FacebookTwitter
Page 7 of 9« First...56789

Makan Sehat di Pecel Lele Permata Mubarok

By on Dec 20, 2015 in Diary, Food Porn

Sudah lama Kak Uung nggak ngeblog soalnya sejak tanggal 10 Desember 2015 kemarin, gue resmi bekerja di pegipegi.com sebagai Content Writer. Cerita soal kantor baru gue itu bakal gue ceritain di blog selanjutnya, ya. Saking lamanya nggak buka blog ini, pas gue buka akun WordPress gue, gue bingung dong kenapa nggak kebuka-buka. Lah, ternyata gue salah masukin password. Yang gue masukin ke WordPress blog ini adalah password gue di blog pegipegi. Duh, rasanya pengin jedotin jidat gue ke tembok biar sembuh penyakit lupanya. Okelah, gue pengin cerita di sini soal  pengalaman kuliner gue beberapa hari yang lalu. Waktu bikin blog di pegipegi.com soal 5 Nasi Uduk di Jakarta yang Nggak Pernah Sepi, gue jadi terinspirasi buat ke Pecel Lele Permata Mubarok di Puri Indah. Karena letaknya nggak jauh dari kantor gue (Kebun Jeruk). Gue pun mengajak teman kantor gue, si Peggy yang nggak suka pake beha. Peggy pun setuju. Lalu berangkatlah kami ke sana pas hari Kamis, 17 Desember. Padahal esok harinya ada rapat mingguan di kantor. Gue dan Peggy belum bikin laporan buat presentasi hasil kerjaan selama seminggu dan belum bikin presentasi perkenalan diri. Itulah namanya anak gahul Jakarta. Capek, banyak kerjaan, tapi tetap gahul dan suka keluyuran di malam hari. Duilehh… Gue ke sana diboncengin Peggy pake motornya yang dudukannya empuk banget dan lebar. Kata Peggy, motornya emang didesain buat cewek-cewek berpantat lebar. Peggy bukan cuma jago soal milih makanan dan makan, tapi dia juga jago soal milih motor yang tempat duduknya super enak! Udah pake bantuan aplikasi Waze supaya nggak nyasar, tapi tetep aja nyasar. Maklumlah namanya juga buta jalan dan nggak bisa baca peta. Sesampainya di sana, barulah kami sadar ternyata ada jalan yang lebih cepat menuju TKP. Sialan juga Mbak-mbak di Waze Kasih jalan kok yang ribet. Karena tempatnya sangat fenomenal di kalangan anak...

Bumbu Bali dan Menu Lunch di The Holy Crab Gunawarman

By on Oct 31, 2015 in Diary, Food Porn

Sebelumnya, gue pernah review Holy Smokes yang merupakan salah satu resto di grup Ersons Food. Sekarang, Ersons Food bikin sesuatu yang baru di restonya yang lain, yaitu The Holy Crab yang terkenal banget dengan hidangan lautnya (kepiting dan udang). Sekadar mengingatkan, The Holy Crab didirikan pada Februari 2014 lalu dengan mengusung konsep Louisiana Seafood. Maksudnya, kita bisa makan seafood dengan asyik tanpa pake piring dan alat makan lainnya. Kalau sering main Instagram, pasti bakal sering temuin anak-anak kekinian makan di The Holy Crab pake celemek dari plastik supaya bajunya nggak kecipratan saos kepiting. Saos kepiting yang terkenal di sana adalah Cajun Sauce dan Garlic Pepper Sauce yang punya 4 tingkat kepedasan (mild, medium, spicy, dan holy moly). Selain tata cara makannya yang unik, The Holy Cran juga menyajikan resto yang cozy, nyaman, bersih, dan luas. Bisa ajak orang se-RT kalau makan di sini. Di menu baru kali ini, mereka mengusung konsep Discovering The Authentic Taste of Bali. Pastinya, bakal bikin kita jadi makin kangen sama makanan laut di Bali beserta bumbu-bumbunya! Duh, jadi pengin pergi ke Bali! Kedua menu khas Bali yang disajikan adalah Blue Crab (Ranjungan) dan River Prawn (Udang Galah). Blue Crab memiliki warna yang berbeda dari kepiting biasanya, yaitu kebiru-biruan dengan bercak putih pada tempurungnya. Dagingnya empuk, padat, proteinnya tinggi, dan rendah lemak. Duh, rasanya pengin makan banyak-banyak! Kayaknya nggak bakal gemuk! Sedangkan River Prawn didatangkan dari Sumatera dan Kalimantan, memiliki ukuran yang besar dibandingkan udang jenis lainnya. Rasanya gurih dan manis. Kedua menu tersebut bisa dinikmati bersama 2 pilihan bumbu Bali, yaitu Bumbu Genep dan Sambal Matah. Bumbu Genep diracik dengan menggunakan 12 jenis bumbu dan rempah-rempah, sedangkan Sambal Matah menggunakan bawang merah dan cabe rawit sebagai bahan utama dan dipadukan dengan 4 bahan lainnya. Kedua bumbu Bali itu diracik sendiri oleh Albert Wijaya selaku...

