FacebookTwitter
Page 7 of 8« First...45678

Berkunjung ke Pasar Santa (Part 3)

By on Jul 20, 2015 in Diary, Food Porn

Nggak terasa udah 3 kali gue berkunjung ke Pasar Santa. Seharusnya sih, di kunjungan ketiga kalinya, gue disambut pake karpet merah dan dikalungin bunga bangkai oleh si pemilik pasar. Gue berkunjung ke sana tanggal 10 Juli 2015 di siang hari. Di mana hari itu umat Muslim masih menjalankan ibadah puasa dan belum memasuki jam buka puasa, jadi Pasar Santa sepi banget! Puji Tuhan. Kapan lagi bisa makan di Pasar Santa sambil selonjoran di lantai saking sepinya. Saking sepinya stand D.O.G (Diyoji), gue sampe bisa foto di depan stand itu. Biasanya, boro-boro bisa foto-foto di depan sana. Pas jam 3 sore aja, antrean udah mulai panjang. Nah, di blog soal Pasar Santa part-2, gue pernah kok review soal Diyoji. Harusnya sih sekalian selfie sama pemiliknya. Siapa tau dikasih hotdog gratis. Pas gue promo buku di radio 99ers 100 FM Bandung kemarin, gue sempet mampir ke Rumah Makan Legoh Bandung. Di rumah makan yang hits itu gue sempet cobain babi cuka rica-rica dan bikin gue ngidam keesokan harinya. Gue sampe nggak bisa mikir dan kerja cuma gara-gara mikirin babi. Masya Allah, padahal babi aja nggak pernah mikirin gue! Saking ngidamnya, gue sampe googling demi mencari tau, apakah Rumah Makan Legoh ada di Jakarta? Ternyata ada di Pasar Santa, Kak! Itulah sebabnya gue melakukan perjalanan ke Pasar Santa lagi. Niat mencari babi cuka ternyata beda tipis dengan niat mencari kitab suci di barat. Hanya saja kegiatan mencari babi cuka tergolong duniawi dan bersifat kedagingan. Begitu udah ketemu stand Legoh Jakarta (legoh_jkt) rasanya lega. Kayak abis ketemu air zam-zam di Mekah. Sama kayak di Bandung, kalau liat menunya, kita nggak bakal menemukan menu babi cuka di sini. Jadi, harus bisik-bisik ke si empunya rumah makan dan bilang mau pesen menu kecil atau jujur aja bilang mau beli babi. Alhasil, menu-menu yang gue dan...

Icip Daging Asap BBQ di Holy Smokes

By on Jul 19, 2015 in Diary, Food Porn

9 Juli 2015 kemarin, gue diajak Lizta ke liputan buka puasa. Gue pikir cuma liputan buka puasa biasa, ternyata ada acara review makanan segala. Ada acara review makanan soalnya restonya baru mau dibuka. Gue pun makin semangat karena bakal cobain makanan jenis baru! Resto baru itu namanya Holy Smokes yang nyediain daging asap BBQ ala Texas, AS. Tadinya gue cuma pengin makan gratis di sana, tapi ternyata di sana selain ada media gathering, ada juga blogger gathering. Dan gue langsung kepikiran buat review Holy Smokes di blog ini. Sebagai mantan juara makan, nggak ada salahnya dong kalau gue banyak membahas makanan? Pas gue baca press kit-nya, gue baru tau bahwa Holy Smokes ini merupakan bagian dari Ersons Food, perusahaan penyedia jasa layanan makanan dan minuman yang udah mengusung berdirinya Hokkaido Ramen Santouka, The Holy Crab, dan The Holy Crab Shack! Holy Smokes merupakan ide terbaru dari Albert Wijaya, chef sekaligus pemilik Ersons Food. Gue dan Kak RG adalah penggemar Ramen Santouka. Ramen-ramen di sana enak, apalagi ramen yang pake babi. Gue emang belum pernah review soal Ramen Santouka sih di blog ini, tapi gue pernah share foto-foto makanannya di Instagram. Nah, karena Ramen Santouka enak, gue pun berharap banyak sama daging asap BBQ di Holy Smokes. Awas aja kalau nggak enak! Kalau nggak enak, gue bakal gebrak meja sambil ngamuk-ngamuk kayak artis yang suka cari sensasi di infotainment. Siapa tau bisa disorot sama jurnalis teve terus masuk teve. Selain lokasinya strategis, yaitu di jalan Wolter Monginsidi yang deket banget sama Pasar Santa, gue juga suka sama suasananya. Konsep restonya western banget. Kayak resto di film atau serial bule. Tempatnya juga cozy dan bikin kita nyaman berlama-lama di dalamnya. Karena tempatnya yang luas, kita bisa makan dengan nyantai sambil ngobrol tanpa takut orang lain nggak kebagian tempat. Pas gue dateng...

Beli Pisang Pasir di Pisangku.com

By on Jul 8, 2015 in Diary, Food Porn

Di saat gue ngidam babi cuka, Kak RG malah ngidam pisang pasir. Gue bingung apa yang dimaksud dengan pisang pasir. Apakah itu makanan jenis baru? Apakah makannya dicampur sama pasir? Kegaptekan gue membuat gue nggak tahu soal pisang hits itu. Ternyata, pisang pasir itu adalah pisang kepok yang digoreng dengan balutan butiran tepung pasir. Bentuknya mirip chicken katsu, rasanya gurih, dan manis. Menurut Kak RG, pisang ini patut dicoba karena berbeda dari pisang goreng kebanyakan. Tadinya gue pikir beli pisang pasir itu harus mampir ke tempat yang jauh, seperti Bogor atau Bandung, tapi ternyata nggak kok. Karena, pisang tersebut bisa dipesan di www.pisangku.com. Kalau kalian buka web itu, langsung keliatan jelas nomor telepon dan hape untuk delivery, yaitu 93004000 dan 081317810000. Sayangnya, mereka delivery-nya baru bisa di daerah Jakarta Selatan aja. Belum bisa ke daerah Mangga Besar. Hiksss.. Ya sudah deh, gue pun minta dikirim ke kantor gue aja yang emang berdomisili di daerah Jakarta Selatan. Gue emang bunglon gitu, deh. Bisa jadi anak pusat, utara, selatan, dan barat. Gue cuma belum pernah mencoba jadi anak timur. Ada minimal pemesanan delivery, yaitu 20 biji, ditambah ongkos kirim Rp25ribu. Jadi, gue pun memesan 20 pisang pasir untuk dibawa pulang ke keluarga buat dibagi-bagikan ke Kak RG dan keluarga gue. Sebenarnya, ada menu-menu lain sih di sana, seperti pisang pasir kecil, onde-onde kacang hijau, pastel istimewa, dan risol raghout. Cuma, gue lebih penasaran sama pisang pasir, jadi gue pesen pisang pasir gede semua, deh. Di web-nya, tertulis bahwa harga sebijik pisang pasir adalah Rp3.500. Cuma pas gue telepon, dia bilang harga per bijiknya Rp3 ribu. Nggak mungkin kan turun harga di saat perekonomian lagi makin susah. Kayaknya sih, gara-gara gue pesen 20 biji makanya dikasih diskon. Murah banget, ya! Beli burger sebijik aja nggak dapet dengan harga segitu! Jadi, biaya yang gue...

Icip Kari Jepang di Curry House CoCo Ichibanya

By on Apr 12, 2015 in Diary, Food Porn

Awalnya, gue nggak terlalu excited sama kari Jepang karena rasa kari di mana-mana sama dan begitu-begitu aja. Monoton dan ngebosenin. Gue suka kari Jepang karena gue adalah pemakan segalanya, tapi dibilang suka banget, juga nggak. Beda banget sama Kak RG yang doyan banget sama kari Jepang. Masa kalau mampir ke resto sushi, dia pesen kari. Mampir ke resto ramen, dia juga pesan kari. Dia doyan banget sama kari Jepang karena menurutnya, kari Jepang itu punya rich taste yang resepnya seolah-olah udah dipertahankan selama ratusan tahun sejak zaman nenek moyang kita. Beda dengan makanan Jepang lainnya yang terkesan seperti hasil eksperimen di dapur. Contohnya, sushi dan ramen. Kenapa sushi dan ramen merupakan hasil eksperimen di dapur? Karena sushi dan ramen resepnya bisa dikembangkan dari waktu ke waktu. Bisa disesuaikan dengan kreativitas pembuatnya. Jika resepnya dikembangkan, rasanya makin enak. Sedangkan, kari Jepang itu lebih enak kalau dimasak dengan resep yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Resep kari Jepang itu bisa aja dimodifikasi sih, tapi nggak bisa dilakukan dengan sembarangan. Salah sedikit aja, rasanya bakal berubah jadi nggak enak. Dasar Kak RG sok filosofis! Makan aja milih-milih, padahal masih banyak orang yang kelaparan di luar sana! Karena jarang ada resto dan chef yang bisa memasak kari Jepang dengan enak, sampai saat ini, Kak RG belum menemukan resto kari Jepang yang enak. Lama-lama, dia jadi males makan kari Jepang. Bahkan, outlet Curry House CoCo Ichibanya, resto kari franchise dari Jepang (#cocoichibanyaindonesia) yang udah berdiri di west mal, lantai 3A, Grand Indonesia (GI) sejak tanggal 8 Desember 2013 nggak terlihat di matanya. Padahal, resto itu terkenal banget di Instagram. Banyak Instagrammer yang nge-post foto menu makanan Curry House CoCo Ichibanya (#cocoichibanya, #cococurryhouse) di Instagram. Gue juga nggak ada insiatif buat ajak dia ke sana karena gue udah jelasin sebelumnya. Gue bosan sama...

Hidup Sehat dengan Green Smoothies

By on Mar 9, 2015 in Diary, Food Porn

Gue bukan orang yang akrab dengan green smoothies. Denger namanya aja udah takut. Soalnya, warnanya ijo bingit dan bikin takut. Takut sama rasanya yang sayur bingit. Tapi, gue pernah cobain green smoothies di resto Mama Malaka yang ada di Grand Indonesia. Rasanya enak dan nggak seburuk yang gue bayangkan. Rupanya, sayuran-sayuran laknat tersebut emang sengaja dibuat dalam bentuk green smoothies supaya rasanya jadi enak dan bisa dinikmati oleh siapa aja, termasuk anak-anak dan orang dewasa yang nggak suka makan sayur. Weekend kemarin, gue dapet liputan ke acara launching buku berjudul Green Smoothies: Super-Healthy & Healing Drink.     Acara tersebut diadain di Warung Kebunku (Jl. Terogong Raya No. 11, Cilandak Barat, Jakarta). Gue suka sama warung makan ini, soalnya tempatnya vintage bingit kayak jiwa gue. Sesuai sama namanya yang terdengar sayur bingit, warung ini menyediakan berbagai macam makanan yang sehat dan alami. Karena, bahan makanannya fresh, bumbunya alami dan sayurnya dipetik dari kebun organik sendiri.     Nectaria Ayu, si penulis buku sekaligus pemilik Warung Kebunku nggak hanya adain launching buku, tapi doi juga adain workshop berjudul Making Lovely and Healthy Green Smoothies. Lewat workshop itu, kita diajarin buat praktekin resep-resep smoothies yang ada di buku itu. Dengan mengikuti kegiatan positif macam ini, minimal gue bisa ngerasain gimana rasanya masuk dapur. Bisa melatih insting untuk menjadi wanita seutuhnya. Mudah-mudahan, setelah pulang dari acara ini, gue bisa jadi perempuan yang rajin bikin smoothies atau mungkin jadi penjual smoothies yang ke mana-mana bawa blender.     Lho, kenapa di kedua foto tersebut bajunya Kak Ayu berubah dari biru ke hitam? Rupanya, fenomena warna dress black and blue dan white and gold pun masih berlanjut di workshop bikin smoothies! Menurut kalian, apa warna asli baju Kak Ayu? Kalau bisa jawab, kalian bakal dapet green smoothies buatan Kak Uung! A. Biru B. Hitam...

Berkunjung ke Pasar Santa (Part 2)

By on Feb 9, 2015 in Diary, Food Porn

Beberapa waktu lalu, gue pernah bikin blog tentang Pasar Santa. Di blog tersebut, gue berjanji bakal bikin lanjutannya. Karena, kalau diceritain hanya dalam satu blog, kayaknya nggak bakal cukup. Pasar Santa itu cukup luas dan kedai makanannya seabrek-abrek. Nggak mungkin bisa diabisin hanya dalam sehari atau dua hari. Apalagi, ukuran lambung gue sekarang udah terbatas banget. Nggak segede dulu ketika masih belum laku. Sekarang entah kenapa ukuran lambung gue makin mengecil, Mungkin karena Kak RG selalu abisin makanan gue. Kalau dulu, gue yang jadi pahlawan di siang bolong dengan makan semua makanan temen. Weekend kemarin, gue pergi ke sana lagi bareng Kak RG. Kalau dipikir-pikir, rajin banget, ya! Kalau waktu itu gue perginya siang, kali ini gue perginya agak sore menuju malem, soalnya pengin ngerasain Pasar Santa dengan suasana malam. Pas udah nyampe ke sana, astaga! Rame banget kayak pasar! Terutama di lantai 1, yang ada food court-nya itu. Sesuai kayak namanya juga sih. Pasar. Bukan Puskesmas. Tujuan kami langsung tertuju pada kedai DOG (dibaca @diyoji) yang super rame itu. Sebenarnya waktu pertama kali berkunjung ke Pasar Santa, gue sama Kak RG udah tertarik sama Diyoji. Penasaran kenapa kedainya rame banget! Tapi, karena perut udah kenyang dan harus buru-buru balik, jadi rencana buat menyantap Diyoji di-pending dan baru kesampean kemarin. Diyoji itu jualan black gourmet hotdog a.k.a hotdog yang disajikan pake roti hitam gitu. Biasanya kan hotdog pake roti putih. Jarang-jarang ada yang pake roti hitam. Mungkin itu yang bikin dagangan ini unik dan selalu panjang antriannya. Menurut pandangan mata, kayaknya kedai yang paling panjang antriannya di Pasar Santa adalah Diyoji. Makanya, kami penasaran banget kenapa bisa begitu rame? Apakah emang karena rasanya enak banget? Atau karena si penjual pake ilmu susuk? Liat antriannya aja udah males, tapi kalau nggak diantriin, bakal penasaran setengah mampus, nggak bisa tidur dan nggak nafsu...

Page 7 of 8« First...45678
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy