Potensi Papua Menjadi Ekowisata Dilihat dari Alam, Pangan, dan Budayanya

Kalau mendengar tentang Papua, jujur sebenarnya gue nggak terlalu tahu banyak, soalnya belum pernah ke sana. Papua selalu menjadi incaran orang-orang sekitar gue karena di sana ada Raja Ampat. Namun, Papua bukan hanya tentang Raja Ampat, lho.

Ada banyak hal yang bisa dibahas tentang Papua. Makanya di blog kali ini, gue mau bahas soal Papua sebagai destinasi wisata hijau. Terutama soal ekowisata di Papua. Apalagi hutan di sana memang masih hijau dan terjaga kekayaan hayatinya.

Sebelum benaran berangkat ke Papua, tentunya gue harus banyak riset dulu dong dan gue bagikan lewat blog ini. Sekalian untuk ikutan kompetisi Wonderful Papua Blog Competition yang diadakan oleh Eco Nusa Foundation dan Blogger Perempuan Network.

Yuk, dukung Papua menjadi ekowisata yang mendunia!

Akhir-akhir ini sudah banyak berita yang mengabarkan bahwa Papua sedang direncanakan untuk menjadi ekowisata. Apa sih ekowisata itu?

Menurut organisasi The Ecotourism Society (1990), ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat.

Ekowisata bukan hanya bicara soal wisata yang menyatu dengan alam, seperti naik gunung, main arung jeram, menginap di resort alami, atau camping. Kegiatan seperti itu bisa aja merusak lingkungan. Yang namanya ekowisata tentunya harus bersifat ramah lingkungan, juga ramah terhadap budaya dan adat setempat. Secara tidak langsung ekowisata akan berdampak positif terhadap peningkatan perekonomian warga sekitar.

Sebagai orang Indonesia yang kagum akan keindahan Papua, pastinya kita berharap Papua bisa menjadi ekowisata yang mendunia. Namun, perjalanan untuk ke arah sana mungkin tidak semudah itu. Perlu kesadaran dari diri sendiri dulu untuk menjaga alam Papua.

Hal kecil yang bisa kita lakukan adalah tidak merusak alam dan rimba Papua. Terutama jika kalian punya rencana liburan ke sana. Hal simpel yang bisa dilakukan adalah nggak buang sampah sembarangan dan menghentikan penggunaan plastik sekali pakai. Tentunya, kita juga harus menghormati kebudayaan dan adat di Papua.

Ekowisata berpengaruh terhadap pelestarian hutan

Salah satu hal yang sedang direncanakan oleh pemerintah dalam mewujudkan Papua agar menjadi ekowisata adalah investasi hijau, yang tentunya ramah lingkungan. Aktivitas investasi hijau nantinya akan merujuk ke hasil pertanian dan perikanan yang berpotensi untuk diekspor. Komoditas yang akan dikembangkan, yaitu tanaman kopi, pala, dan cocoa.

Ekowisata juga berpengaruh positif terhadap pelestarian hutan di Papua, lho! Selama ini, upaya perlindungan hutan yang berfokus terhadap penebangan liar dinilai kurang efektif untuk melestarikan hutan. Oleh karena itu, perlu alternatif ekowisata yang bisa memberikan keuntungan ke banyak pihak.

Untuk wisatawan yang melakukan ekowisata, pastinya akan mendapatkan menikmati keindahan hutan Papua sekaligus mendapatkan banyak pengetahuan tentang hutan tersebut. Wisatawan juga bisa menikmati aneka pangan yang menyehatkan langsung dari hutan. Selain itu, masyarakat di Papua juga akan mengalami peningkatan ekonomi, mulai dari penjual sayur hingga pemilik toko.

Kenapa hutan Papua perlu dilestarikan?

Menurut data yang didapat dari hutanpapua.id, di tahun 2005 sampai 2009 kemarin, hutan Papua luasnya 42 juta hektare. Namun, di tahun 2011, luasnya hanya tersisa 30,07 juta hektare. Setiap tahunnya, hutan Papua mengalami deforestasi sebesar 143.680 hektare. Kalau di Papua Barat, deforestasinya sebesar 293 ribu hektare atau sebesar 25% per tahun.

  1. Hutan Papua adalah rimba terakhir

Deforestasi hutan di Papua terjadi karena ekspansi industri yang berbasis lahan, seperti industri kayu, perkebunan, dan pertambangan. Hal-hal tersebut dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang ambisius saat menjalani bisnis tanpa memikirkan kelestarian hutan.

Metode yang dilakukan dalam kegiatan deforestasi antara lain adalah membakar hutan atau menebang pohon secara liar. Praktek tersebut akan mengakibatkan tanah menjadi tandus dan nantinya bisa menimbulkan bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor.

Hutan Papua merupakan salah satu rimba terakhir di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Apalagi, rimba di Sumatera dan Kalimantan sudah hampir habis. Jika rimba di Indonesia sudah nggak ada lagi, kita pun akan kesulitan mendapatkan bahan pangan berkualitas. Selain itu juga akan berdampak buruk bagi masyarakat Papua yang di kehidupan sehari-harinya memang menggantungkan hidup dari hutan.

2. Hutan Papua adalah paru-paru dunia

Letak Tanah Papua berada di Indonesia paling timur. Papua merupakan provinsi terluas di Indonesia dengan luas 808.105 km persegi. Juga merupakan provinsi pulau terbesar di Indonesia dan terbesar pertama di dunia.

Sedangkan Papua Barat merupakan provinsi yang terletak di ujung barat Pulau Papua dengan Manokwari sebagai ibu kotanya. Tanah Papua dikenal sebagai paru-paru dunia. Bahkan, hutan di Papua menempati urutan ketiga terluas di dunia dengan luas 33.934.714 hektare.

Pemerintah Provinsi Papua Barat berkomitmen untuk menjaga luasan hutan Papua sebesar 70%. Hal tersebut merupakan bentuk kontribusi Papua Barat untuk mencapai target penurunan emisi nasional. Tren kenaikan temperatur atmosfer global saat ini sudah meningkat hingga 1 derajat celcius, ketimbang masa sebelum revolusi industri.

Jika kenaikan terus terjadi, maka pada akhir abad 21 nanti, kenaikan akan meningkat sampai 3 derajat celcius. Muhamad Farid selaku Program Director Yayasan EcoNusa menjelaskan tentang pentingnya melakukan penurunan volume gas rumah kaca (GRK). Di tahun 2018, volume GRK sudah melewati 400 part per million. Sementara temperatur di Rusia mencapai 42 derajat celcius, India menyentuh hampir 50 derajat celcius, dan Indonesia mencapai minus 11 derajat celcius di Gunung Kidul, Yogyakarta. Jika volume GRK mencapai 450 part per million, maka bisa membahayakan lingkungan. Soalnya menimbulkan panas global yang tidak menentu.

Jika hutan lestari, volume tersebut bisa diturunkan. Hutan Papua berperan penting dalam hal ini. Karena, hutan menjadi tempat penyerapan dan penyimpanan karbon. Salah satu karbon yang diserap adalah gas karbondioksida (CO2) yang terkandung dalam GRK.

​Kekayaan alam dan pangan di Papua

​Papua memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Ada lebih dari 20 ribu spesies tanaman, 602 jenis burung, 125 mamalia, dan 223 reptil. Dengan kekayaan hayati tersebut, tentunya Papua memiliki potensi besar untuk menjadi ekowisata. Yuk, kita gali beberapa di antaranya!

1. Pegunungan Wondiboy

Pegunungan Wondiboy berada di Kabupaten Wondama, Papua Barat. Luasnya 73.022 hektare. Luas kawasan konservasinya mencakup tiga wilayah, yaitu Distrik Wasior, Distrik Wondiboy, dan Distrik Rasiey. Di dataran Pegunungan Wondiboy terdapat empat gunung, yakni Gunung Waropen, Gunung Waisa, Gunung Waimaru, dan Gunung Tasubar.

Sedangkan, untuk burung-burung di sana ada 169 jenis, 55 jenis di antaranya hidup di atas 1.000 meter. Untuk mamalianya ada kanguru pohon, walabi hutan, kuskus ekor kait, dan lain-lain.

2. Pegunungan Arfak

Cagar alam Pegunungan Arfak berada di Papua Barat dengan luas 68.325 hektare. Di tahun 1824, naturalis Eropa, Odoardi Beccari dan Luigi d’Albertis pernah menyambangi Pegunungan Arfak. Berdasarkan ketinggian kawasan, di sana ada tiga tipe ekosistem hutan. Yaitu, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan kaki gunung, dan hutan hujan lereng pegunungan.

Di Pegunungan Arfak kita bisa menjumpai kupu-kupu indah bertubuh besar. Di antaranya Kupu-kupu sayap burung goliath (Ornithoptera goliath), Kupu-kupu sayap burung meridionalis (Ornithoptera meridionalis), Kupu-kupu sayap burung paradisea (Ornithoptera pardisea), dan Kupu-kupu sayap burung rothschildi (Ornithoptera rothschildi).

Sedangkan satwa endemik di Pegunungan Arfak adalah Cenderawasih Arfak (Astrapia nigra), ParotiaBarat (Parotia sepilata), dan Namdur polos (Amblyornis inornatus).

Di Pegunungan Arfak juga ada danau kembar yang cantik, yaitu Danau Anggi Giji dan Anggi Gida. Dari sana kita bisa melihat kokohnya Bukit Kombrey dan Bukit Tombrok.

Ada empat sup suku yang tinggal di sekitar danau kembar, yaitu Hatam, Moile, Sough, dan Meyah. Masyarakat di sana memanfaatkan keberadaan danau kembar untuk mencari ikan dan menggarap lahan.

Rumah tradisional masyarakat Pegunungan Arfak dikenal dengan rumah kaki seribu. Arsitekturnya mirip rumah panggung, berdinding ilalang, beratap daun pandan, dengan tiang-tiang penyangga tersebar di bawah rumah. Saking banyaknya, masyarakat menyebutnya kaki seribu.

3. Kampung Edor

Kampung Edor berada di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Bagi kebanyakan orang, melaut dan bertani adalah dua hal yang berbeda, namun masyarakat di Kampung Edor mampu melakukan dua hal tersebut di keseharian mereka. Mereka tahu bahwa jika hanya melaut, nggak akan bisa mencukupi kebutuhan. Jadi, mereka pun melakukan hal positif lain, yaitu bertani.

Awalnya, warga membuka lahan dengan metode bakar lahan yang bisa mengurangi ketersediaan unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman. Namun, dengan perdampingan pertanian, kini mereka tahu cara mengolah lahan tanpa harus merusak.

Untuk melindungi tanaman, lahan kelompok dikelilingi dengan pagar, kayu, dan jaring. Hal itu dilakukan untuk mencegah babi liar masuk dan menggasak habis tanaman.

Mengapa mereka harus bertani? Soalnya, dari Kampung Edor ke Kabupaten Kaimana menghabiskan waktu sekitar 1 jam 30 menit menggunakan long boat bertenaga 2 mesin 40 PK. Bila cuaca nggak bersahabat, perjalanan akan bertambah panjang.

Meskipun di Kampung Edor terdapat tanaman seperti melinjo, bayam liar, dan pakis, namun masih belum tercukupi. Selain itu, dengan adanya pertanian diharapkan dapat memenuhi kebutuhan gizi anggota keluarga masing-masing sekaligus meningkatkan perekonomian

4. Isio Hills’s Birds Wacthing

Isio Hills’s Birds Watching terdapat di Kampung Rhepang, Distrik Nimbrokrang, Kabupaten Jayapura. Biasanya dijadikan sebagai para fotografer berburu foto berbagai jenis cenderawasih. Tempat wisata ini kerap disebut burung surga.

Di Iso Hills’s Birds Watching ada empat jenis cenderawasih, yaitu king bird of paradise atau cenderawasih raja (Cincinurus regius), lesser bird of paradise atau cenderawasih minor (Paradisea minor, cenderawasih mati kawat (Celecoudius melanoleuca) dan cenderawasih paru sabit putih (Pale billed sicklebill).

5. Kawasan mangrove di Kampung Friwen

Kampung Friwen berada di kawasan Raja Ampat. Di sana terdapat mangrove yang punya banyak manfaat, di antaranya bisa menyerap karbondioksida, mengurangi pemanasan global, dan sebagai ekosistem utama kehidupan biota laut. Juga bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari untuk masyarakat dengan memanfaatkan kayu, daun, sampai buahnya.

Sayangnya, masyarakat di Kampung Friwen memiliki pengetahuan yang minim tentang pemanfaatan dan pelestarian hutan mangrove. Oleh karena itu, EcoNusa bekerja sama dengan perkumpulan pesisir, JAPESDA Gorontalo dan Sampan Kalimantan untuk melaksanakan pelatihan kepada masyarakat. Yaitu, berupa cara pembibitan, pemulihan lokasi, dan pemanfaatan hutan mangrove.

Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat di Kampung Friwen selain mencari ikan dan berkebun adalah membangun homestay. Bahan bangunan pembuatan homestay tentunya didapat dari hutan mangrove dalam bentuk kayu.

6. Kampung Manyaifun

Kampung Manyaifun berada di Kecamatan Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Salah satu kekayaan di Kampung Manyaifun adalah pohon sagu.

Dahulu, sagu sudah menjadi makanan pokok masyarakat Papua. Sagu memiliki nilai indeks glikemik yang rendah, yaitu kurang dari 55. Sehingga cocok untuk penderita diabetes. Pohon sagu juga menunjang kehidupan, dari daun hingga akarnya memiliki fungsi. Mulai dari sebagai sumber pangan untuk manusia, pakan ternak, pengikat serat, penahan laju air, sampai jadi atap rumah.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, EcoNusa bekerja sama dengan Asosiasi Perjampat untuk memberikan dukungan dan pengetahuan terhadap masyarakat berupa pelatihan dengan membentuk kelompok yang terbagi atas pemuda dan perempuan. Mereka dilatih untuk membuat cinderamata lokal dan bagaimana mengelola homestay yang ramah lingkungan.

7. Kabupaten Fak-fak

Kota Fak-fak adalah kota kecil yang berada di pesisir selatan Papua Barat. Topografinya terdiri dari bukit, tanjung, dan laut dengan pemandangan indah berupa Pantai Wambar dan Pantai Patawana.

Pantai Wambar memakan 1,5 jam perjalanan dari pusat kota. Pantai ini pasirnya putih banget dengan air lautnya yang biru juga pepohonan pala yang tengah berbuah. Sedangkan Pantai Patawana berada di Desa Kotam, Fak-fak Timur. Karena alamnya masih terjaga banget, jadi bisa dimanfaatkan untuk mengeksplor keindahan bawah lautnya.

Fak-fak terkenal akan minawisatanya. Minawisata berasal dari kata mina yang berarti perikanan dan wisata. Minawisata adalah pendekatan pengelolaan terpadu yang berbasis konservasi dengan menitikberatkan pada pengembangan perikanan dan wisata bahari.

Fak-fak memang dikenal sebagai penghasil pala terbesar di Papua. Juga ada kelapa, cengkeh, dan kopi. Pala di sana digunakan untuk pembuatan minyak wangi, bahan pengolah gula dan makanan, juga untuk bahan baku industri minuman. Di bidang komoditas pertanian, Fak-fak menghasilkan singkong, ubi jalar, dan kacang-kacangan.

8. Pegunungan Ambaidiru

Pegunungan Ambaidiru berada di Kabupaten Kepulauan Yapen. Di sana ada tiga area kebun kopi, yaitu Kampung Ambaidiru (area Kitun), Manainin (area Paputum), Numaman, dan Ramngkurani (area Kakupi). Di sana terdapat juga kebun kopi yang sudah berusia 50 sampai 60 tahun yang ditanam sejak penjajahan Belanda.

EcoNusa membuat pelatihan kopi di Pegunungan Ambaidiru dengan tujuan membantu para petani untuk meningkatkan kualitas proses pasca panen dan membuat standar pengolahan. Sehingga, hasilnya bisa konsisten.

9. Kampung Kambala

Kampung Kambala berada di Distrik Buruway, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Kambala memiliki mangrove yang sangat kaya dengan berbagai jenis, seperti spesies Avicennia sp, Sonneratia sp, dan famili Rizhopora. Mayoritas masyarakat di sana berprofesi sebagai petani pala.

Awalnya mangrove di sana kurang diperhatikan, karena kebanyakan masyarakatnya adalah petani pala. Namun, sekarang mangrove di sana dimanfaatkan juga untuk kayu bakar dan membuat bangunan baru.

10. Teluk Bintuni

Teluk Bintuni adalah salah satu kabupaten di Papua Barat. Di sana banyak sekali ikan. Beragam ikan yang terdapat di Teluk Bintuni tidak lepas dari ekosistem mangi-mangi (mangrove) di sekitar teluk. Ekosistem mangi-mangi dan perairan sekitarnya secara ekologis merupakan tempat asuhan, mencari makan, dan berlindung bagi ikan-ikan.

Bahan pangan lain dari hutan Papua

​1. Buah merah

Buah merah memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Di antaranya untuk mencegah diabetes, tekanan darah tinggi, HIV AIDS, Hepatitis B, kanker, dan menjaga kesehatan mata. Kandungan yang terdapat di dalamnya adalah lemak omega 3 dan 9, antioksidan, dan betakaroten.

2. Woton (Sterculia shillinglawii)

Masyarakat di Pulau Gag, Raja Ampat menggunakan biji woton sebagai pengganti kacang hijau. Woton mengandung vitamin C yang kadarnya lebih tinggi dibandingkan biji-bijian dan kacang-kacangan.

3. Piarawi/Buah Hitam (Haplolobus monticola)

Buah ini ditemukan di Teluk Wondama. Memiliki kandungan protein, lemak, dan vitamin C yang tinggi. Biasanya disajikan saat perkawinan dan sebagai tanda perdamaian antar suku.

4. Gayang (Inocarpus fagiler)

Bentuknya mirip cocoa. Gayang memiliki kandungan protein di bawah kacang hijau, kedelai, dan kacang tanah. Namun, kandungan vitamin C-nya tinggi.

5. Anggur Papua (Sararanga sinuosa)

Anggur Papua ditemukan di Jayapura-Mamberamo. Kadang disebut juga serle/tepa. Kandungannya lebih tinggi dari avokat.

6. Taer (Anisoptera thurifera)

Taer ditemukan di Teluk Wondama. Buah ini memiliki kandungan vitamin C dan lemak lebih tinggi daripada avokat.

7. Kelapa Hutan (Borassus heineanus)

Kelapa Hutan terdapat di Kabupaten Waropen. Bentuknya mirip buah lontar dan memiliki kandungan vitamin C yang sangat tinggi atau dua kali lipat ketimbang rambutan.

8. Daun Gatal

Suku Meyah di Papua Barat menyebut daun ini Daun Meciwi. Ciri-ciri Daun Gatal adalah bentuknya besar, panjangnya kira-kira 20 cm dan lebarnya 15 cm, ujung daun meruncing, warnanya hijau tua dengan bagian tengah daun yang berwarna lebih muda, dan terdapat bulu-bulu kecil seperti jarum kecil di permukaan daun.

Manfaat Daun Gatal adalah mengatasi pegal-pegal, nyeri otot dan sendi, sakit perut, masuk angin, sakit kepala, memar, rematik, dan bisa membantu proses persalinan.

9. Banondit (Rumput Kebar)

Banondit memiliki nama ilmiah Biophytum petersianum Klotzsch. Merupakan salah satu tumbuhan endemik yang terdapat di Kampung Kebar, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Umumnya dikenal dengan nama Rumput Kebar.

Masyarakat Kebar menganggap Banondit adalah warisan nenek moyang mereka. Manfaatnya antara lain sebagai obat kumur, penawar racun bekas gigitan ular, menurunkan demam, dan bisa meningkatkan kesuburan kandungan.

Tradisi atau budaya unik di Papua

Setiap daerah di Indonesia pastinya punya tradisi atau budaya masing-masing, terutama di Papua. Kebanyakan tradisi atau budaya di sana masih berhubungan erat dengan alam, lho. Yuk, kita ulas satu per satu!

1. Rutin mengadakan Festival Ulat Sagu

Festival Ulat Sagu dirayakan setahun sekali, biasanya di bulan Agustus atau September di Dusun Weyunggeo, Kampung Uni, Distrik Bomakia, Kabupaten Boven Diogel, Papua Barat. Festival Ulat Sagu dilakukan sebagai ritual untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan, leluhur, alam semesta, dan sesama.

Festival ini melibatkan berbagai kampung dan marga. Mereka menyuarakan perlindungan hutan dengan mendapatkan hak pengelolaan hutan adat. Sesuai dengan namanya, festival ini bertujuan untuk melestarikan tanaman sagu sekaligus menjaga perdamaian antar marga.

2. Suka membawa noken

Noken adalah tas tradisional masyarakat Papua yang terbuat dari serat kulit kayu dan pewarna alami yang berasal dari akar tumbuhan dan buah-buahan hutan. Biasanya dikenakan di kepala, namun sekarang sudah banyak digunakan dengan cara menyelempang.

Tanggal 4 Desember 2012 lalu, noken ditetapkan UNESCO sebagai warisan kebudayaan Indonesia. Noken kini sudah dianggap sebagai simbol perempuan Papua yang menggambarkan kesuburan, kekeluargaan, ekonomi, kehidupan baik, perdamaan, juga identitas.

Bukan hanya mengandung filosofif, namun noken juga berguna untuk membawa hasil bumi dan menggendong anak. Untuk yang masih sekolah pun, noken berguna untuk membawa buku-buku pelajaran. Alternatif yang bagus kan untuk mengeliminasi plastik sekali pakai?

3. Tradisi Sasi Nggama untuk menjaga Laut Kaimana

Sasi berarti larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati (hewan maupun nabati) di perairan Kaimana, Papua Barat.

Selama 11 bulan, masyarakat dilarang mengambil hewan laut tertentu, seperti tripang, lola (sejenis kerang laut), dan batulaga (sejenis siput laut). Hanya pada masa tertentu, umumnya musim angin barat antara Maret dan Mei orang-orang baru boleh memanen hewan-hewan tersebut. Kegiatan panen itu disebut buka sasi (larangan) dan dilakukan selama dua minggu penuh. Yang boleh diambil hanya hewan-hewan berukuran besar atau ukuran tertentu agar bisa memberikan kesempatan kepada hewan tersebut untuk berkembang biak.

Sebelum melakukan buka sasi, dilakukan upacara adat terlebih dahulu. Ada doa-doa dilantunkan demi kelestarian alam, kemudian sirih pinang, lola, dan batulaga dituang ke piring lalu ditumpahkan ke laut. Hal tersebut adalah tanda pembayaran kepada alam. Setelah itu, orang-orang baru boleh menyelam dan mengambil hasil laut.

Yang melanggar sasi atau larangan diharuskan membayar denda. Sasi diawasi oleh istri raja atau ketua suku. Dulu, denda berupa piring atau perhiasan mahal, sekarang denda bisa diganti dengan sejumlah uang.

4. Tradisi menjaga mangrove di Kampung Kambala

Sebagai penghasil pala terbesar di Kabupaten Kaimana, mangrove memang kurang mendapat perhatian. Namun, bukan berarti kesadaran masyarakat akan pentingnya mangrove berkurang, lho. Di sana ada tradisi yang dilakukan untuk menjaga hutan mangrove, yaitu upacara Sinara yang dilakukan oleh seseorang jika ingin masuk dan memanfaatkan sumber daya di hutan mangrove. Berarti tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana, sehingga hutan mangrove bisa terus dikontrol.

Tradisi tersebut membawa dampak positif bagi hutan mangrove, yaitu cukup banyak sumber daya laut yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Seperti teripang yang bisa dikonsumsi sendiri atau dijual.

5. Melakukan konservasi tradisional egek

Suku Moi Kelim punya cara untuk menjaga lingkungan, yaitu dengan melakukan ketentuan adat bernama egek. Melalui musyawarah yang dilakukan, Suku Moi Elim menetapkan zona di laut dan hutan yang dapat dimanfaatkan sumber daya alamnya dan diatur dalam hukum adat. Egek juga berlaku di laut.

Ada larangan menggunakan alat yang bisa merusak lingkungan, seperti jaring dan racun (potasium). Suku Moi Elim hanya diperbolehkan menangkap ikan dengan cara yikmen (mengail), yafan (memanah), dan yakalak (menombak). Ikan boleh dikonsumsi untuk sehari-hari, namun ada kesepakatan untuk tidak mengambil spesies yang dilindungi dan ditetapkan dalam aturan adat. Penyu di daerah Suku Moi Kelim sudah dilindungi dan tidak lagi diburu.

Apa sih EcoNusa Foundation itu?

Itulah potensi-potensi yang dimiliki oleh Papua untuk menjadi ekowisata di Indonesia. Pastinya kita bakal lebih antusias dong untuk liburan di dalam negeri, terutama Papua ketimbang di luar negeri! Untuk itu, gue mengajak para pembaca di blog ini untuk turut mendukung EcoNusa Foundation.

EcoNusa Foundation adalah organisasi non-profit yang bertujuan mengangkat pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan di Indonesia dengan memberi penguatan terhadap inisiatif-inisiatif lokal.

Untuk mengetahui tentang apa aja yang sedang dilakukan oleh EcoNusa Foundation, kalian bisa cek di econusa.id! Sekian tulisan Kak Uung tentang ekowisata di Papua, ya! Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di blog Kak Uung selanjutnya!

Sumber foto dan artikel:

Featured Image: ilustrasi dari WordPress

#BeradatJagaHutan #PapuaBerdaya #PapuaDestinasiHijau #EcoNusaXBPN #BlogCompetitionSeries