FacebookTwitter
Page 34 of 34« First...1020...3031323334

Hasil Diet OCD (Obssesive Corbuzier Diet)

By on Jul 4, 2014 in Diary

Waktu kecil, gue punya badan yang terbilang sangat ideal buat jalan di atas cat walk. Karena gue punya badan yang rata dan nyaris tanpa lemak. Saking ratanya tuh badan, semua orang yang lihat jadi kasihan. Bawaannya pengin kasih duit atau makanan. Coba kalau sekarang badan gue masih madesu kayak dulu, mungkin duit gue udah berlimpah kali, ya! Udah gitu, gigi gue tonggos. Kalau saat itu gue kenal sama banyak dokter gigi, mungkin bakal banyak yang gemes buat pagerin gigi gue. Bisa kebayang kalau masa kecil gue dihabiskan langsung dengan behel? Pasti gue udah kayak cabe-cabean yang suka kebut-kebutan di sepanjang jalan Kemayoran, Jakara Utara. Dan kalau lagi jalan bareng nyokap gue, orang-orang suka tanya ke nyokap: “Anaknya cewek atau cowok?” Beh, rasanya pengin sumpel mulut mereka pake barbelnya Agung Hercules! Andaikan saat itu Agung Hercules udah terkenal kayak sekarang. Itu semua karena gue mengalami problema anak-anak yang cukup serius, yaitu cacingan. Cacing telah merampas kebahagiaan gue sebagai anak kecil karena udah bikin nafsu makan gue hilang dan kehilangan banyak bobot tubuh yang cukup drastis. Padahal, waktu masih bayi, badan gue montok. Siapa pun yang melihat, pasti gemes dan pengin banget culik gue. Kalau sekarang, boro-boro ada yang culik. Nyenggol aja nggak berani karena banyak yang bilang muka gue galak kayak preman di pasar Jatinegara. Singkat cerita, masa-masa cacingan itu udah berlalu karena nyokap gue rajin kasih gue minum obat cacing setiap tiga bulan sekali. Dan nggak lupa kasih gue minum vitamin buat meningkatkan nafsu makan. Otomatis, nafsu makan gue pun bertambah dan berat badan gue jadi normal. Nggak kalah dengan pertumbuhan anak-anak yang lain. Bahkan, lama-lama jadi melebihi batas pertumbuhan anak-anak yang lain. Waktu SMP, berat badan gue naik drastis dari 40 kg sampai 60 kg. Sampai-sampai nyokap gue menyesal udah kasih gue makan terlalu banyak. Mungkin saat itu,...

Sepanjang Jalan Kenangan di Kaliurang

By on Jul 1, 2014 in Diary

Udah baca review bedak ketek MBK di post sebelumnya? Abis pake bedak ketek itu, gue kan langsung main ke Borobudur, Magelang. Setelah puas-puasin foto sama candi, pegang candi diem-diem tanpa sepengetahuan pengawas di sana, dan foto bareng orang-orang lokal (karena gue dikira bule Jepang), kami pun melanjutkan perjalanan ke Kaliurang. Kaliurang adalah obyek wisata di kabupaten Sleman yang berada di lereng selatan Merapi. Kira-kira jaraknya itu 25 km dari Jogja. Kalau di Jakarta, kita akrab banget sama Puncak, nah, Kaliurang ini merupakan Puncak-nya kota Jogja. Jadi, kalau lagi di Jogja dan kangen banget sama suasana Puncak, main aja ke Kaliurang. Menurut gue ya, Kaliurang itu udaranya masih lebih sejuk ketimbang Puncak yang udah mulai panas karena makin ramai dan tercemar polusi udara. Kalau dipikir-pikir, hebat juga ya, karena gue bisa tau berapa km jarak dari Jogja ke Kaliurang! Itu semua karena gue yang nyetir selama kami berlibur di Jogja. Hebat kan Kak Uung. Selain bisa menjahit, menyulam, masak, dan berkebun, dia juga bisa nyetir mobil. Kalau kalian percaya dengan apa yang gue bilang barusan, berarti kalian belum mengenal Uung yang sesungguhnya! Di Kaliurang, banyak pedangang makanan yang jual sate kelinci. Meskipun di Alkitab nggak ditulis nggak boleh makan daging kelinci, tapi menurut gue haram aja kalau makan daging kelinci. Karena kelinci itu adalah binatang yang paling menggemaskan selain gajah. Bisa dibilang versi imutnya gajah. Jadi, begitu gue melihat pemandangan banyaknya kelinci yang dianiaya dan dijadikan pemuas nafsu kedagingannya manusia, gue pun jadi murka! Rasanya pengin menambah gelar gue sebagai duta, yaitu duta kelinci. Nih, liat! Menyeramkan, kan! Karena gue, Kak RG, Mastini, dan Susi sangat menyayangi kelinci, kami pun nggak berniat makan kelinci, tapi makan makanan lain yang normal aja. Pake baju boleh nggak etis, tapi kalau pilih makanan pilih yang etis aja deh! Btw, tau nggak, apa yang...

Review Bedak Ketek MBK

By on Jun 29, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Tanggal 31 Mei sampai 3 Juni 2014 kemarin, gue liburan ke Jogja bareng Kak RG, Mastini dan Susi. Dan gue mengalami kejadian naas ketika sampai di sana. Naas karena gue baru sadar kalau deodorant gue ketinggalan di rumah! Padahal, sebelumnya gue udah beli deodorant baru sebotol gede yang mereknya sama kayak merek shampoo itu! Deodorant dengan kandungan ultimate whitening yang konon katanya bisa putihin ketek. Halah, yang bener aja ketek bisa putih hanya karena memakai deodorant.  Putihin ketek itu susah banget tau. Mungkin kalau putihin ketek gampang, orang-orang yang kerjaannya nge-DI foto buat ilangin ketek hitam dan lain-lain jadi nggak punya pekerjaan a.k.a pengangguran. Biasanya, ketek bisa item itu karena kebanyakan dicukur dan pakai deodorant. Katanya sih begitu, ya! Soalnya kandungan deodorant itu tinggi akan alkohol. Ya, meskipun ngakunya non alkohol, tapi menurut gue sih pasti tetep ada. Karena alkohol itu kan bisa mematikan kuman di ketek, jadi nggak bau. Sotoy banget, ya, gue! Sok ngerti begini-beginian. Walaupun tau fakta kayak begitu, gue tetep sering cukur bulu ketek dan  pakai deodorant. Karena ketek berbulu dan baunya nggak sedap itu lebih memalukan daripada punya ketek yang agak hitam. Asalkan nggak banyak angkat-angkat ketek, kayaknya nggak bakal banyak yang tau kalau ketek lo agak hitam warnanya. Makanya, waktu di Jogja kemarin, gue lumayan stres cuma karena nggak bawa deodorant! Sebenernya sih simpel nyelesain masalah cupu kayak begini. Tinggal beli deodorant aja di minimarket. Eh, tapi malesin juga, ya, beli deodorant lagi, padahal di rumah masih full sebotol. Ya udah, deh, gue pinjem aja sama Kak Susi atau Mastini! Pasti mereka punya deodorant. Masa jadi cewek nggak pake deodorant! Mau jadi apa mereka? “Kak, lo punya deodorant nggak? Besok pagi gue pinjem dong. Punya gue ketinggalan!” curhat gue ke Mastini. “Gue punya juga ketinggalan, Kak! Jadi gue nggak pake deodorant besok.” Gila...

Review Shampoo Kuda Mane and Tail

By on Jun 29, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Kalau perhatiin fenomena jualan di Instagram, jualannya makin kreatif dan jenisnya makin beragam. Sekarang Sista-sista di Instagram nggak lagi cuma jualan baju atau aksesoris, tapi banyak juga yang jualan perabotan rumah tangga macam katalog Ace Hardware, kosmetik, aplikasi hape, makanan ringan sampai makanan beku. Salah satu fenomena yang menohok hati gue adalah jualannya salah satu Sista di Instagram, yaitu shampoo kuda Mane and Tail. Konon katanya, shampoo tersebut ampuh banget buat yang pengin panjangin rambut. Katanya sih, rambut jadi sehat, kuat, lebat dan panjangnya cepet kayak pertumbuhan ekonomi di negara maju. Udah gitu, kalau baca testimoninya, banyak yang bilang rambutnya jadi halus dan lembut kayak abis di-creambath. Kelihatannya sih meyakinkan banget! Eh, tapi tunggu dulu! Masa pake shampoo kuda? Emangnya eke perempuan apaan? Hati eke kan lembut kayak puteri solo yang lebih cocok pake ramuan kecantikan ala keraton! Lalu, gue pun banyak riset di Google soal shampoo ini saking penasarannya. Jadi katanya, shampoo ini awalnya emang cuma dipake sama kuda di USA dan terbukti bikin rambut kuda-kuda tersebut makin cantik. Dan akhirnya dipake sama manusia dan terbukti cocok juga dipake sama mereka. Jadi, shampoo tersebut dinyatakan sah sebagai shampoo manusia. Emang ada-ada aja, ye! Shampoo kuda aja bisa dipake sama manusia. Nggak heran kalau masih ada orang dewasa yang suka banget makan bubur bayi dan diolah jadi cemilan (gue dan pacar salah satunya). Mungkin aja beberapa bulan lagi bakal ditemukan penelitian kalau Friskies (makanan kucing yang mahal itu) itu pantas buat jadi cemilan manusia. Maka, di mal dan di mana pun, kita nggak bakal asing dengan pemandangan anak muda yang asyik nenteng sebungkus Friskies buat dicemil. Sama lumrahnya kayak orang nenteng Shilin atau Cha Time. Jelas, hal itu bikin gue tertarik buat cobain shampoo kuda! Soalnya, sejak gue potong rambut jadi gaya jamur tahun 2012 kemarin, gue jadi sering...

Tragedi Pijat Berdarah

By on Jun 28, 2014 in Diary

Pergi ke panti pijat pastinya bakal jadi kegiatan yang paling menyenangkan. Soalnya, kegiatan pijat bisa dibilang merupakan “wisata” yang bisa bikin badan rileks, jiwa tenang dan peredaran darah lancar. Selain itu, gue juga kagum dengan profesi pemijat karena menurut gue sih, pemijat itu sudah sekelas guru yang sering dibilang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Pemijat itu nggak kalah sabar dibandingkan guru karena pemijat itu bisa melakukan metode pijat yang sama secara berulang-ulang terhadap orang-orang yang berbeda. Bisa dibayangkan kalau gue yang jadi pemijat? Pasti bakal bosan banget! Setiap hari kerjaannya cuma muter-muterin tangan di badan orang, ambil obat gosok, puter-puterin tangan di badan orang lagi, dan begitu seterusnya sampai muak dan akhirnya muntah beneran. Karena setiap kali makan ayam kremes pake tangan, pasti yang kecium duluan bau obat gosok, atau bau badan orang ketimbang sedapnya ayam kremes. Dan menurut ogut, pijat itu nggak dosa. Asalkan pijatnya di panti pijat yang bener. Yang dosa itu adalah pijat di panti pijat plus-plus. Gue belum pernah coba mampir ke panti pijat plus-plus, sih. Dan nggak tahu deh, definisi plus-plus yang dimaksud itu kayak gimana. Apakah harganya yang plus, atau jumlah pemijatnya yang plus (lebih dari satu orang), jadi yang satunya pijat beneran, yang satunya lagi pijat bagian “tertentu”. Hahaha… Atau bisa jadi, pemijatnya cuma satu, tapi multi-tasking banget. Pijatnya awal-awal normal, tapi lama-lama tangannya menjalar ke bagian tertentu dan bikin satu badan orang itu jadi “kesurupan”. Nah, karena gue sudah lama nggak dipijat, makanya gue pergi panti pijat yang NON plus-plus tanggal 25 Juni 2014 kemarin. Gue udah pernah cek di Google mengenai panti pijat tersebut dan tanya-tanya ke temen. Nggak ada satu pun yang bilang kalau tempat itu plus-plus dan aneh-aneh. Okelah, sikat hajarlah! Lokasinya deket banget banget sama rumah gue yang konon berada di daerah Mangga Besar, Kota dan sekitarnya....

Page 34 of 34« First...1020...3031323334
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy