FacebookTwitter

Jelajah Gizi Semarang Day 2: Icip-icip, Borong Oleh-oleh, Hingga Wisata Sejarah

By on Apr 27, 2018 in Diary, Food Porn

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Sebelumnya, Kak Uung mau tanya, kalian sudah baca blog Jelajah Gizi Semarang Day 1? Kalau belum monggo dibaca dulu supaya bisa ikutin ceritanya dengan lebih terarah. Kalau nggak mau juga tidak apa-apa. Di Jelajah Gizi Semarang #Jelajah Gizi #JelajahGiziSemarang hari kedua (21 April 2018) bareng Nutricia Sarihusada (@nutrisibangsa), kami punya agenda yang lebih sibuk ketimbang sehari sebelumnya.

Meskipun gue masih pengin banget tidur, tapi kami sudah harus menuju ke Sentra Bandeng Presto di Tambakrejo. Di sana kami bakal melihat langsung bagaimana ikan bandeng diolah dan dipresto. Perjalanannya sedikit lebih jauh ketimbang perjalanan-perjalanan sebelumnya, jadi masih bisa tidur ayam-ayam di bus. Meskipun agak jauh, tapi kondisi lalu lintas di Semarang selalu lancar jaya, jadi berasanya cepat-cepat aja.

Jreng! Tiba-tiba sudah sampai di tempat tujuan.

Di sanalah kita bisa melihat seperti apa sih usaha bandeng presto rumahan yang telah dibangun oleh seorang pengusaha perempuan bernama Ibu Darmono.

Usaha bandeng sudah dilakukan oleh Ibu Darmono pada tahun 1980. Dengan bermodalkan semangat, Ibu Darmono mampu menciptakan bandeng presto yang bernilai ekonomis tinggi. Ibu Darmono mengajak ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya untuk membuat usaha bandeng presto. Kemudian usaha tersebut diberi nama Kelompok Usaha Dagang Mina Makmur. Awalnya bernama Kelompok Wanita Tani Nelayan.

Sudah banyak jatuh bangun yang dialami oleh Ibu Darmono. Bahkan dulunya beliau pernah jualan bandeng presto keliling dan sering tidak laku. Kini, usaha bandeng prestonya nggak hanya terkenal di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Ibu Darmono pun suka sering menjadi pembicara di acara seminar.

Tuh lihat, banyak banget kan piala dan penghargaan yang sudah diraih oleh Sentra Bandeng Presto? Meskipun sudah sering meraih kesuksesan, namun Ibu Darmono nggak cuma santai-santai di kesehariannya, tapi beliau juga tetap turun langsung untuk memproduksi bandeng. Terutama kalau menghadapi hari raya, pemesanan bandeng presto bisa sangat banyak! Jadi, tidak jarang Ibu Darmono cuma tidur empat jam dalam sehari.

Gue jadi merasa tertampar, karena kalau gue kurang tidur sedikit aja, bawaannya pengin makan orang. Sedangkan Ibu Darmono terlihat tidak pernah stres. Luar biasa, ya! Benar-benar Kartini zaman now!

Ngomong-ngomong soal gizi ikan, terutama ikan bandeng, Profesor Ahmad Sulaeman pun turut menjelaskan mengenai hal itu.

Ikan bandeng memiliki banyak manfaat yang baik untuk kesehatan. Karena, proteinnya tinggi sehingga bisa membantu membentuk massa otot, memperkuat tubuh, dan mengikat lemak. Ikan bandeng tinggi akan kalsium dan fosfor yang bermanfaat untuk menguatkan tulang dan gigi, juga mencegah osteoporosis. Ikan bandeng juga bisa mencegah anemia karena zat besinya tinggi. Sedangkan, vitamin A pada ikan bandeng mampu untuk menjaga kesehatan mata dan menjaga daya tahan tubuh.

Dan yang paling penting adalah kandungan omega 3 ikan bandeng yang ternyata jauh lebih tinggi ketimbang ikan salmon. Omega 3 bermanfaat untuk perkembangan fungsi kognitif dan menjaga kesehatan janin ibu hamil. Oh ya, Prof Ahmad juga menekankan pentingnya mengonsumsi segala jenis ikan saat masa kehamilan dan menyusui, karena orang yang banyak makan ikan terbukti nggak mudah depresi.

Belakangan ini, kita mendengar berita tentang cacing pada ikan makarel atau sarden yang mengandung cacing. Tapi, jangan takut untuk mengonsumsi bandeng presto, ya! Karena Ibu Darmono menjamin bahwa tidak ada cacing pada ikan bandeng, apalagi proses pengolahannya juga sudah tepat.

Noraknya, gue baru tahu kalau bandeng selain bisa dijadiin presto, juga bisa dipepes atau dijadikan otak-otak.

Dok. Nutrisi Bangsa

Kami juga dikasih icip-icip gratis sama Sentra Bandeng Presto. Semuanya enak!

Juga dikasih lihat proses pembuatan bandeng presto langsung oleh Ibu Darmono. Bumbu-bumbu yang dipakai lengkap banget dan yang paling penting adalah jenis garam yang digunakan. Harus garam putih beryodium yang teksturnya kasar itu.

Ibu Darmono juga mengajarkan kepada kami cara membedakan ikan yang pakai formalin dan ikan yang tidak pakai formalin. ikan di sini maksudnya ikan yang belum dimasak atau diapa-apain.

“Kalau ikan yang pakai formalin, teksturnya kaku dan agak keras. Kalau yang nggak pakai formalin, lebih lentur,” katanya.

Proses pembuatan bandeng presto terlihat mudah, seperti memarinasi ikan pada umumnya dengan bumbu-bumbu, namun nggak semudah yang dibayangkan, karena semuanya harus dilakukan dengan SOP yang tepat. Alat-alat yang digunakan juga tidak ditemukan di rumah. Jadi, mendingan beli aja, deh! Hahaha…

Yang membuat gue takjub adalah banyaknya garam putih yang digunakan untuk membuat bandeng presto. Ya iya sih, biar awet memang harus pakai banyak garam supaya bandengnya bisa tahan selama beberapa hari di suhu ruang. Tapi, apakah aman untuk ortu kita yang punya tekanan darah tinggi?

Gue pun sempat bertanya ke Prof Ahmad soal hal ini. Menurut beliau asupan garam memang harus diperhatikan supaya tidak berlebihan. Begitu pula dengan makan bandeng presto. Boleh aja dimakan asal tidak berlebihan. Menurut beliau, sebaiknya usaha bandeng presto membuat dua kategori untuk jualannya, yaitu bandeng presto dengan kadar garam tinggi dan yang kadar garamnya tidak terlalu tinggi.

Foto: Dok. Nutrisi Bangsa

Setelah dibumbui, ikan bandeng pun dikukus hingga matang dan empuk.

Kalau Itu pas sudah matang dan diangin-anginkan.

Dan tidak lupa dikemas.

Sudah tahu dong nikmatnya bandeng presto dan kawan-kawannya? Tentu aja kami tidak lupa belanja bandeng presto untuk diri sendiri atau dijadikan oleh-oleh.

Yang bikin bahagia adalah harganya murah meriah! Suwer lebih murah dua kali lipatnya dibandingkan tempat lain. Nih, gue kasih lihat daftar harganya. Untuk yang beli untuk dibawa ke Jakarta dan dijadikan oleh-oleh, beli aja bandeng yang vacum. Lumayan bisa tahan hampir semingguan dalam kulkas. Pas pulang tinggal digoreng atau kukus.

Kunjungan pun tidak lupa diakhiri dengan berfoto bersama Ibu Darmono.

Setelah kunjungan di Sentra Bandeng Presto selesai, kami pun menuju Gang Lombok yang merupakan kawasan Pecinan di Semarang. Tentu aja tujuan utamanya adalah untuk icip-icip Lumpia Rebung yang merupakan makanan kebanggaan Semarang.

Selama ini sih gue selalu kedapatan Lumpia Semarang yang rasanya cucok meyong, tapi untuk sebagian orang suka trauma dengan Lumpia Semarang, karena rebungnya bau pesing. Tapi, katanya sih Lumpia Gang Lombok ini sudah pasti enak dan nggak bau pesing. Terbukti dari kedai mereka yang selalu ramai dan kerap didatangi wisatawan yang ingin menjadikan lumpia sebagai oleh-oleh. Ehm, bisa jadi teman-teman yang bawain gue Lumpia Semarang memang beli di Gang Lombok ini, ya.

Lumpia Gang Lombok tepatnya berada di jalan Gang Lombok No. 11, Purwodinatan, Semarang Tengah. Nah, di sebelahnya itu juga ada kedai yang jualan Moaci Gemini. Ya udah deh, sekalian aja beli moaci di sana. Soalnya, kata orang-orang, moaci di Semarang juga kudu diborong.

Pastinya harganya lebih murah ketimbang di tempat lain.

Yang gue beli sih tipe original kayak begini. Enak banget, empuk, isi kacangnya banyak bingit.

Kalau lumpianya nggak langsung gue beli di hari itu. Soalnya pulang ke Jakarta kan masih esok harinya. Jadi, mendingan pesan dulu sama panitia dan diterima pas sudah di bandara. Kalau pengin dibawa pulang ke Jakarta atau tempat kamu tinggal, mendingan pesan yang basah aja. Nanti di rumah tinggal digoreng atau oseng-oseng pakai teflon.

Serunya menghabiskan waktu di Gang Lombok adalah kami nggak cuma icip lumpia atau borong moaci. Tapi, kita juga bakal dengerin curhatan Pak Untung sebagai owner Lumpia Gang Lombok dan ada lomba gulung kulit lumpia, lho!

Pak Untung adalah owner generasi keempat Lumpia Gang Lombok. Usaha lumpia yang dilakukan keluarganya sudah berjalan selama ratusan tahun, lho.

“Iya, dimulai dari neneknya Papi,” ujar Pak Untung.

Oh ya, mungkin kalian salah fokus dengan kelenteng yang jadi background foto. Itu adalah Kelenteng Tay Kak Sie yang terkenal di Gang Lombok.

Oke lanjut bahas lumpia. Kalau biasanya Lumpia Rebung yang dijual di tempat lain berbau pesing, tidak begitu dengan Lumpia Gang Lombok. Gue pun sudah cobain lumpianya dan bau pesingnya memang tidak menyengat. Bau khas rebungnya memang masih ada, tapi aroma pesingnya hampir hilang ketimbang yang dijual di tempat lain. Selama di Semarang gue sering melihat banyak banget pedagang Lumpia Rebung, tapi aroma pesingnya sungguh bikin mual dan niat untuk beli pun batal seketika.

Pak Untung punya cara sendiri untuk memasak rebung agar bau pesingnya tidak menyengat. Rebung yang dibuat mereka pun semakin pas rasanya karena dimasak dengan telur dan udang yang juga menjadi isi lumpia. Nggak heran kalau kedai lumpia ini bisa bertahan selama ratusan tahun. Soalnya, keluarga ini benar-benar memasak dan berjualan dengan hati. Padahal, mereka jualan nggak pakai bantuan media sosial seperti rumah makan zaman now.

“Jualan dari mulut ke mulut aja. Pelanggan pun datang dengan sendirinya. Sampai saat ini pun kami nggak buka cabang atau franchise,” timpal Pak Untung.

Setelah asyik ngobrol panjang dengan Pak Untung, kami pun ditantang untuk ikutan lomba gulung kulit lumpia. Jadi, dari setiap tim, harus ada satu perwakilan yang menggulung lumpia. Sebenarnya gue nggak tega kalau harus gue yang gulung, tapi gue penasaran banget gimana sih sensasi menggulung lumpia buru-buru? Hahaha…

Apalagi pas lihat Pak Untung demoin, kok kayaknya gampang banget! Ya udah, hajar deh!

Tapi, pas dijalanin, clueless kayak butiran debu yang nggak tahu jalan pulang. Hiks. Lumpia pun jadi gendut-gendut kayak balita sehat. Pastinya kalah telak dari @junjoewinanto yang merupakan juara lomba masak makanan Thailand dan sehari-harinya jualan risoles. Hahaha…

Sedih, tapi setidaknya gue sudah berani untuk mencoba gulung kulit lumpia. Untuk mengobati kesedihan, untungnya kami disuguhkan Lumpia Gang Lombok yang enaknya luar binasa.

Dok. Nutrisi Bangsa

Kabar gembiranya lagi, masing-masing dari kami mendapatkan delapan Lumpia Gang Lombok dari Nutricia Sarihusada! Terima kasih, ya!

Sebagai profesor yang diundang untuk bicara soal gizi dari setiap makanan yang kami makan, Prof Ahmad pun menjelaskan tentang kandungan gizi rebung untuk kesehatan. Rebung merupakan sayuran yang kaya akan serat, jadi bermanfaat untuk menjaga kesehatan pencernaan. Rebung juga bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol jahat, mencegah penyakit jantung, menjaga kesehatan kulit, mencegah anemia, dan mencegah diabetes. Semakin lengkap gizi lumpia karena ada udang dan telur yang menjadi sumber protein.

Di akhir acara, kami pun tidak lupa untuk foto bareng dengan Pak Untung.

Karena Pak Untung orangnya sangat ramah, baik, dan memiliki usaha kuliner yang sukses, tentu aja beliau banyak fans-nya. Dan banyak juga, lho yang modus pengin diangkat jadi menantunya. Hihihi…

Kalau sudah menginjakkan kaki di Semarang, sudah pasti perut gampang lapar. Padahal tadi pagi sudah sarapan sampai nambah berkali-kali di hotel, icip-icip bandeng presto, makan es duren yang lupa difoto, juga lumpia. Tapi, perut tetap keroncongan dong. Untungnya kami langsung cabut ke Soto Bangkong (jalan Brigjen Katamso No. 1).

Punya teman yang dikatain kayak bangkong? Itu karena mukanya dibilang mirip kodok bangkong. Nah, gue pikir Soto Bangkong itu terbuat dari daging kodok. Tapi ternyata anggapan gue salah besar, Kakak-kakak! Nama Bangkong diambil dari nama tempat saat kedai soto ini didirikan, yaitu di perempatan Bangkong, Semarang.

Isi Soto Bangkong sendiri terdiri dari suwiran daging ayam, irisan tomat, bihun, tauge, daun bawang, taburan bawang putih dan bawang merah. Kuahnya agak keruh kecokelatan karena pengaruh bawang putih dan kecap asin yang diproduksi sendiri.

Biasanya, Soto Bangkong disantap dengan nasi hangat, sate tempe, perkedel, usus, kerang, dan lain-lain.

Kesan pertama waktu lihat Soto Bangkong adalah mirip Soto Kudus. Bedanya, kalau Soto Kudus, nasinya dicampur dengan sotonya. Pas nasinya dipisah dari soto, rasanya malah amburadul. Itu ajaibnya.

Nah, kalau Soto Bangkong ini, nasinya memang disajikan terpisah dari soto. Gue pikir bakal amburadul juga rasanya, ternyata malah enak luar biasa! Kuahnya sedap banget karena menggunakan kaldu dari daging ayam kampung. Suwiran ayam kampungnya juga banyak. Makin sedap makannya kalau dijodohin sama makanan pendamping kesukaan kalian, kayak sate tempe, perkedel, usus, atau kerang.

Buat sebagian orang, kuah Soto Bangkok terasa kurang asin di lidah. Jadi bebas-bebas aja kalau misalnya kalian mau nambahin garam ke dalamnya. Tapi, di lidah gue terasa pas-pas aja sih. Mungkin karena gue jarang makan MSG atau garam terlalu banyak. Yup, gue memang tidak ingin merusak lidah perasa gue dengan kedua jenis penyedap tersebut, supaya bisa menikmati makanan apa pun. Prof Ahmad pun bilang kalau kita menambahkan garam pada Soto Bangkong, nikmatnya kaldu ayam sudah pasti akan berkurang.

Prof Ahmad juga menjelaskan kandungan gizi pada daging ayam kampung pada Soto Bangkong. Tentu aja kualitas ayam kampung jauh lebih baik daripada ayam negeri, karena ayam kampung nggak mengandung suntikan hormon, antibiotik, dan pestisida. Sehingga, dagingnya lebih lembut dan enak, begitu pula dengan kaldunya. Lemaknya lebih sedikit dan kualitas proteinnya lebih baik.

Makan soto dengan nasi terpisah juga bisa memudahkan kita untuk mengontrol nafsu makan agar tidak berlebihan. Jadi, kita pun terbiasa untuk mengambil nasi secukupnya sesuai kebutuhan dan tidak buang-buang makanan. Selain protein, di Soto Bangkong kita juga bisa mendapatkan asupan protein dari sate tempe dan kerang. Sedangkan karbohidratnya dari bihun dan nasi. Menurut Prof Ahmad, kekurangan Soto Bangkong cuma satu, yaitu kurang sayuran yang berfungsi sebagai penambah serat. 

Soto Bangkong bisa bertahan selama puluhan tahun tentu aja nggak lepas dari peran Bapak Joko Bennyanto yang akrab disapa Benny. Soto Bangkong ini awalnya diracik oleh Pak Karno, ayah dari Pak Benny yang merantau dari Solo.

Usaha yang dimulai dari orangtua tersebut, tidak langsung berjalan mulus. Karena, awalnya dagangan ini dimulai dari pikulan, bukan rumah makan seperti sekarang. Sehabis berjualan soto, saking susahnya, orangtua Pak Benny juga mengemis dan narik becak.

Pak Benny juga belajar dari teladan orangtuanya yang sangat memerhatikan kesejahteraan pegawai sendiri. Setiap pegawai yang bekerja diberi ilmu mengenai bisnis soto. Jika mereka ingin resign, Pak Benny selalu mengingatkan agar pegawai itu tidak jadi pegawai lagi, melainkan membuka bisnis soto sendiri. Tidak masalah jika ingin menggunakan resep mereka asalkan tidak menggunakan nama Soto Bangkong.

Cerita Pak Benny sangat inspiratif menurut gue. Karena, jarang banget ada bos kayak begini. Nggak heran kalau berkatnya selalu banyak dan usahanya lancar terus, soalnya beliau tidak pelit berbagi ilmu.

Pertemuan manis bersama Pak Benny pun diakhiri dengan foto bersama di depan Soto Bangkong.

Perjalanan selanjutnya bukanlah ke tempat makan, melainkan ke tempat bersejarah di Semarang, yaitu Lawang Sewu. Pas sampai ke sana, muka gue agak pucat gimana gitu. Gue pikir karena gue melihat sesuatu, tapi bukan tuh. Soalnya, gue kebelet banget pengin boker. Huahahah…

Dok. Nutrisi Bangsa

Bibir berusaha tersenyum, tapi dalam hati cemas, karena sudah kebelet. Hiks.

Untungnya, cari toilet di sana gampang banget. Toiletnya pun lumayan bersih untuk ukuran museum. Hayati pun bisa jalan-jalan di Lawang Sewu dengan lega. Dan tidak seperti yang dikatakan kebanyakan orang. Lawang Sewu tidak ada seram-seramnya. Kalau menurut gue, ya. Malahan tim Jelajah Gizi Semarang foto-foto di sana dengan ceria.

Lawang Sewu memang sudah mengalami pemugaran sejak masa pemerintahan SBY sebagai presiden agar tempat ini jauh dari kesan seram. Makanya sejak itu, Lawang Sewu pun dijadikan sebagai tempat wisata bersejarah, bahkan dijadikan untuk lokasi foto pre-wedding dan perayaan berbagai acara.

Abis tempatnya gede banget, Kak!

Mungkin sebagian dari kalian cuma tahu bahwa Lawang Sewu adalah tempat berhantu, tapi nggak tahu gimana sejarahnya. Nah, Kak Uung jelasin singkat aja, ya!

Sejarah Lawang Sewu nggak lepas dari sejarah perkeretaapian di indonesia karena dibangun sebagai Het Hoofdkantoor Van de Nederlandsch – Indische Spoorweg Maatscappij (NIS), yaitu perusahaan kereta api swasta di masa pemerintahan Hindia Belanda yang pertama kali membangun jalur kereta api di Indonesia dan menghubungkan Semarang dengan “Vorstenlanden” (Surakarta dan Yogyakarta), dengan jalur pertamanya, jalur Semarang Temanggung 1867.

Awalnya, administrasi NIS diselenggarakan di Stasiun Semarang NIS. Pertumbuhan jaringan yang pesat diikuti bertambahnya kebutuhan ruang kerja, sehingga diputuskan membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh pada lahan di pinggir kota dekat kediaman Residen Hindia Belanda, di ujung selatan Bodjongweg Semarang. Direksi NIS menyerahkan perencanaan gedung ini kepada Prof Jacob F Klinkhamer dan B.J Ouendag, arsitek dari Amsterdam Belanda.

Pelaksanaan pambangunan dimulai 27 Februari 1904 dan selesai tahun 1907. Kondisi tanah di jalan harus mengalami perbaikan terlebih dahulu dengan penggalian sedalam 4 meter dan diganti dengan lapisan vulkanis. Bangunan pertama yang dikerjakan adalah rumah penjaga dan bangunan percetakan, dilanjutkan dengan bangunan utama. Setelah dipergunakan beberapa tahun, perluasan kantor dilaksanakan dengan membuat bangunan tambahan pada tahun 1916 – 1918.

Penduduk Semarang memberi nama gedung ini Lawang Sewu karena mengacu pada pintu-pintunya yang sangat banyak. Hal ini juga nggak lepas dari usaha para arsiteknya untuk membangun gedung kantor modern yang sesuai dengan iklim tropis Semarang. Semua bahan bangunan didatangkan dari Eropa, kecuali batu bata, batu alam, dan kayu jati. Nggak heran jika berada di sana, kalian akan merasakan arsitektur gaya Belanda.

Dari Lawang Sewu ke hotel Rooms Inc (tempat kami menginap) bisa dijangkau dengan jalan kaki selama beberapa menit aja. Strategis banget kan hotelnya! Kalau beruntung, jendela kamar kalian bisa langsung menghadap Lawang Sewu. Hihihi…

Akhirnya, kami langsung menuju ke Rooms Inc untuk mandi dan istirahat. Dan di malam harinya, kami makan malam di hotel sekaligus ikutan acara Awarding Night dari Nutricia Sarihusada. Acara apaan tuh, Kak?

Acara seru-seruan gitu deh, ada ngobrol-ngobrol, main games, sampai bagi-bagi hadiah untuk tim pemenang. Tim gue sih nggak menang, tapi nggak masalah kok. Yang penting bisa senang-senang di Jelajah Gizi Semarang. Mungkin karena terlalu fokus ikutin acara, jadinya nggak menang. Hahaha…

Oh ya, dari awal gue lupa kenalin soal influencer yang diundang di Jelajah Gizi Semarang, yaitu @daddykuliner.

Gue tahu doi ya tentu aja sejak ikutan kuis dari Nutricia Sarihusada kemarin. Dan sudah beberapa kali nonton vlognya di YouTube. Nggak tahu kenapa kalau lihat dia makan, bawaannya laper. Kalau biasanya food vlogger lebih banyak review makanan di resto, @daddykuliner ini lebih suka review makanan di pinggir jalan. Sudah banyak makanan pinggir jalan yang terangkat namanya gara-gara review dia di vlog, lho!

Itulah cerita di hari kedua saat Kak Uung melakukan eksplorasi pangan di Semarang bareng Nutricia Sarihusada. Capek banget karena jadwal full seharian, tapi senang karena banyak ilmu soal gizi dan kuliner yang kami dapatkan. Pengin tahu cerita di hari ketiga? Ditunggu, ya, blognya! Hahaha…

Berikut video ringkasan kegiatan Jelajah Gizi Semarang di hari kedua.

#jelajahgizisemarang Hari kedua mengunjungi sentra penghasil bandeng presto, dimana kami belajar tentang bagaimana industri bandeng di kota ini, bagaimana ciri bandeng segar serta bagaimana cara pengolahannya. Bandeng presto memiliki kandungan protein, asam lemak EPA DHA, kalsium, fosfor, vitamin C dan karoten. Kandungan EPA DHA itulah yang menurunkan risiko depresi pada ibu hamil. . . #jelajahgizisemarang #OnePlanetOneHealth

A post shared by Nutrisi untuk Bangsa (@nutrisibangsa) on

Baca juga, ya!

Jelajah Gizi Semarang Day 1: Kuliah Gizi dan Icip-icip Asyik Jelajah Gizi Semarang Day 3: Main ke Kampung Kopi dan Wisata Religi
 

 

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy