Forest Cuisine Blogger Gathering: Peran Serta Perempuan dalam Melestarikan Hutan

Beberapa waktu lalu, gue ikutan kompetisi ngeblog dengan tema Forest Cuisine Blog Competition yang diadakan oleh WALHI dan Blogger Perempuan Network. Puji Tuhan gue terpilih menjadi salah satu dari 30 finalis yang diundang ke acara Forest Cuisine Blogger Gathering yang diadakan di Almond Zucchini, Jakarta pada tanggal 29 Februari 2020 kemarin.

Apa itu WALHI dan Blogger Perempuan Network?

Gathering kali ini dipandu oleh Kak Fransiska Soraya (Ocha) sebagai MC.

Maaf fotonya blur, soalnya dia nggak bisa diem haha..

Kak Ocha pun tak lupa menjelaskan apa itu WALHI dan Blogger Perempuan Network.

 WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)

Merupakan organisasi gerakan lingkungan hidup terbesar di Indonesia. Sejak tahun 1980 sampai sekarang, WALHI secara aktif mendorong upaya-upaya penyelamatan dan pemulihan lingkungan hidup.

Blogger Perempuan Network

Adalah sebuah platform digital, di mana seluruh blogger perempuan di Indonesia bisa saling belajar, menceritakan, dan menginspirasi satu sama lain melalui konten. Komunitas ini sudah ada sejak 2015 dan berkembang pesat sampai sekarang, juga menjadi komunitas blogger terbesar di Indonesia.

Kemudian, ada games lucu-lucuan juga, lho untuk mencairkan suasana. Sayangnya, gue nggak menang. Mungkin karena belum makan banyak hahaha…

Penyerahan hadiah games ke para pemenang

Bumi tidak sedang baik-baik aja!

Sebelum berbincang-bincang lebih lanjut mengenai hutan, kami nonton dulu video pendek dari WALHI yang berjudul Kita Masih di Planet Bumi.

Lewat video pendek tersebut, kita sadar betul bahwa bumi kita sedang tidak baik-baik aja. Sampah plastik di mana-mana, polusi udara, kebakaran hutan, dan lain-lain. Sampah plastik bukan cuma bikin banjir, tapi hewan-hewan di laut dan darat jadi ikut makan plastik. Kita sebagai pengonsumsi hewan kan juga memakan hewan tersebut. Dampaknya tentu aja ke kesehatan sendiri dan keluarga.

Lalu sudahkah kalian menghentikan penggunaan fossil sebagai daya energi? Sudahkah kalian mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan produk dari sawit? Kalau gue sih sekarang ini sudah mengganti minyak kelapa sawit ke minyak yang lain, seperti minyak kelapa, canola, atau olive oil. Kalau soal plastik, jujur aja masih suka banget pakai plastik sekali pakai, karena suka lupa bawa tas belanja. Yuk, tobat bareng-bareng!

Hutan sebagai sumber pangan dan pengetahuan

Gathering kali ini dihadiri oleh empat pembicara perempuan hebat yang turut berkontribusi dalam pelestarian hutan. Ada Khalisa Khalid (Mbak Alin) selaku perwakilan dari Eksekutif Nasional WALHI, dua orang WALHI Champion (orang yang memberikan kontribusi nyata dalam melestarikan hutan di daerah asalnya), yaitu Mbak Tresna Usman Kamaruddin dan Ibu Sri Hartati. Juga ada Kak Windy Iwandi (@foodirectory) yang merupakan food blogger atau selebgram.

Kiri-kanan: Ibu Sri Hartati, Mbak Alin, Mbak Tresna, Kak Windy

Mbak Alin menjelaskan kenapa sih kita harus menjaga hutan? Padahal kita kan orang kota.

“Karena, hutan adalah sumber pangan kita. Di hutan banyak sekali tanaman yang bisa dikonsumsi langsung untuk orang sekitarnya, juga kita yang tinggal di kota. Karbohidrat bukan cuma beras, namun juga ada sagu, singkong, talas, dan lain-lain. Semuanya dari hutan, ” ujar Mbak Alin.

Mbak Alin pun menjelaskan bahwa peran perempuan itu sangat penting di dalam melestarikan hutan. Sebagai perempuan, kita juga harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

“Jangan sampai kita termakan iklan. Hidup kita dari ujung rambut sampai kaki biasanya terpengaruh iklan. Makanya kita harus bisa mengerem,” kata Mbak Alin.

Di saat kita bisa mengerem untuk membeli barang-barang yang bukan kebutuhan kita, otomatis kita nggak menambah sampah plastik dan turut menjaga kelestarian hutan.

Kebanyakan dari perempuan mengolah pangan dari pekarangan sendiri ke meja makan. Contoh sederhananya, ibu kita di rumah selalu menyediakan masakan bergizi untuk anak-anaknya. Sejak kita masih dalam kandungan pun, ibu selalu makan makanan bergizi agar kita selalu mendapatkan gizi yang terbaik dan bisa lahir dengan keadaan sehat. Semua makanan bergizi tersebut tentu aja berasal dari hutan.

Sekarang pun banyak juga kasus stunting (perlambatan pertumbuhan) pada anak-anak. Biasanya stunting terjadi karena kekurangan gizi. Bisa dibayangkan nggak sih, kalau nggak ada hutan? Berapa banyak lagi anak-anak yang akan mengalami stunting? Bahkan, bukan nggak mungkin juga bisa berpengaruh terhadap perkembangan otak anak-anak, lho.

Selain itu, hutan adalah sumber pengetahuan. Di hutan nggak hanya ada tumbuhan dan hewan, tapi juga ada adat dan kebudayaan dari warga dan sekitar. Makanya, kalau kita berwisata ke hutan, akan banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkan. Kalau hutan nggak ada, segala sumber pengetahuan tersebut akan hilang. Indonesia bisa kehilangan identitas.

Jangan lupa dukung petani lokal!

Banyak cerita tentang kisah petani lokal perempuan yang menghasilkan income dari pangan yang mereka tanam sendiri. Hasil dari hutan pun bisa dijadikan kerajinan tangan. Hingga kini, sudah beredar banyak produk dari hutan yang non-kayu.

Di dekat meja registrasi Forest Cuisine Blogger Gathering kemarin, ada beragam pangan dari hutan yang sudah dikemas menjadi produk dengan begitu rapi. Tentunya bahannya aman, sehat, dan Indonesia banget! Ada kopi bubuk, madu hutan, minyak cengkeh, daun jeruk purut, tepung gluten free, dan lain-lain. Nggak cuma ada bahan pangan, namun juga ada kerajinan tangan.

Seketika itu pula, gue langsung kagum dengan kekayaan hutan sendiri. Produk-produk itu hanya sebagian kecil dari apa yang telah dihasilkan oleh hutan kita. Kalau kalian sering ke pasar dan memasak, pasti bakal sadar betul bahwa apa yang selama ini kita belanjakan dan masak adalah bahan pangan yang berasal dari hutan.

Bahkan, rempah-rempah dari hutan yang biasa kita gunakan untuk memasak pun bisa jadi obat-obatan alami untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit. Seperti jahe, kunyit, dan temulawak yang dipercaya bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan menangkal virus berbahaya.

Bahan pangan yang telah dikemas di atas adalah hasil kerja keras WALHI dalam membantu petani lokal kita agar bisa mengelola bahan pangan dari hutan, kemudian dikemas secara ramah lingkungan dengan rapi agar bisa tahan lebih lama. Sehingga, bukan cuma warga sekitar hutan yang bisa mengonsumsinya. Kita sebagai orang kota juga bisa mengonsumsinya.

Salah satu petani lokal yang sudah terbantu dengan jasa WALHI adalah Ibu Sri Hartati, yang akrab disapa Ibu Tati. Beliau adalah WALHI Champion yang aktif di program pengelolaan hutan untuk kesejahteraan perempuan bersama WALHI Sumatera Barat dan Women Research Institute.

Ibu Tati dengan pakaian adat Sumatera Barat

Ibu Tati sebagai petani lokal mengembangkan produk olahan dari kulit buah pala menjadi sirup dan minuman segar. “Sebelum WALHI datang ke kampung kami, kami mah tahunya pala itu cuma dibuka, diambil bijinya, dijual di pasar, dibikin rendang atau sup. Tapi, setelah diberikan pengetahuan dan dikasih tantangan, akhirnya kulit buah pala bisa diolah menjadi sirup dan minuman segar. Biasanya hanya terbuang begitu aja dan jadi limbah,” curhat Ibu Tati.

Kini, olahan minuman segar dan sirup kulit buah pala Ibu Tati sudah dipasarkan di mana-mana. Bahkan, sampai di resto Padang dan hotel bintang lima, lho. Mungkin kalian pun secara nggak sadar juga pernah mencobanya.

Nah, untuk mendukung para petani lokal dan WALHI yang telah bekerja keras mengelola bahan pangan yang aman dan sehat, nggak ada salahnya lho kalau kita turut mendukung dengan membeli produk mereka. Untuk kalian yang kemarin nggak bisa membeli langsung produk tersebut, bisa langsung main ke Toko WALHI, di Jalan Tegal Parang Utara No. 14, Jakarta Selatan. Atau bisa menghubungi Lilo (0882-1330-9737).

Sedihnya, lahan hutan kita semakin menipis!

Sudah jadi rahasia umum bahwa Indonesia punya kekayaan hutan yang luar biasa dengan luas 120,601,155 hektare, menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2017.

Hingga 2017, hutan berizin yang dikelola swasta (korporasi) mencapai 40,4 juta hektare (95,76%). Hutan yang dikelola masyarakat hanya 1,7 juta hektare (4,14%).

Kebakaran hutan pun sudah sering terjadi. Luas lahan terbakar di seluruh wilayah Indonesia mencapai 857 ribu hektare dari Januari hingga September 2019 kemarin. Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya terjadi di lahan gambut, namun juga lahan mineral.

Hutan bukan cuma sekadar dinikmati keindahannya dan bisa dijadikan sebagai tempat wisata. Namun, hutan memiliki fungsi lainnya, seperti orologis (mencegah erosi), klimatologis (menjaga iklim agar kelembapan dan suhu udara tetap stabil), dan hidrologis (penyimpan air).

Ketika lahan tanaman sawit semakin banyak dan menyebabkan kebakaran hutan dan gambut, maka hutan kehilangan fungsinya. Jelas akan berpengaruh terhadap sumber pangan kita. Lebih parahnya lagi, asap tebal dari kebakaran hutan itu sendiri bakal berpengaruh kepada kesehatan manusia, terutama yang masih bayi dan balita.

“Kalau dengar soal kebakaran hutan, kami sebagai petani lokal sangat sedih. Untungnya, sekarang ada adik-adik yang ikut berjuang untuk melestarikan hutan,” ucap Ibu Tati sambil menangis.

Kebayang nggak sih sedihnya, kalau misalnya kita sudah menanam dan merawat hutan atau kebun sendiri dengan susah payah, kemudian tiba-tiba ludes terbakar. Padahal kita sudah lama menunggu panen!

Makanya, Ibu Tati pun geram terhadap pembakar hutan. “Siapa pun yang membakar hutan kita, kita akan kejar tanpa ampun!” ucap Ibu Tati geram.

Mbak Tresna selaku WALHI Champion juga sudah berjuang selama beberapa tahun terakhir ini agar pemerintah memberikan izin kepada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan Kabupaten Kolaka, Kelurahan Sakuli, Sulawesi Tenggara untuk mengelola hutannya sendiri.

“Sudah empat tahun kira-kira kami berjuang. Sekarang sudah sampai tahap pengukuran lahan untuk para pemegang izin,” imbuh Mbak Tresna. Selama ini, mereka selalu terhalang oleh birokrasi dari pemerintah, namun mereka tidak pernah menyerah.

Mbak Tresna tergerak melakukan hal itu, karena ia melihat bahwa hutan di sana punya banyak manfaat. Di sana juga banyak pemuda yang punya semangat untuk menjadi petani lokal, namun mereka nggak punya lahan.

Mbak Tresna juga memberikan edukasi kepada ibu-ibu di sana untuk menjaga bumi. “Saya mengedukasi mereka untuk mengolah sampah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sehingga, hal itu juga bisa jadi sumber penghasilan bagi mereka. Ke depannya, kami juga mengajak orang-orang di sana untuk menanam pohon dengan kearifan lokal, salah satunya pohon sagu.”

Pohon sagu adalah pohon yang sudah mulai langka di Kelurahan Sakuli. Padahal manfaatnya sangat luar biasa. Salah satunya bisa menjadi pengganti beras dan bisa diolah menjadi papeda.

Makanan dari hutan bisa menyembuhkan penyakit

Aneka pangan dari hutan yang kita konsumsi selama ini bukan hanya memberikan rasa kenyang sehingga kita bisa bertahan hidup. Namun, juga bisa menyehatkan dan menyembuhkan aneka penyakit.

Mbak Tresna pun sudah mengalaminya sendiri. “Saya adalah cancer survivor dari tahun 2012. Berkat alam Indonesia, saya masih bisa berdiri sekarang di depan ibu-ibu. Saya mendapatkan kesembuhan ketika saya lebih sering berada di daerah. Di mana saya banyak berkomunikasi dengan alam, tumbuhan, dan mengonsumsi makanan dari tanaman yang saya tanam sendiri.”

Itulah mengapa Mbak Tresna mengajak kita untuk menjaga kelestarian hutan. Karena, dampaknya bukan hanya untuk orang daerah, namun juga untuk kita yang tinggal di kota.

“Di kota memang banyak makanan sehat dan sering kita lihat, tapi kalau makanan yang diambil langsung dari hutan, pastinya lebih fresh dan bagus untuk kesehatan. Apa yang kita makan langsung dari hutan memang bisa membuat kita lebih sehat, lho,” tambah Kak Windy.

Perempuan kota juga bisa berperan untuk kelestarian hutan

Sebagai orang kota, Kak Windy sangat terharu dengan perjuangan Mbak Alin, Mbak Tresna, dan Ibu Tati dalam menjaga kelestarian hutan. “Aku sangat berterima kasih kepada perempuan-perempuan hebat ini. Tadi pas Ibu Tati nangis pun, rasanya jadi pengin ikutan nangis. Meski aku orang kota, tapi aku juga sadar akan pentingnya hutan,” imbuh Kak Windy.

Ternyata, Kak Windy juga merupakan penggemar sagu, lho! “Soalnya sagu itu bisa dibikin macam-macam, kayak kue sagu sampai papeda. Dulu aku pernah liburan ke Sulawesi makan papeda pakai kuah dan enak banget!”

Sebagai food blogger, bukan berarti Kak Windy bisa bebas makan apa aja tanpa memerhatikan lingkungan. Hal kecil yang ia lakukan adalah mengurangi makan daging.

“Madu itu kan dari hutan dan banyak manfaatnya, namun aku nggak terlalu sering konsumsi. Soalnya itu kan dari hewan lebah dan aku memang cinta banget sama binatang.”

Kak Windy juga suka banget wisata ke hutan. Hutan yang pernah ia kunjungi adalah Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. “Herannya, di sana itu masa lebih banyak orang Eropa ketimbang orang Indonesia, lho. Padahal di sana asyik banget! Tiba-tiba ada duren jatuh, langsung bisa dibelah dan dimakan! Minum air langsung dari sungai pun nggak sakit perut.”

Makanya Kak Windy ingin mengajak kita agar mencintai wisata hutan di Indonesia. Ke depannya, Kak Windy akan lebih sering wisata ke hutan sekaligus mempromosikan keindahan hutan Indonesia. Ia juga ingin mengingatkan ke orang-orang agar tidak merusak hutan, karena lahan hutan kita sudah semakin menipis.

Masak ala vegetarian dengan bahan dari hutan

Setelah kelar ngobrol-ngobrol sama perempuan-perempuan hebat, kami juga menerima cooking class dari chef William Gozali (@willgoz). Gue sudah follow doi cukup lama di Instagram dan tahu bahwa Willgoz memang lagi mengurangi makan daging karena alasan kesehatan sekaligus ingin menjaga bumi agar tetap lestari. Jadi, gue bisa nebak kalau cooking classnya pasti nggak pakai daging. Eh, ternyata benar dong!

Kenapa sih mengurangi makan daging bisa menyelamatkan bumi? Soalnya, peternakan merupakan salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim. Kentut sapi mengandung gas metana yang menimbulkan ancaman sebesar tiga kali lipat, sehingga berbahaya bagi atmosfer bumi.

Peternakan membutuhkan butuh lahan besar, sehingga banyak pohon ditebang. Padahal pohon berguna untuk menyerap karbon. Selain itu peternakan juga membutuhkan banyak air untuk jatah minum para sapi.

Oke, balik lagi ke menu yang bakal dimasak, yaitu Fettuccine Mushroom Ragu. Karena vegetarian dan nggak pakai daging sapi, jadi kaldunya diambil dari daun bawang dan kucai. Jamur shitake dan champignonnya dijadikan pengganti daging (sumber protein). Juga ada tambahan krim dan keju parmesannya. Yummy!

Beberapa bahannya tentunya berasal dari hutan. Seperti daun bawang, kucai, dan jamur. Selama ini cuma pakai daun bawang jadi garnish hahaha… Ternyata bisa jadi kaldu untuk para vegetarian!

Kira-kira ini porsi bahannya

Fettuccine Mushroom Ragu

Bahan (tiru porsinya seperti di gambar aja atau sesuai keikhlasan):

  1. Pasta fettuccine
  2. Cooking cream
  3. Unsalted butter
  4. Jamur shitake dan champignon (iris-iris)
  5. Minyak sayur (canola, olive oil, kelapa, dan lain-lain)
  6. Daun bawang dan kucai (iris halus)
  7. Keju parmesan
  8. 2 siung bawang putih (iris halus)
  9. Garam dan lada hitam

Cara memasak:

  1. Di panci agak tinggi, isi air setengah panci dan rebus sampai mendidih. Masukkan pasta fettuccine dan 1 sendok teh garam. Nggak perlu dikasih minyak. Hanya perlu diaduk agar tidak lengket. Rebus sampai aldente.
  2. Sambil menunggu rebusan kelar, tuang minyak di atas pan atau teflon lalu tumis daun bawang dan kucai yang sudah diiris halus sampai harum dan kecokelatan. Lalu angkat dan sisihkan di piring.
  3. Masih di pan yang sama, tuang butter lalu tumis jamur sampai layu, kering, dan kecokelatan. Lalu beri sejumput garam dan lada hitam. Tuang tumisan daun bawang dan kucai lalu tuang sedikit air rebusan pasta dan irisan bawang putih. Aduk rata.
  4. Tuang cooking cream dan aduk rata. Tambahkan air rebusan pasta kalau terlalu kering. Lalu masukkan pasta, keju parmesan, aduk rata dan masak sebentar aja. Jangan lupa tes rasanya. Sajikan.

Seru banget pas masak, karena kami terbagi atas enam kelompok dan gue dapat kelompok nomor empat!

Inilah hasil masakan kelompok kami

Nomor kelompok boleh sial karena dapat urutan 4! Tapi, masakan kami dibilang paling enak dong ketimbang kelompok lain! Bahkan, Willgoz bilang rasanya lebih enak ketimbang masakan dia hahaha… Nggak dapat hadiah apa-apa sih, tapi senangnya bukan main karena dipuji sama panutan. Habis kelar dari acara ini pun gue berjanji untuk memperbanyak makan sayur dan mengurangi daging.

Besoknya, tentu langsung praktek bikin camilan sehat pakai jamur tiram. Minyaknya tetap pakai minyak kelapa, dong!

Tak lupa setelah selesai sesi masak ada sesi foto bersama dan masih di ruangan kitchen.

Di penghujung acara tidak lupa ada bagi-bagi hadiah untuk tukang post terbaik di Instagram feed. Sayangnya gue nggak menang karena belum sempat posting. Hahaha… Maklum sibuk aduk fettuccine juga kan!

Gimana teman-teman, seru banget kan acaranya? Akhir kata Kak Uung mengucapkan udahan dulu, ya! Nantikan blog selanjutnya hihi…. Untuk ringkasan acara, bisa kalian lihat juga di video berikut ini. Terima kasih!

Oya, kalian juga bisa menjadi bagian dari WALHI dengan cara berdonasi, lho. Yuk, langsung aja kunjungi website walhi.or.id! Jangan lupa untuk terus jaga rimba terakhir kita, ya!