Tunion: Fresh Home Made Tuna Spread

By on Oct 9, 2015 in Diary, Food Porn

Kata orang, kadang rasa suka itu muncul tanpa alasan. Kayak rasa suka gue sama tuna. Gue nggak bisa jawab kenapa gue suka sama tuna. Ya, emang suka aja. Dengan kata lain, emang gue aja yang rakus. Apa pun yang namanya makanan, gue pasti suka asal enak. Nah, kebetulan banget temen gue yang namanya Adisti Daramutia yang hobi nulis di laman www.krilianeh.com baru aja memulai usaha penjualan home made tuna. Home made tunanya dikasih nama Tunion. Akhirnya, gue berinisiatif buat pesan Tunion sama Kak Adisti melalui abang Gojek dan datanglah abang Gojek ke rumah gue dengan mengantar 2 jar Tunion. Sesuai dengan tagline-nya ‘Fresh Home Made Tuna Spread for Your Healthy Living’, Tunion menggunakan bahan-bahan yang segar seperti tuna, bawang, seledri, lemon, garam, dan merica. Untuk menjaga kesegarannya, Tunion dibuat pas lagi ada permintaan, bukan dengan cara dibuat banyak-banyak terus disimpan dalam jangka waktu yang lama. Jadi, kalau emang mau pesan sama Kak Adisti, ngomongnya 2 hari sebelumnya aja supaya doi bisa siapin bahan-bahannya. Selain enak dan segar ketika dimakan, ikan tuna juga banyak manfaatnya, yaitu sebagai sumber protein, mencegah stroke, mencegah tekanan darah makin tinggi, menurunkan kadar trigliserida, menjaga kesehatan jantung, mencegah obesitas, menambah kekebalan tubuh, dan mencengah kanker. Pas gue buka tutup jar-nya, gue suka banget sama aroma tunanya yang fresh dan nggak amis. Aroma sayurannya dan lemonnya juga kecium banget! Cara makannya gimana, Sis? Bisa dimakan langsung, digadoin sama roti sandwich, sushi roll, salad, dan lain-lain. Mau pake nasi juga boleh. Kalau kemarin itu, gue makannya diolesin ke roti tawar. Kalau buat yang lagi diet sih, lebih bagus pake roti tawar gandum ketimbang pake roti tawar putih kayak begini. Katanya kan roti putih jahat kayak bapak tiri dan nggak baik untuk kesehatan kalau dimakan terlalu banyak. Karena gue nggak punya roti gandum, ya udahlah roti putih pun...

Makan Cantik di House of Aranzi

By on Sep 29, 2015 in Diary, Food Porn

Saking enaknya makanan di House of Aranzi Sunter, gue sama Kak RG sampe datang ke tempat ini 2 kali. Doyan, rakus, dan laper semuanya jadi satu. Dari mana gue tau kafe ini? Bukan dari siapa-siapa, tapi emang kebetulan aja pernah lewatin kafe ini karena dekat sama rumahnya Kak RG. Kalau di malam hari, kafenya menerawang. Lampu-lampunya terang banget seolah-olah memanggil semua orang buat berkunjung di sana. Gue curiga yang buka kafe ini adalah salah satu mahasiswa atau alumni kampus kandang burung (kampus gue dulu) karena letaknya juga dekat banget sama kampus fenomenal itu. Pertama kali gue ke sana itu tanggal 24 September yang konon bertepatan sama hari raya Kurban. Sayangnya pas ke sana, nggak ada menu kambing, padahal gue pengin banget makan kambing. Terus, yang kedua kalinya itu tanggal 26 September, abis kami jalan-jalan dari Comic Con. Gue baru bikin blognya sekarang soalnya kemarin gue sempat terserang demam dan vertigo. Penderitaannya sungguh tiada akhir. Kalau nggak percaya cobain sendiri aja, Bray! Pas tanggal 24 September, House of Aranzi lagi rame-ramenya. Saking ramenya, pelayan-pelayan di sana kelihatan kebingungan saat melayani pelanggan. Sistem anteran makananya itu nggak berdasarkan sistem antrian atau siapa dulu yang datang, tapi selang-seling sama pelanggan yang datang setelah kita.  Jadi kalau misalnya kita pesan 5 menu, yang dianterin 1 dulu, terus dia layanin dulu pelanggan yang lain, layanin yang lainnya lagi, baru deh layanin kita lagi. Nunggu makanan sampe komplit, udah pasti lama! Coba kalau pesan 20 menu, mungkin aja menunya lengkap pas gue udah punya cucu. Karena sistem pelayanannya kayak begitu, nggak heran kalau pelayannya suka bolak-balik ke meja kami buat tanya ‘Pesanannya udah datang semua belum, ya?’. Untung gue orangnya baik hati, sabar, dan nggak sombong, jadi kalau ditanya kayak begitu, gue hanya bisa membalas dengan senyuman. Dan yang gue suka sih, pelayan-pelayan di sana...

Anak Gaul Dinner di Benedict Grand Indonesia

By on Aug 25, 2015 in Diary, Food Porn

Sebenarnya, gue udah pernah makan di Benedict Grand Indonesia tanggal 9 Agustus kemarin dalam rangka merayakan ultah Kak Susi. Karena sibuk party, gue pun jadi nggak sempat me-review resto yang lagi hits ini. Karena kalian nggak diajak ke ultah Susi, nih gue kasih bonus foto. Waktu itu, gue sama Kak RG kompakan milih menu yang sama, yaitu Korean Bowl Pork (Rp90 ribu). Milih makanan kok sampe kompakan kayak milih presiden? Emang dasar dia ikut-ikutan gue aja! Gue pesen ginian karena ada babinya. Bukan karena lihat gambarnya yang bagus. Toh, emang nggak dikasih lihat gambarnya. Hahaha… Sebenarnya bisa juga sih pesen pake ayam. Jadi, kayaknya kalau nggak boleh makan makanan haram nggak perlu kuatir, deh. Namanya emang Korean Bowl, tapi pas nyampe di meja, gue heran kok ada katsuoboshi di atasnya? Katsuoboshi adalah serutan ikan kering yang ditaburi di atas makanan panas. Kalau sering makan takoyaki pasti sering lihat makanan ini, Nama internasionalnya Japanese bonito flakes. Gara-gara itu, gue sama Kak RG bingung. Jadi, ini makanan Korea atau Jepang? Bodoh amat deh, soal asal-usul makanan! Yang penting rasanya enak! Yup, semua jenis makanan yang ada di Koreal Bowl Pork ini emang enak semua! Dari nasi sampe babi enak semua. Apalagi brokolinya! Sumpah, itu enak banget! Lebih enak dari babi. Hahaha… Pas dilihat sih, brokolinya kelihatan gosong, tapi pas dimakan, aroma gosongnya langsung memenuhi mulut. Aroma gosongnya yang berasa enak gitu, lho! Saking enaknya, Kak RG bilang makan ini berasa kayak lagi berjemur di daerah sub-tropis ketika summer. Halah banyak gaya! Kayak dia pernah berjemur di pantai aja! Ada kimchi juga di dalamnya. Biasanya kan, gue nggak suka sama kimchi, tapi di Korean Bowl Pork ini entah kenapa kimchi-nya enak dan gue berhasil abisin kimchi-nya! Sejak makan menu itu, nggak tau kenapa, kok gue jadi ngidam pengin makan brokoli panggang kayak...

Martabak Red Velvet Oreo Cream Cheese 65A Pecenongan

By on Aug 7, 2015 in Diary, Food Porn

Hari Selasa kemarin, gue ngidam pengin makan martabak. Gue sengaja bilang ngidam supaya orang-orang bikin gosip dan gue jadi terkenal. Hore! Tadinya, gue pengin makan martabak blackforest yang warnanya hitam itu dan belinya pake jasa Go-Food dari Gojek karena tempatnya jauh di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Udah tunggu selama 2 jam, tapi tak kunjung ditemukan driver Gojek. Akhirnya, gue nyerah, deh, terus gue memutuskan untuk kembali ke pelukan Martabak 65A Pecenongan yang deket banget sama rumah gue. Gue pun ngecek Instagram martabak65a buat pilih martabak yang gue mau. Sayangnya di sana nggak jual martabak blackforest, jadi gue memutuskan buat pesan martabak Red Velvet Oreo Cream Cheese yang penampakannya seperti ini. Gue pilih yang martabaknya spesial, dong! Karena gue anaknya spesial! Sebelumnya sih, gue udah beberapa kali main ke sana (sebelum ada layanan Go-Food). Tapi, belum sempat gue ceritain soal martabak ini di blog karena dulu belum punya blog. Tapi, gue sempet ceritain sedikit soal Martabak 65A ini di buku gue Happy Tummy terbitan Gagas Media. Di buku itu gue nggak cerita bahwa gue pernah lomba makan di sana, tapi gue cerita bahwa gue pernah mampir ke sana setelah lomba makan buat beli martabak! Gila kan, betapa rakusnya gue! Abis lomba makan aja, gue masih pengin jajan martabak! Bahkan, gue juga menyebut nama Ko Daniel yang merupakan pemilik kedai martabak tersebut! Sok kenal, sok iye banget, deh! Kalau datang ke sana, penampilan kedainya kayak begini. Kayaknya semua orang udah pernah liat, sih. Soalnya martabak ini terkenal bingit! Tadinya, gue mau langsung datang ke sana, tapi mager! Akhirnya gue pake jasa Go-Food, eh langsung dapet driver, lho! Mungkin karena letaknya deket banget kali, ya! Nggak sampe 1 km, Kak! Coba kalau nggak ada driver, beh, gue bisa langsung datang ke TKP buat gebrak meja! Terus langsung tanya ‘Kenapa ini bisa terjadi!’. Gue...

Page 7 of 9« First...56789
Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy