FacebookTwitter
Page 23 of 25« First...10...2122232425

Gelato Greendale: Es Krim Rendah Lemak

By on Sep 21, 2014 in Diary, Food Porn

Kalau kata Ivan, adek gue, makan es krim Gelato Greendale ini nggak bakal bikin gemuk. Soalnya, kalau es krim lain itu kebanyakan pake krim sebagai bahan dasarnya, tapi Gelato Greendale pake bahan dasar susu low fat. Udah gitu, es krim ini juga nggak pake bahan pengawet dan pemanis buatan. Ketika mendengar hal itu rasanya pengin banget makan es krim ini segentong. Bicara soal latar belakang Gelato Greendale, ini adalah bisnis yang didirikan Ivan bareng temen SMP-nya, Rio di awal bulan September 2014. Ternyata, mereka udah lama belajar bikin es krim. Sementara, kakaknya sama sekali nggak bisa bikin es krim. Bisanya cuma makan. Miris. Menurut mereka, kelebihan  Gelato Greendale dibandingkan es krim di lapak lain adalah selain sehat dan rendah lemak, rasa yang ditawarkan juga lebih banyak. Ada 13 pilihan rasa yang mereka jual di sini, yaitu: Strawberry Yoghurt Choco Peanut Tiramisu Banana and Wheat Lemon Biscuit Oreo Sweet Cream Rock Salt Coffee Avocado Ovomaltine Apple Yoghurt Rhum Raisin Green Tea Tapi, nggak semua rasa dijual dalam satu hari. Biasanya mereka rolling rasa-rasanya, kayak poligami gitu. Hari ini pacaran sama siapa, besok pacaran sama siapa. Dalam sehari, kurang lebih ada 6 rasa yang dijual. Nah, pas gue dateng ke sana, gue penasaran banget sama rasa Ovomaltine! Karena makanan itu kan lagi high demand dan hit banget! Sayangnya, kata Rio, es krim rasa itu udah diborong habis sama anak sekolahan tanpa sisa. Masya Allah, anak sekolah macam apa yang kerjaannya cuma makan Ovomaltine? Jadi, tentu aja es krim Ovomaltine adalah produk best seller di Gelato Greendale. Selain itu, banyak juga kaum penyuka gym yang suka pesan rasa Banana and Wheat (emang kebetulan, di atas ada gym centre). Konon katanya mereka suka pesan ini sebelum ngegym karena selain rasanya enak, es krim tersebut juga mengandung banyak protein. Tau sendiri kan, kalau protein...

Menstruasi Kak Alay

By on Sep 14, 2014 in Diary

Gambar di atas adalah kejadian di mana gue hampir membunuh kak Adis sewaktu emosi gue memuncak karena datang bulan. Bagaimana ceritanya? Kita kembali ke tahun 2011 di mana semua ini dimulai. Pada hari Selasa itu gue sedang mengalami datang bulan, sebuah rutinitas berbahaya yang harus gue alami sebulan sekali. Waktu itu rasanya emosi gue jadi labil bingit, rasanya pengen bunuh orang. Dan di hari yang suram itu, kak Adis tiba-tiba ngomong sesuatu yang bikin gue jengkel banget. Emosi gue pun langsung memuncak. Gue ambil gunting besar di meja dan langsung samperin kak Adis. Lalu, sambil teriak kenceng, gue angkat tuh gunting dan… nggak, nggak… just kidding, teman-teman. Gue ini anak alim kok bukan pembunuh. Percaya deh. Datang bulan a.k.a menstruasi adalah momok yang harus dialami oleh setiap cewek, kurang lebih selama 40 tahun semasa ia hidup. Karena, biasanya, cewek itu pertama kali datang bulan di umur 12 tahun dan berakhir (menopause) di umur 50-an. Dan kayaknya, pembaca di sini udah pada tau datang bulan itu apaan, jadi gue nggak perlu jelasin lagi soal itu. Meskipun kalian adalah cowok tulen yang nggak akan pernah datang bulan, tapi gue yakin kalian pasti mengerti tentang hal ini. Tapi, sebagai cowok tulen, kalian mungkin nggak tau betapa ribetnya cewek kalau lagi datang bulan. Bahkan, udah ribet ketika 7 atau 14 hari sebelum datang bulan. Masa ini disebut PMS (Pra Menstruasi Syndrome). Serba salah kalau jadi cewek. Datang bulan ribet. Kalau nggak dateng bulan, otomatis kulit jadi cepet tua dan nggak bisa punya anak. Sebagai perempuan tulen yang mengalami menstruasi setiap bulannya, gue sih nggak pernah mengalami masalah ribet yang berkaitan dengan fisik sejak pertama kali datang bulan sampai sekarang. Beda sama temen kantor gue si Mayseeta. Dia itu kalau dateng bulan, pasti jadi alay banget! Sebutan ‘datang bulan alay’ di kantor itu tenar...

Disney Princess Pajama

By on Sep 10, 2014 in Fashion, Narsis

Gue suka banget tidur pake piyama karena nyaman banget. Bahkan, gue pernah jalan-jalan ke mal pake piyama beneran karena menurut gue itu nggak etis. Serasa abis bangun tidur, terus langsung main ke mal. Gahul banget gitu! Seolah-olah mal-nya itu punya bapak gue. Tapi, waktu gue main ke MOI, Kelapa Gading kemarin, gue nggak pake piyama lagi, kok. Soalnya otak gue udah agak waras. Buat kalian yang ketagihan pake piyama di tempat umum kayak gue, kalian bisa coba pake pajama shirt. Kebetulan, pajama shirt yang gue pake kali ini full of Disney Princess prints yang bisa bikin kita kembali teringat dengan masa kecil. Ternyata, pajama shirt sempat hip di koleksi spring/summer 2013, lho. Tiba-tiba gue berasa keren kayak fashion stylist karena tau soal beginian. Kalian pasti kagum sama pengetahuan gue soal fashion! Padahal gue tau hal ini dari temen gue, Kak Alex. Hahaha.. Karena gue juga pengin memberikan kesan childish dan quirky, gue pun memadu-padankan pajama shirt itu dengan skort biru, black knee length socks dan sepatu disko penuh glitter. Kaos kaki hitamnya berguna juga buat nutupin bulu kaki gue yang belum sempat di-wax. Super sekali, kan? Kalau buat urusan rambut, gue pake wig panjang bergelombang, sekaligus ada poninya karena biar kelihatan agak princess gimana gitu. Sekalian buat nutupin poni gue yang abis mengalami “kecelakaan” kecil. Buat yang pengin tau, ada apa dengan poni Kak Uung? Jangan kuatir karena gue juga bakal nge-blog soal poni gagal ini, kok. Kalian tunggu aja tanggal mainnya, ya! Terus, gue juga iseng pake bulu mata palsu supaya kesannya lebih perempuan gitu. Karena cuma main ke mal, gue pun pake bulu mata palsu yang bisa dibilang paling pendek dan bentuknya juga simpel. Jadi, pas dipake jatuhnya nggak lebay kayak bulu mata badainya Kak Syahrini. Bulu mata jenis ini cocok banget buat tipe mata monolid eyelid kayak gue.   Dolly Wig: Belle Wonderful Hair “Rosie” Lash: Lavie Lash Pajama Shirt: Whateveryoursize Blue Skort: Shoppers_Shopp Black Knee Length Socks: Akari_Shoppu Disco Glittery Shoes: Beli di Kak Asri Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama Pajama...

Memanjangkan Rambut dengan Shampoo Kuda Mane and Tail (Part 2)

By on Sep 6, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Sejak potong rambut model jamur tahun 2012 kemarin, petualangan gue dalam hal memanjangkan rambut jadi nggak pernah ada habisnya. Kisahnya mirip kayak film The Hunger Games. Ada The Hunger Games Mockingjay – Part 1 dan The Hunger Games Mockingjay – Part 2. Sebelumnya, mungkin kalian pernah baca kisah gue pake Shampoo Kuda Mane and Tail. Nah, itu Part 1-nya tulisan ini. Nah, ceritanya belum kelar sampe di situ. Sekadar mengingatkan, pertama kali gue beli shampoo kuda, belinya titip sama temen gue si Sherly lewat salah satu online shop. Hasilnya, rambut gue lumayan panjang, tapi rambut gue jadi kasar banget. Terus, shampoo-nya habis dan gue belum beli lagi yang baru karena gue masih ragu, apakah gue harus lanjut pake shampoo kuda atau nggak. Di saat yang sama, gue juga sempet rapihin rambut di salon bersama Kak RG tanggal 12 Juli 2014 kemarin dengan hasil potongan rambut setjantik ini. Kemudian, di hari yang Fitri, tanggal 28 Juli 2014 kemarin, gue sempet jalan-jalan ke mal Taman Anggrek bareng Kak RG dan Mastini. Di sana, nggak sengaja ketemu booth yang jualan shampoo kuda jenis Herbal Grow dengan harga yang cukup miring, yaitu Rp 160 ribu. Wih, lebih murah daripada yang kemarin Sherly beli (Rp 170 ribu). Tanpa pikir panjang, gue langsung beli! Meskipun gue cukup trauma karena shampoo itu udah bikin rambut gue makin kasar. Tapi, setidaknya gue masih punya harapan besar dalam hal memanjangkan rambut. Rupanya, Sista yang jualan di booth mal Taman Anggrek itu juga jualan secara online di Instagram. Si Sista cantumin nama web dan semua kontak yang bisa dihubungi di kartu nama yang dipajang di booth. Gue pikir, kalau misalnya nanti shampoo kudanya udah mau habis, gue bisa pesan lagi sama dia. Kalau kalian tertarik, kalian bisa cek langsung webnya di www.urbanindostore.net. Pas malemnya, shampoo itu langsung gue pake...

GADIS Magazine School is Cool!

By on Aug 23, 2014 in Diary, Fashion, Narsis

Tanggal 21 Agustus 2014 kemarin, kantor gue, Femina Group kembali mengadakan halal bihalal di gedung Nyi Ageng Serang, Rasuna Said. Halal bihalal itu tradisi meminta maaf dan memberi maaf yang biasanya dilakukan setelah bulan Ramadhan dan Lebaran usai. Ibaratnya kalau di lingkungan Cina Kota, kita mengenal istilah Cap Go Meh (2 minggu setelah Imlek). Nah, di halal bi halal itu ada lomba dress code yang harus diikuti setiap majalah. Kak Asri yang merupakan editor, sekaligus ibu pencetus dress code di GADIS (majalah tempat gue mencari sesuap nasi) pun awalnya kebingungan buat nentuin dress code apa yang mau dipake. Denger-denger sih, dia sampe nggak bisa tidur. Dua hari sebelum hari-H, Kak Asri pun kepikiran supaya kami pake seragam sekolah. Apa pun itu. Mau seragam sekolah asli, atau pun seragam-seragaman khayalan sendiri juga boleh. Yang penting dasarnya kemeja putih gitu. Kenapa harus seragam sekolah? Karena GADIS itu kan majalah anak SMP dan SMA, jadi kami harus bergaya bak anak sekolah supaya bisa merasa lebih dekat dengan kehidupan pelajar Indonesia. Idenya udah mirip kayak yang diomongin di debat capres aja. Orang-orang pun cemas dan hampir kebakaran jenggotnya karena menurut mereka dress code-nya agak susah. Kecuali gue. Gue sih tenang-tenang aja mamen karena gue pernah kok jalan-jalan ke mal pake kostum seragam. Hahahaha.. Karena gue ahli kostum dan punya banyak atribut di rumah, gue pun diminta buat berinisiatif meminjamkan atribut ke teman-teman yang membutuhkan. Nampaknya, jasa penyewaan barang-barang Kak Uung sudah bisa diresmikan bulan depan. Tunggu launching-nya aja, ya!         Kabar gembiranya! Tim GADIS pun menang dan berhasil membawa pulang vocher buat nail art dan potong rambut anak-anak senilai jutaan rupiah. Hadiahnya cukup “nggak etis”, ya! Nggak tau deh nanti pakenya gimana. Yang penting menang....

Inilah 6 Makanan Terpedas Versi Kak Uung

By on Aug 18, 2014 in Diary

Kalian udah tau kan kalau Kak Uung juara makan pedas dan pernah masuk teve karena prestasi itu? Kalau kalian ngaku suka pedas, ayo ngadu bareng Kak Uung makan makanan ini! HAHAHA… Setelah mencoba banyak makanan pedas, menurut Kak Uung, ini adalah 6 makanan terpedas dari level cupu sampe laknat. 6. Buta Noodle Sumoboo Level 30   Istilah kasarnya mie babi a.k.a mie nggak halal. Kalau buat gue sih halal-halal aja. Jadi si Sumoboo ini menyajikan mie ini dengan tingkat kepedasan dari level 0-30. Karena gue pecinta pedas, jadi gue pun menyiapkan mental buat coba yang level 30. Nggak tau ya, level 30 di sini itu berapa banyak cabenya. Mungkin 30 biji cabe. Sebelumnya, Mastini udah pernah coba yang level 15 dan dia nggak abis karena pedas banget katanya. Dan gue nggak percaya sama omongannya karena level pedas kami berbeda. Kalau level pedas gue sama Kak RG bisa dibilang sama. Makanya, gue sama Kak RG pesan yang level 30. Sementara Mastini pesan level 5. Gue sama Kak RG berhasil makan mie itu dan menurut kami, pedasnya masih wajar banget. Pedas sih, tapi nggak sampe menusuk perasaan. Sementara, Mastini makan yang level lima aja udah ngeluh kepedasan. Cengeng! 5. Mie Hokie Level 5, Danau Sunter (deket rumah Kak RG)   Mie ayam yang dijual di tenda pinggiran Danau Sunter ini menyediakan mie dengan tingkat kepedasan dari 1 sampai 4. Level 5 harus dipesan khusus. Pertama kali coba mie ini, gue cobain yang level 4 (40 cabe). Pedas sih, tapi ya itu masih bisa diterima dengan lapang dada. Setara sama buta naked noodle-nya Sumoboo. Kak RG pun juga berhasil melewatinya dengan lapang dada. Sebelum ajak gue lagi ke Mie Hokie, si Kak RG udah cobain yang level 5 (50 cabe). Dia bilang sih pedas bingit! Bahkan, dia sampe mengeluarkan air mata. Ah,...

Pebble, Jam Tangan Pintar

By on Aug 11, 2014 in Diary, Review Produk

Kehidupan gue sebagai social butterfly di Jakarta cukup keras. Social butterfly itu diwajibkan buat punya banyak media sosial. Supaya makin gahul dan eksis. Kalau media sosial di smartphone lo orang banyak, otomatis bakal bikin baterai smartphone lo orang cepet abis. Buat menghemat baterai iPhone, biasanya gue silent iPhone gue. Lumayan sih bisa menghemat baterai, meskipun baterai gue tetep aja cepet abis karena banyak notifikasi dari berbagai media sosial. Gara-gara itu, gue kadang nggak ngeh kalau ada message atau telepon penting yang masuk. Apalagi pas gue lagi nggak pegang hape. Wah, pasti banyak yang protes. Biasanya, gue dibilang nggak cekatan angkat telepon, nggak gesit bales chat dan lain-lain. Ya gimana ya, seeksis-eksisnya orang, kadang nggak selalu pegang hape. Lama-lama muak juga kalau yang dipegang cuma hape. Sekali-kali, gue juga butuh mainin benda lain, kayak Barbie misalnya. Karena lebih baik main Barbie daripada mainin perasaan anak orang. Nggak cuma suka ‘istirahat’ pegang hape, tapi kadang gue juga suka tidur di perjalanan. Kapan pun dan di mana pun. Walaupun nggak ketemu bantal, entah kenapa gue selalu ketiduran. Kalau kata orang-orang sih itu karena gue pemalas. Menurut gue sih nggak begitu karena gaya hidup gue udah kayak artis ibu kota yang gampang kecapekan. Jadi, harus menyempatkan diri buat tidur kapan aja. Maklum aja ya, soalnya waktu gue abis buat kerja, bersosialisasi, nyalon sampe jumpa fans. Nah, kalau udah ketiduran, otomatis gue nggak pegang hape, dong! Terus, pada marah-marah deh, kalau ada message atau telepon penting. Salah satunya Kak RG yang suka protes mengenai hal ini. Kalau misalnya lagi janjian buat ketemu, gue suka nggak langsung angkat telepon atau balas message. Ya gimana, ya, tangan cuma dua. Kadang, yang satu dipake buat ngupil, yang satunya lagi dipake buat betulin makeup. Terus, kadang juga males liatin hape kalau lagi di dalam bus atau kendaraan umum...

Romantic Ulzzang in Lace and Tulle

By on Aug 11, 2014 in Fashion, Narsis

Halo teman-teman yang kusayangi. Masih ingat kalau Kak Uung janji mau upload lebih banyak foto, selain cerita ngalor-ngidul nggak jelas? Nah, kali ini Kak Uung kembali menepati janjinya dengan bikin fashion blog. Di postingan yang sebelumnya, 5 Kg of Happiness, gue bilang kalau berapa pun berat barbel yang lo orang angkat, lo orang tetep bisa jadi perempuan tulen? Dan gue pun bisa membuktikannya. Kak Uung tetap bisa jadi perempuan tulen ketika jalan-jalan di Gading Walk, Mal Kelapa Gading. HAHAHAHA…. Sebenernya gue nggak terlalu suka pake bolero kalau bentuknya terlalu polos. Kesannya biasa banget, tapi kalau ada variasinya kayak kera lace dan banyak mutiaranya kayak begini, menurut gue lebih bagus. Kesannya perempuan banget. Biar makin perempuan, bolehlah di-mix and match sama rok tulle kembang-kembang warna krem. Perempuan banget, beda dari keseharian Kak Uung, tapi nggak menghilangkan gaya Kak Uung yang emang suka banget pake rok tulle. Udah gitu, sepatu platform hitam dan kaos kaki yang ada motifnya sedikit ini, menurut gue sih cocok banget buat dipadu-padankan sama rok tulle. Kesannya vintage gimana gitu. Karena udah perempuan banget, rasanya gue harus menggerai rambut gue buat menimbulkan kesan romantic. Tapi, berhubung rambut gue belum terlalu panjang dan tipis, lebih bagus kalau ditambahkan hair clip panjang dan bergelombang kayak begini. Tas yang gue pake emang leopard. Kesannya agak daring gitu, tapi menurut gue nggak masalah sih, karena bentuknya masih perempuan banget. Dan warna leopard bag-nya masih senada sama rok tulle-nya.   Hair Clip: Belle Wonderful Hair Cammomile Black Pearl Bolero: @preloved_room Tulle Skirt: Whateveryoursize Socks: Naughty Devany Black Platform Shoes: Adorable Projects Leopard Bag: Beli di...

Page 23 of 25« First...10...2122232425
Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy