FacebookTwitter
Page 1 of 11

Jadi Orang Korea Sehari di Jjigae House, Kelapa Gading!

By on Jul 25, 2016 in Diary, Food Porn

Ada beberapa hal yang bikin seseorang terlihat bagaikan orang Korea, yaitu: Suka pakai BB cream Suka nonton drama Korea Suka makan Samyang Ramen Ngefans sama Song Joong Ki Ngefans sama Song Hye Kyo Dan lain-lain Dari kelima ciri di atas, gue cuma punya dua, yaitu gue suka pakai BB cream dan suka makan Samyang Ramen. Nggak apa-apa juga, sih, kalau nggak mirip orang Korea karena gue juga nggak mau. Gue lebih suka mirip bule. Tapi, tanpa berusaha lebih keras, gue udah mirip kayak orang Korea, tuh. Setidaknya begitu kata orang-orang. Mereka bilang gue mirip Kim Jong Un. Mirip galaknya. Meskipun gue nggak pengin-pengin banget terlihat mirip Korea, tapi gue pengin banget merasakan nikmatnya Korean Hot Pot yang bentuknya instagenic itu. Soalnya, gue udah jenuh makan di warteg. Ya udah deh, weekend kemarin, gue ajak Kak RG makan di Jjigae House, Kelapa Gading. Kenapa pilih di cabang Kelapa Gading? Karena, darah nggak bisa bohong. Gue Cina, Mamen! Jadi, nggak afdol kalau nggak makan di sana. Lokasinya strategis. Kalau kalian preman Kelapa Gading, kalian bakal menemukan tempat ini dengan mudahnya. Sayangnya, tempatnya nggak terlalu gede dan cuma selantai, jadi biasanya harus antre dulu kalau ramai, Shay! Apalagi kalau datangnya pas weekend. Beuh, antrenya kayak lagi lagi antre ambil duit di Jamsostek! Meskipun ruangannya kecil, tapi tempatnya nyaman dan adem, kok. Makanan utama yang kami pesan cuma satu, kok. Satu menu doang, sih, tapi porsinya bisa dibagi-bagi buat 3-4 orang. Hahaha… Gue dan Kak RG pesan Korean Hot Pot yang sepertinya adalah menu wajib di Jjigae House. Tentu aja pilih yang berbabi, dong. Terus kuahnya pakai kuah kimchi biar lebih yahud. Seporsi Korean Hot Pot dengan daging babi dan kuah kimchi dikenakan harga Rp 94 ribu. Lumayan murah sih kalau makannya berempat. Kayak begitu penampakannya. Ada daging babi, maling, dan sayur-sayuran. Di atasnya...

Cewek Gembrot Nyocot “Big is Beautiful” di Peth. Trus Mupeng Lihat Obat Pelangsing Maminya. Diembat Sebotol-Botolnya. Malah Mampus.

By on Jul 8, 2016 in Diary

Judulnya udah kayak koran Lampu Ijo nggak, Say? Kalau belum, nanti Kak Uung ulang aja, maklum gue nggak jago bikin judul, apalagi bikin judul ala koran Lampu Ijo. Dulu aja pas mau magang di koran Lampu Ijo, gue ditolak karena nggak mahir bikin judul kayak begitu. Judul di atas aja gue bikin sampai berjam-jam. Ujung-ujungnya malah minta bantuan Kak RG. Hebat, ya, Kak RG! Dia pasti diterima magang di sana karena punya keahlian yang luar binasa. Gue bikin judul kayak gitu karena hal itu memang dialami oleh banyak orang yang denial, termasuk cewek. Jujur aja, gue juga pernah mengalami fase-fase semacam itu, kok. Ketika gue merasakan susahnya kurusin badan. Gue sampai pernah nge-Path kayak begini. Gile, sok cantik dan laku banget, ya, gue! Sampai harus ngatain cewek kurus bertulang itu kayak makanan anjing! Hahaha… Padahal, waktu masih berbadan sintal (baca: gembrot) dibilang banyak yang mau sama gue juga kaga! Makanya jomlo sampai umur 28 tahun. Gue nyocot big is beautiful di mana-mana, tapi minum obat pelanging juga pernah gue lakuin! Bukan embat punya mami, sih, tapi beli di online shop. Untung nggak mampus. Kalau mau tahu kisah lengkapnya bisa kalian baca di buku Happy Tummy. Astaga, kurusin badan itu susah banget, Bray! Lebih susah daripada cari pembantu infal pas libur Lebaran atau cari jodoh. Kalau gue nggak kenal sama yang namanya diet OCD dan udah kurus banyak kayak sekarang, mungkin gue masih punya prinsip “Big is Beautiful”. Padahal, kalau boleh milih, gue sih udah pasti milih badan langsing. Gue lebih suka badan gue yang sekarang, ketimbang dulu. Gue berasa lebih sehat, lebih cakep(an), lebih muda(an), dan lebih laku. Nggak ada niatan buat balik ke zaman gendut. Itu sama aja kayak balikan sama mantan yang udah bawa kabur duit kita. Gue nggak tahu, ya, apakah kalian di luar sana yang...

Cerita Makan Malam di Rumah Paman Tjhin

By on Jul 7, 2016 in Diary, Food Porn

Kisah ini udah lama sekali terjadi. Tapi, baru sempat gue ceritakan sekarang. Seperti yang kalian udah ketahui, rumah ketiga gue udah pindah dari Grand Indonesia ke Lippo Mal Puri. Waktu main ke Lippo Mal Puri beberapa abad lalu sama Kak RG, tanpa sengaja kami terhipnotis dan mampir ke rumah Paman Tjhin lalu dsuruh masuk untuk bertamu. Untungnya, rumahnya adem dan suasananya nggak horor. Malahan sangat classy, modern, dan banyak minuman kerasnya. Nampaknya keluarga Paman Tjhin memang suka minum minuman keras. Sayangnya nggak ada Paman Tjhin di sana soalnya orangnya udah meninggal dunia. Nama rumah makan ini memang sengaja dikasih nama Uncle Tjhin Bistro oleh si pemilik untuk mengenang mendiang ayahnya yang gemar memasak. Konsep resto yang disajikan di sana adalah casual dining dengan menu-menu Asia dan western. Menu yang kami pesan di sana adalah: 1. Salmon Bacon Pizza (Rp 81 Ribu) Penampilan okelah lumayan menarik, tapi rasanya nggak terlalu aduhai. Gue nggak cobain pizza yang satu ini, sih, karena waktu itu lagi sok-sokan diet pisang, jadi nggak boleh makan karbohidrat lain, selain pisang. Kak RG bilang, pizza-nya kurang empuk, kayak kurang matang, dan agak keras gimana gitu. Padahal, isinya menari, ada salmon dan bacon. 2. Striploin Steak (Rp 125 Ribu) Striploin adalah potongan daging bagian belakang sapi. Gue sengaja pesan menu ini soalnya kalau diet pisang boleh makan daging dan lemak. Rasanya biasa aja, sih. Nggak ada yang istimewa. Lebih enak daging “sapi suci” ke mana-mana. Hahaha… 3. Sup Buntut (Rp 95 Ribu) Kalau menu yang ini sih, gue cuma makan daging buntutnya soalnya kan nggak boleh makan nasi, apalagi makan tulang buntutnya. Menurut gue, menu ini bisa dibilang yang paling lumayan rasanya ketimbang dua menu sebelumnya. Rasa sup buntutnya lumayan enak dan kuahnya segar. Bumbunya juga berasa! Kekurangannya adalah kurang banyak dagingnya. Dari pengalaman gue pertama kali makan...

Selamat Jalan Erika Metta, si Teman Pena

By on Jul 6, 2016 in Diary

Sebenarnya, gue males nulis cerita yang sedih-sedih karena nulis cerita sedih itu bikin capek hati. Kita harus merasa sedih dulu, baru orang lain bisa merasakan sedihnya tulisan yang kita buat. Nulis cerita sedih dan cengeng sudah lama nggak Kak Uung lakukan, paling cuma beberapa kali aja kalau memang diperlukan. Nulis cerita komedi itu terasa lebih menyenangkan buat gue karena pas nulis bawaannya happy, terus yang baca juga happy. Kali ini, cerita sedih yang pengin gue ceritain adalah tentang seseorang yang sebenarnya belum pernah gue temui di kehidupan nyata. Dengan kata lain, cuma kenal lewat internet. Namanya Cicik Erika Metta. Sebelum kenalan langsung, gue sering lihat Erika suka kasih komentar di status atau fotonya Kak RG. Misal, ucapin selamat karena kami udah jadian dan lain-lain. Ketika gue mulai aktif nulis-nulis di blog ini dan kadang blogpost-nya suka viral, lalu nggak sengaja dibaca sama Erika. Kadang, Erika suka banget kasih komentar soal blogpost yang gue buat. Gue lupa dia komentar di blog yang mana aja, yang pasti lumayan sering. Sampai akhirnya, kami berteman di Facebook. Selain Kak RG, kami juga punya mutual friend yang lain, yaitu Liswandi, teman gereja gue. Ternyata, Liswandi adalah teman kantornya Erika di Faber-Castell. Dunia memang sempit banget, sesempit kolor yang dipakai Taylor Swift, karena dia kurus banget! Dia pernah cerita bahwa dia juga suka nulis dan pernah ikutan 7 Deadly Sins Writing Competition yang diadain sama Gagas Media (penerbit yang nerbitin buku Happy Tummy gue). Gue baru inget dia pernah cerita kayak gitu soalnya baru-baru ini, gue sering ubek-ubek blognya dan ketemu blogpost soal lomba nulis tersebut. Blogpost-nya bisa kalian baca di sini. Mungkin karena punya hobi yang sama, jadi kami cocok-cocok aja kalau berteman, meskipun nggak pernah ketemu. Kak RG pun yang udah berteman lama banget sama Erika nggak pernah ketemu sama sekali sama Erika....

Happy 2nd Blogging Anniversary, mariskatracy.com!

By on Jul 2, 2016 in Diary, Food Porn

Tanggal 28 Juni 2016 kemarin adalah hari ulang tahun kedua blog gue. Tapi, baru sempat dirayain hari Sabtu, 2 Juli 2016. Karena, sudah sewajarnya ulang tahun dirayakan hari Sabtu. Kata orang Cina, kita bisa mendapatkan hoki berkali-kali lipat jika merayakan ulang tahun pas hari Sabtu. Makanya, banyak orang yang merayakan ulang tahun di hari Sabtu, kan? Masih ingat kan dengan blogpost pertama Kak Uung yang berjudul Tragedi Pijat Berdarah? Bermula dari iseng-iseng ngeblog kejadian yang nggak banget dan mendapatkan banyak respon yang juga nggak banget dari para pembaca, akhirnya gue jadi keterusan ngeblog, deh sampai sekarang. Emang sih, sekarang ngeblognya nggak sesering dulu karena gue sibuk bingit dengan dunia keartisan. Tapi, masih ada aja yang baca dan jumlahnya tetap stabil kayak perekonomian Singapura. Sampai hari ini, jumlah views udah mencapai angka 1.549.547. Hahaha! Terima kasih buat kalian yang udah capek-capek berkunjung ke blog yang tidak berguna ini. Semoga barokah, ya! Perayaan ulang tahun blog gue kali ini sederhana aja, kok. Cuma menghabiskan dana Rp 5 miliar buat makan-makan di House of Aranzi, Sunter, Jakarta Utara. Waktu datang ke sana, tema restonya udah banyak berubah. Tetap unyu sih, kayak dulu, tapi House of Aranzi yang kali ini temanya agak lebih dewasa. Mungkin supaya bisa menggaet pasar orang yang lebih tua macam kalian. Kali ini, sepertinya House of Aranzi memang lagi berkolaborasi dengan Yokuden. Yokuden itu lebih fokus ke cake, bakery, dan. Kalian bisa beli roti dan cake di sini. Di ruangan Yokuden ada ruang makannya juga dan kasir. Banyak elemen kayu di sini, jadi suasananya lebih hangat kayak di rumah sendiri. Yang kayak begini memang cocok buat orang berumur seperti kalian. Hihihi… Masuk ke dalamnya lagi, kalian bakal menemukan House of Aranzi yang sesungguhnya. Penuh dengan pernak-pernik lucu dan ceria. Kalau masuk ke sana, gue jadi pengin hias kamar kayak begini!...

Page 1 of 11
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy