FacebookTwitter
Page 20 of 31« First...10...1819202122...30...Last »

Review Pixy BB Cream Bright Fix

By on May 21, 2015 in Beauty, Diary, Review Produk

Sesuai dengan janji gue beberapa waktu yang bilang bahwa gue pengin cobain BB cream merk lain, akhirnya gue menepati janji gue dengan mencoba Pixy BB Cream Bright Fix. Lagi-lagi gue mencoba merk lokal, setelah pake Garnier BB Cream Miracle Skin Perfector yang juga merupakan merk lokal. Gue sengaja gitu deh review BB cream lokal soalnya gue cinta produk Indonesia. Eh, bukannya Garnier itu merk luar negeri, ya? Berarti gue nggak cinta-cinta amat sama produk dalam negeri dong, ya. Gue coba BB cream Pixy soalnya BB cream ini udah banyak diomongin sama cewek-cewek. Menurut mereka, BB cream ini bagus, meskipun harganya murah meriah (Rp30 ribu). Isinya juga lumayan banyak, yaitu 30 ml. Biasanya, sih, kalau yang sebanyak itu, pakenya lumayan lama. Bisa 4 sampe 5 bulan, apalagi kalau pakenya cuma tipis-tipis. Gue lupa ada berapa tingkat warna di Pixy BB Cream ini. Kalau nggak salah ada 3 atau 4 tingkat. Dan yang gue pilih adalah ochre. Ochre adalah warna paling terang di Pixy BB Cream. Gue milih paling terang karena gue orang Cina dan udah pasti putih. Pas gue cobain di punggung tangan, ternyata teksturnya lebih cair ketimbang Garnier BB Cream. Dengan tekstur yang lebih cair, BB cream lebih terserap di kulit dengan sempurna. Meskipun teksturnya lebih cair, tapi BB cream ini cukup bisa menyamarkan noda pada wajah. Terutama di bagian kulit yang kemerahan. Pas dipake pun, berasa ringan di kulit wajah dan kayak nggak pake BB Cream sama sekali. Di permukaan kulit pun tampak matte dan nggak bikin kulit seperti kilang minyak. Cocok deh buat di Indonesia yang beriklim tropis. BB Cream ini cukup bisa menyamarkan pori-pori besar, tapi nggak bisa menutupi permukaan pori-pori secara utuh. Noda jerawat dan noda hitam di lingkaran mata juga nggak terlalu bisa disamarkan. Emang harus dibantu lagi dengan penggunaan concealer. Tapi, setidaknya bisa...

Kata Artis-Artis tentang Buku Kedua Kak Uung

By on May 13, 2015 in Diary

Tadinya, buku kedua gue ini belum ada judulnya. Kasihan, ya, bukunya udah jadi, tapi nggak ada judulnya. Kayak yang pernah gue ceritain sebelumnya di artikel Behind The Scene Buku Kedua Kak Uung. Soalnya, gue orangnya perfeksionis banget jadi bingung nentuin judul yang bagus dan tepat. Gaya banget deh gue bilang diri sendiri perfeksionis, padahal dari sananya gue udah nge-blank bingung ngasih judul apa. Akhirnya, setelah dirapatkan sama pihak Gagas Media, judul terbaik pun ditemukan, yaitu Happy Tummy – Makan Nggak Kenyang Asal Menang. Ucul kan judulnya. Hihihi… Biar sesuai dengan isinya, yaitu tentang pengalaman Kak Uung ikutan lomba makan. Gambar tersebut merupakan salah satu ilustrasi dari buku Happy Tummy Sayangnya, buku ini belum bisa didapatkan di toko buku kesayangan kalian karena cover-nya masih diproses, lalu kami juga harus melakukan polling cover lagi supaya hasilnya cihuy. Tapi, di blog kali ini, gue bakal beberin satu-satu soal komentar dari para endorser mengenai buku ini. Para endorser ini sudah membaca buku gue duluan supaya mereka bisa kasih penilaian, terus komentar mereka bisa dipajang di buku. Siapa aja sih para endorser gue? Kebanyakan sih dari kalangan public figure, semacam artis atau sosialita yang kalian sering lihat di teve. Gue seneng banget karena mereka mau menyempatkan waktu untuk membaca buku yang aneh ini, padahal jadwal mereka sangat padat. Setelah membaca buku ini, gue berharap mereka masih bisa menjalani aktivitas dengan normal seperti biasanya. Tidak kekurangan suatu apa pun. Langsung aja deh, gue beberin apa kata mereka: Rafael Tan (Personel SM*SH, Solois, Aktor) “Membaca buku ini mengingatkan gue tentang banyak hal. Tentang masa kecil, tentang waktu, tentang omelan nyokap, tentang pengalaman makan, juga tentang menemukan seseorang yang bisa mengubah kita jadi lebih baik. Ceritanya lucu, jadi gue yakin buku ini bisa menghibur banyak orang untuk membacanya, terutama yang punya pengalaman yang sama dan yang suka...

6 Weeks No Shampoo Challenge

By on May 6, 2015 in Beauty, Diary

Finally, gue bisa nge-post soal ini setelah menunggu selama 6 minggu. Ngapain aje gue selama 6 minggu? Bertapa? Jadi vegan? Atau jadi hippie? Iya sejenis itu deh, tapi gue ngelakuin hal itu karena gue pengin ngelakuin gerakan go green. Gue kan anaknya cinta lingkungan banget. Kalau Jakarta sempat banjir kemarin, percayalah bahwa itu bukan salah gue. Sesuai sama judulnya, ‘6 Weeks No Shampoo Challenge‘, berarti gue udah lakuin tantangan nggak keramas pake shampoo selama 6 minggu tanpa bolong sekali pun. Nama beken tantangan ini adalah ‘No Poo Challenge‘. Awalnya, gue sama sekali nggak tahu soal tantangan ini. Padahal, tantangan ini udah beken banget di luar negeri dan udah banyak bule-bule yang nyoba. Gue baru tahu tantangan ini 6 minggu lalu dari Kak Susi. Setelah gue menjalaninya selama 6 minggu, gue pun mengubah hal ini menjadi gaya hidup. #GueMahGituOrangnya. Konsisten! Pasti abis ini banyak perusahaan besar yang mau rekrut gue deh. Gue nggak mau pake shampoo lagi karena gue nggak punya duit buat beli shampoo. Sumpah ya, harga shampoo itu lumayan mahal buat gue. Untuk kondisi rambut gue yang lama banget panjangnya ini, gue merasa bahwa gue perlu pake shampoo khusus, supaya rambut gue jadi panjang kayak dulu. Di masa lalu, gue kan pernah jadi bintang iklan shampoo. Buat panjangin rambut, gue sempat pake Shampoo Kuda Mane and Tail yang lagi nge-tren itu. Selain mahal, shampoo itu juga punya banyak efek negatif di rambut. Bisa bikin iritasi kulit kepala, bikin rambut kering, dan menghilangkan kelembapan alami di rambut. Justru minyak-minyak di rambut itu penting dan bisa bikin rambut cepet panjang. Karena kelembapan rambut hilang, nggak heran kalau rambut jadi kusam, dan ujung-ujungnya bercabang. Kalau pake shampoo, kulit kepala bakal memproduksi minyak lebih banyak lagi dan bikin kita ketergantungan sama shampoo. Gue juga udah ketergantungan banget sama shampoo. Kalau nggak keramas...

Surat Terbuka untuk Jesslyn Irwana

By on Apr 28, 2015 in Diary

Halo Jesslyn, apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa. Tadinya, gue nggak pengin bikin surat terbuka buat lo, tapi karena beberapa hari lalu gue bertemu dengan seorang perempuan misterius, gue pun jadi gatel pengin nulis surat terbuka buat lo. Biar gaya dan bisa ngalahin rating ‘Surat Terbuka untuk Jokowi’. Ini wajah si perempuan misterius. Seorang perempuan yang suka banget pake atribut panda. Udah itu aja clue-nya. Biar lo susah nebak. Perempuan misterius itu banyak ngomongin lo yang aneh-aneh. Bikin gue ketawa ngakak. Sayangnya, gue hanya tau kabar lo dari dia, bukan dari lo secara langsung. Kenapa sih harus tau kabar temen sendiri dari orang lain? Kenapa nggak dari lo sendiri aja, Jes? Ini semua karena gue udah lama banget nggak ketemu sama lo. Coba lo itung sendiri deh udah berapa lama kita nggak ketemu? Pasti males itung kan lo. Ah, udah ketebak deh. Ambil kalkulator aja males. Apalagi ngitung! Percuma deh lo kuliah ambil jurusan Ekonomi dan belajar setinggi langit di kampus kandang burung itu. Padahal, rumah kita nggak jauh-jauh banget kan? Nggak sampe harus naik roket kayak mau ke Bekasi, kan? Gue di Mangga Besar, sedangkan lo di Jelambar. Masih sama-sama di Jakarta Barat yang merupakan daerah Cinko (Cina Kota). Tinggal lempar beberapa kolor harusnya udah nyampe, sih. Coba deh itung, berapa banyak kolor yang harus dilempar? Pasti males kan itung kolornya? Kata si perempuan misterius itu, kamu sebentar lagi mau cari kerja, ya? Kok nggak bilang-bilang ke gue? Mau ambil bidang apa? Perbankan, administrasi, sekretaris, media, science, atau psikologi? Gue seneng mendengar kabar itu. ASAL, jangan berubah pikiran di tengah jalan, ya. Takutnya nanti lo malah menyesal di hari tua karena nggak pernah mencoba hal-hal seru di masa muda. Ingat Jes, bahwa masa muda itu tidak akan pernah bisa diulang kembali. Btw, gue jadi inget dilema lo ketika...

Ayam Beranak?

By on Apr 26, 2015 in Diary

Kebanyakan ayam emang bertelur, tapi ada juga yang beranak. Namanya Frediyanto. Doi merupakan temen SMA gue yang akrab dipanggil Ayam. Nggak tau kenapa waktu sekolah doi dipanggil kayak begitu. Katanya sih, gara-gara mukanya mirip ayam. Tapi, kalau diliat-liat, doi nggak mirip ayam kok. Karena, pas lagi nyebrang jalan, doi masih sibuk liat kiri dan kanan kayak orang takut ketabrak mobil. Kalau ayam beneran kan pandangannya lurus ke depan ketika nyebrang jalan. Fearless. Tetap tenang dan nggak takut ketabrak mobil. Lalu, kenapa doi beranak dan bukan bertelur? Dengerin dulu cerita ini. Begitu pertama kali gue kenal sama Ayam di SMA Budi Mulia, Mangga Besar, yang melekat di otak gue cuma satu. Doi itu LEMES banget. Hahaha.. Ngomongnya pelan banget, padahal doi bukan orang Jawa. Ngomongnya lumayan halus, tapi nggak sehalus banci kaleng. Udah gitu, badannya kurus bingit kayak orang nggak pernah makan! Duh Yam, kalau gue bisa bagi lemak ke lo, gue udah kurus dari zaman dahulu kala. Tapi, di balik kekurangannya itu, doi orangnya baik bingit. Kalau bertemen sama doi, kalian pasti nggak tega buat nge-bully doi. Kalau nge-bully doi, rasanya kayak abis ngelakuin dosa gede banget. Kayak abis jadi pengedar narkoba yang udah merusak generasi muda di Indonesia. Terus, gue bikin blog soal ayam dan bicarain soal masa lalunya yang kelam, emangnya itu bukan nge-bully, ya? Oh, tentu tidak! Tindakan yang gue lakukan kali ini merupakan bukti bahwa gue sayang bingit sama doi. Hahaha.. Sumpah! Baiklah, kita lanjut ke kisah masa lalu Ayam lainnya, yuk! Di zaman dahulu kala, Ayam pernah naksir seorang cewek di kelas. Nggak usah disebutlah, ya, namanya. Pokoknya, cewek itu cukup populer di sekolah. POPULER = Pokoknya Pulang Teler. Ketika itu, kebetulan udah mau Valentine dan Ayam pun bertanya ke Bunga (bukan nama sebenarnya). “Bunga, lo mau cokelat apa?” tanya Ayam dengan polosnya. “Gue...

Hellen: “Gue Cina Tauk!”

By on Apr 21, 2015 in Diary

Di kampus gue, yang terkenal dengan sebutan kandang burung itu, sebagian besar isi mahasiswanya adalah orang Cina. Di setiap kelas, paling cuma ada 1 atau 2 orang non-Cina. Meskipun begitu, kami tetap saling menyayangi. Nah, di blog kali ini, yang pengin gue bahas adalah salah satu temen kampus gue bernama Hellen Poulina yang diragukan identitasnya. Gue dan Hellen beda konsentrasi jurusan. Gue ambil Manajemen Pemasaran, sedangkan Hellen ambil Manajemen Keuangan. Ketauan kan mana yang rajin ke pasar dan mana yang rajin mengatur keuangan? Meskipun rajin mengatur keuangan, tapi Hellen kalau narik duit di ATM, struknya diambil, terus duitnya ditinggal. Sumpah, ini kisah nyata, lho. Hellen: #GueMahGituOrangnya Udahlah stop ngomongin kekurangan Hellen yang satu ini, tapi kita lanjut yuk ke kekurangan Hellen yang lain. Meskipun beda konsentrasi jurusan, tapi gue dan Hellen cukup sering bertemu tanpa sengaja di semester-semester awal. Lumayan sering sekelas, padahal nggak pernah direncanain. Ah, emang udah jodoh dari sananya, sih! Anaknya baik, ramah, pintar, dan terlihat rajin ketika di kelas. Beda banget sama gue. Kalau gue sih, lebih rajin lagi pastinya! Ketika kami pertama kali ketemu, kami masih sama-sama gemuk. Nggak gemuk-gemuk amat, sih, tapi agak montok gimana gitu. Beda tipis sama babi merah yang suka ada di nasi campur. Karena semua orang di sana banyak yang Cina, gue pun menganggap bahwa Hellen juga Cina, meskipun aura Cina totok kurang begitu terpancar di wajahnya. Soalnya, kulitnya nggak putih. Agak cokelat. Tapi, yang melekat di otak gue adalah dia Cina. Sebenernya, apa pun status Hellen, gue tetep mau berteman sama dia, kok. Sampai sekarang pun, kami masih berteman baik. Suka curhat, makan bareng, nongkrong, bahkan kami punya grup di Whatsapp yang isinya banyak banget. Empat orang. Bisa dibilang, kami malah lebih dekat ketika sudah lulus kuliah, ketimbang ketika kuliah dulu. Gue yakin dia Cina, tapi ada obrolan...

Page 20 of 31« First...10...1819202122...30...Last »
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy