FacebookTwitter
Page 6 of 10« First...45678...Last »

Cerita Makan Malam di Rumah Paman Tjhin

By on Jul 7, 2016 in Diary, Food Porn

Kisah ini udah lama sekali terjadi. Tapi, baru sempat gue ceritakan sekarang. Seperti yang kalian udah ketahui, rumah ketiga gue udah pindah dari Grand Indonesia ke Lippo Mal Puri. Waktu main ke Lippo Mal Puri beberapa abad lalu sama Kak RG, tanpa sengaja kami terhipnotis dan mampir ke rumah Paman Tjhin lalu dsuruh masuk untuk bertamu. Untungnya, rumahnya adem dan suasananya nggak horor. Malahan sangat classy, modern, dan banyak minuman kerasnya. Nampaknya keluarga Paman Tjhin memang suka minum minuman keras. Sayangnya nggak ada Paman Tjhin di sana soalnya orangnya udah meninggal dunia. Nama rumah makan ini memang sengaja dikasih nama Uncle Tjhin Bistro oleh si pemilik untuk mengenang mendiang ayahnya yang gemar memasak. Konsep resto yang disajikan di sana adalah casual dining dengan menu-menu Asia dan western. Menu yang kami pesan di sana adalah: 1. Salmon Bacon Pizza (Rp 81 Ribu) Penampilan okelah lumayan menarik, tapi rasanya nggak terlalu aduhai. Gue nggak cobain pizza yang satu ini, sih, karena waktu itu lagi sok-sokan diet pisang, jadi nggak boleh makan karbohidrat lain, selain pisang. Kak RG bilang, pizza-nya kurang empuk, kayak kurang matang, dan agak keras gimana gitu. Padahal, isinya menari, ada salmon dan bacon. 2. Striploin Steak (Rp 125 Ribu) Striploin adalah potongan daging bagian belakang sapi. Gue sengaja pesan menu ini soalnya kalau diet pisang boleh makan daging dan lemak. Rasanya biasa aja, sih. Nggak ada yang istimewa. Lebih enak daging “sapi suci” ke mana-mana. Hahaha… 3. Sup Buntut (Rp 95 Ribu) Kalau menu yang ini sih, gue cuma makan daging buntutnya soalnya kan nggak boleh makan nasi, apalagi makan tulang buntutnya. Menurut gue, menu ini bisa dibilang yang paling lumayan rasanya ketimbang dua menu sebelumnya. Rasa sup buntutnya lumayan enak dan kuahnya segar. Bumbunya juga berasa! Kekurangannya adalah kurang banyak dagingnya. Dari pengalaman gue pertama kali makan...

Happy 2nd Blogging Anniversary, mariskatracy.com!

By on Jul 2, 2016 in Diary, Food Porn

Tanggal 28 Juni 2016 kemarin adalah hari ulang tahun kedua blog gue. Tapi, baru sempat dirayain hari Sabtu, 2 Juli 2016. Karena, sudah sewajarnya ulang tahun dirayakan hari Sabtu. Kata orang Cina, kita bisa mendapatkan hoki berkali-kali lipat jika merayakan ulang tahun pas hari Sabtu. Makanya, banyak orang yang merayakan ulang tahun di hari Sabtu, kan? Masih ingat kan dengan blogpost pertama Kak Uung yang berjudul Tragedi Pijat Berdarah? Bermula dari iseng-iseng ngeblog kejadian yang nggak banget dan mendapatkan banyak respon yang juga nggak banget dari para pembaca, akhirnya gue jadi keterusan ngeblog, deh sampai sekarang. Emang sih, sekarang ngeblognya nggak sesering dulu karena gue sibuk bingit dengan dunia keartisan. Tapi, masih ada aja yang baca dan jumlahnya tetap stabil kayak perekonomian Singapura. Sampai hari ini, jumlah views udah mencapai angka 1.549.547. Hahaha! Terima kasih buat kalian yang udah capek-capek berkunjung ke blog yang tidak berguna ini. Semoga barokah, ya! Perayaan ulang tahun blog gue kali ini sederhana aja, kok. Cuma menghabiskan dana Rp 5 miliar buat makan-makan di House of Aranzi, Sunter, Jakarta Utara. Waktu datang ke sana, tema restonya udah banyak berubah. Tetap unyu sih, kayak dulu, tapi House of Aranzi yang kali ini temanya agak lebih dewasa. Mungkin supaya bisa menggaet pasar orang yang lebih tua macam kalian. Kali ini, sepertinya House of Aranzi memang lagi berkolaborasi dengan Yokuden. Yokuden itu lebih fokus ke cake, bakery, dan. Kalian bisa beli roti dan cake di sini. Di ruangan Yokuden ada ruang makannya juga dan kasir. Banyak elemen kayu di sini, jadi suasananya lebih hangat kayak di rumah sendiri. Yang kayak begini memang cocok buat orang berumur seperti kalian. Hihihi… Masuk ke dalamnya lagi, kalian bakal menemukan House of Aranzi yang sesungguhnya. Penuh dengan pernak-pernik lucu dan ceria. Kalau masuk ke sana, gue jadi pengin hias kamar kayak begini!...

Makan Buah dalam Es Krim di Paletas Wey!

By on Jun 20, 2016 in Diary, Food Porn

Waktu temen gue, si Peggy pulang kampung ke Bali beberapa waktu lalu, doi cerita di Bali ada kedai es krim yang lagi hits banget, namanya Paletas Wey, Mexican desserts dalam bentuk frozen fruit bar. Sepertinya ucul dan menarik, apalagi setelah gue lihat foto es krim Peggy yang bentuknya semangka itu! Sejak itu, gue bertekad, kalau liburan ke Bali, harus mampir ke Paletas Wey. Tinggi sekali, ya, cita-cita Kak Uung! Hahaha… Belum sempat meraih cita-cita, eh, Paletas Wey udah buka cabang dekat kantor gue! Ya udah, abis pulang kerja, mampirlah gue ke sana dengan gaya preman! Kata Kak RG, dari belakang gue macho banget. Itulah yang bikin dia kagum sama gue, soalnya dia suka cewek macho. Kalau nggak percaya, tanya aja sama dia. Suasana di Paletas Wey ucul juga. Penuh dengan wallpaper buah-buahan, warna-warni, dan cozy. Cocoklah sama frozen fruit bar yang jadi konsep dessert-nya. Sedangkan, menu-menu yang bisa kalian pilih ada empat jenis, yaitu Fruity (Rp 20 ribu), Creamy (Rp 25 ribu), Premium (Rp 30 ribu), dan Gold (Rp 35 ribu). Jenisnya emang cuma ada empat, tapi pilihan es krimnya banyak bingit, saudara-saudara! Sampai bingung mau pilih yang mana. Emang sih kalau makan banyak-banyak juga nggak masalah soalnya es krim ini nggak pakai pemanis buatan, bahan pengawet, dan bahan dasarnya dari buah-buahan. Rasanya pengin cobain semuanya, tapi nanti malah bokek terus mencret. Hahaha… Yang kami pesan adalah: 1. Watermelon with Lime (Rp 20 Ribu) Watermelon with Lime adalah es krim yang paling dicari di Paletas Wey. Soalnya, penampilannya instagenic banget dan ucul. Pas makan bagian atasnya kayak makan semangka asli cuma lebih keras karena udah jadi es. Makin ke bawah (bagian putih dan hijaunya), rasa lime-nya makin terasa. Asem banget sih, tapi segar di lidah dan tenggorokan! 2. Banana with Nutella (Rp 35 Ribu) Penampilannya emang biasa, tapi rasanya...

Makan Lobster Murah Meriah di Loobie Lobster & Shrimps!

By on Jun 19, 2016 in Diary, Food Porn

Sebenarnya, gue sama Kak RG pengin banget makan daging sapi suci di Holycow!, Kebun Jeruk. Soalnya, kami pengin banget mendukung resto ini supaya tetap semangat! Tahu sendiri kan, soal kasus cicak dalam es krim Misu (es krim di Holycow!) yang heboh beberapa waktu lalu? Gara-gara ulah perempuan bangkai yang cari sensasi soal cicak tersebut, Holycow! jadi memutuskan kontrak dengan Misu. Karena merasa bersalah, Misu pun tutup usaha. Awalnya, gue merasa simpati sama perempuan yang hampir makan mayat cicak, tapi begitu gue baca komentar dari Mbak-mbak di Facebook yang kalian bisa baca di sini, gue jadi nggak simpati sama perempuan bangkai itu. Gue jadi kesal sendiri soalnya gue nggak bisa lagi makan es krim Misu yang menurut gue enak bingit! Sayangnya, begitu datang ke sana, tempatnya ramai banget! Ramainya udah kayak lagi antre naik haji! Maklum aja sih, soalnya emang lagi bulan puasa jadi semua orang mendadak kelaparan. Gue aja yang nggak puasa bisa kelaparan, gimana yang puasa coba? Karena sebelahnya (Loobie Lobster & Shrimps) sepi, ya udah deh kami ke sana aja. Karena masih satu perusahaan sama Holycow! dan gue pernah makan di sana, gue pun nggak ragu buat mampir lagi ke sana. Apalagi, rasanya emang enak. Pertama kali gue ke Loobie Lobster & Shrimps udah cukup lama, kira-kira awal 2014. Gue jarang ke sana soalnya lokasinya jauh dari rumah, yaitu di Senopati, Jakarta Selatan. Gue seneng sih, soalnya Loobie Lobster & Shrimps ada juga di Kebun Jeruk dan dekat banget sama kantor gue. Waktu itu, gue belum bikin blog soal Loobie Lobster & Shrimps karena belum punya blog. Ya udah, sekarang saatnya gue review soal kedai lobster yang satu ini. Kayak yang tadi gue bilang, letaknya sebelahan bingit sama Holycow!, jadi penampakan di bagian luarnya kayak begini. Ruangan indoor-nya nggak terlalu besar, tapi nyaman dan cozy. Dekorasinya juga...

Pengalaman Gue Makan Bareng Kucing di The Cat Cabin!

By on Jun 19, 2016 in Diary, Food Porn

Kayaknya, makan bareng pacar, gebetan, teman, atau keluarga udah mainstream banget dan terdengar membosankan. Gimana nggak bosan, kalau pas makan bareng, semuanya malah fokus sama hape masing-masing. Nggak heran jika saat ini banyak orang yang lebih pengin makan atau ngobrol bareng binatang peliharaan, seperti kucing atau anjing. Soalnya, kucing atau anjing nggak bisa main hape. Malahan lebih enak diajak ngobrol daripada manusia. Sayangnya, nggak semua orang bisa punya binatang peliharaan di rumah. Contohnya gue. Buat kasih makan ke diri sendiri aja susah, nyalon aja jarang, boro-boro pelihara anjing atau kucing. Kalau gue punya anjing atau kucing, bisa-bisa mereka makan dan nyalon lebih sering daripada gue. Eh, apa gue pelihara anjing aja, ya, kali-kali gue jadi lebih gampang diet! Untuk mengatasi depresi karena nggak bisa pelihara anjing atau kucing, nggak heran jika sekarang ini muncul banyak resto yang menyediakan banyak kucing di dalamnya supaya pengunjung bisa makan sambil bermain dengan kucing-kucing tersebut. Lumayan deh, bisa main sama kucing selama 1 – 2 jam, meskipun nggak bisa memiliki. Sama kayak cinta yang kata orang, nggak selalu harus memiliki. Omongan gue kayak lagi keselek buku puisinya Chairil Anwar. Udah ah, lanjut lagi soal resto kucing! Beberapa hari yang lalu, gue sama Kak RG nggak sengaja mampir ke The Cat Cabin di daerah Pesanggrahan. Itu lho, yang deket banget sama New York, lurus dikit. Yang bikin gue kagum adalah tempatnya luas, cozy, nyaman, dingin, colorful, dan bikin betah! Udah gitu, Mas-mas yang masakin makanan semuanya cakep kayak Lee Min Ho! Kalau kalian datang ke sana, dijamin bakal senang bingit, soalnya makanannya banyak, lengkap, dan enak! Bisa pilih sendiri mau dibakar atau digoreng! Udah nggak perlu dijelasin lagi kan nama makanannya apaan? Yang jelas bukan daging atau jeroan kucing, Kak! Harganya jelas murah meriah. Per tusuknya cuma sekitar seribu sampai tiga ribu rupiah. Paling...

Cari Steak di Mal Susahnya Kayak Cari Jodoh

By on May 30, 2016 in Diary, Food Porn

Sejak kerja di pegipegi.com, rumah ketiga gue adalah Lippo Mall Puri. Jadi, jangan heran jika kalian sering lihat Kak Uung ada di Lippo Mall Puri lagi nongkrong atau cuci mata. Dan setiap kali gue lewatin depan Lippo Mall Puri, pasti gue melihat ada tulisan Outback Steakhouse yang mentereng ngejreng warna merah. Setiap kali lihat tulisan itu, bawaannya pasti pengin makan steak. Karena, Outback Steakhouse memang toko steak, bukan toko kerajinan tangan. Tapi, begitu masuk ke dalam, hasrat ingin makan steak hilang begitu aja dan gue malah makan yang lain. Soalnya, setiap kali masuk ke dalam, gue nggak pernah melihat ada pintu masuk Outback Steakhouse sama sekali. Tanggal 25 Mei kemarin, bertepatan dengan ultah gue, gue dan Kak RG bertekad untuk makan di sana. Jangan sampai tergoda sama resto lain yang lebih mudah ditemukan! Ternyata, letak Outback Steakhouse memang agak menjorok di ujung sana dan agak ribet waktu nyari pintu masuknya. Coba kalau bisa masuk dari jendela depan, kan lebih enak! Begitu masuk, kalian harus cari ekskalator yang ada di samping atrium, lalu lihat ke kanan, baru deh ketemu tulisan Outback Steakhouse warna merah. Perjalanan menemukan Outback Steakhouse memang berat. Seberat perjalanan Sun Go Kong dan kawan-kawan menemukan kitab suci di barat! Atau bisa juga dibilang, kayak mencari jodoh. Sebenarnya udah ada di depan mata, tapi kok nggak berasa bahwa orang itu sebenarnya jodoh kita? Nah, lho! Itu karena kita juga butuh kepekaan saat menemukan jodoh sama kayak saat cari kedai steak di mal. Menurut pengamatan Kak Uung, suasana interior Outback Steakhouse mirip kedai steak pada umumnya. Cozy dan nyaman, tapi jadul, apalagi ruangannya emang remang-remang. Menu-menu yang Kak Uung dan Kak RG pesan adalah: 1. Ribeye 8 oz (226.796 gram) Harganya Rp 282.900 dengan tambahan kentang goreng dan jagung gratis. Gue minta dimasak well done (mateng banget) supaya terhindar...

Page 6 of 10« First...45678...Last »
Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy