FacebookTwitter
Page 11 of 25« First...910111213...20...Last »

Makan Cantik di House of Aranzi

By on Sep 29, 2015 in Diary, Food Porn

Saking enaknya makanan di House of Aranzi Sunter, gue sama Kak RG sampe datang ke tempat ini 2 kali. Doyan, rakus, dan laper semuanya jadi satu. Dari mana gue tau kafe ini? Bukan dari siapa-siapa, tapi emang kebetulan aja pernah lewatin kafe ini karena dekat sama rumahnya Kak RG. Kalau di malam hari, kafenya menerawang. Lampu-lampunya terang banget seolah-olah memanggil semua orang buat berkunjung di sana. Gue curiga yang buka kafe ini adalah salah satu mahasiswa atau alumni kampus kandang burung (kampus gue dulu) karena letaknya juga dekat banget sama kampus fenomenal itu. Pertama kali gue ke sana itu tanggal 24 September yang konon bertepatan sama hari raya Kurban. Sayangnya pas ke sana, nggak ada menu kambing, padahal gue pengin banget makan kambing. Terus, yang kedua kalinya itu tanggal 26 September, abis kami jalan-jalan dari Comic Con. Gue baru bikin blognya sekarang soalnya kemarin gue sempat terserang demam dan vertigo. Penderitaannya sungguh tiada akhir. Kalau nggak percaya cobain sendiri aja, Bray! Pas tanggal 24 September, House of Aranzi lagi rame-ramenya. Saking ramenya, pelayan-pelayan di sana kelihatan kebingungan saat melayani pelanggan. Sistem anteran makananya itu nggak berdasarkan sistem antrian atau siapa dulu yang datang, tapi selang-seling sama pelanggan yang datang setelah kita.  Jadi kalau misalnya kita pesan 5 menu, yang dianterin 1 dulu, terus dia layanin dulu pelanggan yang lain, layanin yang lainnya lagi, baru deh layanin kita lagi. Nunggu makanan sampe komplit, udah pasti lama! Coba kalau pesan 20 menu, mungkin aja menunya lengkap pas gue udah punya cucu. Karena sistem pelayanannya kayak begitu, nggak heran kalau pelayannya suka bolak-balik ke meja kami buat tanya ‘Pesanannya udah datang semua belum, ya?’. Untung gue orangnya baik hati, sabar, dan nggak sombong, jadi kalau ditanya kayak begitu, gue hanya bisa membalas dengan senyuman. Dan yang gue suka sih, pelayan-pelayan di sana...

Beauty Photoshoot by Froztlegend Creations

By on Sep 24, 2015 in Diary, Fashion, Narsis

Sejak Kak Uung jadi model seksi, makin banyak tawaran photoshoot yang berdatangan. Mulai dari photoshoot yang biasa aja sampai yang dewasa banget. Tapi, tidak semua tawaran photoshoot gue terima karena gue orangnya sangat selektif. Selektif bak memilih pasangan hidup. Nah, beberapa waktu lalu, gue melakukan beauty photoshoot sama temen gue yang namanya Dennys Kien Yotl. Susah banget ketik namanya dan gue harus googling berkali-kali supaya nggak salah ketik nama. Takutnya kalau salah ketik nama, gue bakal dikirimin somasi sama si Dennys, terus disuruh bayar denda seharga rumah pejabat. Mau bayar pake apa coba? Nah, si Dennys ini punya usaha di bidang design dan photography bernama Froztlegend Creations. Namanya sih beauty photoshoot, tapi konsepnya suka-suka gue aja. Dibilang beauty juga nggak soalnya kadang gaya fotonya cenderung ke premanisme dan kanibalisme. Di photoshoot kali ini, gue nggak sendirian karena fotonya juga bareng Mastini dan Susi. Photoshoot-nya dilakukan di Ancol, Jakarta Utara yang konon sangat dekat dengan daerah Pacinko (Pademangan Cina Kota). Deket sama rumah sendiri juga, sih. Kami sengaja memilih Ancol karena kami sangat mencintai produk dalam negeri (Cina Kota). Tapi, bukan berarti gue dan kawan-kawan menolak jika ditawari pemotretan di Eropa dan sekitarnya. Nah, di sekitar Ancol banyak banget spot seru yang bisa dijadikan sebagai lokasi photoshoot. Ada spot yang kayak hutan-hutanan, rel kereta, La Bridge, Talaga Sampireun, dan lain-lain. Soal baju, kali ini gue pengin bergaya ala Uung seperti biasanya. Untuk baju pertama, gue pake wig blonde yang panjangnya kayak kuntilanak itu, terus pake dress putih yang ada gambar kupu-kupunya biar dikira kupu-kupu malam, dan sepatu teplek. Baju kedua, gue pake wig abu-abu, dress bodycon hitam, kaos kaki tinggi, dan sneakers! Baju ketiga, gue pake mini dress yang atasannya kayak kemben warna pink, banyak gambar pisang, loose socks, dan sepatu disko. Untuk baju terakhir, gue pake wig blonde, little black dress, outer sheer skirt pink dari Kak Vindy Faizah, dan sneakers. Kenapa gue pake baju-baju itu? Gue juga nggak tau kenapa. Pake bawa tas koper sama pake temporary tattoo segala lagi. Udah gitu, si Dennys bilang tato gue kayak tato gratisan yang didapet dari beli permen karet. Kurang aja kau wahai fotografer laknat! Ehm, kira-kira begitu deh, cerita photoshoot gue bersama Kak Dennys. Senang, seru, capek, panas, semuanya campur jadi satu, tapi gue tetep seneng foto-foto. Hahaha… Kak Dennys juga orangnya seru, sekaligus pasrah ketika mengarahkan gaya ke gue. Yang sabar ya, Kak. Banyak-banyak elus dada dan minum obat cacing. Akhir kata, gue ucapkan terima kasih kepada Kak Dennys yang udah meluangkan waktunya demi photoshoot kali ini. Oh ya, foto-foto yang gue lampirkan tersebut baru sebagian aja, lho, karena masih ada koleksi-koleksi foto Kak Dennys lainnya. Doi juga jago mendesain dan portfolionya bisa kalian intip di: www.froztlegend.com Instagram: froztlegend...

Memudarkan Stretch Marks dengan Vicks VapoRub

By on Sep 16, 2015 in Beauty, Diary

Katanya, 90% cewek punya stretch marks di beberapa bagian tubuh mereka. Lalu, 10%-nya siapa? Kayaknya 10% itu adalah bidadari yang nggak punya cacat cela. Sebelumnya, gue pengin jelasin dikit, stretch marks adalah tanda parut berupa gurat-gurat putih yang muncul pada permukaan kulit yang garisnya berliku-liku kayak anak sungai. Stretch marks muncul karena kulit kehilangan elastisitasnya akibat “robekan” jaringan kolagen dan elastin saat lapisan dermis sebagai jaringan penyokong kulit mengembang berlebihan. Istilah singkatnya, stretch marks terjadi karena kulit meregang melampaui elastisitas atau daya regangnya. Biasanya, hal itu terjadi karena kehamilan, obesitas, dan ketika berat badan menurun secara drastis. Kalau hamil dan melahirkan sih gue belum pernah, ya. Apalagi menyusui. Yang pernah gue alami adalah jadi gemuk meskipun nggak sampe obesitas dan penurunan berat badan yang terbilang cepat ketika gue melakukan diet OCD September 2013 kemarin. Stretch marks gue nggak banyak-banyak amat, sih dan letaknya di tempat tertutup kayak paha atas, payudara, dan pantat. Nggak jadi masalah besar karena nggak keliatan. Tapi, kalau gue pengin difoto buat majalah dewasa, tentu aja stretch marks jadi masalah besar. Yup, masalah stretch marks itu cuma karena masalah estetika. Stretch marks nggak berpengaruh sama kesehatan. Jadi, kalau kalian punya stretch marks bukan berarti besoknya bakal divonis kena kanker atau jantung. Sebelum stretch marks muncul, hal itu bisa dicegah dengan diet sehat, olahraga teratur, dan mengurangi makan junk food. Kalau udah terlanjur muncul, sayangnya stretch marks nggak bisa dihilangkan begitu aja. Bisanya cuma dipudarkan. Baru-baru ini gue googling soal stretch marks dan nemu penelitian baru bahwa stretch marks bisa dipudarkan dengan Vicks VapoRub! Hahaha… Kalau lagi batuk atau pilek, enaknya gosok leher pake balsam ini terus ditutup pake kain. Abis itu, pasti bisa langsung tidur dengan nyenyak. Dan siapa yang nyangka sih, balsam mint ini bisa memudarkan stretch marks? Tinggal diolesin aja Vicks-nya ke bagian yang...

Review NYX Matte Lipstick (Rouge à lèvres Mat)

By on Sep 11, 2015 in Beauty, Diary, Review Produk

Sebagai model papan catur, gue harus menjaga penampilan. Jadi, warna lipstik gue nggak boleh itu-itu aja dong. Akhirnya, gue pun beli lipstik baru merk NYX di Grand Indonesia. Meskipun harganya nggak sampe Rp500 ribu kayak lipstik yang diributin di Path, tapi gue suka banget kok sama lipstiknya. Menurut gue sih, berapa pun harga lipstiknya, semua kembali lagi ke pemilik muka. Kalau mukanya ngartis banget kayak gue, pake lipstik yang harganya goceng aja udah bagus banget. Ya, paling abis itu bibirnya langsung melepuh karena lipstik tersebut ternyata mengandung melanin. Lipstik NYX yang gue beli adalah seri Matte Lipstik (Rouge à lèvres Mat) yang kodenya MLS02 Shocking Pink (Rose Intense) dan MLS10 Perfect Red (Rouge Parfait). Gue pilih seri matte karena gue nggak suka bibir yang terlihat glossy. Bibir glossy bikin bibir kelihatan berminyak kayak abis makan gorengan sepanci dan bikin bibir terlihat lebih gede segede rumah konglomerat. Soal warna, gue pilih yang shocking pink karena gue emang suka banget sama warna pink yang ngejreng, ketimbang yang soft. Kalau bahasa gay-nya fuschia. Dan gue juga pilih perfect red karena gue lagi pengin memberanikan diri pake lipstik merah cabe. Bukan karena ingin jadi cabe-cabean, tapi gue cuma ingin tampil lebih berani. Sebelumnya, kalau gue pake lipstik merah cabe, pas ngaca, gue berasa kayak bencong. Mindset itu harus gue ubah. Yang menganggap diri gue bencong adalah diri sendiri, padahal orang lain belum tentu. Jadi, ketika gue merasa lipstik itu bagus di bibir gue, gue yakin orang lain juga bakal melihatnya seperti itu. Ciyeeee… Kalau pas pake yang warna shocking pink, muka gue jadi begini. Ucul kan? Hahaha… Selain warnanya ucul, yang bikin gue suka banget sama lipstik ini adalah warnanya tahan lama banget, Bray! Jangan-jangan kalau nggak cuci muka dan mandi, lipstiknya nggak bakal hilang dari bibir! Setelah gue pake selama 7 jam full...

Bertemu Lagi dengan si “Cina”

By on Sep 8, 2015 in Diary

Dulu, gue pernah cerita soal si Wahyu yang punya pemikiran lebih dari “Cina” di blog ini. Sekarang, gue mau bikin lanjutannya. Sekadar mengingatkan, Wahyu adalah artis yang dulu sering gue wawancarai ketika masih bekerja di kantor lama dan bukan nama yang sebenarnya. Meskipun dia bukan Cina, tapi pemikirannya sangatlah Cina, bahkan lebih Cina dari orang Cina. Muka gue emang Cina banget, tapi soal karakter, dia jauh lebih Cina daripada gue. Nah, tanggal 19 Agustus kemarin, gue kembali bertemu dengan Wahyu. Kami ketemuan lagi dalam rangka menyelesaikan bisnis kami yang sempat tertunda selama beberapa bulan karena kesibukan masing-masing. Dia sibuk rekaman, nge-band, bisnis, dan elus-elus Ferrari. Sedangkan gue sibuk pemotretan sana-sini karena gue adalah model papan catur. Gue udah bikin janji sama Wahyu melalui manajernya. Si manajer bilang bahwa gue bisa ketemu dia tanggal 19 Agustus, jam 12 siang di rumah orangtuanya Wahyu. Tentu gue sangat antusias mendengar kabar itu karena berarti sebentar lagi bisnis gue sama dia bakal berjalan lancar, terus kami jadi orang terkaya nomor 1 di Jakarta. Btw, kenapa gue sebut rumah itu rumah orangtuanya Wahyu? Karena Wahyu udah punya rumah sendiri yang letaknya juga nggak jauh dari rumah orangtuanya, sih. Sekarang, dia lagi sering nginap di rumah orangtuanya karena rumah pribadinya lagi direnovasi. Karena rumah orangtua Wahyu sangatlah jauh, yaitu di ujung Selatan sana, tempat jin mengaborsi anaknya, gue pun memutuskan buat naik Gojek aja. Kebetulan ongkos Gojek waktu itu masih Rp15 ribu untuk seluruh Jakarta. Ongkosnya setara dengan naik bajaj dari rumah gue ke Mangga Dua. Murah kan? Capcus, deh! Kalau menurut peta di Gojek, jarak dari rumah gue sampe rumahnya Wahyu itu sekitar 22 km! Panjang, ya! Demi bertemu dengan Wahyu dan sesuap berlian, gue pun bela-belain mengorbankan pantat gue dengan duduk di atas motor abang Gojek kurang lebih 1,5 jam. Ya auloh, pegel...

Happy Tummy Chapter 18

By on Sep 1, 2015 in Diary

Kalau kalian belum baca buku gue, Happy Tummy mending jangan baca blog ini dulu, deh. Karena, blog ini merupakan kelanjutan dari buku gue itu. Kan lebih enak baca ceritanya secara berurutan. Mungkin ada yang belum tau cover buku gue kayak gimana. Nih, Kak Uung kasih liat. Lebih baik, kalian baca aja blog gue yang omongin seputar makanan, seperti Inilah 6 Makanan Terpedas Versi Kak Uung, 7 Shao Kao: Jajanan Sate Khas Cina, Hidup Sehat dengan Green Smoothies, dan Martabak Red Velvet Oreo Cream Cheese 65A Pecenongan. Tapi, kalau kalian udah baca bukunya, bisa lanjut baca blog ini sampe kelar. Kira-kira, 1,5 bulan lalu (sebelum gue resign), gue dapet undangan liputan dari Breadlife Bakery tentang peluncuran produk baru mereka. Di undangannya juga tertulis ada Takeru Kobayashi yang bakal hadir di press conference terus pamerin kemampuan makannya. FYI, Kobayashi yang akrab disapa Kobi ini adalah competitive eater legendaris asal Jepang yang udah sering sabet rekor Guinness World karena bisa makan makanan yang itungannya berkilo-kilo dalam waktu singkat. Karena ada Kobi, tentu aja gue jadi semangat buat liputan! Gue pengin melihat Kobi dari dekat. Pengin liat dengan mata kepala gue sendiri bagaimana dia menghabiskan banyak roti dalam waktu 3 menit aja, pengin salaman sama dia, pengin foto bareng, dan pengin kasih dia buku Happy Tummy. Karena buku itu cocok banget buat dia. Isinya kan tentang pengalaman gue selama jadi competitive eater, tentang kompetisi makan di Indonesia, dan gue juga cukup sering mention nama dia di buku itu karena dia adalah idola sekaligus role model gue. Sayangnya, waktu gue dateng ke acara itu, si Kobi malah nggak ada. Kurang ajar! Gue merasa tertipu. Ternyata, Kobi baru dateng ke Tribeca, Central Park (CP) mal tanggal 29 Agustus nanti! Ngomong-ngomong soal ngefans sama Kobi, gue nggak ngefans sama dia dari lahir, sih. Karena gue juga...

Diajak atau Dimanfaatkan?

By on Aug 26, 2015 in Diary

Suatu hari temen gue yang namanya Puspa (bukan nama sebenarnya) curhat ke gue. Di kantor barunya, dia diajak rafting ke Sukabumi sama temen-temen kantornya. “Wah, bagus dong! Walaupun masih baru, tapi mereka udah mau ajak lo jalan-jalan!” kata gue sotoy. “Bagus apanya? Gue kan belum deket sama mereka. Mana enak sih pergi rafting sama temen yang baru dikenal gitu,” bilang Puspa kesel. “Mungkin mereka ajak lo rafting supaya nantinya kalian bisa akrab kali, Kak.” “Mereka rencanain rafting ini udah lumayan lama. Terus tiba-tiba mereka ajak gue yang masih anak baru. Ngapain coba? Ngajaknya juga seenak jidat. Nggak tanya dulu ke gue, suka rafting nggak? Mau ikut kita rafting nggak? Atau basa-basi apa kek! Lah ini langsung disuruh ikut dan dikasih tau patugannya sekian. Gue curiga mereka cuma manfaatin gue supaya patungan ongkos dan lain-lainnya lebih murah!” “Oh gitu, ya! Bisa jadi, sih. Kalau feeling lo udah nggak enak, mending nggak usah ikut, Kak.” “Nah, itu dia. Gue kan udah cari alasan terus supaya nggak ikut acara itu. Tapi, mereka terus-terusan re-schedule dan cari waktu lain sampai gue bilang bisa! Kesel nggak?” “Wah, parah bingit, Kak! Gue jadi makin curiga deh. Kayaknya orang-orang itu emang cuma manfaatin lo biar biaya makin murah! Kalau emang bener niat mau liburan mah, langsung liburan aja, nggak usah tungguin lo sampe bisa! Yaelah miskin banget, liburan ke Sukabumi aja sampe irit-irit!” Gue jadi ikutan naik darah. “Itulah kenapa gue males berteman sama orang kantor dari dulu. Buat gue, temen kantor cuma buat jadi rekan kerja. Males deh kalau harus pergi liburan segala.” Kalau diingat-ingat lagi, kayaknya gue punya pengalaman serupa kayak si Puspa, deh, meskipun nggak sama persis. Rasanya nggak enak juga, lho dimanfaatin kayak begitu. Diajak pergi jalan-jalan sama temen, bukannya seneng-seneng, tapi malah berasa dimanfaatkan. Apalagi kalau kita nggak terlalu dekat dengan...

Tragedi Wax Berdarah

By on Aug 26, 2015 in Beauty, Diary

Gue adalah orang yang ahli dalam dunia waxing (penghilang rambut yang tidak diinginkan di tubuh). Apalagi, gue pernah melakukan wax sendiri di rumah pake SugarPot Wax. Gue bisa wax sendiri di rumah soalnya hilangin bulunya gampang. Cuma di kaki dan ketek. Tapi, kalau buat urusan brazilian wax, gue nyerah. Gue bingung, kok ada aja orang yang bisa lakuin brazilian wax di rumah tanpa bantuan orang? Mungkin ada yang nggak tau, apa itu brazilian wax? Brazilian wax adalah proses waxing yang hanya bisa dilakukan di Brazil. Makanya gue bingung kok pada bisa lakuin itu di rumah masing-masing? Padahal rumahnya di Jakarta. Hahaha… Kalau kalian percaya, berarti kalian punya pengetahuan sosial yang sangat tinggi bak Puteri Indonesia. Okelah gue kasih tau aja yang sebenarnya. Brazilian wax adalah proses pembasmian rambut di sekitar pubik. Apa itu pubik? Pubik adalah daerah kewanitaan yang ditumbuhi rambut. Biasanya, brazilian wax dilakukan di salon atau klinik dan dilakukan oleh tenaga ahli yang terpercaya. Hari Minggu kemarin, Kak Uung pun mencoba brazilian wax di Browhaus & Strip, Grand Indonesia. Ngapain Kak Uung brazilian wax? Soalnya sebentar lagi gue mau lakuin photoshoot buat majalah dewasa, jadi brazilian wax merupakan kebutuhan pokok buat gue. Pas nyampe di sana, gue disuruh nunggu setengah jam dulu karena masih ada orang yang lakuin brazilian wax. Nggak apa-apa deh, nunggu setengah jam karena bisa duduk-duduk di sana dan tempatnya nyaman. Sayangnya sinyal hapenya payah dan nggak ada wifi. Oh, ya, untuk paket brazilian wax-nya, gue pilih yang paket untuk Pubic xxxx Strip (All Off) yang hard wax (Rp370 ribu). Pilih yang all off biar bener-bener botak. Penginnya sih diukir inisial nama gue ‘M’, tapi percuma gue bikin kayak begitu. Toh, nggak ada yang liat! Dan gue pilih yang hard wax karena kata Mbaknya, nggak terlalu sakit jika dibandingkan sama yang soft wax. Penginnya...

Page 11 of 25« First...910111213...20...Last »
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy