FacebookTwitter
Page 12 of 26« First...1011121314...20...Last »

Bertemu Lagi dengan si “Cina”

By on Sep 8, 2015 in Diary

Dulu, gue pernah cerita soal si Wahyu yang punya pemikiran lebih dari “Cina” di blog ini. Sekarang, gue mau bikin lanjutannya. Sekadar mengingatkan, Wahyu adalah artis yang dulu sering gue wawancarai ketika masih bekerja di kantor lama dan bukan nama yang sebenarnya. Meskipun dia bukan Cina, tapi pemikirannya sangatlah Cina, bahkan lebih Cina dari orang Cina. Muka gue emang Cina banget, tapi soal karakter, dia jauh lebih Cina daripada gue. Nah, tanggal 19 Agustus kemarin, gue kembali bertemu dengan Wahyu. Kami ketemuan lagi dalam rangka menyelesaikan bisnis kami yang sempat tertunda selama beberapa bulan karena kesibukan masing-masing. Dia sibuk rekaman, nge-band, bisnis, dan elus-elus Ferrari. Sedangkan gue sibuk pemotretan sana-sini karena gue adalah model papan catur. Gue udah bikin janji sama Wahyu melalui manajernya. Si manajer bilang bahwa gue bisa ketemu dia tanggal 19 Agustus, jam 12 siang di rumah orangtuanya Wahyu. Tentu gue sangat antusias mendengar kabar itu karena berarti sebentar lagi bisnis gue sama dia bakal berjalan lancar, terus kami jadi orang terkaya nomor 1 di Jakarta. Btw, kenapa gue sebut rumah itu rumah orangtuanya Wahyu? Karena Wahyu udah punya rumah sendiri yang letaknya juga nggak jauh dari rumah orangtuanya, sih. Sekarang, dia lagi sering nginap di rumah orangtuanya karena rumah pribadinya lagi direnovasi. Karena rumah orangtua Wahyu sangatlah jauh, yaitu di ujung Selatan sana, tempat jin mengaborsi anaknya, gue pun memutuskan buat naik Gojek aja. Kebetulan ongkos Gojek waktu itu masih Rp15 ribu untuk seluruh Jakarta. Ongkosnya setara dengan naik bajaj dari rumah gue ke Mangga Dua. Murah kan? Capcus, deh! Kalau menurut peta di Gojek, jarak dari rumah gue sampe rumahnya Wahyu itu sekitar 22 km! Panjang, ya! Demi bertemu dengan Wahyu dan sesuap berlian, gue pun bela-belain mengorbankan pantat gue dengan duduk di atas motor abang Gojek kurang lebih 1,5 jam. Ya auloh, pegel...

Happy Tummy Chapter 18

By on Sep 1, 2015 in Diary

Kalau kalian belum baca buku gue, Happy Tummy mending jangan baca blog ini dulu, deh. Karena, blog ini merupakan kelanjutan dari buku gue itu. Kan lebih enak baca ceritanya secara berurutan. Mungkin ada yang belum tau cover buku gue kayak gimana. Nih, Kak Uung kasih liat. Lebih baik, kalian baca aja blog gue yang omongin seputar makanan, seperti Inilah 6 Makanan Terpedas Versi Kak Uung, 7 Shao Kao: Jajanan Sate Khas Cina, Hidup Sehat dengan Green Smoothies, dan Martabak Red Velvet Oreo Cream Cheese 65A Pecenongan. Tapi, kalau kalian udah baca bukunya, bisa lanjut baca blog ini sampe kelar. Kira-kira, 1,5 bulan lalu (sebelum gue resign), gue dapet undangan liputan dari Breadlife Bakery tentang peluncuran produk baru mereka. Di undangannya juga tertulis ada Takeru Kobayashi yang bakal hadir di press conference terus pamerin kemampuan makannya. FYI, Kobayashi yang akrab disapa Kobi ini adalah competitive eater legendaris asal Jepang yang udah sering sabet rekor Guinness World karena bisa makan makanan yang itungannya berkilo-kilo dalam waktu singkat. Karena ada Kobi, tentu aja gue jadi semangat buat liputan! Gue pengin melihat Kobi dari dekat. Pengin liat dengan mata kepala gue sendiri bagaimana dia menghabiskan banyak roti dalam waktu 3 menit aja, pengin salaman sama dia, pengin foto bareng, dan pengin kasih dia buku Happy Tummy. Karena buku itu cocok banget buat dia. Isinya kan tentang pengalaman gue selama jadi competitive eater, tentang kompetisi makan di Indonesia, dan gue juga cukup sering mention nama dia di buku itu karena dia adalah idola sekaligus role model gue. Sayangnya, waktu gue dateng ke acara itu, si Kobi malah nggak ada. Kurang ajar! Gue merasa tertipu. Ternyata, Kobi baru dateng ke Tribeca, Central Park (CP) mal tanggal 29 Agustus nanti! Ngomong-ngomong soal ngefans sama Kobi, gue nggak ngefans sama dia dari lahir, sih. Karena gue juga...

Diajak atau Dimanfaatkan?

By on Aug 26, 2015 in Diary

Suatu hari temen gue yang namanya Puspa (bukan nama sebenarnya) curhat ke gue. Di kantor barunya, dia diajak rafting ke Sukabumi sama temen-temen kantornya. “Wah, bagus dong! Walaupun masih baru, tapi mereka udah mau ajak lo jalan-jalan!” kata gue sotoy. “Bagus apanya? Gue kan belum deket sama mereka. Mana enak sih pergi rafting sama temen yang baru dikenal gitu,” bilang Puspa kesel. “Mungkin mereka ajak lo rafting supaya nantinya kalian bisa akrab kali, Kak.” “Mereka rencanain rafting ini udah lumayan lama. Terus tiba-tiba mereka ajak gue yang masih anak baru. Ngapain coba? Ngajaknya juga seenak jidat. Nggak tanya dulu ke gue, suka rafting nggak? Mau ikut kita rafting nggak? Atau basa-basi apa kek! Lah ini langsung disuruh ikut dan dikasih tau patugannya sekian. Gue curiga mereka cuma manfaatin gue supaya patungan ongkos dan lain-lainnya lebih murah!” “Oh gitu, ya! Bisa jadi, sih. Kalau feeling lo udah nggak enak, mending nggak usah ikut, Kak.” “Nah, itu dia. Gue kan udah cari alasan terus supaya nggak ikut acara itu. Tapi, mereka terus-terusan re-schedule dan cari waktu lain sampai gue bilang bisa! Kesel nggak?” “Wah, parah bingit, Kak! Gue jadi makin curiga deh. Kayaknya orang-orang itu emang cuma manfaatin lo biar biaya makin murah! Kalau emang bener niat mau liburan mah, langsung liburan aja, nggak usah tungguin lo sampe bisa! Yaelah miskin banget, liburan ke Sukabumi aja sampe irit-irit!” Gue jadi ikutan naik darah. “Itulah kenapa gue males berteman sama orang kantor dari dulu. Buat gue, temen kantor cuma buat jadi rekan kerja. Males deh kalau harus pergi liburan segala.” Kalau diingat-ingat lagi, kayaknya gue punya pengalaman serupa kayak si Puspa, deh, meskipun nggak sama persis. Rasanya nggak enak juga, lho dimanfaatin kayak begitu. Diajak pergi jalan-jalan sama temen, bukannya seneng-seneng, tapi malah berasa dimanfaatkan. Apalagi kalau kita nggak terlalu dekat dengan...

Tragedi Wax Berdarah

By on Aug 26, 2015 in Beauty, Diary

Gue adalah orang yang ahli dalam dunia waxing (penghilang rambut yang tidak diinginkan di tubuh). Apalagi, gue pernah melakukan wax sendiri di rumah pake SugarPot Wax. Gue bisa wax sendiri di rumah soalnya hilangin bulunya gampang. Cuma di kaki dan ketek. Tapi, kalau buat urusan brazilian wax, gue nyerah. Gue bingung, kok ada aja orang yang bisa lakuin brazilian wax di rumah tanpa bantuan orang? Mungkin ada yang nggak tau, apa itu brazilian wax? Brazilian wax adalah proses waxing yang hanya bisa dilakukan di Brazil. Makanya gue bingung kok pada bisa lakuin itu di rumah masing-masing? Padahal rumahnya di Jakarta. Hahaha… Kalau kalian percaya, berarti kalian punya pengetahuan sosial yang sangat tinggi bak Puteri Indonesia. Okelah gue kasih tau aja yang sebenarnya. Brazilian wax adalah proses pembasmian rambut di sekitar pubik. Apa itu pubik? Pubik adalah daerah kewanitaan yang ditumbuhi rambut. Biasanya, brazilian wax dilakukan di salon atau klinik dan dilakukan oleh tenaga ahli yang terpercaya. Hari Minggu kemarin, Kak Uung pun mencoba brazilian wax di Browhaus & Strip, Grand Indonesia. Ngapain Kak Uung brazilian wax? Soalnya sebentar lagi gue mau lakuin photoshoot buat majalah dewasa, jadi brazilian wax merupakan kebutuhan pokok buat gue. Pas nyampe di sana, gue disuruh nunggu setengah jam dulu karena masih ada orang yang lakuin brazilian wax. Nggak apa-apa deh, nunggu setengah jam karena bisa duduk-duduk di sana dan tempatnya nyaman. Sayangnya sinyal hapenya payah dan nggak ada wifi. Oh, ya, untuk paket brazilian wax-nya, gue pilih yang paket untuk Pubic xxxx Strip (All Off) yang hard wax (Rp370 ribu). Pilih yang all off biar bener-bener botak. Penginnya sih diukir inisial nama gue ‘M’, tapi percuma gue bikin kayak begitu. Toh, nggak ada yang liat! Dan gue pilih yang hard wax karena kata Mbaknya, nggak terlalu sakit jika dibandingkan sama yang soft wax. Penginnya...

Anak Gaul Dinner di Benedict Grand Indonesia

By on Aug 25, 2015 in Diary, Food Porn

Sebenarnya, gue udah pernah makan di Benedict Grand Indonesia tanggal 9 Agustus kemarin dalam rangka merayakan ultah Kak Susi. Karena sibuk party, gue pun jadi nggak sempat me-review resto yang lagi hits ini. Karena kalian nggak diajak ke ultah Susi, nih gue kasih bonus foto. Waktu itu, gue sama Kak RG kompakan milih menu yang sama, yaitu Korean Bowl Pork (Rp90 ribu). Milih makanan kok sampe kompakan kayak milih presiden? Emang dasar dia ikut-ikutan gue aja! Gue pesen ginian karena ada babinya. Bukan karena lihat gambarnya yang bagus. Toh, emang nggak dikasih lihat gambarnya. Hahaha… Sebenarnya bisa juga sih pesen pake ayam. Jadi, kayaknya kalau nggak boleh makan makanan haram nggak perlu kuatir, deh. Namanya emang Korean Bowl, tapi pas nyampe di meja, gue heran kok ada katsuoboshi di atasnya? Katsuoboshi adalah serutan ikan kering yang ditaburi di atas makanan panas. Kalau sering makan takoyaki pasti sering lihat makanan ini, Nama internasionalnya Japanese bonito flakes. Gara-gara itu, gue sama Kak RG bingung. Jadi, ini makanan Korea atau Jepang? Bodoh amat deh, soal asal-usul makanan! Yang penting rasanya enak! Yup, semua jenis makanan yang ada di Koreal Bowl Pork ini emang enak semua! Dari nasi sampe babi enak semua. Apalagi brokolinya! Sumpah, itu enak banget! Lebih enak dari babi. Hahaha… Pas dilihat sih, brokolinya kelihatan gosong, tapi pas dimakan, aroma gosongnya langsung memenuhi mulut. Aroma gosongnya yang berasa enak gitu, lho! Saking enaknya, Kak RG bilang makan ini berasa kayak lagi berjemur di daerah sub-tropis ketika summer. Halah banyak gaya! Kayak dia pernah berjemur di pantai aja! Ada kimchi juga di dalamnya. Biasanya kan, gue nggak suka sama kimchi, tapi di Korean Bowl Pork ini entah kenapa kimchi-nya enak dan gue berhasil abisin kimchi-nya! Sejak makan menu itu, nggak tau kenapa, kok gue jadi ngidam pengin makan brokoli panggang kayak...

Beauty Photoshoot by Aug Photography

By on Aug 25, 2015 in Diary, Fashion, Narsis

Sebulan yang lalu, gue, Hellen, dan Susi sempet ngelakuin photoshoot di Pastis Kitchen & Bar, Hotel Aston Kuningan, Jakarta. Sorry banget baru bikin blognya sekarang karena sebagai model papan atas, jadwal Kak Uung padat bingit. Sepadat jalanan Jakarta yang selalu padat merayap. Yang fotoin kami waktu itu adalah Bapak Adrian Utama Gani (atasan Hellen di kantor). Doi emang udah cukup lama punya hobi fotografi dan kemarin kami jadi modelnya. Hahaha… Buat photoshoot kemarin, gue pake 2 baju. Baju pertama gue adalah dress halter neck merah plus high heels dengan rambut normal (nggak pake wig). Dan baju kedua gue adalah sabrina stripes top dengan bawahan celana laki, suspender, dan sepatu flat biar nggak pegel. Tentunya pake wig silver kebanggan gue dong! Eh sumpah, celana abu-abu yang gue pake itu beneran celana laki, lho! Itu celana Koko gue yang udah bosan dia pake, lalu disumbangin ke gue. Gue mau pake celana itu karena lucu ada suspendernya! Karena celananya kegedean, akhirnya gue minta tolong temen gue Vindy Faizah, seorang fashion designer handal buat mengubah celana laki itu jadi celana cewek! Celananya jadi cakep banget sumpah! Gue pake dress halter neck soalnya gue lagi pengin jadi wanita “normal” seutuhnya yang bersahaja dan penuh kharisma. Tapi, kenyataannya malah jadi aneh. Hahaha… Menurut Pak Adrian, gue lebih cocok bergaya ala cewek Harajuku yang suka pake baju aneh-aneh itu. Ternyata, ketika gue lagi mau tampil normal, malah terlihat aneh. Hahaha… Tapi, untungnya hasil photoshoot dengan dress merah itu jadinya nggak buruk, sih. Pada bilang bagus malah! Kata orang-orang sih, gue jadi cantik banget kayak bidadari, bahkan hampir menyaingi tingkat kesempurnaan milik ibu suri. Mungkin karena yang fotoin jago banget! Coba kalau gue yang fotoin, hasilnya pasti hancur naudzubillahimindzalik! Kalau pake baju kedua (baju yang terlihat nggak normal) itu, gaya gue pas di foto lebih keluar auranya. Kata Pak Adrian dan teman-teman, gue malah terlihat normal dengan gaya bak Harajuku seperti itu. Mungkin itulah nasib gue. Gue tidak boleh tampil dewasa dan anggun karena malah terlihat aneh. Sejak itulah, gue memutuskan untuk jadi diri sendiri, tetep tampil anti mainstream, dan jangan pernah jadi normal. Because normal is so boring. Setuju nggak Kak? Akhir kata, Kak Uung menyimpulkan bahwa hasil foto Pak Adrian bagus banget, meskipun modelnya hancur. Gue udah tampilin beberapa hasil photoshoot kemarin, sih, walaupun nggak semuanya. Kalau pengin lihat hasil foto Pak Adrian lainnya, kalian bisa berkunjung ke: Aug Photography by Adrian Utama Gani Facebook Fan Page: https://web.facebook.com/augphotos Instagram: adrianug augphotography  ...

Kenapa Kerja Jangan Sampai 5 Tahun?

By on Aug 21, 2015 in Diary

Gue bukan orang yang expert di pekerjaan atau karier, tapi gue cuma belajar dari pengalaman diri sendiri dan orang lain. Salah satunya belajar dari Rudy Dalimunthe (Division Head of Customer Experience Management di Indosat). Doi berbagi tentang tips karier yang berjudul Kalau 5 Tahun Masih di Perusahaan yang Sama, There Might Be Something Wrong with You di website Qerja.com.  Gue tau artikel itu juga dari Kak RG yang emang kerja di sana. Apa itu Qerja? Kapan-kapan bakal gue jelasin di blog ini mengenai manfaat website itu. Kalau lupa, tagih aja janji ini ke Kak Uung. Anggaplah gue punya utang ratusan juta ke kalian.   Berawal dari sekolah pilot, sempat jadi sports reporter di sebuah media, associate di Ernst & Young, dan sekarang… Posted by Qerja on Thursday, August 20, 2015   BTW, like & share postnya ya, kak! Biar banyak yang bisa ikuti jejak kak Rudy!   Waktu baca artikel itu, gue jadi kesel sendiri karena mengingat gue udah menghabiskan waktu selama 5 tahun di tempat kerja gue yang lama. Terlalu banyak waktu yang gue habiskan di sana, sehingga gue merasa nggak belajar hal lain dan nggak menikmati tempat baru. Emang sih kalau kata orang bijak, sebagai fresh graduate yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat kerja, kita nggak boleh kayak kutu loncat yang baru beberapa bulan kerja langsung ngeluh nggak betah, terus minta resign. Karena itu bakal bikin CV kita jelek. Apalagi, kalau tempat kerja itu adalah tempat yang bergengsi. Kita disarankan buat kerja di sana minimal 3 tahun. Masuk akal, sih, karena gue kalau punya perusahaan, gue juga nggak mau direpotin sama anak fresh graduate yang belum bisa apa-apa, kerjaannya belum beres, tapi udah minta cabut.Gue setuju banget sama pendapat itu. Saking setujunya, gue malah jadi kelamaan di sana. Jadi bablas sampe 5 tahun. Antara terlalu nyaman...

Martabak Red Velvet Oreo Cream Cheese 65A Pecenongan

By on Aug 7, 2015 in Diary, Food Porn

Hari Selasa kemarin, gue ngidam pengin makan martabak. Gue sengaja bilang ngidam supaya orang-orang bikin gosip dan gue jadi terkenal. Hore! Tadinya, gue pengin makan martabak blackforest yang warnanya hitam itu dan belinya pake jasa Go-Food dari Gojek karena tempatnya jauh di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Udah tunggu selama 2 jam, tapi tak kunjung ditemukan driver Gojek. Akhirnya, gue nyerah, deh, terus gue memutuskan untuk kembali ke pelukan Martabak 65A Pecenongan yang deket banget sama rumah gue. Gue pun ngecek Instagram martabak65a buat pilih martabak yang gue mau. Sayangnya di sana nggak jual martabak blackforest, jadi gue memutuskan buat pesan martabak Red Velvet Oreo Cream Cheese yang penampakannya seperti ini. Gue pilih yang martabaknya spesial, dong! Karena gue anaknya spesial! Sebelumnya sih, gue udah beberapa kali main ke sana (sebelum ada layanan Go-Food). Tapi, belum sempat gue ceritain soal martabak ini di blog karena dulu belum punya blog. Tapi, gue sempet ceritain sedikit soal Martabak 65A ini di buku gue Happy Tummy terbitan Gagas Media. Di buku itu gue nggak cerita bahwa gue pernah lomba makan di sana, tapi gue cerita bahwa gue pernah mampir ke sana setelah lomba makan buat beli martabak! Gila kan, betapa rakusnya gue! Abis lomba makan aja, gue masih pengin jajan martabak! Bahkan, gue juga menyebut nama Ko Daniel yang merupakan pemilik kedai martabak tersebut! Sok kenal, sok iye banget, deh! Kalau datang ke sana, penampilan kedainya kayak begini. Kayaknya semua orang udah pernah liat, sih. Soalnya martabak ini terkenal bingit! Tadinya, gue mau langsung datang ke sana, tapi mager! Akhirnya gue pake jasa Go-Food, eh langsung dapet driver, lho! Mungkin karena letaknya deket banget kali, ya! Nggak sampe 1 km, Kak! Coba kalau nggak ada driver, beh, gue bisa langsung datang ke TKP buat gebrak meja! Terus langsung tanya ‘Kenapa ini bisa terjadi!’. Gue...

Page 12 of 26« First...1011121314...20...Last »
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy