FacebookTwitter

Jelajah Gizi Semarang Day 1: Kuliah Gizi dan Icip-icip Asyik

By on Apr 26, 2018 in Diary, Food Porn

Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Curhaaattt, Maaa!

Iya, dong!

Sebelumnya izinkan Kak Uung curhat sedikit di blog ini. Jadi, beberapa waktu lalu, Kak Faya Soewardi mention gue di akun Instagram @nutrisibangsa (Nutricia Sarihusada) supaya gue ikutan kuis #JelajahGizi #JelajahGiziSemarang 2018, di mana pemenangnya bisa ikutan untuk mengeksplorasi pangan berkelanjutan di Kota Semarang selama 3 hari 2 malam dari 20-22 April 2018. Gue tahu banget kenapa kak Faya suruh gue ikutan. Karena, kuisnya memang tidak jauh dari dunia dapur dan dia tahu banget gue hobi berantakin dapur.

Jelajah Gizi ke-6 kini hadir lagi, dan @nutrisibangsa mencari 10 Orang Petualang Jelajah Gizi untuk mengikuti 3Hari 2Malam “Ekplorasi Pangan Berkelanjutan di Kota Semarang”. Bagaimana cara ikutannya? Simak mekanismenya berikut: 1. Follow akun media sosial Instagram @nutrisibangsa dan Twitter @nutrisi_bangsa, serta Facebook Fanpage Nutrisi Untuk Bangsa. 2. Mengunggah foto masakan dengan tema “Makanan Sehat dari Bahan Sekitar” ke Instagram dengan caption yang menarik dengan menyertakan resep dan cara memasak. 3. Tag akun Instagram @nutrisibangsa dan sertakan hashtag #JelajahGizi #JelajahGiziSemarang, jangan lupa tag 3 teman lainnya. 4. Informasi lebih lanjut klik http://jelajahgizi.id

A post shared by Nutrisi untuk Bangsa (@nutrisibangsa) on

Wah, menarique nih. Soalnya, kita bisa jalan-jalan dan kulineran di Semarang gratis! Tapi, gue cuma saved terus gue hampir lupa ikutan. Alhasil waktu submit foto dan caption cuma tinggal tiga hari. Ya, udah deh langsung keluarin aksi kebut semalam kayak anak kuliahan menghadapi UAS. Dan nggak nyangka, ternyata malah terpilih menjadi 1 dari 10 orang yang dikirim ke Semarang! Hore! Padahal, waktu itu gue nggak berharap terlalu banyak, karena masih trauma dengan sebagian kuis. Hahaha…

Okelah langsung aja ke inti permasalahannya. Di antara 9 pemenang tersebut hampir tak gue kenal semua. Waktu kumpul di Bandara Soekarno Hatta sempat kenalan sama beberapa, sih. Yang gue benar-benar kenal cuma satu, yaitu kak @rockadocta (Diana Leiwakabessy) yang merupakan teman lawas sewaktu dulu masih jadi wartawan. Waktu ikutan kuis dari Nutricia Sarihusada kemarin itu, gue juga mention dan tag Kak Diana supaya dia ikutan.

Meskipun mukanya ganteng kayak anak band dan body-nya gagah kayak atlet renang, tapi dalamnya perempuan sekali. Karena dia gemar memasak, sudah jadi istri dari Kang Mas Sipit, dan yang paling penting mulutnya julid kayak ibu-ibu yang suka nyelak di minimarket. Pokoknya senang banget, deh, bisa ketemu teman lama, ikutan kuis bareng, terus menang bareng. Semoga aja ke depannya sering kayak begini, ya!

Sumber foto: Twitter @rockadocta

Itulah gue dan Kak Diana yang baru aja touchdown di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Muka nggak santai soalnya masih ngantuk, tapi tetap antusias dong!

Dok. Nutrisi Bangsa

Kalau itu, foto bareng dengan para pemenang dan media yang meliput di dekat baggage claim. Setelah itu kami naik bus menuju ke Rumah Makan Semarang (Semarang Heritage Cuisine) di jalan S. Parman no. 47ASemarang 50231. Selama di bus, gue pengin banget tidur, tapi sayang banget kalau nggak memerhatikan jalanan sekitar. Suasananya cukup tenang dan sama sekali nggak macet. Meskipun cuacanya panas, tapi kayaknya bahagia, ya, kalau tinggal di kota ini. Begitu pikir gue. 

Yak, baru jalan sebentar perasaan, tapi kok sudah sampai aja di Rumah Makan Semarang! Kandas sudah keinginan untuk tidur sebentar di bus.

Gue mau review dulu suasana di dalamnya. Kota Semarang sudah semakin modern dan banyak gedung cukup tinggi, megah, dan kekinian bertebaran di mana-mana, namun Rumah Makan Semarang tetap mempertahankan sisi vintage yang mereka miliki. Ketika masuk ke dalamnya, kalian akan tahu sisi tempo dulu Kota Semarang. Apalagi, resto ini sudah dibuka pada tahun 1990.

Ruangan di sana terbagi atas dua, yaitu indoor dan outdoor. Di ruangan indoor terdapat banyak foto lama dan koleksi yang sudah kuno, sedangkan ruangan outdoor-nya ada di halaman belakang yang berkonsep seperti resto kebun.

Waktu gue sama Kak @deena_hp (salah satu peserta) lagi foto-foto halaman belakang, tiba-tiba ada yang menghampiri dan bertanya, “Mau difotoin?”

Ternyata yang bertanya itu seorang bapak berambut putih dan merupakan owner Rumah Makan Semarang, yaitu Bapak Jongkie Tio. Kami pun membalas dengan senyuman dan menolak dengan sopan, karena memang sudah kelar foto-foto di sana.

Wah, baik banget nih orang. Sudah tajir, punya resto, tapi nggak sombong. Begitu pikir gue. Kalau sudah kayak begitu, bawaannya pengin datang lagi ke sini, padahal belum cobain makanannya. Hahaha…

Di Rumah Makan Semarang, kami dijamu dulu dengan snack asin dan es teh manis.

Semuanya enak! Tapi yang enaknya paling “nggak sopan” adalah siomaynya! Beda sama siomay kebanyakan kalau lihat dari bentuknya. Selama ini kan gue cuma tahu Siomay Bandung atau yang ada di rumah makan Chinese. Kalau di Semarang, siomaynya digulung kayak lumpia. Dijamin makan satu potong doang nggak bakalan cukup!

Selain camilan, kami juga dijamu dengan makanan berat. Yang paling sering dipesan itu sih Lontong Cap Go Meh dan Nasi Langgi.

Lontong Cap Go Meh

Tahu kan kalau Lontong Cap Go Meh sudah pasti nggak lepas dari perayaan Cap Go Meh (dua minggu setelah Tahun Baru Imlek). Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tradisi Lebaran. Di mana masyarakat Jawa nggak makan ketupat di Hari Lebaran, tapi pas sepekan kemudian, pada hari Kupatan. Di hari itu, para tetangga saling mengantar ketupat dan opor ayam.

Dulunya, orang Tionghoa didatangkan Belanda dalam jumlah besar ke Jawa sebagai kuli. Mereka laki-laki semua dan tinggal di satu kampung. Karena bertetangga dengan Muslim Jawa, setiap Hari Kupatan, orang-orang Tionghoa tersebut mendapatkan hantaran ketupat opor. Dari hantaran itu, mereka mendapatkan ide untuk merayakan penutup Tahun Baru Imlek, yaitu Cap Go Meh dengan cara sendiri.

Kalau di Tiongkok, Cap Go Meh adalah festival besar. Sedangkan orang Tionghoa yang baru datang ini miskin dan nggak mungkin membuat pesta. Namun, mereka ingin memberi hantaran kepada tetangga Muslim Jawa sebagai tanda balas jasa. Agar lontong bentuknya berbeda dari ketupat Lebaran, lontong pun dibuat lonjong dan ketika dipotong, bentuknya bundar bak bulan purnama.

Untuk lauknya yang dicontek adalah opor ayam dan telur, namun lauknya ditambahkan lagi dengan sayur lodeh buncis, serundeng, aneka sambal goreng (tahu, rebung, dan udang), kerupuk udang, dan lain-lain. Jumlahnya kurang lebih 12-13 macam. Pantas aja Lontong Cap Go Meh ini komplet banget isinya dan sudah pasti gizinya lengkap. Jadi, meskipun kelihatannya seiprit, tapi sangat mengenyangkan. Udah gitu, kuahnya enak. Umami banget, deh!

Nasi Langgi

Katanya sih, Nasi Langgi ini mulai langka di pasaran. Jadi, kalau mampir ke Rumah Makan Semarang mendingan pesan satu, deh! Nasinya gurih seperti nasi uduk, tapi lauk pendampingnya lebih banyak. Ada telur, kering kentang, srundeng, ayam, sambal goreng tahu, timun, dan kemangi. Nggak kalah komplet kan gizinya? Dan dijamin kenyang, meski kelihatannya cuma seiprit.

Untuk dessert-nya, gue pilih Es Cao. Karena, gue nggak pernah makan Es Cao di Jakarta. Kayaknya nggak ada yang jual, deh. Tadinya gue nggak tahu isinya apaan. Pas gue ubek-ubek dan makan baru tahu kalau isinya terdiri dari serutan es, cincau hitam, pepaya, manisan mangga, kelapa muda, kolang-kaling, dan sirup. Isinya banyak buah dan so pasti sehat untuk pencernaan. Untuk tenggorokan dan lidah pun segar sekali. Pastinya Es Cao ini lebih enak daripada es kepal yang lagi hits itu. Padahal, gue belum pernah cobain es kepal itu, sih. Hahaha…

Di Semarang, kami nggak cuma makan dan bikin perut gendut. Tapi juga belajar soal gizi dan eksplorasi bahan berkelanjutan di sana. Makanya, ada beberapa pembicara di Jelajah Gizi Semarang.

Dok. Nutrisi Bangsa

1. Arif Mujahidin – Corporate Communication Director Danone Indonesia

Orangnya yang paling kiri. Beliau menjelaskan bahwa Jelajah Gizi memang diadakan secara rutin untuk membangkitkan kembali potensi pangan lokal sebuah daerah. Nah, Jelajah Gizi Semarang ini adalah Jelajah Gizi yang keenam. Sebelumnya sudah dilakukan di Gunung Kidul, Kepulauan Seribu, Bali, Minahasa, dan Malang.

Tema Jelajah Gizi kali ini adalah Eksplorasi Pangan Berkelanjutan di Kota Semarang. Nutricia Sarihusada ingin mengajak peserta untuk belajar bagaimana cara mengolah, menyajikan, hingga mengurangi sisa makanan. Karena, hidup cuma sekali dan kita cuma punya bumi sebagai tempat tinggal. Jadi, penting banget untuk menjaga kesehatan lingkungan, karena itu juga berdampak pada kesehatan manusianya.

2. Drs. H. Kasturi, MM – Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang

Orangnya yang pakai kemeja batik. Beliau sangat menyambut baik kedatangan tim Jelajah Gizi dari Jakarta. Karena, kapan lagi bisa kenalin kuliner Semarang yang hauce-hauce itu kan? Selain enak dan beragam kulinernya, Kota Semarang juga memiliki banyak kuliner yang bernutrisi, bahkan sampai dikemas dan dikirim ke kota-kota lainnya.

3. Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, Ms, Phd

Orangnya yang kedua dari kiri. Selain gelarnya panjang hingga mencapai gelar profesor, lawakannya juga panjang selama acara dan kadang dihiasi pantun jenaka yang bikin orang ngakak sampai sakit kepala. Doi juga jadi dosen di IPB (Institut Pertanian Bogor), makanya ahli ngomongin gizi.

Prof Ahmad bilang bahwa seiring perkembangan zaman, nggak menutup kemungkinan bahwa pangan bernutrisi diolah agar bisa tahan lebih lama dan dikonsumsi oleh banyak orang di seluruh dunia. Pangan yang kemudian masuk dalam kategori pangan kemasan nggak perlu diragukan kualitasnya, karena telah melalui proses fortifikasi.

Sering lihat kan kemasan tepung terigu yang bilang bahwa tepungnya sudah difortifikasi dengan vitamin anu-anu, zat besi, dan lain-lain? Nah, itu aman banget buat dikonsumsi asal nggak lewat dari tanggal kedaluwarsa. Kenapa sih harus diatasi dengan membuat banyak makanan kemasan? Supaya bisa mengurangi bahan pangan yang terbuang sia-sia dan busuk begitu aja.

Profesor menjelaskan tentang gizi-gizi dari makanan yang kami makan selama di Rumah Makan Semarang. Misalnya Lontong Cap Go Meh dan Nasi Langgi yang kandungan gizinya lengkap, mulai dari karbohidrat, protein, vitamin, serat, dan lain-lain. Soalnya bahan yang digunakan kan beragam banget tuh, dari nasi sayut, daging, dan lain-lain. Begitu pula dengan Es Cao yang mengandung banyak serat dan vitamin asal gula yang dipakai tidak terlalu banyak.

Di kuliah tersebut, profesor mengajarkan kami untuk menghabiskan makanan dan meremukkan botol minuman yang sudah tidak terpakai agar tidak bisa digunakan kembali oleh para produsen nakal. Soal menghabiskan makanan, persis banget sama ajaran nyokap gue sedari gue kecil. Nyokap gue selalu menasihati agar gue nggak ambil makanan terlalu banyak. Simpel aja, kalau masih lapar mendingan nambah.

4. Jongkie Tio – Pemilik Rumah Makan Semarang

Orangnya yang paling kanan. Selain memberikan sambutan bagi para tim Jelajah Gizi dan memberikan penjelasan tentang Rumah Makan Semarang, kita juga bisa bertanya sepuasanya ke beliau. Tapi, yang nggak bisa dibocorin sama beliau adalah cara membuat siomay kulit yang enak itu! Hahaha…

Setelah puas makan enak dan dengar soal kuliah gizi dan eksplorasi bahan pangan di Semarang, panitia acara pun bikin games dan membentuk kelompok untuk main di Jelajah Gizi Race.

Setelah pakai perhitungan primbon, akhirnya terbentuk lima kelompok. Nah, foto di atas itu adalah foto kelompok gue. Nama timnya ‘Ayam Miss You Semarang’ yang terdiri dari gue, Kak Anas, Niken, Devi, dan Tyas. Gaya gue di foto itu sudah mirip Wakil Gubernur Jakarta belum, ya?

Lalu kami pun kembali naik bus menuju hotel tempat kami menginap, yaitu Rooms Inc di jalan Pemuda No.150, Sekayu, Semarang Tengah. Karena hotelnya tergolong baru, jadi bentukannya kekinian dan instagenic banget. Cakeplah buat urusan foto-foto. Fasilitasnya pun oke, begitu juga dengan makanannya. Kayaknya, kalau liburan ke Semarang lagi, gue bakal menginap di sana lagi.

Lumayan bisa istirahat sebentar di hotel biar badan nggak remuk. Abis itu, kami langsung siap-siap lagi untuk acara selanjutnya, yaitu Jelajah Gizi Race di kawasan Simpang Lima yang merupakan salah satu ikon Kota Semarang. Simpang Lima adalah lapangan yang terletak di pusat Kota Semarang, juga dikenal dengan nama Lapangan Pancasila. Dan merupakan pertemuan dari lima jalan yang bertemu menjadi satu, yaitu jalan Pahlawan, Ahmad Yani, Ahmad Dahlan, dan Gadjah Mada.

Kurang lebih, seperti itulah gambaran kesibukan di Simpang Lima saat Jumat sore. Kalau pas Minggu pagi sih, Simpang Lima ada car free day-nya dan cuma bisa dilalui oleh pejalan kaki dan pengguna sepeda.

Sebelum mulai Jelajah Gizi Race, kami foto dulu di depan Masjid Raya Baiturrahman sambil dadah-dadah ke arah drone. Masjid ini masih sekawasan dengan Simpang Lima.

Pada Jelajah Gizi Race, setiap tim diharuskan memecahkan teka-teki yang diberikan kakak-kakak panitia. Semua teka-teki tersebut jawabannya ada di setiap kedai makanan di Pujasera, Simpang Lima. Kalau sudah ketemu jawabannya, kami wajib jajan di kedai itu dengan uang cuma Rp 200 ribu. Dicukup-cukupin gitu, deh.

Yang membahagiakan untuk emak-emak pemerhati kesehatan adalah setiap makanan yang dijual di sana itu nggak pakai MSG. Gue juga punya teman-teman yang tinggal di Semarang dan rata-rata bangga akan hal itu. Gue bukanlah calon emak-emak yang anti banget sama MSG. Kadang kalau lagi makan di luar rumah, pastinya berurusan sama MSG, dong. Dan MSG masih boleh dikonsumsi kok asal nggak berlebihan.

Tapi, kalau masak di rumah, gue memang nggak pakai MSG, karena takut porsinya melebih batas aman, yaitu nggak boleh lebih dari 3 gram per hari. Karena MSG juga bisa membawa dampak buruk misal bikin kita jadi sering haus dan dehidrasi. Katanya sih, kalau sudah sering makan MSG, takutnya lidah jadi kebal dan makan makanan yang nggak pakai MSG jadi tidak enak.

Kabarnya juga, kalau mau jadi chef handal, lidah harus bersih dari MSG supaya kita bisa ahli menebak bumbu masakan dan menciptakan banyak resep enak.

 

Tadinya gue pikir nggak bakal cukup buat beli beberapa makanan di sana cuma dengan Rp 200 ribu aja. Makanya kami belanjanya irit-irit banget. Tapi, ternyata cukup banget, lho! Dan kenyang. Terus baru ingat, ini kan bukan di Jakarta makanya bisa murah. Hahaha…

Inilah hasil perburuan kami.

Makanan di sana beragam banget, mulai dari nasi goreng, seafoodpecel, sate kambing, wedang, dan lain-lain. Sayang banget deh makannya buru-buru dan masih banyak yang ingin dimakan, tapi waktunya terbatas. Rasanya pengin pakai pintu ajaib Doraemon supaya bisa balik ke sana dan makan lebih banyak!

Meskipun nggak pakai MSG, tapi rasanya tetap enak semua, kok. Gue paling suka seafood-nya, terutama Kerang Ijo Saus Padang di kedai seafood Pak Jari. Ya Tuhan, pedas enak mantap gitu, Bray! Membuat bibir bergetar, tapi hati senang. Hahaha…

Puji Tuhan tim Ayam Miss You Semarang berhasil menjadi juara dua di Jelajah Gizi Race! Hahaha…

Jangan lupa menikmati suasana malam di Simpang Lima, karena adem dan tenang.

Candid by Nutrisi Bangsa

Kalau sudah sampai di Simpang Lima, pastinya nggak lengkap kalau belum foto di depan tulisannya yang besar itu.

Apakah makan-makannya sudah selesai? Oh, tentu belum, Kakak-kakak! Soalnya, kami lanjut mampir ke kedai Nasi Goreng Babat Pak Karmin Mberok yang berlokasi di samping Jembatan Mberok, Kauman, Semarang Tengah. Tempatnya sederhana sekali dan hanya berupa tenda, tapi selalu ramai akan pengunjung.

Dok. Nutrisi Bangsa

Begitu dengar kata babat, gue awalnya nggak terlalu antusias dengan kuliner yang satu ini. Karena, kebanyakan babat yang gue makan di Jakarta kurang cocok di lidah. Kadang teksturnya juga keras, rasanya amis, dan bentuknya kayak handuk, jadi pas makan agak gimana gitu. Hahaha…

Panitia pun menawarkan pengin menu yang mana? Apakah Nasi Goreng Telur, Nasi Goreng Babat, atau Babat Gongso? Mulanya gue pilih Nasi Goreng Telur karena nggak pengin cari ribut. Daripada makanannya nggak habis terus dimarahin profesor. Ya khan?

Tapi, nggak sampai hitungan detik, gue berubah haluan ke pesanan Babat Gongso pakai nasi putih. Soalnya, sayang banget kan kalau nggak cobain menu yang jadi andalan di sini.

Gongso di sini maksudnya ditumis. Makanan ini terdiri dari daging babat, aneka rempah, dan pastinya pakai kecap manis. Tapi, rasanya nggak terlalu manis karena ada asin, gurih, juga sedikit pedas. Makin sedap karena ada tambahan telur dadar. Daging babatnya ternyata empuk banget dan nggak berasa amis di lidah! Wah, nggak nyesel deh bikin keputusan buat pesan menu ini. Kami pun makan malam dengan penuh penghayatan sampai habis tidak bersisa. Padahal, sebelumnya sudah mengeluh kekenyangan.

Dok. Nutrisi Bangsa

Sebelum makan Babat Gongso, Prof Ahmad sudah menjelaskan mengenai kandungan gizi babat yang penting untuk tubuh kita. Seperti kandungan vitamin B3 yang penting untuk pembentukan protein dan bila berkolaborasi dengan folat bisa membantu otak memproduksi zat kimia penting, sehingga daya ingat menjadi kuat. Ada juga kandungan vitamin B12 yang bisa mengurangi gangguan sistem kerja sel syaraf, sehingga risiko gangguan memori berkurang. Babat juga mampu menangkal radikal bebas, memperkuat tulang dan gigi, dan membentuk sel darah merah.

Namun, babat memiliki kandungan kolesterol yang tinggi. Tapi, jangan sampai kalian memusuhi kolesterol, ya! Karena kolesterol nggak selalu buruk jika tidak dikonsumsi secara berlebihan.

“Kalau nggak makan kolesterol, tidak akan ada “pertengkaran” di dalam rumah tangga,” kata Prof Ahmad.

Ternyata yang dimaksud dengan pertengkaran di atas adalah hubungan seksualitas suami-istri. Karena, kolesterol yang membentuk hormon dalam tubuh. Makan daging babat bisa diimbangi dengan minum air putih dan sayuran kalau kata profesor.

Bicara soal sedapnya Babat Gongso, tidak lepas dari kedai Pak Karmin yang legendaris dan sudah dibuka sejak tahun 1971. Rahasia enaknya adalah karena bumbu rempahnya tidak pernah dikurangi oleh beliau. Dari dulu, Pak Karmin juga sangat terbuka terhadap kritik dari pelanggan, sehingga kualitas babatnya semakin baik. Kualitas daging babat dan jeroan sapi juga tetap diperhatikan. Dan yang paling penting adalah Pak Karmin sangat mencintai pekerjaannya.

Setelah mendapat babat dari pemasok, babatnya kudu direbus dulu selama delapan jam! Setelah babat dan nasi goreng dimasak, daging babat harus ditekan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan minyak yang terserap pada daging babat dan bisa memengaruhi rasa masakan.

Sudah makan enak hingga kekenyangan dan puas mengobrol dengan Pak Karmin, tidak lupa untuk foto bareng dengan beliau. Kemudian, kami pun pulang ke hotel, mandi, dan tidur. Nggak sabar dengan kegiatan hari esok!

Baru hari pertama aja, sudah banyak pelajaran soal gizi makanan yang gue dapatkan. Gue juga sudah nggak takut lagi makan makanan kemasan, karena makanan kemasan bisa meminimalisir banyaknya makanan busuk. Kualitasnya juga aman, karena sudah mengalami proses fortifikasi. Ehm, seketika itu pula langsung teringat dengan bahan makanan di kulkas yang belum dimasak dan harus segera diolah agar tidak membusuk sia-sia. Gue juga diingatkan agar tidak lupa untuk menghabiskan makanan dan meremukkan botol minuman kemasan jika isinya sudah habis.

Selain itu, gue jadi ngerti bahwa membuka usaha rumah makan yang bisa bertahan selama puluhan tahun memang nggak mudah. Karena, kita harus mempertahankan rasa dan kualitas. Teknik memasak yang dilakukan juga nggak bisa sembarangan, lho! Juga jangan lupa untuk mencintai setiap pekerjaan yang kita lakukan.

Setelah baca cerita gue kali ini, apakah kalian penasaran dengan cerita di hari kedua dan ketiga Jelajah Gizi Semarang? Jika iya, jangan lupa subscribe blog dan baca kelanjutannya nanti, ya! Dan terima kasih sudah baca tulisan yang amat panjang ini. Hahaha…

Video ulasan kegiatan Jelajah Gizi hari pertama bisa dilihat di Instagram Nutricia Sarihusada berikut ini.

#jelajahgizisemarang hari pertama ini diisi dengan mempekenalkan apa itu konsep pangan keberlanjutan yang menjadi tema #JelajahGizi tahun ini. Dimana sebaiknya kita mengenali asal makanan yang dikonsumsi, konsumsi dengan bijak untuk menghindari makanan bersisa dan haruslah makanan memberi manfaat untuk diri sendiri. . . #jelajahgizisemarang #jelajahgizi #Semarang #kuliner #masakanindonesiaasli

A post shared by Nutrisi untuk Bangsa (@nutrisibangsa) on

Baca juga, ya!

[otw_shortcode_button href=”http://mariskatracy.com/2018/04/jelajah-gizi-semarang-day-2-icip-icip-borong-oleh-oleh-hingga-wisata-sejarah/” size=”large” icon_position=”left” shape=”square” color_class=”otw-red” target=”_blank”]Jelajah Gizi Semarang Day 2: Icip-icip, Borong Oleh-oleh, Hingga Wisata Sejarah[/otw_shortcode_button]

[otw_shortcode_button href=”http://mariskatracy.com/2018/04/jelajah-gizi-semarang-day-3-main-ke-kampung-kopi-dan-wisata-religi/” size=”large” icon_position=”left” shape=”square” color_class=”otw-red”]Jelajah Gizi Semarang Day 3: Main ke Kampung Kopi dan Wisata Religi[/otw_shortcode_button]

 

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy