Jadi Warga Bekasi

By on Oct 19, 2014 in Diary

Kasihan deh lo jadi anak Bekasi! Hahaha… Itulah hinaan gue terhadap warga Bekasi, karena Bekasi lagi di-bully di media sosial secara sadis. Tiba-tiba, gue jadi bangga banget bisa jadi anak Mangga Besar, Kota dan sekitarnya. Padahal, tempat tinggal gue itu nggak elit lho. Orang-orangnya pun bukan berdarah biru bak bangsawan yang ada di sinetron fantasi Indosiar. Tapi, akses buat ke mana-mana dekat. Strategis dan banyak fasilitas. Mau pilih sekolah sesuai kepribadian bisa banget, karena ada banyak jenis sekolah di sana, dari sekolah Katolik yang alim banget, sampe sekolah negeri yang suka tawuran juga ada! Mau sekolah di sekolah yang gampang disogok supaya bisa naik kelas juga ada. Yang penting duitnya kenceng! Mau pergi ke tempat ibadah, sampai ke tempat maksiat, semua ada di sana. Semua pilihan ada di tangan kita, kalau kita tinggal di Mangga Besar. Tinggal pilih mau jadi orang beriman atau penjahat. Sedangkan, kalau tinggal di Bekasi, kita nggak punya pilihan. Karena, kita hanya bisa pasrah pada nasib. Nasib di-bully di media sosial! Kenapa sih bisa sampai di-bully? Soalnya, Bekasi udah bikin KZL banyak orang dan bikin warganya jadi korban bullying dengan alasan berikut ini.   1. Tua di Jalan Harga rumah di Bekasi itu jauh lebih murah ketimbang di Jakarta. Kalau bisa beli satu unit rumah di Jakarta, mungkin pas ke Bekasi bisa beli tiga sampai empat unit rumah. Beli rumah di Bekasi jadi kayak beli ketoprak di pinggir jalan! Tapi, kerjanya di Jakarta. Tentu aja ini musibah besar. Coba bayangin, betapa jauhnya perjalanan yang harus dihadapi setiap hari. Makanya, orang-orang yang tinggal di Bekasi mengalami sindrom “tua di jalan”. Orang di Jakarta masih bobok cantik di kamar sampe ileran, tapi warga Bekasi udah harus mandi dan siap-siap berangkat kerja sambil ngantuk-ngantukan. Saking buru-burunya, sarapan aja nggak sempet. Sekalian aja OCD, Kak biar ramping!   2....

Cantik dengan Oatmeal

By on Oct 16, 2014 in Beauty, Diary

Kalau ada yang bilang oatmeal itu rasanya enak, berarti lidahnya udah mati rasa. Pasti dia nggak pernah merasakan kenikmatan duniawi dengan menyantap makanan berlemak dan berkolesterol tinggi. Nggak heran kalau banyak orang yang awalnya belagu pengin diet dengan rutin makan oatmeal, tapi setelah itu niatnya terhenti di tengah jalan. Karena, lidah mereka teriak-teriak minta dikasih makan makanan bersantan. Gue juga pernah mengalami hal itu. Akhirnya oatmeal di dapur masih bersisa banyak, nganggur dan dibuang begitu aja karena udah kadaluarsa. Coba kalau oatmeal itu enak, pasti gue udah abisin sisanya, meskipun udah kadaluarsa. Soalnya, udah beberapa kali gue makan makanan yang udah lewat dari tanggal jatuh tempo, tapi sampai sekarang gue masih sehat walafiat. Untuk mengatasi pembuangan oatmeal yang makin hari makin banyak, alangkah baiknya kalau kita memanfaatkan sisa oatmeal yang nggak terpakai dengan baik. Sayangnya, sisa oatmeal tersebut nggak bisa dijual di berniaga.com atau olx.co.id (tempat jual barang bekas layak pakai). Jadi, harus gimana dong, Kak? Jangan kuatir, karena sisa oatmeal di rumah bisa kalian gunakan untuk bikin muka kalian yang kayak pantat kuali jadi bersinar. Karena, banyak manfaat oatmeal yang untuk kecantikan. Antara lain, mengangkat sel kulit mati, menghaluskan, mencerahkan kulit dan menghilangkan iritasi kulit, kulit kemerahan, jerawat serta bekasnya. Dengan catatan kalian rutin melakukan perawatan ini. Kayak gimana sih, aplikasinya?   1. Abis Dimasak Terus Diolesin Jika kulit kejemur sinar matahari, abis sembuh dari cacar air dan ada bekas luka atau jerawat, pastinya kulit bakal jadi belang. Buat menyamarkan perbedaan warna kulit tersebut bisa dengan menggunakan oatmeal. Caranya, dengan memasak oatmeal dengan air panas, tapi tunggu suhunya nggak terlalu panas. Terus, baurkan di kulit yang belang. Biarkan kering hingga 10 menit, lalu bilas.   2. Scrub Wajah Caranya, haluskan dua sendok makan oatmeal, lalu tambahkan satu sendok teh baking soda. Masukan ke dalam wadah berpenutup kedap udara....

“Bercanda” di TPU Jeruk Purut

By on Oct 12, 2014 in Diary

Pernah diajak “bercanda” atau main-main oleh hantu? Jika belum, datanglah ke TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, seperti yang gue lakukan. Karena di TPU ini terkenal banget dengan hantu kepala pastur yang sempat dijadikan film tahun 2006 silam. Lho kok, kenapa tiba-tiba gue main ke kuburan? Apakah gue pengin nyekar beberapa orang penting yang dikubur di sana? Oh, tentu tidak. Jadi, begini ceritanya… Jumat malem, 10 Oktober 2014 kemarin, gue disuruh dateng ke liputan launching buku Jangan Dengerin Sendiri (JDS) yang diterbitkan sama Bukune. Ternyata, sebelum buku ini dibuat, JDS ini udah dibuat dalam bentuk siaran radio di 90,8 FM OZ Radio Jakarta, setiap hari Kamis, jam 23.00 – 24.00 WIB. Program itu dibawain sama Naomi Angelia, si cewek indigo, Dito, si jomblo dua tahun yang sering diketawain kuntilanak, pernah digandeng perempuan gaib dan terjebak di tempat gelap, Cahyo, si cowok paling penakut, tapi paling jago mapping dan mahir mendokumentasikan penampakan. Dan Daya, announcer dan reporter 90.8 FM OZ Radio Jakarta yang punya modal nekat buat liputan ekspedisi malam di tempat-tempat angker. FYI, buku ini juga ditulis oleh Naomi dan tim JDS. Dan ini penampakan bukunya. Nampaknya seru buat kalian yang suka banget sama cerita horor dan punya jantung yang kuat! Awalnya, gue juga bingung sih, kenapa launching buku kali ini nggak diadain di toko buku kayak biasanya. Tapi, malah diadain di Bakoel Bir Cafe, Kampung Kemang. Gue seneng-senang aja sih, soalnya bisa makan makanan lucu dan rendah lemak di sana kayak nasi goreng dan martabak ovomaltine. Tapi kesenangan gue itu tidak berlangsung lama. Karena, abis seneng-seneng, gue dan kawan-kawan lainnya malah diajak buat ekspedisi ke TPU Jeruk Purut yang lokasinya emang nggak jauh dari kafe itu. Tujuan dari ekspedisi tersebut adalah buat merasakan langsung kegiatan anak-anak JDS kalau lagi liputan di tempat angker. Pas gue denger kalau kami mau...

Menemukan Kak Uung Versi Batak

By on Oct 7, 2014 in Diary

Kalau kata orang-orang, kembaran (kloningan) Kak Uung itu ada di mana-mana. Setiap kali gue deket atau temenan sama orang, pasti orang itu dibilang mirip sama gue. Kayak waktu SMP, gue sering dikira adeknya si Stephany. Waktu SMA, muka gue dibilang mirip Susi. Waktu kuliah, muka gue dibilang mirip Mastini dan kakak kelas bernama Eva. Waktu kerja, muka gue dibilang mirip Sherly dan Willy yang emang kebetulan adalah kakak-beradik. Padahal, menurut gue, muka kami kayaknya nggak ada mirip-miripnya. Dan sebenarnya, masih banyak lagi orang-orang yang dibilang mirip Kak Uung. Terus, waktu jadian sama Kak RG, muka gue juga dibilang mirip Kak RG. Bahkan, ada yang mengira gue udah jadian sama Kak RG selama tujuh tahun karena muka kami mirip banget. Kayak udah kenal lama banget, gitu. Kalau kata orang-orang sih, cuma beda bentuk bibir aje. Iyalah, bagusan bibir gue ke mana-mana. Padahal, menurut gue sih nggak mirip sama sekali, ah. Cakepan guelah ke mane-mane. Nah kan bener, cakepan gue ke mane-mane! Btw, semua nama yang gue sebutin di atas itu, sukunya sama kayak gue. Cinko (Cina Kota) mamen! Dan gue belum pernah menemukan Kak Uung versi kota atau negara lain. Kalau misalnya kalian jalan-jalan ke Arab Saudi, mungkin kalian nggak akan menemukan orang yang mirip sama Kak Uung. Jangan sedih! Kalian nggak perlu jauh-jauh main ke Arab demi menemukan Kak Uung versi suku atau ras lain. Karena, di kantor gue ada Kak Uung versi Batak! Mungkin kalian nggak bakal percaya akan hal ini. Gue pun sempat nggak percaya pada awalnya. Tapi, begitu kalian berkenalan dengan anak baru di kantor yang bernama Indah Nainggolan, si wanita berdarah Batak, kalian pasti akan langsung ngeh dengan penampakan Kak Uung di tahun 2011. Di mana Kak Uung suka sekali mengenakan kaca mata. Denger-denger, waktu Kak Indah ini melihat foto gue pas masih kacamataan, dia...

Rambut Baru Kak Uung: Normal Banget!

By on Oct 4, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Kira-kira, tiga minggu yang lalu, gue mengalami ‘kecelakaan’ poni yang menyebabkan gue trauma dengan gunting dan benda tajam lainnya. Poni gue yang tadinya mirip bulan sabit mendadak berubah jadi kayak batok kelapa. Padahal, dari dulu gue selalu ahli dalam menggunting poni sampai-sampai pernah kepikiran buat buka salon, tapi khusus buat potong poni. Dan itu menyebabkan gue harus menunda cat rambut, karena poni gue ancur banget! Kayaknya nggak etis aja kalau harus cat rambut, padahal potongan rambut lagi nggak oke. Meskipun poni lagi dalam masa kehancuran, tapi gue tetap berusaha tawakal. Sekarang, poni gue udah agak bagusan. Kalau kata orang-orang sih kayaknya berkat kekuatan shampoo kuda Mane and Tail. Gue pikir, ini adalah saat yang tepat untuk cat rambut lagi demi benerin warna rambut gue yang udah hancur berantakan kayak hidup para koruptor. Dan warna rambut terbaru gue yang sekarang terinspirasi dari Kak RG. Nama warna rambutnya mahogany copper brown, merk Loreal Paris. Kalau kata Kak RG, warna itu adalah warna rambut pertama dia saat pertama kali cat rambut. Saat itu, Kak RG masih belia banget karena baru lulus SMA (pertengahan 2002). Walaupun masih tergolong muda, namun dia udah jadi bantjik salon. Pencapaian tersebut kira-kira mirip kayak prestasi Mark Zuckerberg yang sukses di usia muda karena mendirikan Facebook. Warnanya, terlihat lebih gelap dan ‘normal’ jika dibandingkan dengan warna rambut gue yang sebelumnya. Ya, sekali-kali bolehlah terlihat lebih normal. Kalau lagi normal, biasanya langsung banyak yang naksir sama gue. Suwer. Beh, kalau gue bergaya normal dari dulu, gue pasti udah pacaran sejak duduk di bangku TK. Dengan kekuatan bulan, gue berhasil ngecat rambut gue sendiri. Seadanya gitu, deh. Tadinya, gue pengin minta bantuan Kak RG, tapi takutnya dia sibuk. Maklum aja, sebentar lagi dia bakal jadi CEO dan pake kartu nama yang tulisannya ‘I’m CEO, bitches!’. Tengil banget, kan! Setelah cat...

Foto Gahul Wajib Posting!

By on Oct 3, 2014 in Diary

Kalau kalian nggak pernah foto kayak begini di media sosial, berarti kalian kurang gahul! Percuma deh punya hape canggih yang kameranya depan belakang dan mega pixel-nya tinggi. Mendingan kalian pake hape jadul yang bisa buat nimpuk anjing, terus anjingnya langsung wafat saat itu juga. Emangnya, foto apa sih yang bisa dibilang gahul menurut anak zaman sekarang?   1. Foto di Pantai yang Masih “Perawan” Kayaknya, udah nggak zaman foto-foto di pantai yang mainstream, kayak Ancol. Karena pantainya udah nggak terlalu bagus. Udah terlalu rame dan istilah kasarnya, tuh pantai udah nggak “perawan”. Sekarang, orang lebih bangga foto di pantai yang masih perawan. Pantainya belum terlalu rame. Air lautnya masih jernih, biru banget dan pasirnya masih putih banget. Kalau main ke sana, bawaannya betah banget, pengin jemuran sampe kulit kayak orang Papua. Salah satu pantai yang masih bagus banget adalah pantai Padang-Padang, Bali. Gue pernah foto di sana dong. Foto di sana nggak harus pake bikini, kok. Biasanya, cewek-cewek suka pake maxi dress, tapi yang punggungnya kelihatan atau halter neck gitu. Tapi, kalau maxi dress yang gue pake sih bener-bener menutup aurat dan sopan banget. Ditambah lagi kacamata hitam yang bikin penampilan gue mirip kayak orang buta. Bodoh amat, deh. Yang penting gahul, Mamen!   2. Foto Pake Bikini Udah gahul karena sering main ke pantai, masa nggak pernah foto pake bikini? Kalau nggak pernah foto pake bikini, berarti masa muda kalian cupu! Meskipun belum terlalu pede sama bentuk badan, cobalah untuk berpose dengan bikini dari belakang. Jujur aja, dalam hal ini gue juga merasa kurang gahul karena nggak pernah foto pake bikini. Maklum aja, selain karena nggak punya bikini, gue belum pede sama bentuk badan gue. Gue pengin pake bikini pas perut gue udah 6 pack. Jadi, tungguin aja perut gue 6 pack. Untuk menghibur kalian, gue persembahkan foto...

Timbangan Canggih Pengukur Dosa

By on Sep 28, 2014 in Diary

Baru aja kelar body pump, kak Hellen langsung ajak gue dan kak Susi selfie di depan kaca gede buat adu pantat. Si Hellen emang hobi ajak cewe-cewe selfie adu pantat. Kayaknya udah hampir seribu cewek yang diajak foto kayak begini sama dia. Tujuannya cuma satu, yaitu buat ukur hasil squat dan body pump. Tapi, dia selalu KZL sama selfie adu pantatnya karena pantat dia nggak ada tonjolan naiknya. Padahal, dia paling total body pump dan squat-nya. Nah, dari foto adu pantat di atas, kalian pasti bisa tebak dong mana gue, Hellen, dan Susi? Latihan gue setiap pagi di rumah itu nggak ada tai-tainya jika dibandingkan latihan body pump kemarin. Beh, pegelnya terasa banget kayak abis jadi kuli bangunan di gedung pencakar langit. Tapi, otot langsung kenceng banget, Kak! Kalau rutin dilakukan, bukan tidak mungkin tubuh perkasa impian bagaikan Agnez Mo bisa didapatkan dengan mudah. Setelah kelar ikutan kelas body pump, kami bertiga ikutan kelas RPM. Itu lho kelas main sepeda di tempat. Gue pikir gampang karena cuma ngayuh sepeda berkali-kali, tapi kenyataannya nggak semudah yang dibayangkan. Meskipun cuma sepedaan, tapi gerakannya nggak bisa sembarangan karena ada instrukturnya. Ini nih yang gue nggak terlalu suka sama tempat gym. Sekalinya diatur sama instruktur, rasanya nggak bebas banget. Kalau udah nggak kuat, pengin banget lambai-lambaikan bendera putih tanda menyerah. Selama 30 menit, kami diajarkan mengayuh sepeda dengan gaya-gaya yang berbeda. Kecepatannya pun juga berubah-ubah. Ada masa di mana kami harus mengayuh sepeda pelan-pelan, cepet-cepetan terus pelan lagi. Begitu terus sampe bosen. Rasanya kayak lagi sepedaan dari Taman Sari ke Gajah Mada. Deket banget, tapi nggak pernah sampe. Gue lelah banget, Kak! Begitu kelas berakhir, rasanya pengin banget ngelus dada. Lega, coy! Tapi, begitu gue turun dari sepeda, gue jalan dengan kaki setengah pincang. Pantat gue juga sakit karena kebanyakan duduk di atas...

Page 24 of 27« First...10...2223242526...Last »
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy