FacebookTwitter
Page 22 of 28« First...10...2021222324...Last »

Berkunjung ke Pasar Santa (Part 1)

By on Jan 27, 2015 in Diary, Food Porn

Weekend kemarin, gue sama Kak RG berkunjung ke Pasar Santa (Jl. Cipaku I, Tendean, Jakarta Selatan). Bolehlah sekali-kali main ke daerah Selatan. Bosen banget jadi Cinko (Cina Kota) terus! Awalnya, gue pikir Pasar Santa itu tempat berkumpulnya Santa Klaus di Jakarta, tapi ternyata dugaan gue salah besar! Pasar Santa itu tempat nongkrong yang lagi hit di kalangan anak muda Jakarta Selatan. Baru kali ini kan denger ada pasar yang bisa dijadikan tempat nongkrong? Sekilas, pasar ini mirip kayak pasar-pasar pada umumnya. Kayak Pasar Inpres gitu deh yang jual buah-buahan, sayur-sayuran dan berbagai keperluan rumah tangga lainnya. Kayak tempat gahul ibu-ibu kan? Tapi, kalau dijelajahi lebih lanjut, banyak banget spot seru di sana. Ada tempat buat beli kain, jahit baju, beli barang vintage, bahkan kuliner seru pun bisa dilakuin di sana. Kalau mau liat kucing berantem juga bisa, karena di Pasar Santa juga banyak kucing berdatangan. Gue sama Kak RG aja sampe terkesima ngeliat kucing berantem di sana. Tadinya, gue pikir kedua kucing itu pengin ciuman. Eh taunya malah berantem. Ah, nggak seru! Di lantai 1, ada food court yang lumayan gede. Pas nyampe di sana, belum banyak kedai makanan yang buka. Mungkin karena kami datengnya kepagian. Kemarin itu, kami datengnya kira-kira jam 1 siang gitu deh. Denger-denger sih, kedai makanan rata-rata bukanya agak siang menuju sore gitu. Sekitar jam 2 atau 3. Pandangan mata kami langsung tertuju pada sekelompok orang yang lagi asyik bakar-bakaran di food court. Untungnya yang dibakar bukan kucing atau kedai makanan. Tapi daging sapi, Kak! Makan daging yang dibakar sendiri di atas arang bak makan buffet di Hanamasa atau Yuraku. Saking serunya ngeliat orang-orang bakar daging, gue pun bertanya sama seorang Mbak-mbak supaya tau, di kedai mana dia jajan. Oh, ternyata jajannya di Bbo Bbo Kogi (@bbobbokogi). Kami pun pesan 2 menu, yaitu seporsi daging...

7 Ciri-Ciri Cina Kota (Cinko)

By on Jan 26, 2015 in Diary

Selama ini, yang kita tahu tentang Cina Kota (Cinko) adalah warga keturunan Cina di Jakarta yang berdomisili di Jakarta Barat, Utara dan sekitarnya. Dengan ciri-ciri fisik bermata sipit, berkulit putih atau kuning, rambut dicat merah atau kuning, gondrong kayak pemeran Meteor Garden, suka pamer motor, gemar pake kalung salib besar, tindikannya banyak, hobi pamer dada dan masih banyak ciri lainnya yang mencolok. Tapi, pengertian Cinko bukan cuma berbicara tentang ciri-ciri di atas. Karena, Cinko itu nggak melulu dilihat dari penampilan fisik. Perilaku juga harus diperhatikan. Kak Uung pun mempelajari hal ini selama seminggu dan akhirnya menemukan 7 ciri-ciri Cinko, yaitu:   1. Suka Pakai Marga Cina di Belakang Nama Maksudnya marga Cina yang ditambahkan di nama akun media sosial dan sejenisnya. Padahal, nama depannya Indonesia banget. Misalnya Mariska Wu, Mariska Wang, Mariska Chang, Mariska Liem dan sebagainya. Biar orang-orang tau kalau mereka itu emang punya darah Cina. Bukan Cina abal-abal. Tapi, terkadang ada beberapa oknum yang suka menambahkan marga Cina di belakang nama mereka, padahal nggak punya darah Cina sama sekali. Biasanya sih seleb supaya namanya catchy dan mudah diingat, macam Vicky Shu atau Mulan Kwok (nama lama Mulan Jameelah ketika masih bergabung di grup Ratu). Tapi, nggak semua Cina punya gaya hidup seperti itu. Bisa aja nama asli yang tercantum di KTP memang ada marga Cinanya. Kalau kayak begitu, oknum tersebut nggak bisa disebut Cinko.   2. Gesture Berubah Ketika Omongin Bisnis Suka liat engkoh-engkoh nongkrong di rumah makan sekitar Mangga Besar? Awalnya, mereka duduk tenang sambil makan, ngobrol dan ketawa-ketawa. Tapi, tiba-tiba aja gesture tubuhnya berubah. Entah itu tolak pinggang, tegakin badan atau angkat kaki dengan gaya agak songong. Mereka bukan lagi kesurupan atau ingin mengubah kepribadian. Perubahan mendadak itu terjadi karena mereka lagi asyik ngobrolin bisnis atau seputar uang. Mungkin itulah alasan uang bisa membutakan mata manusia....

Katanya, Cewek Nggak Boleh Ngengkang

By on Jan 19, 2015 in Diary

Kemarin, gue reunian sama temen-temen lama gue di Grand Indonesia (GI). Ada Susi, Octa dan Hellen. Karena orangnya cuma dikit, jadi gue sebutnya reuni kecil-kecilan. Emang kurang rame dan heboh bak ibu-ibu PKK lagi ngumpul buat arisan. Buat menggapai GI, kami pun naik TransJakarta dan turun di halte Tosari. FYI, kalau mau naik TransJakarta ke GI, turunnya emang di halte itu. Gue kasih tau hal ini bukannya bawel, ya, tapi karena gue peduli sama kalian. Biar kalian nggak nyasar kalau mau ke GI. Pas kelar turun dari halte tersebut, Kak Octa mendapati gue berjalan dengan perkasa. Kata lainnya ngengkang. HAHAHA… “Ung, lo dari SMA jalannya nggak pernah berubah, ya. Hahaha,” kata Octa yang udah lama banget nggak ketemu sama gue. Kurang lebih, udah 5,5 tahun gue nggak ketemu sama anak ini. Karena, 5,5 tahun yang lalu doi dapet beasiswa buat kuliah S2 di Taiwan terus kerja di sana. Kayaknya si Octa ini syok mendapati temannya nggak kunjung berubah jadi wanita seutuhnya. Untungnya, doi nggak kena serangan jantung mendadak sih. Apalagi, udara di Jakarta itu jauh lebih panas dan kotor ketimbang di Taiwan. “Jadi cewek itu, jalannya harus rapet. Harus bisa membawa diri dengan baik. Kalau kita bisa membawa diri dengan baik, cari pacar gampang. Cari kerjaan juga gampang. Di Taiwan, gue kenal sama cewek yang mukanya emang cakep. Tapi, dibilang cakep banget juga nggak. Dia pinter banget membawa diri. Makanya cari kerja apa pun juga gampang,” timpal Octa lagi. Gue jadi curiga kalau cewek di Taiwan itu adalah lulusan beauty pageant dan sejenisnya. Atau mungkin dia berasal dari Solo. Pas denger wejangan itu, gue sih nggak tersinggung sama sekali, karena gue KANGEN dengan wejangan macam itu. Tapi, gue nggak pengin menjadikan hal itu sebagai bahan untuk berubah. Hahaha… Kangen, karena gue udah lama banget nggak denger wejangan serupa lagi....

First Impression Review: Beauty and Strong Acid Water (Kangen Water)

By on Jan 14, 2015 in Beauty, Diary, Review Produk

Sudah cukup lama Kak Uung nggak jadi perempuan sejati yang gemar me-review alat makeup atau pun skin care. Ya udalah, berhubung gue lagi kumat dan pengin jadi cewek, gue pun me-review air yang cukup fenomenal di kalangan masyarakat. Mungkin udah banyak yang denger soal Kangen Water. Pertama kali gue denger air ini, justru dari media sosial. Saking dangdutnya nama air itu, air itu pun jadi sasaran empuk para pembuat meme buat dijadikan bahan lucu-lucuan. Tadinya, gue pikir itu cuma merk air mineral biasa kayak Aqua, VIT, Ades dan sejenisnya. Namanya dibuat dangdut supaya cepet terkenal. Ternyata, dugaan gue salah. Menurut penelitian sih, orang-orang yang udah minum air tersebut, kondisi tubuhnya jadi beda. Makin sehat dan kulitnya makin bagus. Selain itu, rasanya juga lebih enak ketimbang air biasa. Tentu aja harganya jauh lebih mahal. Katanya sih gitu. Gue nggak tau sih berapa harganya dan nggak pernah beli juga. Nggak gue sangka di balik namanya yang cenderung alay itu, air ini mengandung banyak manfaat. Kemudian, Kangen Water pun berinovasi dengan menghadirkan Beauty Water dan Strong Acid Water. Gue beli kedua barang itu dari akun Instagram @BeautyWaterStore. Selain karena penasaran sama fungsinya, gue beli kedua barang itu, karena harganya terjangkau. Hahaha. Emang dasar Cina nggak mau rugi! Beauty Water 250 ml sama Strong Acid Water 100 ml harganya cuma Rp 65 ribu. Baiklah marilah kita review satu per satu. Mulai dari Beauty Water-nya, ya! Konon katanya, Beauty Water ini memiliki PH 6 yang berfungsi untuk merawat kecantikan kulit. Cara pakenya pun gampang. Tinggal disemprot aja ke muka lo pas abis mandi pagi, sebelum makeup, abis mandi sore dan sebelum tidur malam. Ternyata, manfaatnya untuk kecantikan banyak banget! Menjaga PH kulit agar tetap seimbang Melembapkan kulit Mencerahkan kulit Mengencangkan kulit Meremajakan kulit Mengatasi rambut rontok Menghilangkan flek hitam Pemakaian Beauty Water bisa makin...

Grungy School Girl

By on Jan 12, 2015 in Fashion, Narsis

Pernah liat anak sekolah bolos, terus makan ke resto ayam presto Ny. Nita dan belanja kebutuhan ngemil di Family Mart, Wolter Monginsidi? Mungkin aja abis makan dan belanja, tuh anak malah hirup lem warna kuning rame-rame sama temen. Nah, Kak Uung mulai membayangkan jika dirinya berada di posisi itu. Gaya boleh aja nerd dengan kacamata dan kaos kaki tinggi putih kayak anak sekolah pada umumnya, tapi sepatunya, sepatu disko dong! Karena lagi madol, jadi atasannya nggak perlu pake seragam putih. Pake denim vest aja, terus bawahannya pake rok army biar makin asyik waktu hirup lem kuning. Backpack-nya juga nggak usah gede-gede, karena nggak pernah belajar. Pake aja backpack medium warna rainbow. Kalau soal rambut gimana, Kak? Mumpung lagi madol, pakailah wig blonde yang panjang dan keriting di bagian bawah biar cetar membahana. Jangan lupa diikat, karena udara Jakarta begitu panas. Untuk menambah kesan brutal, namun girly tambahin aja denim polkadot hair bow. Triangle ring dan neon spike bracelet juga penting banget buat dipake supaya bertambah gahul!   Blonde Dolly Wig: Belle Wonderful Hair Denim Polkadot Hair Bow: Callista Room Glasses: Naughty Accessories Denim Vest: Mr. Freddy Army Skirt: Beli di Bangkok White High Knee Socks: Akari_Shoppu Sepatu Dikso: Beli di Kak Asri Rainbow Backpack: Roxy Triangle Ring and Neon Spike Bracelet: Beli di Kak Lucia...

Kak Uung Lebih Laki, Sedangkan Kak RG Lebih Wanita

By on Jan 5, 2015 in Diary

Beberapa waktu lalu, sempat ada yang pengin gue nge-blog tentang kisah gue sama Kak RG waktu berantem. Ternyata, bukan cuma 1 orang yang pengin tau cerita itu, tapi masih ada beberapa temen yang juga kepo. Mungkin ini adalah balasan untuk gue yang juga suka kepoin orang. Nampaknya karma benar-benar eksis. Mamam tuh karma, Ung! Daripada bahas soal kisah berantem, lebih baik membahas hal lain yang lebih mendidik. Karena, gue dan Kak RG nggak ingin kalau gaya berantem kami ditiru oleh banyak orang, terutama anak muda zaman sekarang. Kalau mau berantem sama pacar mendingan cari gaya sendiri aja. Kali ini, yang pengin gue bahas adalah tentang perbedaan Kak Uung dan Kak RG. Banyak yang bilang kalau cewek itu berasal dari planet Venus, sementara cowok itu dari Mars. Itulah yang membuat keduanya berbeda dan bisa saling melengkapi. Tapi, kalau kasus gue dan Kak RG itu lain. Gue yang dari Mars, sedangkan Kak RG dari Venus. Dengan kata lain, gue lebih laki, sedangkan Kak RG lebih wanita. Lho, kok bisa? Apa karena jiwa kami tertukar kayak di film-film? Mungkin aja, sih. Berikut perbedaannya Kak Uung dan Kak RG:   1. Dari Segi Suara Mungkin ini karena pengaruh dari mana kami berasal. Kak RG adalah Cina Jawa. Lahirnya aja di Kebumen dan kuliahnya di Jogja. Sedangkan gue, lahir dan besar di Jakarta. Seluruh nafas gue hampir dihabiskan di Jakarta doang. Tentunya, itu berpengaruh terhadap gaya bicara. Meskipun Kak RG ngomongnya nggak medok kayak orang Jawa pada umumnya, tapi gaya bicaranya halus banget kayak cewek. Setiap kali gue kenalin dia ke temen gue, temen gue itu pasti komen tentang suaranya. Suaranya kecil banget, ya. Coba ulangin tadi ngomong apa? Suara lo alus banget kayak Princess Elsa di Frozen. Dan masih banyak komentar lainnya mengenai suara. Kalau udah kayak begitu, biasanya gue yang mempertegas ucapannya...

7 Shao Kao: Jajanan Sate Khas Cina

By on Jan 5, 2015 in Diary, Food Porn

Kalau di China, Shao Kao adalah jajanan sate pinggir jalan. Mungkin kalau di Indonesia, kayak kita liat jajanan gorengan tahu Sumedang yang bertebaran di mana-mana. Kebetulan, keluarga gue punya bisnis jualan sate khas Cina yang diberi nama 7 Shao Kao Chinese BBQ di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Kenapa dikasih angka 7 di depannya? Soalnya biar namanya beda sama resto Shao Kao lain yang juga buka di PIK. Keluarga gue lagi suka sama angka 7, karena angka 7 dianggap populer di kalangan bule. Awalnya gue juga heran sih, kenapa nggak pake angka 8 aja yang lebih Cina. Apalagi, filosofi angka 8 itu juga bagus, yaitu bisa membawa hoki. Tapi, kalau pake angka 8, emang kurang enak ucapinnya, sih. Lebih enak pake angka 7 (baca: Seven Shao Kao). Yang bikin resep dan bumbu-bumbunya juga bukan orang sembarangan, tapi yang ajarin itu orang China asli. Bukan Cina Kota, peranakan atau sejenisnya macam gue. Emang kebetulan, sepupu gue yang buka resto ini nikah sama cewek China asli. Eh, tapi bukan cewek China yang jago pijat lho, ya! Nah, istrinya itu punya saudara yang jago meramu bumbu sate khas Cina! Tanpa jasa doi, resto 7 Shao Kao kayanya nggak bakal ada deh. Gue ke sana tanggal 31 Desember 2014 kemarin. Emang udah direncanain banget buat makan sate pas malam Tahun Baru. Bisa dibilang, sate-sate yang gue makan di 7 Shao Kao adalah makan malam terakhir di penghujung 2014 kemarin. Perut kenyang, hati pun senang! Buat main ke sana, butuh perjuangan berat. Pasalnya, gue anak Mangga Besar, cuy! Kurang menguasai daerah PIK dan sejenisnya. Dan letaknya cukup jauh dari rumah gue. Meskipun pas nyampe ke sana gue dan Kak RG keujanan. Rambut kami juga jadi lepek bingit. Tapi, gue lega pas nyampe di sana, soalnya tempatnya cozy dan homie. Nggak perlu kuatir nggak...

10 Resolusi 2015 Kak Uung

By on Dec 31, 2014 in Diary

Siapa bilang bikin resolusi itu sulit? Bikin resolusi itu semudah membalikkan telapak tangan, semudah bilang iya waktu gebetan yang kalian suka nembak, semudah masak Indomie, semudah kentut di tempat umum. Dan masih banyak kemudahan lainnya. Tapi, ngelakuin resolusi itu yang susah! Susahnya itu mirip kayak nikung pacar orang, kerjain ulangan Fisika, kumpulin duit buat beli Ferrari. Dan masih banyak kesusahan lainnya. Cara mengatasi hal tersebut adalah dengan tidak pernah berhenti bermimpi dan berusaha. Kak Uung juga punya resolusi untuk menyambut tahun 2015, di antaranya:   1. Nggak Mau Lagi Main Sinetron Main sinetron itu tua di jalan, karena tempat syutingnya jauh. Rumah gue di daerah Mangga Besar, tapi syuting biasanya di Persari, Cibubur dan tempat jin buang anak lainnya. Udah gitu, nunggunya juga lama banget! Belum lagi kalau ada pemain lain yang datangnya telat dan harus meladeni berbagai wartawan yang ingin wawancara di lokasi syuting. Udah nunggu lama banget, nggak taunya yang disyut cuma tangan gue doang yang lagi tanda tangan. Capek banget, kan?   2. Pengin Main Film Lebih Banyak Daripada main sinetron, enakan main film. Karena, film itu terlihat lebih berkelas ketimbang sinetron. Tempat syutingnya emang jauh sih, tapi syutingnya paling 3 bulan, abis itu kelar bisa liburan ke luar negeri. Kalau sinetron syutingnya bisa berabad-abad. Duitnya gede sih, tapi percuma nggak bisa dipake, karena nggak ada waktu buat abisin duit. Waktu gue syuting film Tak Kemal Maka Tak Sayang, tempatnya deket sama rumah dan nunggu break-nya juga nggak lama. Udah gitu, bayarannya lumayan gede dan langsung di muka!   3. Nggak Mau Main Cewek Kata orangtua dan pemuka agama, main cewek itu dosa. Haram hukumnya. Jadi, gue nggak bakal main cewek. Apalagi cewek itu punya sifat egois, cepet marah, kayak setan kalau PMS dan datang bulan. Tentu aja gue nggak suka! Makanya, mendingan main cowok kan?...

Page 22 of 28« First...10...2021222324...Last »
Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy