FacebookTwitter
Page 23 of 27« First...10...2122232425...Last »

Review Gizi Super Cream: Secret of Seaweed

By on Nov 6, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Ternyata, ada krim muka yang umurnya lebih tua daripada umur majalah GADIS, yaitu Gizi Super Cream (GSC): Secret of Seaweed. Soalnya, krim ini udah lahir sejak tahun 1972, sementara majalah GADIS baru lahir setahun setelahnya (1973). Berarti kemungkinan besar, nenek dan nyokap kalian pernah pake krim ini. Waktu masih SMP, gue sering lihat GSC bertebaran di mini market. Kemungkinan besar, dulu gue juga pernah pake krim ini. Kalau nggak salah lho, ya. Soalnya, setau gue sih ketika masih kecil sampe SMA, gue nggak pernah pake krim apa-apa. Dibeliin body lotion aja nggak pernah dipake. Padahal, gue suka banget panas-panasan sambil main sepeda atau layangan. Gue nggak nyangka kalau masa kecil gue dihabiskan untuk menjadi alay (anak layangan). Gue baru sadar kalau gue adalah cewek pas awal-awal kuliah. Di zaman kuliah itulah gue mulai mengeksplor krim perawatan. Tapi, gue nggak pernah melirik GSC. Karena, dulu kalau nggak salah harganya cuma goceng sampe Rp 7 ribuan. Dalam pikiran gue, ada harga baru ada kualitas. Kalau barang murahnya kebangetan, berarti kualitasnya udah pasti nggak ada. Apalagi, packaging-nya juga biasa banget, malahan terkesan jadul. Waktu pun terus berlalu dan gue masih nggak percaya sama krim ini. Dari tahun ke tahun, harganya masih murah. Paling cuma nambah beberapa ribu. Nggak sebanding dengan peningkatan populasi jomblo di dunia ini. Tapi, yang bikin gue salut adalah krim ini masih terus ada dan bertahan. Dari zaman gue belum lahir, terus gedenya menjomblo sesuai umur, sampe akhirnya bisa dapet pacar. Apa mungkin karena murah, ya, jadi kalau orang nggak punya duit, tinggal beli aja krim ini. Bodoh amat hasilnya bagus atau nggak. Yang penting bisa pake sesuatu di muka. Seiring meningkatnya penggunaan internet dan media sosial, gue melihat GSC makin tersohor. Banyak blogger yang menceritakan soal krim ini. Mulai bercerita soal nenek-nenek yang masih cantik, padahal perawatannya cuma...

Kisah Anak Magang Culun (Part-1)

By on Nov 3, 2014 in Diary

Ada meme di Path yang bilang begini: ‘Orang ngeliat hidup gue enak terus. Sebenernya sedih kalau diceritain’. Dan gue merasa itu terjadi dalam hidup gue. Ketika gue kerja di majalah perawan a.k.a GADIS, gue banyak melihat anak magang berseliweran. Mereka enjoy banget ngelakuin tugas magang mereka. Soalnya, mereka emang suka banget sama kerjaan yang dikasih. Udah gitu emang cocok banget sama jurusan yang diambil. Dalem hati gue pun mulai sirik, karena sejak muda gue nggak punya kesempatan kayak mereka. Nggak mungkin banget jadi anak magang di majalah. Selain karena nggak punya channel ke sana, jurusan gue (Ekonomi) nggak bakal ngebolehin gue buat magang di bidang jurnalistik. Karena, yang namanya magang itu harus berhubungan sama jurusan. Waktu kuliah, konsentrasi kuliah gue adalah Manajemen Pemasaran. Di semester 6 atau 7 (tahun 2007 kalau nggak salah), kami diharuskan ambil mata kuliah magang. Tujuannya, supaya kita siap menghadapi kerasnya dunia kerja. Apa pun alasannya, tetep aja gue males, karena gue bakal menjalani magang kayak orang hidup segan, mati tak mau. Pasti gue bakal disuruh melakukan sesuatu yang gue nggak suka. Biar hidup aman dan sejahtera, akhirnya menyetujui ide seorang teman buat ambil magang di perusahaan properti yang katanya masuknya gampang dan kerjanya santai. Katanya sih begitu. Ini bermula dari ajakan temen sekelas gue yang namanya Welly (ini cowok, bukan cewek). Gue lupa waktu itu kami sekelas di mata kuliah apa. Welly ini adalah kakak kelas gue di IBII yang cuma beda setahun angkatannya. Meskipun umurnya udah cukup tua, tapi Welly baru ambil mata kuliah magang bareng kami. Gue juga baru tau riwayat kuliah Welly dari Jesslyn. “Waktu semester I, Welly itu IP-nya 4.00! Tapi, semester selanjutnya, IP-nya malah nasakom,” kata Jesslyn. Begitu denger kenyataan tersebut, gue agak mengucap syukur. Setidaknya, walaupun gue nggak pernah jadi anak cum laude, tapi IP gue nggak pernah...

First Impression Review: My Scheming Facial Mask

By on Nov 1, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Kenapa cewek-cewek Asia, terutama di Taiwan terlihat lebih muda ketimbang umurnya? Karena, mereka pakai banyak skin care di wajah. Jadi, pas nggak pake makeup kulitnya tetep bagus kayak bayi dan nggak ada keriputnya. Pas dipakein makeup, mukanya pun jadi lebih cantik. Karena, makeup jatuhnya lebih bagus di kulit yang emang udah sehat. Kalau kulit terlalu kering dan kusam, makeup nggak bisa menempel dengan baik. Kulit terlalu berminyak, makeup cepet luntur. Kulit jerawatan kalau dipakein makeup jatuhnya juga nggak bagus. Kelihatan banget kayak sengaja nutupin jerawat. Jadi, pake skin care itu penting banget! Di Taiwan yang notabene udaranya jauh lebih bersih aja, cewek-ceweknya tetep rajin pake skin care. Apalagi buat kalian yang tinggal di Indonesia yang udaranya jauh lebih kotor, banyak polusi udara dan sebagainya. Hampir setiap harinya, kita juga dihadapi oleh rutinitas dan kemacetan lalu lintas yang bisa bikin kulit gampang stres dan keriput. Ngomong-ngomong soal skin care, skin care itu banyak macamnya, ada cleanser, toner, face wash, lotion, moisturizer dan masker. Nah yang gue mau bahas kali ini adalah facial mask dari My Scheming Facial Mask, facial mask best seller dari Taiwan. Kalau hasil penjualannya best seller, berarti produknya emang bagus. Untuk mendapatkan produk ini, kalian nggak harus jauh-jauh melancong ke Taiwan, karena gue punya temen yang emang kerja di Taiwan dan sekarang jadi first hand reseller facial mask ini buat dijual di Indonesia. Beberapa waktu lalu, doi sempat kasih gue 10 sample facial mask ini. Begitu gue terima, Masya Allah, packagingnya ucul-ucul a.k.a lucu. Bakal bikin kalian semangat maskeran! Lumayan buat mengisi waktu saat ingin melakukan me time. 10 macem facial mask ini terdiri dari: 1. Apple Brightening & Hydrating Mask 2. Hyaluronan Hydrating Mask 3. Rose Dew Moisturizing Mask 4. Mandelic Acid Brightening Mask 5. L-Ascorbic Acid Brightening Mask 6. Snail Essence Hydrating Mask 7. Skin...

Gue Hampir Jadi Anak Cum Laude

By on Oct 30, 2014 in Diary

Gagal, karena salah jurusan sekaligus salah pergahulan. Waktu memutuskan buat masuk ke kampus yang terkenal dengan predikat kandang burung (kampus nggak elite dan agak kumuh) itu, gue galau berat. Pasalnya, jurusan dan kampus yang gue masuki bukanlah impian gue. Gue pengin ambil jurusan Sastra, tapi nyokap gue lebih kepengin gue ambil jurusan Ekonomi dengan tujuan supaya gue bisa memajukan perekonomian Indonesia. Nyokap pengin banget supaya gue bisa jadi Sri Mulyani kedua di Indonesia. “Mi, aku mau masuk UI (Universitas Indonesia) ambil Sastra Indonesia, ya,” bilang gue ke nyokap. “Mau jadi apa ambil Sastra?” “Ehmm.. Nggak tau, sih. Tapi kan bisa dicoba dulu.” “Nggak ada gunanya, Ung. Udah gitu, mana bisa kamu masuk UI.” “Hah, kok nggak bisa?” “Muka Cina kayak kita nggak bakal bisa masuk ke sana. Susah. Yang diterima pasti pribumi semua.” “Ih, nggaklah. Pasti ada.” “Kalau ada pun, pasti jarang. Satu di antara seribu,” kata nyokap gue seolah-olah dia udah pernah survey di UI. Mendengar celoteh nyokap barusan, gue agak ngeri juga sih, kalau mau coba kuliah di sana. Udah pengumumannya lama, belum tentu diterima. Kalau nggak diterima, gue bisa nganggur di rumah. Masa depan gue pasti jadi suram, karena nggak kuliah. Kebayang nggak sih pas isi kuesioner atau angket gitu, pas ditanya apa pendidikan terakhir Anda? Dan gue silang kotak bagian SMA. Malunya itu udah kayak abis nyolong mangga muda milik tetangga sebelah, terus ketangkep dan digebukin massa. Daripada kualat sama orangtua, dengan sangat terpaksa, kayak orang yang dipaksa kawin di usia muda, gue pun nurut sama nasihat nyokap, yaitu ambil kuliah Ekonomi. Di hari pertama gue memulai kuliah di kampus IBII tercinta (sekarang namanya KBS/ Kwik Kian Gie Business School), gue kenalan ngasal dengan seorang cewek yang ternyata sekelas sama gue di kelas B. Di kelas itu,  astaga jadwalnya enak banget! Hari Senin nggak ada kuliah, terus kuliahnya dari...

My Hada Labo Skin Care Varian Review

By on Oct 29, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Dengan blog macam ini, gue makin yakin kalau gue adalah cewek yang rajin merawat wajah, meskipun pernah jomblo lama banget. Tapi, kalau kalian rajin merawat wajah kayak gue, pastinya kisah cinta kalian bakal happy ending kayak yang gue alami. Super jijik, ya! Gue aja dengernya pengin muntah di selokan. Buat merawat wajah sehari-hari, gue pake beberapa varian Hada Labo skin care selama dua tahun. Pertama kali gue pake, produk ini belum ada di Indonesia dan harus pesan dengan sistem pre order di online shop dengan harga cukup mahal. Kesabaran gue pun membuahkan hasil, karena akhirnya produk ini ada pabriknya di Indonesia. Harganya pun ngikutin harga rata-rata skin care di Indonesia. Gara-gara harganya yang cukup murah itu, banyak yang meragukan, tuh produknya sebagus kayak negara asalnya (Jepang) nggak, sih? Tapi, nggak perlu kuatir, karena produk ini sudah dipegang sama Rohto Laboratories Indonesia (perusahaan kecantikan ternama di Indonesia). Mereka menjanjikan bahwa bahan-bahan yang digunakan di varian Hada Labo Indonesia memang sama kayak di Jepang. Soal harga murah, itu mungkin karena nggak perlu ongkir mahal-mahal dari luar negeri. Sejak dua tahun lalu, udah banyak banget beauty blogger yang review soal produk ini. Dan yang bikin produk ini eye catching adalah produk ini (katanya) terjual sebanyak satu buah setiap dua detik di Jepang. Kalau gue yang jualan, pasti gue udah tinggal duduk ongkang-ongkak kaki di rumah sambil nonton teve dan makan makanan berlemak sampe badan melebar. Abis itu paling disuruh sedot lemak sama nyokap gue! Nggak semua varian Hada Labo rutin gue pake sih, meskipun gue udah pernah coba semuanya. Karena, kulit gue ini termasuk kulit yang agak sensitif dan berminyak banget. Berikut ini adalah varian Hada Labo yang gue pake:   1. Hada Labo Ultimate Whitening Face Wash Sekilas, isinya mirip sama kayak sabun muka biasa. Warnanya putih gitu, terus kalau dikasih...

Kisah Gue Ketika Dilecehkan

By on Oct 24, 2014 in Diary

Suatu hari perempuan berjaket Bruce Lee dan bercelana batik datang ke gala premiere film Tak Kemal Maka Tak Sayang di XXI Plaza Senayan. Semua orang heran kenapa ada cewek seaneh itu muncul di acara yang cukup resmi. Ya, itulah gue yang datang ke acara yang penuh dengan seleb beken. Nggak tau setan apa yang bikin gue pake milih baju macam ini. Begitulah penampakan gue malam itu. Keren kan? Kayak lagi masih dalam suasana liburan sekolah. Setiap kali gue menyapa orang yang gue kenal di sana, mereka pasti menanyakan hal yang sama, seperti: Kak, ke sini sendirian doang? Nggak ada yang temenin ke mari? Abis dari mana, Kak? Kok gue ditanya kayak begitu seolah-olah gue jones (jomblo ngenes), ya? Woi, gue udah nggak jomblo keles! Nah, kalau pertanyaan di poin ketiga itu adalah pertanyaan terselubung dari orang-orang yang penasaran sama baju yang gue pake. Mereka heran, emangnya ada kantor yang bolehin pegawainya pake baju kayak begitu. Emang sebenernya nggak boleh, sih. Lagian gue juga cuma khilaf. Dan untungnya nggak ketemu sama bos-bos besar di kantor. Hihihi.. Gue udah ready di TKP jam 7 malam buat nonton gala premiere, tapi ternyata acaranya mulai jam 9 malam. Dan itu bikin KZL banget. Sakitnya tuh di sini (sambil nunjuk pantat). Ya udah deh, mau nggak mau gue harus berlama-lama di bioskop dengan baju yang nggak layak itu. Setelah menunggu sampe rambut gue panjang sedengkul, akhirnya gue nonton gala premiere film yang dibintangi sama Kemal Palevi itu. Betapa kagetnya gue, pas muncul scene Kemal lagi main drama musikal sama Putri (Laudya Cynthia Bella) dan berakting ala Romeo dan Juliet. Karena, abis itu kamera langsung kesorot ke arah penonton teater dan jreng.. jreng.. jreng.. Gue lihat ada perempuan berjaket leopard dengan muka galau. Pas banget kan. Abis adegan sedih ala-ala Romeo dan juliet, muncul penonton perempuan bermuka galau....

Review Garnier BB Cream Miracle Skin Perfector

By on Oct 20, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

“BB cream is like money to me. I always need to carry it around,” kata Key , personel boyband Shinee yang suka banget pake BB cream. Bahkan, dia juga sempet mendoakan agar pencipta BB cream bisa masuk surga, karena jasanya begitu besar. Cowok aja bisa antusias banget sama BB cream, apalagi cewek! Kayaknya haram hukumnya kalau cewek nggak tau apa itu BB cream. Sebelum ada BB cream, kita mengandalkan foundation buat makeup. Tapi, nggak mungkin kan kita pake foundation setiap hari. Karena, foundation itu covering-nya lebih berat. Nggak jarang, pas dipake tampilan muka lebih mirip kayak mau ngelenong atau syuting sinetron stripping yang episodenya panjang banget! Tebel banget, Kak! Kalau udah makin lama dipake, bisa menimbulkan efek cakey. Itu lho, kalau ketawa, muka kayak retak-retak. Udah gitu, foundation juga bisa nutupin pori-pori, bikin kulit nggak bisa nafas. Akhirnya, kulit malah jerawatan dan rusak. Kalau gue pribadi sih, selain bisa jerawatan, foundation juga bisa bikin kulit gue gatel-gatel. Makanya gue nggak bisa pake foundation lama-lama. Paling cuma buat photo shoot pas gue jadi model selama beberapa jam, abis itu langsung gue hapus. Aih, sedap banget! Photo shoot, mamen! Di era modern seperti sekarang ini, untungnya udah banyak BB cream beredar di mana-mana. Sekilas, bentuknya mirip kayak foundation, tapi covering-nya nggak setebel foundation. Jadi, pas dipake hasilnya terlihat natural. Cocok banget buat aplikasi “no makeup” makeup. Itu lho makeup natural yang bikin kita kelihatan kayak nggak pake makeup, padahal sebeneranya pake makeup. Buat tipu-tipu laki bolehlah. Selain itu, BB cream itu nggak cuma buat covering kulit wajah, tapi manfaatnya juga banyak. Antara lain bisa melembapkan, mencerahkan wajah, memudarkan bekas jerawat dan noda pada wajah, melindungi kulit wajah dari sinar matahari dan meratakan warna kulit. Tapi, bukan berarti bisa dipake buat tidur, ya, karena BB cream itu bukan krim malam. Kebetulan, kemarin...

Jika Kalian Jadi Warga Bekasi

By on Oct 19, 2014 in Diary

Kasihan deh lo jadi anak Bekasi! Hahaha… Itulah hinaan gue terhadap warga Bekasi, karena Bekasi lagi di-bully di media sosial secara sadis. Tiba-tiba, gue jadi bangga banget bisa jadi anak Mangga Besar, Kota dan sekitarnya. Padahal, tempat tinggal gue itu nggak elit lho. Orang-orangnya pun bukan berdarah biru bak bangsawan yang ada di sinetron fantasi Indosiar. Tapi, akses buat ke mana-mana dekat. Strategis dan banyak fasilitas. Mau pilih sekolah sesuai kepribadian bisa banget, karena ada banyak jenis sekolah di sana, dari sekolah Katolik yang alim banget, sampe sekolah negeri yang suka tawuran juga ada! Mau sekolah di sekolah yang gampang disogok supaya bisa naik kelas juga ada. Yang penting duitnya kenceng! Mau pergi ke tempat ibadah, sampai ke tempat maksiat, semua ada di sana. Semua pilihan ada di tangan kita, kalau kita tinggal di Mangga Besar. Tinggal pilih mau jadi orang beriman atau penjahat. Sedangkan, kalau tinggal di Bekasi, kita nggak punya pilihan. Karena, kita hanya bisa pasrah pada nasib. Nasib di-bully di media sosial! Kenapa sih bisa sampai di-bully? Soalnya, Bekasi udah bikin KZL banyak orang dan bikin warganya jadi korban bullying dengan alasan berikut ini.   1. Tua di Jalan Harga rumah di Bekasi itu jauh lebih murah ketimbang di Jakarta. Kalau bisa beli satu unit rumah di Jakarta, mungkin pas ke Bekasi bisa beli tiga sampai empat unit rumah. Beli rumah di Bekasi jadi kayak beli ketoprak di pinggir jalan! Tapi, kerjanya di Jakarta. Tentu aja ini musibah besar. Coba bayangin, betapa jauhnya perjalanan yang harus dihadapi setiap hari. Makanya, orang-orang yang tinggal di Bekasi mengalami sindrom “tua di jalan”. Orang di Jakarta masih bobok cantik di kamar sampe ileran, tapi warga Bekasi udah harus mandi dan siap-siap berangkat kerja sambil ngantuk-ngantukan. Saking buru-burunya, sarapan aja nggak sempet. Sekalian aja OCD, Kak biar ramping!   2....

Page 23 of 27« First...10...2122232425...Last »
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy