FacebookTwitter

Menjaga Kesehatan Mental di Saat Pandemi Covid-19

By on May 23, 2020 in Diary

Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Halo teman-teman! Sudah tahu kan, ya, kalau sekarang seluruh dunia tengah mengalami pandemi Covid-19 yang membuat kita dianjurkan untuk di rumah aja dan sebisa mungkin menghindari keramaian. Perkara untuk berdiam diri di rumah aja ternyata bukan hal yang sepele.

Berdampak ke banyak hal

Untuk kamu yang masih memiliki pekerjaan dan bisa melakukannya di rumah, tentu hal tersebut adalah hal yang perlu disyukuri. Begitu pula dengan yang sesekali harus datang ke kantor. Setidaknya bersyukur masih memiliki pekerjaan. Namun, banyak pula kantor atau usaha yang tidak bisa beroperasi atau berdagang akibat pandemi Covid-19 ini.

Contohnya, perusahaan travel agent, salon, spa, toko oleh-oleh, resto, dan lain-lain. Banyak juga pelaku usaha yang melakukan lay off besar-besaran demi mempertahankan bisnis agar tidak gulung tikar.

Selain berdampak terhadap kehidupan ekonomi, kesehatan banyak manusia juga jadi taruhannya. Virus Covid-19 ini sangat cepat sekali penyebarannya. Apalagi, sekarang ini masih banyak warga yang tidak taat saat melakukan social distancing.

Bahkan, baru-baru ini juga banyak berita soal warga yang berbondong-bondong ke mal dan Pasar Tanah Abang untuk beli baju baru Lebaran. Bukan cuma itu, tapi mudik juga tetap nekat untuk dilakukan.

Sementara, tenaga medis terbatas jumlahnya. Mereka pun kewalahan menangani jumlah pasien positif yang terus bertambah setiap harinya. Bahkan, nyawa tenaga medis pun jadi taruhannya. Banyak dari mereka yang ikutan sakit bahkan meninggal dunia.

Yang tidak disadari adalah mental kita juga terganggu

Hal tersebut secara tidak langsung berdampak bagi kesehatan mental setiap orang. Untuk yang tidak pernah terbiasa berdiam diri di rumah, isolasi diri di rumah akan menjadi hal membosankan. Apalagi setiap hari kita dihadapkan pada berita tentang penambahan kasus positif Covid-19 dan lain-lain.

Awalnya, saya pikir berdiam diri di rumah bukanlah hal yang sulit. Apalagi sehari-harinya juga saya adalah ibu rumah tangga. Namun, setelah lama-lama dijalani kok sulit juga, ya! Hahaha…

Dulunya, sebagai ibu rumah tangga, saya bebas mau ke pasar atau ke supermarket kapan aja. Mau ke mal kapan aja juga bisa. Mau ketemu teman atau jalan-jalan sama suami pas weekend juga bisa. Sekarang boro-boro.

Kalau pun mau ke minimarket atau supermarket, harus pakai masker, baju tertutup lengkap, tidak lupa cuci tangan, pakai hand sanitizer, jaga jarak dengan orang lain, dan begitu pulang harus langsung cuci tangan lagi dan mandi. Ribet banget pokoknya. Pastinya kita merindukan kehidupan kita yang dulunya santuy banget.

Juga diliputi kecemasan lainnya, seperti pandemi yang nggak kunjung kelar, masih banyak warga yang bandel nggak mau social distancing, dan takut nantinya nggak bisa jalan-jalan lagi ke luar kota atau luar negeri hihi… Yang lebih parahnya lagi adalah takut kekurangan uang.

Ditambah lagi, sebenarnya beberapa waktu lalu, saya memenangkan tiket liburan perjalanan ke Bangkok-Ayutthaya selama 5 hari 4 malam dan harus diundur selama dua kali gara-gara pandemi yang nggak kelar-kelar ini. Kalau pun pandemi sudah kelar, akankah kita bisa traveling dengan santai? Atau justru malah diliputi kecemasan saat perjalanan?

Kebayang nggak tuh, orang-orang yang sudah booking tiket pesawat dan hotel jauh-jauh hari dan sampai sekarang proses refundnya belum beres. Malahan, saya dengar refund pun nggak full 100% dan tidak dikembalikan dalam bentuk uang, melainkan voucher perjalanan! Padahal, di saat seperti sekarang ini, orang-orang lebih butuh uang ketimbang liburan.

Tips menjaga kesehatan mental saat pandemi

Karena banyaknya kecemasan yang saya alami, tentunya hal tersebut cukup menggangu kesehatan mental. Frekuensi marah-marah saya jadi lebih bertambah. Tadinya udah galak banget, nih, sekarang jadi makin-makinan! Ditambah lagi jadi makin julid! Astaga banget deh nih mulut jadi makin jahat pas lagi omongin orang haha…

Selain itu, waktu yang saya habiskan untuk mengurus rumah dan masak, membuat saya jadi lupa mengurus diri sendiri. Tahu-tahu mandi jadi tiga hari sekali, malas keramas, dan lain-lain. Nggak heran jerawat bermunculan, muka kusam, dan rambut ikutan rontok.

Setelah itu, saya pun mulai mengubah sedikit demi sedikit kebiasaan buruk saya. Caranya adalah:

1. Kembali rajin merawat diri dan jaga kebersihan

Mulai ingat dan rajin lagi untuk mandi. Minimal sehari sekali, deh, daripada nggak sama sekali. Terus teteplah rajin jaga kebersihan dengan rutin cuci tangan dan lain-lain. Juga nggak lupa membeli seperangkat perawatan kulit dan rambut meski sederhana.

Udah lama banget kayaknya saya nggak beli hair tonic dan beberapa hari lalu, saya putuskan untuk beli agar rambut tidak makin parah rontoknya. Oia, saya juga beli skin care Korea agar bekas jerawat hilang dan wajah tidak lagi kusam. Biar kalau selfie, nggak perlu lagi pakai beauty app hahaha…

Hal sederhana tersebut secara nggak langsung bikin saya merasa lebih baik. Membuat saya kembali ke diri saya yang dulu. Diri saya yang selalu mencintai diri sendiri dulu ketimbang orang lain.

2. Belajar hal baru

Hobi yang sudah lama saya jalani selama ini adalah memasak. Sejak terjadi pandemi sampai sekarang, saya jadi makin rajin memasak dan mencoba resep baru. Tadinya saya cuma foto-foto makanan aja di Instagram. Bisa dilihat di Instagram saya, Mariska Tracy. Psst, jangan lupa di-follow haha… Nah, sekarang jadi lebih rajin bikin video masak meski masih cupu. Ada tuh beberapa video masak saya di Instagram.

Juga jadi bikin channel YouTube walaupun upload-nya masih jarang-jarang hahaha… Nah, kalian bisa nih subscribe channel saya di https://www.youtube.com/user/MariskaTracy. Siapa tahu berguna untuk hidup kalian haha…

Awalnya saya juga bukan orang yang pede ngomong di depan kamera apalagi di depan banyak orang, tapi lewat bikin vlog masak, saya jadi belajar gimana caranya ngomong di depan kamera. Ye khan lu kalau bikin vlog enaknya nggak ada netizen di depan lu secara langsung. Tinggal ngemeng sendiri aja gitu, deh.

3. Bergaul dengan orang-orang yang positif

Sebisa mungkin hindari toxic people atau teman-teman yang suka mengeluh, terus berpikir negatif, dan membuat hidup kita mengalami kemunduran. Intinya sih bergaul sama yang sebaliknya deh.

Selama ini saya juga suka kepikiran sama apa kata orang, takut nggak diterima, takut nggak bisa nyenengin orang, dan lain-lain. Tapi, daripada gila dan stress, lebih baik punya sikap bodo amat. Beh, enak banget jadinya! Nggak perlu stress apalagi sampai nggak bisa tidur.

4. Nggak fokus sama berita buruk doang

Kebanyakan baca berita negatif, bikin kita lebih cemas dan bikin imun tubuh menurun. Nah, jadi jangan cuma baca berita buruk aja, tapi juga berita positif. Nggak lupa konsumsi konten lain yang lebih bermutu, misal konten resep masakan, makeup, olahraga, dan lain-lain yang bermanfaat.

5. Konsumsi makanan sehat

Untuk menjaga daya tahan tubuh, tentunya kita butuh konsumsi makanan sehat dong. Selain itu, makanan sehat juga berpengaruh untuk tubuh kita, sehingga lebih ideal, jauh dari obesitas. Kesehatan mental pun jadi lebih terjaga pastinya.

6. Rajin berolahraga

Berolahraga nggak selalu harus yang berat dan aduhai. Cukup dengan sering gerak di rumah, melakukan tugas bersih-bersih rumah, jalan-jalan kecil di depan teras rumah, push up atau sit up di kamar, dan lain-lain.

7. Jangan ragu untuk berobat atau ke psikiater

Jika keadaan kalian tidak semakin membaik, jangan ragu untuk berobat atau ke psikiater. Salah satunya menggunakan HaloDoc, di mana kamu bisa berkonsultasi dengan dokter berpengalaman secara gratis. Bisa melalui chat atau video call. Siap siaga 24 jam, lho!

Untuk info soal kesehatan mental, kamu bisa baca artikel berikut di HaloDoc!

Hal yang disyukuri selama pandemi

Pandemi nggak selamanya membawa kerugian. Ada banyak hal positif yang bisa kita petik.

  1. Jadi lebih hemat soal uang. Nah, terkadang kita perlu ditampar keras dulu baru sadar akan hal penting. Contohnya nih, hidup hemat dan nabung! Di saat pandemi seperti sekarang, hiburan kita banyak terpangkas, seperti jatah nonton bioskop, nyalon, shopping, dan lain-lain. Yang kita beli kebanyakan kebutuhan pokok aja. Jadi, di saat inilah kita bisa belajar lebih hemat dan menjadi kebiasaan baik di kemudian hari.
  2. Belajar menghemat waktu. Kini, kalau ingin meeting atau merencanakan sesuatu, kebanyakan jadi dilakukan lewat video call atau chat. Nah, untuk ke depannya bisa jadi kebiasaan nih. Kita jadi nggak perlu lagi menghabiskan waktu di jalan demi meeting.
  3. Mencari peluang baru. Di saat pandemi, kita jadi belajar lebih kreatif dalam hal mencari peluang baru. Sehingga, kita bisa bertahan hidup.
  4. Lebih menghargai quality time dengan keluarga. Karena kebanyakan di rumah, kita jadi lebih dekat dengan keluarga. Selain itu, untuk yang tengah berjauhan dengan keluarga, pasti akan lebih menghargai kebersamaan setelah pandemi selesai. Nggak bakal kepikiran deh mau traveling ke mana setelah pandemi selesai! Yang paling penting adalah ketemu dulu sama orangtua!

Kira-kira seperti itu deh curhatan Kak Uung soal pandemi Covid-19 dan pengaruhnya sama kesehatan mental kita. Semoga bisa membantu kalian dalam mengatasi hidup yang kejam ini. Dan semoga kalian sehat selalu, ya! Dan ingat! Jangan ragu untuk berobat jika membutuhkan.

 

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like¬†facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy