FacebookTwitter
Page 9 of 10« First...678910

First Impression Review: My Scheming Facial Mask

By on Nov 1, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Kenapa cewek-cewek Asia, terutama di Taiwan terlihat lebih muda ketimbang umurnya? Karena, mereka pakai banyak skin care di wajah. Jadi, pas nggak pake makeup kulitnya tetep bagus kayak bayi dan nggak ada keriputnya. Pas dipakein makeup, mukanya pun jadi lebih cantik. Karena, makeup jatuhnya lebih bagus di kulit yang emang udah sehat. Kalau kulit terlalu kering dan kusam, makeup nggak bisa menempel dengan baik. Kulit terlalu berminyak, makeup cepet luntur. Kulit jerawatan kalau dipakein makeup jatuhnya juga nggak bagus. Kelihatan banget kayak sengaja nutupin jerawat. Jadi, pake skin care itu penting banget! Di Taiwan yang notabene udaranya jauh lebih bersih aja, cewek-ceweknya tetep rajin pake skin care. Apalagi buat kalian yang tinggal di Indonesia yang udaranya jauh lebih kotor, banyak polusi udara dan sebagainya. Hampir setiap harinya, kita juga dihadapi oleh rutinitas dan kemacetan lalu lintas yang bisa bikin kulit gampang stres dan keriput. Ngomong-ngomong soal skin care, skin care itu banyak macamnya, ada cleanser, toner, face wash, lotion, moisturizer dan masker. Nah yang gue mau bahas kali ini adalah facial mask dari My Scheming Facial Mask, facial mask best seller dari Taiwan. Kalau hasil penjualannya best seller, berarti produknya emang bagus. Untuk mendapatkan produk ini, kalian nggak harus jauh-jauh melancong ke Taiwan, karena gue punya temen yang emang kerja di Taiwan dan sekarang jadi first hand reseller facial mask ini buat dijual di Indonesia. Beberapa waktu lalu, doi sempat kasih gue 10 sample facial mask ini. Begitu gue terima, Masya Allah, packagingnya ucul-ucul a.k.a lucu. Bakal bikin kalian semangat maskeran! Lumayan buat mengisi waktu saat ingin melakukan me time. 10 macem facial mask ini terdiri dari: 1. Apple Brightening & Hydrating Mask 2. Hyaluronan Hydrating Mask 3. Rose Dew Moisturizing Mask 4. Mandelic Acid Brightening Mask 5. L-Ascorbic Acid Brightening Mask 6. Snail Essence Hydrating Mask 7. Skin...

My Hada Labo Skin Care Varian Review

By on Oct 29, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Dengan blog macam ini, gue makin yakin kalau gue adalah cewek yang rajin merawat wajah, meskipun pernah jomblo lama banget. Tapi, kalau kalian rajin merawat wajah kayak gue, pastinya kisah cinta kalian bakal happy ending kayak yang gue alami. Super jijik, ya! Gue aja dengernya pengin muntah di selokan. Buat merawat wajah sehari-hari, gue pake beberapa varian Hada Labo skin care selama dua tahun. Pertama kali gue pake, produk ini belum ada di Indonesia dan harus pesan dengan sistem pre order di online shop dengan harga cukup mahal. Kesabaran gue pun membuahkan hasil, karena akhirnya produk ini ada pabriknya di Indonesia. Harganya pun ngikutin harga rata-rata skin care di Indonesia. Gara-gara harganya yang cukup murah itu, banyak yang meragukan, tuh produknya sebagus kayak negara asalnya (Jepang) nggak, sih? Tapi, nggak perlu kuatir, karena produk ini sudah dipegang sama Rohto Laboratories Indonesia (perusahaan kecantikan ternama di Indonesia). Mereka menjanjikan bahwa bahan-bahan yang digunakan di varian Hada Labo Indonesia memang sama kayak di Jepang. Soal harga murah, itu mungkin karena nggak perlu ongkir mahal-mahal dari luar negeri. Sejak dua tahun lalu, udah banyak banget beauty blogger yang review soal produk ini. Dan yang bikin produk ini eye catching adalah produk ini (katanya) terjual sebanyak satu buah setiap dua detik di Jepang. Kalau gue yang jualan, pasti gue udah tinggal duduk ongkang-ongkak kaki di rumah sambil nonton teve dan makan makanan berlemak sampe badan melebar. Abis itu paling disuruh sedot lemak sama nyokap gue! Nggak semua varian Hada Labo rutin gue pake sih, meskipun gue udah pernah coba semuanya. Karena, kulit gue ini termasuk kulit yang agak sensitif dan berminyak banget. Berikut ini adalah varian Hada Labo yang gue pake:   1. Hada Labo Ultimate Whitening Face Wash Sekilas, isinya mirip sama kayak sabun muka biasa. Warnanya putih gitu, terus kalau dikasih...

Review Garnier BB Cream Miracle Skin Perfector

By on Oct 20, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

“BB cream is like money to me. I always need to carry it around,” kata Key , personel boyband Shinee yang suka banget pake BB cream. Bahkan, dia juga sempet mendoakan agar pencipta BB cream bisa masuk surga, karena jasanya begitu besar. Cowok aja bisa antusias banget sama BB cream, apalagi cewek! Kayaknya haram hukumnya kalau cewek nggak tau apa itu BB cream. Sebelum ada BB cream, kita mengandalkan foundation buat makeup. Tapi, nggak mungkin kan kita pake foundation setiap hari. Karena, foundation itu covering-nya lebih berat. Nggak jarang, pas dipake tampilan muka lebih mirip kayak mau ngelenong atau syuting sinetron stripping yang episodenya panjang banget! Tebel banget, Kak! Kalau udah makin lama dipake, bisa menimbulkan efek cakey. Itu lho, kalau ketawa, muka kayak retak-retak. Udah gitu, foundation juga bisa nutupin pori-pori, bikin kulit nggak bisa nafas. Akhirnya, kulit malah jerawatan dan rusak. Kalau gue pribadi sih, selain bisa jerawatan, foundation juga bisa bikin kulit gue gatel-gatel. Makanya gue nggak bisa pake foundation lama-lama. Paling cuma buat photo shoot pas gue jadi model selama beberapa jam, abis itu langsung gue hapus. Aih, sedap banget! Photo shoot, mamen! Di era modern seperti sekarang ini, untungnya udah banyak BB cream beredar di mana-mana. Sekilas, bentuknya mirip kayak foundation, tapi covering-nya nggak setebel foundation. Jadi, pas dipake hasilnya terlihat natural. Cocok banget buat aplikasi “no makeup” makeup. Itu lho makeup natural yang bikin kita kelihatan kayak nggak pake makeup, padahal sebeneranya pake makeup. Buat tipu-tipu laki bolehlah. Selain itu, BB cream itu nggak cuma buat covering kulit wajah, tapi manfaatnya juga banyak. Antara lain bisa melembapkan, mencerahkan wajah, memudarkan bekas jerawat dan noda pada wajah, melindungi kulit wajah dari sinar matahari dan meratakan warna kulit. Tapi, bukan berarti bisa dipake buat tidur, ya, karena BB cream itu bukan krim malam. Kebetulan, kemarin...

Rambut Baru Kak Uung: Normal Banget!

By on Oct 4, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Kira-kira, tiga minggu yang lalu, gue mengalami ‘kecelakaan’ poni yang menyebabkan gue trauma dengan gunting dan benda tajam lainnya. Poni gue yang tadinya mirip bulan sabit mendadak berubah jadi kayak batok kelapa. Padahal, dari dulu gue selalu ahli dalam menggunting poni sampai-sampai pernah kepikiran buat buka salon, tapi khusus buat potong poni. Dan itu menyebabkan gue harus menunda cat rambut, karena poni gue ancur banget! Kayaknya nggak etis aja kalau harus cat rambut, padahal potongan rambut lagi nggak oke. Meskipun poni lagi dalam masa kehancuran, tapi gue tetap berusaha tawakal. Sekarang, poni gue udah agak bagusan. Kalau kata orang-orang sih kayaknya berkat kekuatan shampoo kuda Mane and Tail. Gue pikir, ini adalah saat yang tepat untuk cat rambut lagi demi benerin warna rambut gue yang udah hancur berantakan kayak hidup para koruptor. Dan warna rambut terbaru gue yang sekarang terinspirasi dari Kak RG. Nama warna rambutnya mahogany copper brown, merk Loreal Paris. Kalau kata Kak RG, warna itu adalah warna rambut pertama dia saat pertama kali cat rambut. Saat itu, Kak RG masih belia banget karena baru lulus SMA (pertengahan 2002). Walaupun masih tergolong muda, namun dia udah jadi bantjik salon. Pencapaian tersebut kira-kira mirip kayak prestasi Mark Zuckerberg yang sukses di usia muda karena mendirikan Facebook. Warnanya, terlihat lebih gelap dan ‘normal’ jika dibandingkan dengan warna rambut gue yang sebelumnya. Ya, sekali-kali bolehlah terlihat lebih normal. Kalau lagi normal, biasanya langsung banyak yang naksir sama gue. Suwer. Beh, kalau gue bergaya normal dari dulu, gue pasti udah pacaran sejak duduk di bangku TK. Dengan kekuatan bulan, gue berhasil ngecat rambut gue sendiri. Seadanya gitu, deh. Tadinya, gue pengin minta bantuan Kak RG, tapi takutnya dia sibuk. Maklum aja, sebentar lagi dia bakal jadi CEO dan pake kartu nama yang tulisannya ‘I’m CEO, bitches!’. Tengil banget, kan! Setelah cat...

Memanjangkan Rambut dengan Shampoo Kuda Mane and Tail (Part 2)

By on Sep 6, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Sejak potong rambut model jamur tahun 2012 kemarin, petualangan gue dalam hal memanjangkan rambut jadi nggak pernah ada habisnya. Kisahnya mirip kayak film The Hunger Games. Ada The Hunger Games Mockingjay – Part 1 dan The Hunger Games Mockingjay – Part 2. Sebelumnya, mungkin kalian pernah baca kisah gue pake Shampoo Kuda Mane and Tail. Nah, itu Part 1-nya tulisan ini. Nah, ceritanya belum kelar sampe di situ. Sekadar mengingatkan, pertama kali gue beli shampoo kuda, belinya titip sama temen gue si Sherly lewat salah satu online shop. Hasilnya, rambut gue lumayan panjang, tapi rambut gue jadi kasar banget. Terus, shampoo-nya habis dan gue belum beli lagi yang baru karena gue masih ragu, apakah gue harus lanjut pake shampoo kuda atau nggak. Di saat yang sama, gue juga sempet rapihin rambut di salon bersama Kak RG tanggal 12 Juli 2014 kemarin dengan hasil potongan rambut setjantik ini. Kemudian, di hari yang Fitri, tanggal 28 Juli 2014 kemarin, gue sempet jalan-jalan ke mal Taman Anggrek bareng Kak RG dan Mastini. Di sana, nggak sengaja ketemu booth yang jualan shampoo kuda jenis Herbal Grow dengan harga yang cukup miring, yaitu Rp 160 ribu. Wih, lebih murah daripada yang kemarin Sherly beli (Rp 170 ribu). Tanpa pikir panjang, gue langsung beli! Meskipun gue cukup trauma karena shampoo itu udah bikin rambut gue makin kasar. Tapi, setidaknya gue masih punya harapan besar dalam hal memanjangkan rambut. Rupanya, Sista yang jualan di booth mal Taman Anggrek itu juga jualan secara online di Instagram. Si Sista cantumin nama web dan semua kontak yang bisa dihubungi di kartu nama yang dipajang di booth. Gue pikir, kalau misalnya nanti shampoo kudanya udah mau habis, gue bisa pesan lagi sama dia. Kalau kalian tertarik, kalian bisa cek langsung webnya di www.urbanindostore.net. Pas malemnya, shampoo itu langsung gue pake...

Pebble, Jam Tangan Pintar

By on Aug 11, 2014 in Diary, Review Produk

Kehidupan gue sebagai social butterfly di Jakarta cukup keras. Social butterfly itu diwajibkan buat punya banyak media sosial. Supaya makin gahul dan eksis. Kalau media sosial di smartphone lo orang banyak, otomatis bakal bikin baterai smartphone lo orang cepet abis. Buat menghemat baterai iPhone, biasanya gue silent iPhone gue. Lumayan sih bisa menghemat baterai, meskipun baterai gue tetep aja cepet abis karena banyak notifikasi dari berbagai media sosial. Gara-gara itu, gue kadang nggak ngeh kalau ada message atau telepon penting yang masuk. Apalagi pas gue lagi nggak pegang hape. Wah, pasti banyak yang protes. Biasanya, gue dibilang nggak cekatan angkat telepon, nggak gesit bales chat dan lain-lain. Ya gimana ya, seeksis-eksisnya orang, kadang nggak selalu pegang hape. Lama-lama muak juga kalau yang dipegang cuma hape. Sekali-kali, gue juga butuh mainin benda lain, kayak Barbie misalnya. Karena lebih baik main Barbie daripada mainin perasaan anak orang. Nggak cuma suka ‘istirahat’ pegang hape, tapi kadang gue juga suka tidur di perjalanan. Kapan pun dan di mana pun. Walaupun nggak ketemu bantal, entah kenapa gue selalu ketiduran. Kalau kata orang-orang sih itu karena gue pemalas. Menurut gue sih nggak begitu karena gaya hidup gue udah kayak artis ibu kota yang gampang kecapekan. Jadi, harus menyempatkan diri buat tidur kapan aja. Maklum aja ya, soalnya waktu gue abis buat kerja, bersosialisasi, nyalon sampe jumpa fans. Nah, kalau udah ketiduran, otomatis gue nggak pegang hape, dong! Terus, pada marah-marah deh, kalau ada message atau telepon penting. Salah satunya Kak RG yang suka protes mengenai hal ini. Kalau misalnya lagi janjian buat ketemu, gue suka nggak langsung angkat telepon atau balas message. Ya gimana, ya, tangan cuma dua. Kadang, yang satu dipake buat ngupil, yang satunya lagi dipake buat betulin makeup. Terus, kadang juga males liatin hape kalau lagi di dalam bus atau kendaraan umum...

Page 9 of 10« First...678910
Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy