FacebookTwitter

Cerita Makan Malam di Rumah Paman Tjhin

By on Jul 7, 2016 in Diary, Food Porn

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Kisah ini udah lama sekali terjadi. Tapi, baru sempat gue ceritakan sekarang. Seperti yang kalian udah ketahui, rumah ketiga gue udah pindah dari Grand Indonesia ke Lippo Mal Puri. Waktu main ke Lippo Mal Puri beberapa abad lalu sama Kak RG, tanpa sengaja kami terhipnotis dan mampir ke rumah Paman Tjhin lalu dsuruh masuk untuk bertamu.

Uncle Tjhin Bistro

Untungnya, rumahnya adem dan suasananya nggak horor. Malahan sangat classy, modern, dan banyak minuman kerasnya. Nampaknya keluarga Paman Tjhin memang suka minum minuman keras. Sayangnya nggak ada Paman Tjhin di sana soalnya orangnya udah meninggal dunia. Nama rumah makan ini memang sengaja dikasih nama Uncle Tjhin Bistro oleh si pemilik untuk mengenang mendiang ayahnya yang gemar memasak. Konsep resto yang disajikan di sana adalah casual dining dengan menu-menu Asia dan western.

uncle Tjhin Bistro

Uncle Tjhin Bistro

Uncle Tjhin Bistro

Uncle Tjhin Bistro

Uncle Tjhin Bistro

Uncle Tjhin Bistro

mariskatracy-rockMenu yang kami pesan di sana adalah:

1. Salmon Bacon Pizza (Rp 81 Ribu)

Uncle Tjhin Bistro

Penampilan okelah lumayan menarik, tapi rasanya nggak terlalu aduhai. Gue nggak cobain pizza yang satu ini, sih, karena waktu itu lagi sok-sokan diet pisang, jadi nggak boleh makan karbohidrat lain, selain pisang. Kak RG bilang, pizza-nya kurang empuk, kayak kurang matang, dan agak keras gimana gitu. Padahal, isinya menari, ada salmon dan bacon.

2. Striploin Steak (Rp 125 Ribu)

Uncle Tjhin Bistro

Striploin adalah potongan daging bagian belakang sapi. Gue sengaja pesan menu ini soalnya kalau diet pisang boleh makan daging dan lemak. Rasanya biasa aja, sih. Nggak ada yang istimewa. Lebih enak daging “sapi suci” ke mana-mana. Hahaha…

3. Sup Buntut (Rp 95 Ribu)

Uncle Tjhin Bistro

Uncle Tjhin Bistro

Kalau menu yang ini sih, gue cuma makan daging buntutnya soalnya kan nggak boleh makan nasi, apalagi makan tulang buntutnya. Menurut gue, menu ini bisa dibilang yang paling lumayan rasanya ketimbang dua menu sebelumnya. Rasa sup buntutnya lumayan enak dan kuahnya segar. Bumbunya juga berasa! Kekurangannya adalah kurang banyak dagingnya.

mariskatracy-rock

Dari pengalaman gue pertama kali makan di sana, gue nggak terlalu mendapat kesan yang aduhai sampai pengin balik lagi ke sana. Nggak ada yang istimewa, sih. Yang enak cuma tempatnya karena super cozy dan elegan. Harganya juga termasuk mahal menurut gue, si anak jelata yang penghasilannya belum sebesar menteri. Okelah sekian aja review makanan dari Kak Uung kali ini. Babay.

Foto: RG

 

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy