FacebookTwitter
Page 10 of 26« First...89101112...20...Last »

Kenapa Orang Cina Nikahnya Sama Orang Cina Lagi?

By on Nov 8, 2015 in Diary

Lah, emang salah? Gue cuma bisa jawab begitu kalau ditanya pertanyaan kayak begitu. Daripada membahas benar atau salah, gue bahas dulu kenapa gue bikin blog ini. Karena di search engine terms blog gue, banyak banget yang mencari jawaban atas pertanyaan ini. Blog gue kan suka banget bahas hal-hal yang berhubungan dengan kecinaan, jadi ketika mereka mencari jawaban, mereka malah nyasar di blog gue. Kasihan, ya, udah capek-capek buka blog gue ternyata malah nggak mendapatkan jawaban apa-apa. Udah gitu, banyak juga yang kirim komentar dan bertanya soal pernikahan beda ras dan sejenisnya. Banyak juga yang galau karena nggak bisa pacaran sama orang Cina karena dirinya pribumi. Padahal, di luar sana banyak juga kok orang pribumi yang akhirnya menikah sama orang Cina. Karena pada dasarnya jodoh itu kan pilihan manusia. Bukan dicomblangin sama Tuhan sejak kita masih di dalam kandungan. Kita bebas menikah sama siapa aja, bebas jika ingin bercerai, bebas jika ingin berpoligami, dan lain-lain. Mau jadi jomlo dan nggak menikah seumur hidup juga boleh. Semua pilihan ada di tangan kita. Meskipun gue belum nikah, tapi yang gue tahu sih, memilih jodoh itu nggak cuma berdasarkan keinginan sendiri, tapi banyak faktor lain yang harus dipikirin sebelum akhirnya menikah. Salah satunya faktor orangtua. Menikah itu bukan cuma menikahkan 2 orang, tapi juga 2 keluarga besar. Biasanya, orangtua ingin tetap mempertahankan tradisi atau adat istiadat di keluarga, jadi mereka lebih memilih untuk menikahkan anak mereka dengan seseorang yang rasnya sama. Biar nggak ribet nantinya. Begitu pula dengan orangtua Cina yang masih totok dengan tradisi yang mereka miliki. Mereka nggak mau tradisi di keluarga nantinya punah karena anak mereka menikah dengan seseorang yang berbeda ras dan memiliki tradisi yang juga berbeda. Meskipun di zaman modern seperti sekarang ini orang Cina udah nggak terlalu mengikuti tradisi dan adat istiadat, tapi tetep aja mereka berprinsip...

Everyday is No Beha Day!

By on Nov 5, 2015 in Diary

Gue punya temen yang suka banget nggak pake beha namanya Peggy. Bahkan, dia sering ke kantor nggak pake beha dan dia nutupin payudaranya pake tanktop atau kemben yang cukup tebel. Katanya, itu nyaman banget. Serasa di surga. Dulu, gue nggak ngerti apa enaknya lepas beha karena gue selalu pake beha, bahkan tidur pun gue masih pake beha. Sama kayak temen gue si Uthie yang nggak masalah nggak punya BB (BlackBerry) asal masih bisa pake BH. Soalnya, kalau nggak pake beha, payudara kan jadi gondal-gandul nggak jelas arahnya. Kata orang-orang sih, lebih bagus nggak pake beha karena beha dianggap sebagai penyebab kanker payudara, apalagi beha yang berkawat. Makanya, setiap setahun sekali ada peringatan yang namanya ‘No Bra Day’, di mana semua cewek dianjurkan buat melepas beha seharian. Perayaan tersebut diadakan demi mencegah kanker payudara. Tapi, ada juga yang bilang bahwa itu cuma mitos dan beha tetap harus dipake supaya payudara nggak turun kayak cewek-cewek di suku pedalaman yang nggak mengenal beha. Di balik semua itu, gue tetep bersyukur dengan adanya beha karena kalau tanpa beha, nggak kebayang deh, betapa risihnya kita pas mau keluar rumah. Masa tutupin payudara pake daun atau rambut kayak zaman Adam dan Hawa? Apalagi, gue belum pede jika harus tampil bak cewek-cewek suku pedalaman yang oke-oke aja waktu keluar rumah tanpa beha sekalipun. Waktu bulan Juli 2015 kemarin, gue kan udah resign dari kantor dan waktu gue lebih banyak dihabiskan di rumah ketimbang di luar rumah. Perlahan-lahan gue mengurangi ketergantungan gue sama beha. Awal-awal sih, gue lepas beha cuma pas mau tidur. Gile deh, tidur gue berasa langsung nyenyak banget soalnya nggak ada yang ngeganjel, meskipun belum terbiasa. Bekas-bekas tanda beha sekitar punggung pun berkurang banyak. Karena merasa enak, akhirnya gue mencoba buat nggak pake beha seharian di rumah dan ternyata gue makin keenakan. Hahaha… Punggung...

Buat yang Suka Minta Gratisan, Baca, ya!

By on Nov 5, 2015 in Diary

Semua orang pasti suka sama gratisan, termasuk gue. Sekaya apa pun orang itu, kalau dikasih gratisan kayaknya nggak bakal nolak, deh. Waktu gue kerja di kantor majalah, gue sering dapet gratisan, entah itu makanan, tiket konser, buku, CD, atau apa pun. Tapi, setelah dipikir-pikir, itu nggak sepenuhnya gratis karena gue membayar hal itu dengan tulisan yang diterbitkan di majalah. Itu yang disebut sebagai simbiosis mutualisme. Kadang, gue juga suka terima gratisan sih dan senengnya bukan main. Pantesan badan sempet melar kayak pejabat yang suka korupsi. Ada juga beberapa produk yang menawarkan gratisan, tapi kita harus ikut undian atau ikut kuisnya dulu. Kalau menang, barulah kita bisa dapetin reward-nya. Wajar aja kalau kalian mau dapat gratisan dengan cara seperti itu. Namanya juga usaha dan itu sama sekali nggak merugikan orang lain. Gue juga masih suka kok ikutan kuis. Apalagi buat mengasah jiwa kompetitif gue. Cieileh… Di balik jiwa kompetitif gue, sebenarnya ada tersimpan hal lain, yaitu gue pelit karena gue masih berdarah Cina. Hahaha… Kalau bisa dapat gratisan, ngapain bayar! Jadi, mending usaha dapetin gratisan dengan ikutan kuis dulu. Makin dewasa, gue makin sadar bahwa usaha seperti itu lebih berkelas ketimbang minta gratisan tanpa usaha apa-apa. Contohnya, ada saudara atau temen yang baru buka resto, terus  kita minta makan gratis sama dia atau minta diskon gede. Menurut gue, yang kayak begitu justru kurang ajar banget. Siapa pun yang pernah buka usaha, jualan, atau nerbitin karya pasti pernah merasakan hal ini. Dulu gue juga suka begitu. Suka banget minta gratisan atau diskon di mana-mana. Tapi, sejak gue terbitin buku pertama kali tahun 2010, gue jadi ngerti bahwa hal itu nggak etis. Gue bikin buku dengan perjuangannya yang berat. Cari ide terus-terusan, bergadang buat nulis, nge-print tebel-tebel, terus foto kopi banyak-banyak supaya bisa dikirim ke banyak penerbit, dan lain-lain. Waktu, otak, mental...

Bumbu Bali dan Menu Lunch di The Holy Crab Gunawarman

By on Oct 31, 2015 in Diary, Food Porn

Sebelumnya, gue pernah review Holy Smokes yang merupakan salah satu resto di grup Ersons Food. Sekarang, Ersons Food bikin sesuatu yang baru di restonya yang lain, yaitu The Holy Crab yang terkenal banget dengan hidangan lautnya (kepiting dan udang). Sekadar mengingatkan, The Holy Crab didirikan pada Februari 2014 lalu dengan mengusung konsep Louisiana Seafood. Maksudnya, kita bisa makan seafood dengan asyik tanpa pake piring dan alat makan lainnya. Kalau sering main Instagram, pasti bakal sering temuin anak-anak kekinian makan di The Holy Crab pake celemek dari plastik supaya bajunya nggak kecipratan saos kepiting. Saos kepiting yang terkenal di sana adalah Cajun Sauce dan Garlic Pepper Sauce yang punya 4 tingkat kepedasan (mild, medium, spicy, dan holy moly). Selain tata cara makannya yang unik, The Holy Cran juga menyajikan resto yang cozy, nyaman, bersih, dan luas. Bisa ajak orang se-RT kalau makan di sini. Di menu baru kali ini, mereka mengusung konsep Discovering The Authentic Taste of Bali. Pastinya, bakal bikin kita jadi makin kangen sama makanan laut di Bali beserta bumbu-bumbunya! Duh, jadi pengin pergi ke Bali! Kedua menu khas Bali yang disajikan adalah Blue Crab (Ranjungan) dan River Prawn (Udang Galah). Blue Crab memiliki warna yang berbeda dari kepiting biasanya, yaitu kebiru-biruan dengan bercak putih pada tempurungnya. Dagingnya empuk, padat, proteinnya tinggi, dan rendah lemak. Duh, rasanya pengin makan banyak-banyak! Kayaknya nggak bakal gemuk! Sedangkan River Prawn didatangkan dari Sumatera dan Kalimantan, memiliki ukuran yang besar dibandingkan udang jenis lainnya. Rasanya gurih dan manis. Kedua menu tersebut bisa dinikmati bersama 2 pilihan bumbu Bali, yaitu Bumbu Genep dan Sambal Matah. Bumbu Genep diracik dengan menggunakan 12 jenis bumbu dan rempah-rempah, sedangkan Sambal Matah menggunakan bawang merah dan cabe rawit sebagai bahan utama dan dipadukan dengan 4 bahan lainnya. Kedua bumbu Bali itu diracik sendiri oleh Albert Wijaya selaku...

Beauty Photoshoot with @ronnymotret at Gran Melia Hotel

By on Oct 22, 2015 in Diary, Fashion, Narsis

Kemarin gue udah cerita di blog ini bahwa gue dapat hadiah dari Travelio.com, yaitu menginap semalam di hotel Gran Melia Jakarta tanggal 17-18 Oktober. Selain menginap, gue juga lakuin photoshoot iseng-iseng di sana dan fotografernya adalah @ronnymotret. Doi merupakan duplikat dari @riomotret. Duplikat? Macam lipstik aja ada duplikatnya gitu deh, Bray! Karena gue baru beli wig ombre di Little Things AYR Do, gue pun pake wig ombre super cadas tersebut buat foto-foto cantik di sana. Ditambah denim sabrina, short pant warna pink, dan running shoes. Gue pake baju kayak begitu karena gue lagi suka banget sama baju sabrina dan emang lagi pengin nyantai aja, jadi nggak ada salahnya pake baju kayak begitu. Untuk baju kedua, gue pake dress oranye yang di bagian lehernya ada semacam kalung bunga-bunga yang unyu. Gue berasa kayak pemilik hotel kalau pake itu. Dan untuk baju ketiga, gue pake tartan bustier dan high waist pant warna hitam buat foto-foto di kolam renang. Nggak ada alasan kenapa gue pengin pake baju kayak begitu karena cinta nggak butuh alasan. Eh, ciyeee….. Photoshoot kali ini mungkin simpel karena fashion item-nya nggak seheboh photoshoot-photoshoot sebelumnya, tapi mengena di hati karena yang fotoin adalah fotografer favorit gue. @ronnymotret sebenarnya udah punya Instagram, tapi belum terlalu aktif. Tapi, kalau kalian mau follow, boleh-boleh aja, kok. Untuk foto-foto @ronnymotret lebih lengkap, ada di Instagram gue @mariskatracy. Di-follow, ya, Kakak-kakak! Kalau nggak follow, nanti gue gebuk.      ...

One Night at Gran Melia Hotel Jakarta

By on Oct 20, 2015 in Diary

Untung judul blog ini bukan ‘One Night Stand’, ya! Hahaha… Karena kalau gue bikin judul kayak begitu, blog gue langsung dikecam sama FPI. Okelah, langsung aja gue cerita tentang pengalaman gue menginap di hotel bintang lima. Tanggal 17-18 Oktober kemarin, gue dapat kesempatan menginap di hotel Gran Melia Jakarta dari Travelio.com. Travelio adalah aplikasi yang mempermudah kita untuk memesan hotel di mana pun, nggak cuma di Jakarta. Jika ingin liburan dengan budget yang minim, Travelio bisa menjadi solusinya karena Travelio bisa membantu kita mencari hotel dengan budget yang kita inginkan, bebas biaya tambahan, bahkan kita bisa “menawar” harganya. Prosesnya pun cepat dan kita nggak perlu repot-repot menelepon travel agency. Kalau nggak salah inget, gue cuma pernah mampir ke Gran Melia buat liputan ketika gue masih kerja di kantor majalah. Sekarang, gue bisa nginep gratis, dong! Super sekali! Di acara nginep-nginepan itu, gue dapet kesempatan buat tidur semalam di kamar hotel Gran Melia tipe Premium. Premium room emang bukan tipe kamar paling gede di hotel Gran Melia, tapi bisa menginap di sana merupakan anugrah yang luar bi(n)asa. Gue suka sama dekorasinya yang simpel, tapi tetep elegan. Yang gue suka dari kamar ini adalah ada meja buat kerja! Yang bikin meja kerja tersebut makin nyaman adalah sofa empuknya! Udah gitu, sofanya juga panjang dan bisa dipake buat tidur-tiduran. Buat nyelundupin temen-teman buat nginep rame-rame juga bisa kalau sofanya panjang kayak begini! Hahaha… Selain bisa buat kerja dan tidur-tiduran, sofanya juga bisa dipake buat latihan yoga! Sok-sokan yoga, padahal pose yoga yang gue bisa cuma padmasana. Hahaha… Meskipun keliatannya gampang, tapi bikin kaki duduk bersila dengan kaki di atas paha kayak begitu juga susah tau! It’s not easy to be me, seorang ahli yoga super mantap! Di kamar itu juga ada teve yang lumayan gede. Lumayan kan buat menghibur diri di hotel....

Belanja Kebutuhan Anak Orang di Sumber Hidup Baby Shop

By on Oct 14, 2015 in Diary

Gue bikin judul kayak gitu supaya kalian nggak salah sangka. Gue berkunjung ke Sumber Hidup Baby Shop bukan untuk belanja kebutuhan anak sendiri, tapi belanja kebutuhan anak orang. Karena anak gue sendiri aja belum dibuat. Nanti gue kabarin kalau udah buat. Gue belanja kebutuhan bayi buat anaknya Kak Sherly Suyanto yang baru brojol tanggal 5 Oktober kemarin dan bertepatan sama anniversary kawinannya. Selamat, ya, Kak Sherly! Gue berkunjung ke Sumber Hidup Baby Shop hari Sabtu kemarin bareng Kak RG. Selain karena letaknya lumayan dekat dari rumah, gue sengaja belanja di sana soalnya yang punya lapak adalah hopeng gue sendiri yang cukup sering gue ceritain di blog ini, yaitu Kakak Mastini Ali. Sekilas namanya kayak orang Jawa campur Arab, tapi dia adalah Cina Tulen yang mukanya mirip banget sama Cici Panda. Di siang hari yang terik, kami pun sampe ke TKP. Bokapnya kerja keras banget di toko, sedangkan anaknya kayak nggak kerja apa-apa, ya? Iyalah anaknya cuma bisa main hape, ketawa terus bercanda waktu temennya dateng. Dan sempet-sempetnya Kak Mastini cariin gue uban. Untung dia nggak minta bayaran! Gue termasuk orang yang nggak gampang ubanan, tapi setiap kali kepala gue disentuh sama Mastini, pasti ada aja uban yang muncul. Dasar wanita ular pembawa uban! Barang-barang yang dijual Kak Mastini banyak banget. Gue sampe bingung mau beli yang mana. Lalu, gue pun melakukan Q&A ke Kak Mastini. Kak, sejak kapan Sumber Hidup didirikan? Sejak tahun 1986. Sebenarnya Kungkung gue yang buka duluan, tapi sebelumnya bukan toko baby, tapi toko kelontong. Tapi, pas dihibahkan ke Bokap gue, langsung diubah jadi toko baby. Kayaknya gara-gara dulu pas gue dan Kak Mastono lahir, susah cari baju baby, jadi buka toko baby aja, deh. Hahaha… Yang dijual peralatan dan perlengkapan bayi seperti apa aja, Kak? Jual perlengkapan bayi, tapi yang berbentuk kain (software). Bukan yang...

Victoria Secret Bombshell: Parfum Favorit Kak Uung

By on Oct 13, 2015 in Beauty, Diary, Review Produk

Gue pernah nge-post foto parfum ini di Instagram dan janji bakal review di blog, tapi baru di-review sekarang. Padahal janjinya udah sebulan yang lalu. Maafkan Kak Uung, ya, kawan-kawan. Setelah mencari parfum yang cocok selama bertahun-tahun, akhirnya nemu parfum Victoria Secret Bombshell yang menurut gue oke banget! Karena selama ini gue nggak terlalu suka sama parfum bau bunga-bunga yang terlalu cewek banget. Najis tralala. Kak RG juga begitu. Katanya, dulu dia suka sama parfum Estee Lauder, tapi sekarang udah berubah pikiran karena kalau dipikir-pikir baunya kayak jablay. Pas gue cium, emang bener sih baunya kayak jablay. Kalau waktu itu nggak main ke outlet Victoria Secret, Mal Kelapa Gading, kayaknya nggak bakal nemu parfum ini, deh.  Abis semprat-semprot beberapa parfum ke kertas putih dan coba cium semua aromanya sampe idung mati rasa, akhirnya pilihan kami jatuh ke parfum Victoria Secret Bombshell. Kata SPG-nya, yang jenis Bombshell ini merupakan salah satu parfum best seller di sana. Meskipun packagingnya nggak seunyu jenis lainnya. Sayangnya gue nggak sempat foto jenis lainnya yang unyu-unyu itu. Nih, gue kasih liat packaging yang Bombshell aja, ya! Mungkin karena udah best seller kali, ya, jadi packaging-nya mau dibikin biasa aja juga nggak jadi masalah. Toh, tetep banyak yang mau! Kalau parfum Victoria Secret jenis lain yang baunya aneh-aneh itulah yang harus bekerja keras menjual diri mereka dengan packaging yang lebih unyu dan menarik. Tapi, yang Bomshell ini tetep cantik kok bentuknya! Apalagi warnanya pink. Iya, biarpun macho-macho begitu, gue tetep suka warna pink, kok. Sesuai sama jargonnya ‘Sexy Today, Sexy Tomorrow, Sexy Forever‘, parfum ini diciptakan khusus untuk cewek bombshell yang seksi, percaya diri, glamor, dan feminin. Kesannya sih perempuan banget, tapi bukan hal itu yang bikin gue tertarik sama parfum ini. Gue tertarik sama parfum ini dari aromanya yang mengandung unsur buah-buahan, makanan, dan aroma bunganya...

Page 10 of 26« First...89101112...20...Last »
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy