FacebookTwitter
Page 9 of 10« First...678910

Review Garnier BB Cream Miracle Skin Perfector

By on Oct 20, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

“BB cream is like money to me. I always need to carry it around,” kata Key , personel boyband Shinee yang suka banget pake BB cream. Bahkan, dia juga sempet mendoakan agar pencipta BB cream bisa masuk surga, karena jasanya begitu besar. Cowok aja bisa antusias banget sama BB cream, apalagi cewek! Kayaknya haram hukumnya kalau cewek nggak tau apa itu BB cream. Sebelum ada BB cream, kita mengandalkan foundation buat makeup. Tapi, nggak mungkin kan kita pake foundation setiap hari. Karena, foundation itu covering-nya lebih berat. Nggak jarang, pas dipake tampilan muka lebih mirip kayak mau ngelenong atau syuting sinetron stripping yang episodenya panjang banget! Tebel banget, Kak! Kalau udah makin lama dipake, bisa menimbulkan efek cakey. Itu lho, kalau ketawa, muka kayak retak-retak. Udah gitu, foundation juga bisa nutupin pori-pori, bikin kulit nggak bisa nafas. Akhirnya, kulit malah jerawatan dan rusak. Kalau gue pribadi sih, selain bisa jerawatan, foundation juga bisa bikin kulit gue gatel-gatel. Makanya gue nggak bisa pake foundation lama-lama. Paling cuma buat photo shoot pas gue jadi model selama beberapa jam, abis itu langsung gue hapus. Aih, sedap banget! Photo shoot, mamen! Di era modern seperti sekarang ini, untungnya udah banyak BB cream beredar di mana-mana. Sekilas, bentuknya mirip kayak foundation, tapi covering-nya nggak setebel foundation. Jadi, pas dipake hasilnya terlihat natural. Cocok banget buat aplikasi “no makeup” makeup. Itu lho makeup natural yang bikin kita kelihatan kayak nggak pake makeup, padahal sebeneranya pake makeup. Buat tipu-tipu laki bolehlah. Selain itu, BB cream itu nggak cuma buat covering kulit wajah, tapi manfaatnya juga banyak. Antara lain bisa melembapkan, mencerahkan wajah, memudarkan bekas jerawat dan noda pada wajah, melindungi kulit wajah dari sinar matahari dan meratakan warna kulit. Tapi, bukan berarti bisa dipake buat tidur, ya, karena BB cream itu bukan krim malam. Kebetulan, kemarin...

Rambut Baru Kak Uung: Normal Banget!

By on Oct 4, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Kira-kira, tiga minggu yang lalu, gue mengalami ‘kecelakaan’ poni yang menyebabkan gue trauma dengan gunting dan benda tajam lainnya. Poni gue yang tadinya mirip bulan sabit mendadak berubah jadi kayak batok kelapa. Padahal, dari dulu gue selalu ahli dalam menggunting poni sampai-sampai pernah kepikiran buat buka salon, tapi khusus buat potong poni. Dan itu menyebabkan gue harus menunda cat rambut, karena poni gue ancur banget! Kayaknya nggak etis aja kalau harus cat rambut, padahal potongan rambut lagi nggak oke. Meskipun poni lagi dalam masa kehancuran, tapi gue tetap berusaha tawakal. Sekarang, poni gue udah agak bagusan. Kalau kata orang-orang sih kayaknya berkat kekuatan shampoo kuda Mane and Tail. Gue pikir, ini adalah saat yang tepat untuk cat rambut lagi demi benerin warna rambut gue yang udah hancur berantakan kayak hidup para koruptor. Dan warna rambut terbaru gue yang sekarang terinspirasi dari Kak RG. Nama warna rambutnya mahogany copper brown, merk Loreal Paris. Kalau kata Kak RG, warna itu adalah warna rambut pertama dia saat pertama kali cat rambut. Saat itu, Kak RG masih belia banget karena baru lulus SMA (pertengahan 2002). Walaupun masih tergolong muda, namun dia udah jadi bantjik salon. Pencapaian tersebut kira-kira mirip kayak prestasi Mark Zuckerberg yang sukses di usia muda karena mendirikan Facebook. Warnanya, terlihat lebih gelap dan ‘normal’ jika dibandingkan dengan warna rambut gue yang sebelumnya. Ya, sekali-kali bolehlah terlihat lebih normal. Kalau lagi normal, biasanya langsung banyak yang naksir sama gue. Suwer. Beh, kalau gue bergaya normal dari dulu, gue pasti udah pacaran sejak duduk di bangku TK. Dengan kekuatan bulan, gue berhasil ngecat rambut gue sendiri. Seadanya gitu, deh. Tadinya, gue pengin minta bantuan Kak RG, tapi takutnya dia sibuk. Maklum aja, sebentar lagi dia bakal jadi CEO dan pake kartu nama yang tulisannya ‘I’m CEO, bitches!’. Tengil banget, kan! Setelah cat...

Memanjangkan Rambut dengan Shampoo Kuda Mane and Tail (Part 2)

By on Sep 6, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Sejak potong rambut model jamur tahun 2012 kemarin, petualangan gue dalam hal memanjangkan rambut jadi nggak pernah ada habisnya. Kisahnya mirip kayak film The Hunger Games. Ada The Hunger Games Mockingjay – Part 1 dan The Hunger Games Mockingjay – Part 2. Sebelumnya, mungkin kalian pernah baca kisah gue pake Shampoo Kuda Mane and Tail. Nah, itu Part 1-nya tulisan ini. Nah, ceritanya belum kelar sampe di situ. Sekadar mengingatkan, pertama kali gue beli shampoo kuda, belinya titip sama temen gue si Sherly lewat salah satu online shop. Hasilnya, rambut gue lumayan panjang, tapi rambut gue jadi kasar banget. Terus, shampoo-nya habis dan gue belum beli lagi yang baru karena gue masih ragu, apakah gue harus lanjut pake shampoo kuda atau nggak. Di saat yang sama, gue juga sempet rapihin rambut di salon bersama Kak RG tanggal 12 Juli 2014 kemarin dengan hasil potongan rambut setjantik ini. Kemudian, di hari yang Fitri, tanggal 28 Juli 2014 kemarin, gue sempet jalan-jalan ke mal Taman Anggrek bareng Kak RG dan Mastini. Di sana, nggak sengaja ketemu booth yang jualan shampoo kuda jenis Herbal Grow dengan harga yang cukup miring, yaitu Rp 160 ribu. Wih, lebih murah daripada yang kemarin Sherly beli (Rp 170 ribu). Tanpa pikir panjang, gue langsung beli! Meskipun gue cukup trauma karena shampoo itu udah bikin rambut gue makin kasar. Tapi, setidaknya gue masih punya harapan besar dalam hal memanjangkan rambut. Rupanya, Sista yang jualan di booth mal Taman Anggrek itu juga jualan secara online di Instagram. Si Sista cantumin nama web dan semua kontak yang bisa dihubungi di kartu nama yang dipajang di booth. Gue pikir, kalau misalnya nanti shampoo kudanya udah mau habis, gue bisa pesan lagi sama dia. Kalau kalian tertarik, kalian bisa cek langsung webnya di www.urbanindostore.net. Pas malemnya, shampoo itu langsung gue pake...

Pebble, Jam Tangan Pintar

By on Aug 11, 2014 in Diary, Review Produk

Kehidupan gue sebagai social butterfly di Jakarta cukup keras. Social butterfly itu diwajibkan buat punya banyak media sosial. Supaya makin gahul dan eksis. Kalau media sosial di smartphone lo orang banyak, otomatis bakal bikin baterai smartphone lo orang cepet abis. Buat menghemat baterai iPhone, biasanya gue silent iPhone gue. Lumayan sih bisa menghemat baterai, meskipun baterai gue tetep aja cepet abis karena banyak notifikasi dari berbagai media sosial. Gara-gara itu, gue kadang nggak ngeh kalau ada message atau telepon penting yang masuk. Apalagi pas gue lagi nggak pegang hape. Wah, pasti banyak yang protes. Biasanya, gue dibilang nggak cekatan angkat telepon, nggak gesit bales chat dan lain-lain. Ya gimana ya, seeksis-eksisnya orang, kadang nggak selalu pegang hape. Lama-lama muak juga kalau yang dipegang cuma hape. Sekali-kali, gue juga butuh mainin benda lain, kayak Barbie misalnya. Karena lebih baik main Barbie daripada mainin perasaan anak orang. Nggak cuma suka ‘istirahat’ pegang hape, tapi kadang gue juga suka tidur di perjalanan. Kapan pun dan di mana pun. Walaupun nggak ketemu bantal, entah kenapa gue selalu ketiduran. Kalau kata orang-orang sih itu karena gue pemalas. Menurut gue sih nggak begitu karena gaya hidup gue udah kayak artis ibu kota yang gampang kecapekan. Jadi, harus menyempatkan diri buat tidur kapan aja. Maklum aja ya, soalnya waktu gue abis buat kerja, bersosialisasi, nyalon sampe jumpa fans. Nah, kalau udah ketiduran, otomatis gue nggak pegang hape, dong! Terus, pada marah-marah deh, kalau ada message atau telepon penting. Salah satunya Kak RG yang suka protes mengenai hal ini. Kalau misalnya lagi janjian buat ketemu, gue suka nggak langsung angkat telepon atau balas message. Ya gimana, ya, tangan cuma dua. Kadang, yang satu dipake buat ngupil, yang satunya lagi dipake buat betulin makeup. Terus, kadang juga males liatin hape kalau lagi di dalam bus atau kendaraan umum...

Review Kolor Anti Air dari Cina

By on Jul 26, 2014 in Diary, Review Produk

Nggak ada angin, nggak ada hujan, tiba-tiba temen kantor gue si Vinty ajakin beli kolor di Groupon.com. Katanya sih, kolornya itu bukan kolor biasa, meskipun warnanya bukan ijo. Entah apa yang istimewa dari kolor ini sampe-sampe bisa dijual di Groupon. “Kak Uung, mau ikutan beli kolor nggak? Lagi diskon gede, nih,” ajak Vinty. “Kolor apaan, Kak?” tanya gue sembari liat layar komputernya yang lagi buka situs jualan itu. “Kolor anti air, Kak.” Gue pun ikutan baca iklannya. Dalam bahasa Inggrisnya, kolor ini disebut waterproof underwear panties. Berarti kolornya itu nggak bakal bisa basah selamanya, dong? Tiba-tiba gue jadi teringat sama rambut temen gue si Alen yang kelihatannya waterproof banget! Soalnya, pas lagi berenang, rambutnya cuma basah sebentar, abis itu langsung kering dalam hitungan detik. Rambutnya bisa kayak begitu karena kribo persis kayak Edi Brokoli kalau digondrongin. Enak juga sih kalau punya rambut kayak begitu. Bisa hemat waktu karena nggak perlu repot-repot keringin rambut pake hair dryer. Lalu, apakah cara kerja kolor itu sama kayak rambutnya Alen? Berarti nggak perlu dicuci dong? “Jadi kalau pake kolor itu nggak perlu takut basah gitu, ya? Buat yang sering ngompol cocok dong, Kak?” tanya gue. “Bukan begitu, Kak. Maksudnya biar pas olahraga nggak keringetan sampe celana bagian luarnya basah. Biar nyaman gitu. Terus kalau tembus pas mens, nggak bakal bocor kena celana luar,” jelas Vinty dengan bijak. “Ouwwww,” gue cuma bisa ngangguk-ngangguk seolah-olah udah ngerti banget. “Mau coba beli nggak, Kak? Kalau mau, kita kumpulin orang lebih banyak lagi biar ongkirnya murah,” bilang Vinty yang otaknya emang dagang banget. Makanya, dia sampe punya akun di  olx.co.id buat jualan barang bekas di rumah. Kayaknya ruangan-ruangan di rumah Vinty lega banget deh, karena kalau ada barang nganggur di rumah, pasti langsung dijual. “Harganya murah juga, ya! Dari Rp 70 ribu jadi 36 ribu. Ya, boleh...

Review SugarPot Wax, Pembasmi Bulu Laknat

By on Jul 11, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Sejak SMA, gue udah suka cukur bulu ketek pake alat cukur cowok yang dijual di pasaran. Soalnya, gampang banget dipakenya. Bulu langsung hilang dan gue bisa pake baju atau dress tangan buntung sesuka hati tanpa rasa bersalah. Tapi, lama-lama ketek gue jadi nggak merata warnanya. Persis kayak yang pernah gue curhatin di Review Bedak Ketek MBK. Udah gitu, tumbuhnya kok cepet banget, ya! Baru cukur hari ini, dua harinya langsung tumbuh lagi dan lebat kayak tanaman di hutan Mangrove. Eh, nggak sampe lebat, sih. Cuma ya itu, jadinya tajem-tajem kayak kaktus. Terus, ada seorang temen yang kasih tau gue kalau ilangin bulu ketek dengan cara dicabut itu lebih bagus ke mana-mana daripada dicukur. Tumbuhnya pun bisa lebih lama dan nggak tajem-tajem. Caranya itu dicabut pake pinset yang biasa dipakai buat rapihin alis itu. Gue kan suka cabut alis pake pinset. Nggak terlalu sakit, kok. Gue pikir, ya udah, boleh deh cobain! Dan emang nggak terlalu sakit, sih. Cuma leher gue pegel aja pas cabutin bulu ketek satu per satu. Dan nggak terasa, udah berjam-jam lamanya gue abisin waktu cuma demi cabut bulu ketek. Abis itu, badan gue langsung tepar dan butuh pijat leher. Tapi, bukan berarti gue pengin dipijat sama terapis asli China yang sadis itu, ya! Dan akhirnya, gue kembali lagi ke pelukan pisau cukur. Karena gue nggak mau merepotkan hidup gue sendiri hanya untuk kebersihan ketek. Ketika kuliah, masalah perbuluan nggak hanya bertengger di ketek. tapi juga di kaki. Jadi begini, sebelum kuliah, bulu kaki gue itu normal. Pas udah kuliah, malah jadi panen bulu kaki (di betis doang, sih). Bulunya lumayan lebat, panjang dan keriting-keriting. Nah lho, gue nggak ngerti kenapa bisa begitu. Padahal, gue nggak pake ramuan penumbuh rambut dari Arab yang suka dijual di pasar-pasar. Gue juga nggak suka cukur atau gunting bulu kaki....

Page 9 of 10« First...678910
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy