FacebookTwitter

Ngopi Ala Cinko di Kopi Es Tak Kie

By on Sep 8, 2016 in Diary, Food Porn

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Hilluuwww semua! Kembali lagi di blog Kak Uung yang berbau pecinan. Waktu itu, Kak Uung kan bilang pengin banget ngopi di Kopi Es Tak Kie (jalan Pintu Besar Selatan III, Gang Gloria No. 4 – 6, Glodok) yang jadul nan fenomenal itu. Nah, akhirnya kesempatan ngopi di sana pun jatuh pada tanggal 17 Agustus 2016 kemarin, tepat ketika Indonesia merayakan Kemerdekaan yang ke-71. Udah lumayan lama, ya, ngopinya. Kira-kira 5 windu yang lalu, tapi baru sempat dibuat review-nya sekarang. Maklum deh, namanya juga artis papan catur yang kesibukannya lebih padat ketimbang menteri.

Sekalian aja gue dan Kak RG datang ke sana agak pagian, mengingat kedai ini cuma buka sampai jam 2 siang. Datengnya pagi-pagi buta banget, jam 10-an. Jam segitu pagi banget menurut gue, soalnya ayam aja masih ngorok. Jelas aja Kopi Es Tak Kie ramainya udah kayak pasar kaget, mengingat waktu itu adalah hari besar. Begitu masuk ke Gang Gloria aja, kami hampir nggak lihat papan nama Kopi Es Tak Kie. Kayak ketutup sama manusia-manusia, terutama penjual makanan, sekaligus para pembelinya. Begitu udah ketemu pintunya di depan mata, eh malah ditawarin nasi campur sama engkoh-engkoh. Pagi-pagi, mata sepet, kayaknya lebih butuh kopi deh, daripada nasi campur.

“Nggak, Koh. Mau ke Kopi Es Tak Kie,” kata gue menolak tawaran engkoh-engkoh.

“Masuknya dari mana, ya?” tanya gue karena bingung, karena susah banget temuin pintu masuknya.

“Pesan nasi campur aja dulu buat makan di dalam,” tawar si engkoh-engkoh, tapi gue cuekin.

Karena gue orangnya soleha banget, akhirnya gue berhasil menemukan jalan masuk. Segalanya jadi dipermudah begitu aja. Begitu masuk ke sana, tempatnya padat merayap bingit, sehingga kami nyaris nggak dapat tempat duduk. Untungnya sih, setelah nunggu sebentar, bisa dapat tempat duduk.

Baru aja duduk, belum sempat napas, eh, engkoh-engkoh penjual nasi campur yang sama datang lagi buat tawarin nasi campur! Kak RG kayak terhipnotis, lalu dia bilang MAU. Karena mata gue masih sepet dan nggak bisa mikir, begitu Kak RG tanya, mau nasi campur juga nggak? Gue juga iyain. Gue pikir, bolehlah makan nasi campur sambil ngopi! Toh, lapar juga, kan.

Lalu ada juga pelayan yang tanya ke kami, mau pesan kopi apa? Yang pakai susu atau cuma kopi? Katanya, orang yang suka minum kopi hitam itu psikopat, jadi gue pesan kopi yang campur susu aja. Begitu juga Kak RG yang nggak pengin disebut psikopat. Yang gue lihat dari orang-orang di sana, mereka bergerak dengan sangat cepat, termasuk dalam hal menawarkan makanan atau minuman. Biasanya kan, orang kasih lihat buku menu dulu, ya. Kalau di sana sih kaga! Langsung brat bret brot, jleb! Mungkin karena ramai bingit kali, ya.

Sebelum makanan dan minuman dateng, gue sempat foto-fotoin suasana di sana ketika sudah nggak terlalu ramai.

Kopi Es Tak Kie

Kopi Es Tak Kie

Kopi Es Tak Kie

Kopi Es Tak Kie

Kopi Es Tak Kie

Kopi Es Tak Kie

Kopi Es Tak Kie

Tempatnya emang jadul banget karena konsepnya nggak pernah diubah sejak zaman dahulu kala. Bukan cuma orang tua yang suka nongkrong di tempat ini, tapi banyak juga anak muda yang ngopi di sana. Nggak heran sih, soalnya kan banyak juga anak muda yang hipster dan sok vintage. Atau mungkin sok Cinko. Hahaha…

Di foto terakhir tersebut, ada tulisan menu Nasi Campur dan Nasi Tim! Terus ngapain kita pesan nasi campur sama engkoh-engkoh yang jualan di luar sana? Berarti si engkoh-engkoh itu jualannya ilegal dong? Agak “maksa” orang buat langsung pesan nasi campur? Kayaknya sih, empunya Kopi Es Tak Kie cuma bisa pasrah lahan jualan mereka dibabat sama orang luar.

mariska-tracy---blog-header-bete

Setelah menunggu 12 purnama, akhirnya Es Kopi Susunya datang!

Kopi Es Tak Kie

Nasi Campur buatan si engkoh-engkoh tak dikenal pun juga tiba.

7

Rasanya gimana, Bray? Es Kopi Susunya sih enak. Segar dan bikin kantuk hilang, tapi kenikmatannya berkurang karena Nasi Campurnya kurang enak. Tahu gitu, mendingan beli Nasi Campur di Tak Kie! Kemungkinan besar rasanya jauh lebih enak. Selain kurang enak, nasinya juga sedikit banget dan nggak bakal nampol kenyangnya.

Jadi, kalau main ke Kopi Es Tak Kie, jangan sampai kalian kamu terserang hipnotis penjual makanan dari luar yang menjajahkan makanan dengan cara “memaksa”. Mendingan beli di Tak Kie langsung. Kalau mau makan nasi campur di luar, mendingan beli di Bakmi Amoy. Lebih terjamin, Kak!

Setelah gue perhatikan, banyak juga lho pengunjung yang terjebak hipnotis engkoh-engkoh penjual Nasi Campur. Kemungkinan besar, mereka adalah pengunjung yang baru pertama kali datang ke Kopi Es Tak Kie, jadi masih cupu banget. Nggak jauh beda sama gue.

mariska-tracy---blog-header-panikl

Setelah kelar makan, baru deh si engkoh-engkoh nagih duit Nasi Campur. Untung harganya masih manusia. Per porsinya Rp 35 ribu. Sedangkan, harga Es Kopi Susunya Rp 17 ribu per gelas. Masih terjangkau buat anak mahasiswi kayak gue.

Ingat, ya, Kakak-kakak! Jangan sampai terhipnotis di Es Kopi Tak Kie. Juga, jaga baik-baik barang kalian kalau di sana karena suasana padat merayap seperti itu bisa mengundang berbagai kejahatan. Sekian ceramah dari Kak Uung. Babay!

Foto: Mariska

 

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy