FacebookTwitter
Page 9 of 10« First...678910

Beli Pisang Pasir di Pisangku.com

By on Jul 8, 2015 in Diary, Food Porn

Di saat gue ngidam babi cuka, Kak RG malah ngidam pisang pasir. Gue bingung apa yang dimaksud dengan pisang pasir. Apakah itu makanan jenis baru? Apakah makannya dicampur sama pasir? Kegaptekan gue membuat gue nggak tahu soal pisang hits itu. Ternyata, pisang pasir itu adalah pisang kepok yang digoreng dengan balutan butiran tepung pasir. Bentuknya mirip chicken katsu, rasanya gurih, dan manis. Menurut Kak RG, pisang ini patut dicoba karena berbeda dari pisang goreng kebanyakan. Tadinya gue pikir beli pisang pasir itu harus mampir ke tempat yang jauh, seperti Bogor atau Bandung, tapi ternyata nggak kok. Karena, pisang tersebut bisa dipesan di www.pisangku.com. Kalau kalian buka web itu, langsung keliatan jelas nomor telepon dan hape untuk delivery, yaitu 93004000 dan 081317810000. Sayangnya, mereka delivery-nya baru bisa di daerah Jakarta Selatan aja. Belum bisa ke daerah Mangga Besar. Hiksss.. Ya sudah deh, gue pun minta dikirim ke kantor gue aja yang emang berdomisili di daerah Jakarta Selatan. Gue emang bunglon gitu, deh. Bisa jadi anak pusat, utara, selatan, dan barat. Gue cuma belum pernah mencoba jadi anak timur. Ada minimal pemesanan delivery, yaitu 20 biji, ditambah ongkos kirim Rp25ribu. Jadi, gue pun memesan 20 pisang pasir untuk dibawa pulang ke keluarga buat dibagi-bagikan ke Kak RG dan keluarga gue. Sebenarnya, ada menu-menu lain sih di sana, seperti pisang pasir kecil, onde-onde kacang hijau, pastel istimewa, dan risol raghout. Cuma, gue lebih penasaran sama pisang pasir, jadi gue pesen pisang pasir gede semua, deh. Di web-nya, tertulis bahwa harga sebijik pisang pasir adalah Rp3.500. Cuma pas gue telepon, dia bilang harga per bijiknya Rp3 ribu. Nggak mungkin kan turun harga di saat perekonomian lagi makin susah. Kayaknya sih, gara-gara gue pesen 20 biji makanya dikasih diskon. Murah banget, ya! Beli burger sebijik aja nggak dapet dengan harga segitu! Jadi, biaya yang gue...

Icip Kari Jepang di Curry House CoCo Ichibanya

By on Apr 12, 2015 in Diary, Food Porn

Awalnya, gue nggak terlalu excited sama kari Jepang karena rasa kari di mana-mana sama dan begitu-begitu aja. Monoton dan ngebosenin. Gue suka kari Jepang karena gue adalah pemakan segalanya, tapi dibilang suka banget, juga nggak. Beda banget sama Kak RG yang doyan banget sama kari Jepang. Masa kalau mampir ke resto sushi, dia pesen kari. Mampir ke resto ramen, dia juga pesan kari. Dia doyan banget sama kari Jepang karena menurutnya, kari Jepang itu punya rich taste yang resepnya seolah-olah udah dipertahankan selama ratusan tahun sejak zaman nenek moyang kita. Beda dengan makanan Jepang lainnya yang terkesan seperti hasil eksperimen di dapur. Contohnya, sushi dan ramen. Kenapa sushi dan ramen merupakan hasil eksperimen di dapur? Karena sushi dan ramen resepnya bisa dikembangkan dari waktu ke waktu. Bisa disesuaikan dengan kreativitas pembuatnya. Jika resepnya dikembangkan, rasanya makin enak. Sedangkan, kari Jepang itu lebih enak kalau dimasak dengan resep yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Resep kari Jepang itu bisa aja dimodifikasi sih, tapi nggak bisa dilakukan dengan sembarangan. Salah sedikit aja, rasanya bakal berubah jadi nggak enak. Dasar Kak RG sok filosofis! Makan aja milih-milih, padahal masih banyak orang yang kelaparan di luar sana! Karena jarang ada resto dan chef yang bisa memasak kari Jepang dengan enak, sampai saat ini, Kak RG belum menemukan resto kari Jepang yang enak. Lama-lama, dia jadi males makan kari Jepang. Bahkan, outlet Curry House CoCo Ichibanya, resto kari franchise dari Jepang (#cocoichibanyaindonesia) yang udah berdiri di west mal, lantai 3A, Grand Indonesia (GI) sejak tanggal 8 Desember 2013 nggak terlihat di matanya. Padahal, resto itu terkenal banget di Instagram. Banyak Instagrammer yang nge-post foto menu makanan Curry House CoCo Ichibanya (#cocoichibanya, #cococurryhouse) di Instagram. Gue juga nggak ada insiatif buat ajak dia ke sana karena gue udah jelasin sebelumnya. Gue bosan sama...

Hidup Sehat dengan Green Smoothies

By on Mar 9, 2015 in Diary, Food Porn

Gue bukan orang yang akrab dengan green smoothies. Denger namanya aja udah takut. Soalnya, warnanya ijo bingit dan bikin takut. Takut sama rasanya yang sayur bingit. Tapi, gue pernah cobain green smoothies di resto Mama Malaka yang ada di Grand Indonesia. Rasanya enak dan nggak seburuk yang gue bayangkan. Rupanya, sayuran-sayuran laknat tersebut emang sengaja dibuat dalam bentuk green smoothies supaya rasanya jadi enak dan bisa dinikmati oleh siapa aja, termasuk anak-anak dan orang dewasa yang nggak suka makan sayur. Weekend kemarin, gue dapet liputan ke acara launching buku berjudul Green Smoothies: Super-Healthy & Healing Drink.     Acara tersebut diadain di Warung Kebunku (Jl. Terogong Raya No. 11, Cilandak Barat, Jakarta). Gue suka sama warung makan ini, soalnya tempatnya vintage bingit kayak jiwa gue. Sesuai sama namanya yang terdengar sayur bingit, warung ini menyediakan berbagai macam makanan yang sehat dan alami. Karena, bahan makanannya fresh, bumbunya alami dan sayurnya dipetik dari kebun organik sendiri.     Nectaria Ayu, si penulis buku sekaligus pemilik Warung Kebunku nggak hanya adain launching buku, tapi doi juga adain workshop berjudul Making Lovely and Healthy Green Smoothies. Lewat workshop itu, kita diajarin buat praktekin resep-resep smoothies yang ada di buku itu. Dengan mengikuti kegiatan positif macam ini, minimal gue bisa ngerasain gimana rasanya masuk dapur. Bisa melatih insting untuk menjadi wanita seutuhnya. Mudah-mudahan, setelah pulang dari acara ini, gue bisa jadi perempuan yang rajin bikin smoothies atau mungkin jadi penjual smoothies yang ke mana-mana bawa blender.     Lho, kenapa di kedua foto tersebut bajunya Kak Ayu berubah dari biru ke hitam? Rupanya, fenomena warna dress black and blue dan white and gold pun masih berlanjut di workshop bikin smoothies! Menurut kalian, apa warna asli baju Kak Ayu? Kalau bisa jawab, kalian bakal dapet green smoothies buatan Kak Uung! A. Biru B. Hitam...

Berkunjung ke Pasar Santa (Part 2)

By on Feb 9, 2015 in Diary, Food Porn

Beberapa waktu lalu, gue pernah bikin blog tentang Pasar Santa. Di blog tersebut, gue berjanji bakal bikin lanjutannya. Karena, kalau diceritain hanya dalam satu blog, kayaknya nggak bakal cukup. Pasar Santa itu cukup luas dan kedai makanannya seabrek-abrek. Nggak mungkin bisa diabisin hanya dalam sehari atau dua hari. Apalagi, ukuran lambung gue sekarang udah terbatas banget. Nggak segede dulu ketika masih belum laku. Sekarang entah kenapa ukuran lambung gue makin mengecil, Mungkin karena Kak RG selalu abisin makanan gue. Kalau dulu, gue yang jadi pahlawan di siang bolong dengan makan semua makanan temen. Weekend kemarin, gue pergi ke sana lagi bareng Kak RG. Kalau dipikir-pikir, rajin banget, ya! Kalau waktu itu gue perginya siang, kali ini gue perginya agak sore menuju malem, soalnya pengin ngerasain Pasar Santa dengan suasana malam. Pas udah nyampe ke sana, astaga! Rame banget kayak pasar! Terutama di lantai 1, yang ada food court-nya itu. Sesuai kayak namanya juga sih. Pasar. Bukan Puskesmas. Tujuan kami langsung tertuju pada kedai DOG (dibaca @diyoji) yang super rame itu. Sebenarnya waktu pertama kali berkunjung ke Pasar Santa, gue sama Kak RG udah tertarik sama Diyoji. Penasaran kenapa kedainya rame banget! Tapi, karena perut udah kenyang dan harus buru-buru balik, jadi rencana buat menyantap Diyoji di-pending dan baru kesampean kemarin. Diyoji itu jualan black gourmet hotdog a.k.a hotdog yang disajikan pake roti hitam gitu. Biasanya kan hotdog pake roti putih. Jarang-jarang ada yang pake roti hitam. Mungkin itu yang bikin dagangan ini unik dan selalu panjang antriannya. Menurut pandangan mata, kayaknya kedai yang paling panjang antriannya di Pasar Santa adalah Diyoji. Makanya, kami penasaran banget kenapa bisa begitu rame? Apakah emang karena rasanya enak banget? Atau karena si penjual pake ilmu susuk? Liat antriannya aja udah males, tapi kalau nggak diantriin, bakal penasaran setengah mampus, nggak bisa tidur dan nggak nafsu...

Berkunjung ke Pasar Santa (Part 1)

By on Jan 27, 2015 in Diary, Food Porn

Weekend kemarin, gue sama Kak RG berkunjung ke Pasar Santa (Jl. Cipaku I, Tendean, Jakarta Selatan). Bolehlah sekali-kali main ke daerah Selatan. Bosen banget jadi Cinko (Cina Kota) terus! Awalnya, gue pikir Pasar Santa itu tempat berkumpulnya Santa Klaus di Jakarta, tapi ternyata dugaan gue salah besar! Pasar Santa itu tempat nongkrong yang lagi hit di kalangan anak muda Jakarta Selatan. Baru kali ini kan denger ada pasar yang bisa dijadikan tempat nongkrong? Sekilas, pasar ini mirip kayak pasar-pasar pada umumnya. Kayak Pasar Inpres gitu deh yang jual buah-buahan, sayur-sayuran dan berbagai keperluan rumah tangga lainnya. Kayak tempat gahul ibu-ibu kan? Tapi, kalau dijelajahi lebih lanjut, banyak banget spot seru di sana. Ada tempat buat beli kain, jahit baju, beli barang vintage, bahkan kuliner seru pun bisa dilakuin di sana. Kalau mau liat kucing berantem juga bisa, karena di Pasar Santa juga banyak kucing berdatangan. Gue sama Kak RG aja sampe terkesima ngeliat kucing berantem di sana. Tadinya, gue pikir kedua kucing itu pengin ciuman. Eh taunya malah berantem. Ah, nggak seru! Di lantai 1, ada food court yang lumayan gede. Pas nyampe di sana, belum banyak kedai makanan yang buka. Mungkin karena kami datengnya kepagian. Kemarin itu, kami datengnya kira-kira jam 1 siang gitu deh. Denger-denger sih, kedai makanan rata-rata bukanya agak siang menuju sore gitu. Sekitar jam 2 atau 3. Pandangan mata kami langsung tertuju pada sekelompok orang yang lagi asyik bakar-bakaran di food court. Untungnya yang dibakar bukan kucing atau kedai makanan. Tapi daging sapi, Kak! Makan daging yang dibakar sendiri di atas arang bak makan buffet di Hanamasa atau Yuraku. Saking serunya ngeliat orang-orang bakar daging, gue pun bertanya sama seorang Mbak-mbak supaya tau, di kedai mana dia jajan. Oh, ternyata jajannya di Bbo Bbo Kogi (@bbobbokogi). Kami pun pesan 2 menu, yaitu seporsi daging...

7 Shao Kao: Jajanan Sate Khas Cina

By on Jan 5, 2015 in Diary, Food Porn

Kalau di China, Shao Kao adalah jajanan sate pinggir jalan. Mungkin kalau di Indonesia, kayak kita liat jajanan gorengan tahu Sumedang yang bertebaran di mana-mana. Kebetulan, keluarga gue punya bisnis jualan sate khas Cina yang diberi nama 7 Shao Kao Chinese BBQ di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Kenapa dikasih angka 7 di depannya? Soalnya biar namanya beda sama resto Shao Kao lain yang juga buka di PIK. Keluarga gue lagi suka sama angka 7, karena angka 7 dianggap populer di kalangan bule. Awalnya gue juga heran sih, kenapa nggak pake angka 8 aja yang lebih Cina. Apalagi, filosofi angka 8 itu juga bagus, yaitu bisa membawa hoki. Tapi, kalau pake angka 8, emang kurang enak ucapinnya, sih. Lebih enak pake angka 7 (baca: Seven Shao Kao). Yang bikin resep dan bumbu-bumbunya juga bukan orang sembarangan, tapi yang ajarin itu orang China asli. Bukan Cina Kota, peranakan atau sejenisnya macam gue. Emang kebetulan, sepupu gue yang buka resto ini nikah sama cewek China asli. Eh, tapi bukan cewek China yang jago pijat lho, ya! Nah, istrinya itu punya saudara yang jago meramu bumbu sate khas Cina! Tanpa jasa doi, resto 7 Shao Kao kayanya nggak bakal ada deh. Gue ke sana tanggal 31 Desember 2014 kemarin. Emang udah direncanain banget buat makan sate pas malam Tahun Baru. Bisa dibilang, sate-sate yang gue makan di 7 Shao Kao adalah makan malam terakhir di penghujung 2014 kemarin. Perut kenyang, hati pun senang! Buat main ke sana, butuh perjuangan berat. Pasalnya, gue anak Mangga Besar, cuy! Kurang menguasai daerah PIK dan sejenisnya. Dan letaknya cukup jauh dari rumah gue. Meskipun pas nyampe ke sana gue dan Kak RG keujanan. Rambut kami juga jadi lepek bingit. Tapi, gue lega pas nyampe di sana, soalnya tempatnya cozy dan homie. Nggak perlu kuatir nggak...

Page 9 of 10« First...678910
Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy