FacebookTwitter
Page 40 of 43« First...102030...3839404142...Last »

Memanjangkan Rambut dengan Shampoo Kuda Mane and Tail (Part 2)

By on Sep 6, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Sejak potong rambut model jamur tahun 2012 kemarin, petualangan gue dalam hal memanjangkan rambut jadi nggak pernah ada habisnya. Kisahnya mirip kayak film The Hunger Games. Ada The Hunger Games Mockingjay – Part 1 dan The Hunger Games Mockingjay – Part 2. Sebelumnya, mungkin kalian pernah baca kisah gue pake Shampoo Kuda Mane and Tail. Nah, itu Part 1-nya tulisan ini. Nah, ceritanya belum kelar sampe di situ. Sekadar mengingatkan, pertama kali gue beli shampoo kuda, belinya titip sama temen gue si Sherly lewat salah satu online shop. Hasilnya, rambut gue lumayan panjang, tapi rambut gue jadi kasar banget. Terus, shampoo-nya habis dan gue belum beli lagi yang baru karena gue masih ragu, apakah gue harus lanjut pake shampoo kuda atau nggak. Di saat yang sama, gue juga sempet rapihin rambut di salon bersama Kak RG tanggal 12 Juli 2014 kemarin dengan hasil potongan rambut setjantik ini. Kemudian, di hari yang Fitri, tanggal 28 Juli 2014 kemarin, gue sempet jalan-jalan ke mal Taman Anggrek bareng Kak RG dan Mastini. Di sana, nggak sengaja ketemu booth yang jualan shampoo kuda jenis Herbal Grow dengan harga yang cukup miring, yaitu Rp 160 ribu. Wih, lebih murah daripada yang kemarin Sherly beli (Rp 170 ribu). Tanpa pikir panjang, gue langsung beli! Meskipun gue cukup trauma karena shampoo itu udah bikin rambut gue makin kasar. Tapi, setidaknya gue masih punya harapan besar dalam hal memanjangkan rambut. Rupanya, Sista yang jualan di booth mal Taman Anggrek itu juga jualan secara online di Instagram. Si Sista cantumin nama web dan semua kontak yang bisa dihubungi di kartu nama yang dipajang di booth. Gue pikir, kalau misalnya nanti shampoo kudanya udah mau habis, gue bisa pesan lagi sama dia. Kalau kalian tertarik, kalian bisa cek langsung webnya di www.urbanindostore.net. Pas malemnya, shampoo itu langsung gue pake...

GADIS Magazine School is Cool!

By on Aug 23, 2014 in Diary, Fashion, Narsis

Tanggal 21 Agustus 2014 kemarin, kantor gue, Femina Group kembali mengadakan halal bihalal di gedung Nyi Ageng Serang, Rasuna Said. Halal bihalal itu tradisi meminta maaf dan memberi maaf yang biasanya dilakukan setelah bulan Ramadhan dan Lebaran usai. Ibaratnya kalau di lingkungan Cina Kota, kita mengenal istilah Cap Go Meh (2 minggu setelah Imlek). Nah, di halal bi halal itu ada lomba dress code yang harus diikuti setiap majalah. Kak Asri yang merupakan editor, sekaligus ibu pencetus dress code di GADIS (majalah tempat gue mencari sesuap nasi) pun awalnya kebingungan buat nentuin dress code apa yang mau dipake. Denger-denger sih, dia sampe nggak bisa tidur. Dua hari sebelum hari-H, Kak Asri pun kepikiran supaya kami pake seragam sekolah. Apa pun itu. Mau seragam sekolah asli, atau pun seragam-seragaman khayalan sendiri juga boleh. Yang penting dasarnya kemeja putih gitu. Kenapa harus seragam sekolah? Karena GADIS itu kan majalah anak SMP dan SMA, jadi kami harus bergaya bak anak sekolah supaya bisa merasa lebih dekat dengan kehidupan pelajar Indonesia. Idenya udah mirip kayak yang diomongin di debat capres aja. Orang-orang pun cemas dan hampir kebakaran jenggotnya karena menurut mereka dress code-nya agak susah. Kecuali gue. Gue sih tenang-tenang aja mamen karena gue pernah kok jalan-jalan ke mal pake kostum seragam. Hahahaha.. Karena gue ahli kostum dan punya banyak atribut di rumah, gue pun diminta buat berinisiatif meminjamkan atribut ke teman-teman yang membutuhkan. Nampaknya, jasa penyewaan barang-barang Kak Uung sudah bisa diresmikan bulan depan. Tunggu launching-nya aja, ya!         Kabar gembiranya! Tim GADIS pun menang dan berhasil membawa pulang vocher buat nail art dan potong rambut anak-anak senilai jutaan rupiah. Hadiahnya cukup “nggak etis”, ya! Nggak tau deh nanti pakenya gimana. Yang penting menang....

Inilah 6 Makanan Terpedas Versi Kak Uung

By on Aug 18, 2014 in Diary

Kalian udah tau kan kalau Kak Uung juara makan pedas dan pernah masuk teve karena prestasi itu? Kalau kalian ngaku suka pedas, ayo ngadu bareng Kak Uung makan makanan ini! HAHAHA… Setelah mencoba banyak makanan pedas, menurut Kak Uung, ini adalah 6 makanan terpedas dari level cupu sampe laknat. 6. Buta Noodle Sumoboo Level 30   Istilah kasarnya mie babi a.k.a mie nggak halal. Kalau buat gue sih halal-halal aja. Jadi si Sumoboo ini menyajikan mie ini dengan tingkat kepedasan dari level 0-30. Karena gue pecinta pedas, jadi gue pun menyiapkan mental buat coba yang level 30. Nggak tau ya, level 30 di sini itu berapa banyak cabenya. Mungkin 30 biji cabe. Sebelumnya, Mastini udah pernah coba yang level 15 dan dia nggak abis karena pedas banget katanya. Dan gue nggak percaya sama omongannya karena level pedas kami berbeda. Kalau level pedas gue sama Kak RG bisa dibilang sama. Makanya, gue sama Kak RG pesan yang level 30. Sementara Mastini pesan level 5. Gue sama Kak RG berhasil makan mie itu dan menurut kami, pedasnya masih wajar banget. Pedas sih, tapi nggak sampe menusuk perasaan. Sementara, Mastini makan yang level lima aja udah ngeluh kepedasan. Cengeng! 5. Mie Hokie Level 5, Danau Sunter (deket rumah Kak RG)   Mie ayam yang dijual di tenda pinggiran Danau Sunter ini menyediakan mie dengan tingkat kepedasan dari 1 sampai 4. Level 5 harus dipesan khusus. Pertama kali coba mie ini, gue cobain yang level 4 (40 cabe). Pedas sih, tapi ya itu masih bisa diterima dengan lapang dada. Setara sama buta naked noodle-nya Sumoboo. Kak RG pun juga berhasil melewatinya dengan lapang dada. Sebelum ajak gue lagi ke Mie Hokie, si Kak RG udah cobain yang level 5 (50 cabe). Dia bilang sih pedas bingit! Bahkan, dia sampe mengeluarkan air mata. Ah,...

Pebble, Jam Tangan Pintar

By on Aug 11, 2014 in Diary, Review Produk

Kehidupan gue sebagai social butterfly di Jakarta cukup keras. Social butterfly itu diwajibkan buat punya banyak media sosial. Supaya makin gahul dan eksis. Kalau media sosial di smartphone lo orang banyak, otomatis bakal bikin baterai smartphone lo orang cepet abis. Buat menghemat baterai iPhone, biasanya gue silent iPhone gue. Lumayan sih bisa menghemat baterai, meskipun baterai gue tetep aja cepet abis karena banyak notifikasi dari berbagai media sosial. Gara-gara itu, gue kadang nggak ngeh kalau ada message atau telepon penting yang masuk. Apalagi pas gue lagi nggak pegang hape. Wah, pasti banyak yang protes. Biasanya, gue dibilang nggak cekatan angkat telepon, nggak gesit bales chat dan lain-lain. Ya gimana ya, seeksis-eksisnya orang, kadang nggak selalu pegang hape. Lama-lama muak juga kalau yang dipegang cuma hape. Sekali-kali, gue juga butuh mainin benda lain, kayak Barbie misalnya. Karena lebih baik main Barbie daripada mainin perasaan anak orang. Nggak cuma suka ‘istirahat’ pegang hape, tapi kadang gue juga suka tidur di perjalanan. Kapan pun dan di mana pun. Walaupun nggak ketemu bantal, entah kenapa gue selalu ketiduran. Kalau kata orang-orang sih itu karena gue pemalas. Menurut gue sih nggak begitu karena gaya hidup gue udah kayak artis ibu kota yang gampang kecapekan. Jadi, harus menyempatkan diri buat tidur kapan aja. Maklum aja ya, soalnya waktu gue abis buat kerja, bersosialisasi, nyalon sampe jumpa fans. Nah, kalau udah ketiduran, otomatis gue nggak pegang hape, dong! Terus, pada marah-marah deh, kalau ada message atau telepon penting. Salah satunya Kak RG yang suka protes mengenai hal ini. Kalau misalnya lagi janjian buat ketemu, gue suka nggak langsung angkat telepon atau balas message. Ya gimana, ya, tangan cuma dua. Kadang, yang satu dipake buat ngupil, yang satunya lagi dipake buat betulin makeup. Terus, kadang juga males liatin hape kalau lagi di dalam bus atau kendaraan umum...

Romantic Ulzzang in Lace and Tulle

By on Aug 11, 2014 in Fashion, Narsis

Halo teman-teman yang kusayangi. Masih ingat kalau Kak Uung janji mau upload lebih banyak foto, selain cerita ngalor-ngidul nggak jelas? Nah, kali ini Kak Uung kembali menepati janjinya dengan bikin fashion blog. Di postingan yang sebelumnya, 5 Kg of Happiness, gue bilang kalau berapa pun berat barbel yang lo orang angkat, lo orang tetep bisa jadi perempuan tulen? Dan gue pun bisa membuktikannya. Kak Uung tetap bisa jadi perempuan tulen ketika jalan-jalan di Gading Walk, Mal Kelapa Gading. HAHAHAHA…. Sebenernya gue nggak terlalu suka pake bolero kalau bentuknya terlalu polos. Kesannya biasa banget, tapi kalau ada variasinya kayak kera lace dan banyak mutiaranya kayak begini, menurut gue lebih bagus. Kesannya perempuan banget. Biar makin perempuan, bolehlah di-mix and match sama rok tulle kembang-kembang warna krem. Perempuan banget, beda dari keseharian Kak Uung, tapi nggak menghilangkan gaya Kak Uung yang emang suka banget pake rok tulle. Udah gitu, sepatu platform hitam dan kaos kaki yang ada motifnya sedikit ini, menurut gue sih cocok banget buat dipadu-padankan sama rok tulle. Kesannya vintage gimana gitu. Karena udah perempuan banget, rasanya gue harus menggerai rambut gue buat menimbulkan kesan romantic. Tapi, berhubung rambut gue belum terlalu panjang dan tipis, lebih bagus kalau ditambahkan hair clip panjang dan bergelombang kayak begini. Tas yang gue pake emang leopard. Kesannya agak daring gitu, tapi menurut gue nggak masalah sih, karena bentuknya masih perempuan banget. Dan warna leopard bag-nya masih senada sama rok tulle-nya.   Hair Clip: Belle Wonderful Hair Cammomile Black Pearl Bolero: @preloved_room Tulle Skirt: Whateveryoursize Socks: Naughty Devany Black Platform Shoes: Adorable Projects Leopard Bag: Beli di...

Page 40 of 43« First...102030...3839404142...Last »
Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy