FacebookTwitter

Selamat Jalan Erika Metta, si Teman Pena

By on Jul 6, 2016 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Sebenarnya, gue males nulis cerita yang sedih-sedih karena nulis cerita sedih itu bikin capek hati. Kita harus merasa sedih dulu, baru orang lain bisa merasakan sedihnya tulisan yang kita buat. Nulis cerita sedih dan cengeng sudah lama nggak Kak Uung lakukan, paling cuma beberapa kali aja kalau memang diperlukan. Nulis cerita komedi itu terasa lebih menyenangkan buat gue karena pas nulis bawaannya happy, terus yang baca juga happy. Kali ini, cerita sedih yang pengin gue ceritain adalah tentang seseorang yang sebenarnya belum pernah gue temui di kehidupan nyata. Dengan kata lain, cuma kenal lewat internet.

Namanya Cicik Erika Metta. Sebelum kenalan langsung, gue sering lihat Erika suka kasih komentar di status atau fotonya Kak RG. Misal, ucapin selamat karena kami udah jadian dan lain-lain. Ketika gue mulai aktif nulis-nulis di blog ini dan kadang blogpost-nya suka viral, lalu nggak sengaja dibaca sama Erika. Kadang, Erika suka banget kasih komentar soal blogpost yang gue buat. Gue lupa dia komentar di blog yang mana aja, yang pasti lumayan sering. Sampai akhirnya, kami berteman di Facebook. Selain Kak RG, kami juga punya mutual friend yang lain, yaitu Liswandi, teman gereja gue. Ternyata, Liswandi adalah teman kantornya Erika di Faber-Castell. Dunia memang sempit banget, sesempit kolor yang dipakai Taylor Swift, karena dia kurus banget!

Dia pernah cerita bahwa dia juga suka nulis dan pernah ikutan 7 Deadly Sins Writing Competition yang diadain sama Gagas Media (penerbit yang nerbitin buku Happy Tummy gue). Gue baru inget dia pernah cerita kayak gitu soalnya baru-baru ini, gue sering ubek-ubek blognya dan ketemu blogpost soal lomba nulis tersebut. Blogpost-nya bisa kalian baca di sini. Mungkin karena punya hobi yang sama, jadi kami cocok-cocok aja kalau berteman, meskipun nggak pernah ketemu. Kak RG pun yang udah berteman lama banget sama Erika nggak pernah ketemu sama sekali sama Erika. Mereka cuma punya grup pertemanan yang bermula dari obrolan di internet dan main game.

Tadinya gue pikir, gue nggak bakal punya yang namanya teman pena. Apalagi istilah teman pena itu udah jadul banget. Istilah itu terkenal banget pas zaman gue masih duduk di bangku SMP kayaknya. Teman pena itu kan yang pertemanannya cuma sekadar surat-suratan atau kirim email, kan? Mungkin kalau zaman sekarang lebih canggih. Bisa lewat media sosial atau chatting. Jadi, bisa dibilang gue dan Erika itu udah kayak teman pena kali, ya. Kalau kalian sendiri pernah punya teman pena nggak?

mariskatracy-rockSetelah cukup lama berteman dengan Erika, gue jadi tahu bahwa dia udah cukup lama nungguin kehadiran anak dari tahun 2011. Tapi, dia tetap yakin suatu saat bisa dikasih anak sama Tuhan. Gue belum nikah dan nggak tahu gimana sedihnya kalau berada di posisi kayak begitu, tapi gue udah sering dengar soal cerita pasangan yang susah banget hamil dan itu memang menyedihkan, Kak! Apalagi kalau mereka memang pengin banget punya anak.

Dan gue makin tahu bahwa Erika tetap setia baca blog gue soalnya dia juga bikin dress sama Kak Vindy Faizah, yang juga pernah bikinin gue dress.

QS_20160706-015834

Dress bikinin Kak Vindy.

Erika juga beli buku Happy Tummy gue melalui lewat toko buku online melalui sistem pre-order. Gue merasa di-support banget sama dia, padahal kami kenal belum lama. Biasanya kan orang-orang nunggu bukunya keluar di toko buku, tapi dia malah bela-belain pesan lewat online. Sayangnya, gue nggak sempat tulis nama dia di buku itu, sekaligus kasih cap bibir.

QS_20160706-034225

mariskatracy-rock

Setahun yang lalu, gue resign dari majalah GADIS lalu bikin blogpost yang judulnya Semua Akan Resign Pada Waktunya. Blogpost itu bikin banyak orang berpikir untuk resign. Hahaha… Salah satunya Erika yang juga jadi kepikiran untuk resign di akhir 2015. Waktu gue diceritain soal tekadnya itu, gue nggak tanya lebih lanjut sih soal alasan lengkapnya karena takut dikira kepo. Gue pikir, alasan Erika resign paling nggak jauh beda dari teman-teman gue yang lain, misal karena bosan, karena nggak berkembang, karena nggak dihargai atasan, karena gaji nggak naik-naik, karena suasana kerja udah nggak enak, atau yang paling basi adalah karena ingin mencari pengalaman baru.

Lucunya, waktu Erika farewell sama teman-teman kantornya, dia sempat foto bareng teman-temannya dengan selembar kertas yang judulnya mirip blogpost gue. Nggak tahu deh, dia terinspirasi dari blogpost gue atau nggak. Hehehe…

resign

Nyomot dari Facebook-nya Erika.

Ternyata, Erika resign karena ingin memulihkan kesehatan dan melanjutkan program baby yang sempat tertunda dua tahun. Gue baru tahu dari blogpost-nya yang kalian bisa baca di sini. Begitulah pengorbanan seorang ibu. Supaya bisa hamil harus resign dulu, ninggalin impian, dan rela nggak dapat gaji tetap lagi. Erika resign di bulan Oktober 2015. Papa mertuanya meninggal di bulan Desember 2015 dan Erika berhasil hamil di bulan yang sama. Kalau dipikir-pikir pakai pikiran manusia, kok, bisa pas? Apa cuma kebetulan? Tapi, gue yakin semuanya memang udah diatur sama Tuhan.

Di bulan Desember 2015 kemarin, gue malah nggak tahu sama sekali bahwa dia lagi hamil. Gue malah baru tahu bahwa dia hamil di bulan April 2016 dari status dan foto-foto dia di Facebook. Gue seneng banget begitu tahu dia hamil, tapi keadaannya memprihatinkan, soalnya Erika nggak kelihatan kayak lagi hamil. Lebih kelihatan lagi sakit karena badannya kurus banget. Dia juga pakai kursi roda dan selang infus. Ternyata, dia memang udah cukup lama menderita sakit hipertensi paru. Kisahnya bisa kalian baca di sini.

Hipertensi paru adalah suatu keadaan di mana terjadi tekanan darah tinggi di arteri paru-paru. Tekanan darah di arteri pulmonal yang normal adalah 8-20 mmHg, pada pasien hipertensi paru, tekanan paru >25 mmHg pada kondisi istirahat dan >30 mmHg pada saat beraktivitas. Tekanan darah tinggi tersebut terjadi karena saluran (arteri pulmonal) yang membawa darah dari jantung ke paru-paru menyempit/menebal, sehingga jantung kanan harus bekerja ekstra keras untuk memompa darah tersebut menuju paru-paru. Hipertensi paru adalah penyakit kronis yang memerlukan perubahan/penyesuaian gaya hidup dari pasien dan pengobatan sesegera mungkin setelah diagnosa. Karena bila tidak, bisa menyebabkan gagal jantung kanan.

erika

erika

Gue bingung deh, ada manusia yang ceria dan positif banget kayak Erika. Meskipun lagi sakit parah dan hamil, tapi dia nggak pernah ngeluh yang aneh-aneh di status sampai bikin orang lain ikutan down. Soalnya, status yang dia tulis selalu pakai bumbu candaan. Kalau kalian baca statusnya, kalian bakal bingung mau kasih emoticon ‘sad’ atau ‘laugh’.

QS_20160706-000949QS_20160706-001017QS_20160706-001138

Gue juga baru tahu bahwa para penderita hipertensi paru disarankan untuk nggak hamil karena kondisi tersebut bisa membahayakan ibu sekaligus bayi dalam kandungan. Kalau pun hamil, biasanya si dokter bakal menyarankan si ibu untuk aborsi. Gue tahu hal ini dari hasil chat gue sama Erika di bulan April 2016 kemarin.

QS_20160706-001533QS_20160706-001547QS_20160706-001559QS_20160706-001608QS_20160706-001626

Tadinya gue pikir cerita kayak begini nggak bakal ada di kehidupan nyata dan cuma ada di sinetron atau film. Biasanya sih, si penulis skenario bakal bikin ceritanya happy ending supaya penonton nggak kecewa. Gue pun selalu mikir positif begitu tahu kondisi Erika sama bayinya. Gue berharap mereka berdua akhirnya selamat dan bisa hidup dengan normal. Tanggal 22 Juni 2016 kemarin, Erika harus menjalani operasi caesar untuk melahirkan bayinya yang diberi panggilan Baby G (Caymaru). Gue yakin banget Baby G adalah kependekan dari Gabriel karena dari dulu Erika pengin banget namain anaknya Gabriel. Cerita soal keinginan itu bisa kalian baca di sini. Sayangnya, perjuangan Erika dan Baby G berakhir saat itu juga. Mereka berdua akhirnya pulang ke rumah Bapa di surga.

Ini status terakhirnya Erika sebelum dia dioperasi.

QS_20160706-003817

Gue kaget banget waktu tahu Erika dan bayinya udah nggak ada. Apalagi kita nggak pernah ketemuan. Sedih dan menyesal banget karena sebelumnya nggak pernah menyempatkan waktu buat ketemuan sama dia. Gue baru kali ini lho sedihin orang yang belum pernah gue temui di kehidupan nyata. Dan baru pertama kalinya nangisin orang yang belum pernah gue temuin sama sekali. Cengeng banget, ya, buat ukuran orang yang hampir nggak pernah nangis kayak gue. Percaya nggak percaya, sambil ngetik tulisan sepanjang ini, gue nangis nggak kelar-kelar. Hiksss….

Sosok Erika sangat memberkati hidup gue. Gue baru sadar bahwa cewek-cewek di sinetron yang tertindas itu nggak ada apa-apanya karena mereka cuma berakting dan mendalami peran. Beda sama Erika yang benar-benar berjuang dari awal sampai akhir buat kasih kehidupan ke Baby G, meskipun cuma 28 minggu. Gue nggak bisa bayangin deh, kalau gue jadi dia, gue pasti bingung mau pilih aborsi atau nggak.

Melahirkan anak bayi aja udah takut banget! Gue sampai kepikiran buat di-caesar aja biar gue nggak usah capek-capek ngeden sampe sakit. Nggak kebayang deh, kalau gue harus hamil dan melahirkan anak sambil menahan sakit akibat hipertensi paru. Tapi, Erika tetap yakin buat lanjutin kehamilan dan nggak menyesal sama sekali. Sesusah-susahnya hidup gue, udah pasti nggak lebih susah dari masalah hidup yang Erika jalanin. Erika aja bisa tetap positif dan nggak mengeluh. Masa gue nggak bisa?

Dari situ gue belajar bahwa kalau kita punya mimpi, memang harus diperjuangin sampai akhir. Kayak Erika yang kesabarannya berbuah manis dan sekarang lagi senang-senang sama Baby G di surga. Hidup mereka udah tenang di sana, karena mereka nggak perlu mikirin soal uang sekolah yang makin hari makin mahal, maraknya kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur, atau mikirin soal ISIS yang suka lempar bom di mana-mana.

Mungkin mimpi Erika yang belum kesampaian adalah bikin novel otobiografi soal kisah hidup dia dan Baby G. Jadi, di blog ini gue sengaja nulis soal mereka biar banyak yang tahu bahwa di dunia ini ada cewek hebat bernama Erika yang udah rela mengorbankan nyawa demi anaknya. Kisah lengkapnya bisa kalian baca di shiromage.blogspot.co.id.

Selama jalan Cik Erika, si teman pena. Mungkin kita nggak bisa ketemu di kehidupan nyata, tapi setidaknya kita pernah bertemu di dunia maya dan nantinya bisa ketemu lagi di surga. Salam buat Kak Gabriel. Babay.

Foto: Dok. Erika

 

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like¬†facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy