FacebookTwitter

Resepsi Pernikahan: Tradisi yang Sebaiknya Dihilangkan

By on Mar 31, 2016 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Pernah denger nggak soal menikah di Indonesia itu ngehe banget? Kerja keras banting tulang bertahun-tahun, terus duitnya habis dalam waktu dua jam, cuma buat berdiri di depan ratusan orang sambil pakai sepatu hak tinggi yang bikin kaki semaput dan pakai gaun yang kainnya bisa nyapu lantai segedung. Waktu masih muda banget, gue setuju sama ide pernikahan ngehe kayak begitu. Makanya gue bercita-cita buat jadi orang kaya dan terkenal sebelum menikah supaya gue bisa menggelar resepsi pernikahan megah, undang banyak pejabat, artis, dan orang penting lainnya. Dan di sepanjang gedung resepsi itu, ada banyak karangan bunga yang dikasih buat gue.

Tapi, kalau mau nunggu sampe kayak begitu, pastinya bakal susah banget! Kecuali kalau kalian anak konglomerat atau menikah sama konglomerat yang udah bau tanah. Sukur-sukur masih bisa dapetin anak konglomerat. Kalau bukan konglomerat, kayaknya kalian harus kerja keras banting tulang hingga sekian lama. Dan umur 50 tahun baru bisa menikah. Akhirnya gue anggap ide itu sampah banget. Kalau pun gue kaya banget sampe bisa nyumbang duit triliunan buat bangun rumah sakit, gue tetep ogah bikin resepsi pernikahan mewah nan laknat yang cuma berlangsung selama dua jam itu.

Kalau kata orang, nikah aja yang sederhana biar uangnya bisa ditabung buat beli rumah, uang sekolah anak, jalan-jalan, dan lain-lain. Tapi, mau sederhana kayak apa pun, nikah di Indonesia, terutama Jakarta, minimal harus keluarin duit Rp 100 juta. Bukan cuma tetek bengeknya yang banyak, tapi undangannya juga banyak, Bray! Yang diundang itu kan nggak cuma keluarga, saudara, atau teman dekat, tapi juga ORANG-ORANG YANG SEBENARNYA NGGAK KALIAN KENAL. Misal, teman-teman ortu dan mertua kalian. Ribet deh, pokoknya. Semuanya dikaitkan dengan alasan silahturami atau kesopanan.

Sejak itu, gue mikir, emang harus, ya, rayain momen spesial ke orang-orang yang nggak dikenal atau nggak kenal-kenal banget? Dua jam berikutnya abis pulang ke rumah, mereka juga lupa sama pestanya, terus beberapa minggu kemudian, percayalah souvenir yang dibagi-bagi itu bakal jadi sampah. Apalagi amplop dan kartu undangannya. Jangan harap mereka mau simpan semua itu sebagai kenang-kenangan. Jadi menurut gue, resepsi pernikahan sangatlah tidak berguna.

Selain itu, persiapan pernikahan juga butuh waktu yang panjang. Kebanyakan orang nyiapin resepsi sampai setahun sebelumnya. Bahkan, sampai ada cewek yang bela-belain buat resign dari kantor supaya bisa urus pernikahan yang ribetnya lebih ribet daripada urus event Miss Indonesia. Kalau calon lakinya tajir sih nggak apa-apa resign. Lah, kalau yang pas-pasan terus resign, mau makan apa nanti? Kalau pun urus wedding sambil kerja, cuma capek-capekin badan dan bikin badan lemah doang. Percayalah masih banyak hal yang harus diurus ketimbang resepsi pernikahan laknat. Misal, urus kerjaan, kejar karier lebih tinggi, berkarya, dan sebagainya.

Gue juga sering denger, banyak pengantin yang jatuh sakit waktu resepsi digelar, bahkan jatuh pingsan di depan para tamu. Ya itu, karena kecapekan ikutin kemauan keluarga yang cuma pengin pamer dan berusaha buat menyenangkan orang lain. Gue cuma bisa tepok jidat deh kalau ada yang kayak begitu. Udah buang duit banyak buat gengsi keluarga, terus harus buang duit juga buat biaya rumah sakit.

Ada juga yang habis pesta kelar, malah masih kepikiran sama pestanya. Bukan kepikiran karena seneng habis gelar pesta. Tapi, kepikiran karena stres mikirin apa pendapat orang.

Barusan tamu yang datang senang nggak, ya, sama acaranya?

Makeup gue tadi berantakan nggak, ya?

Tadi makanannya enak nggak, ya?

Harusnya seneng, tapi malah jadi harus mikirin perasaan orang lain yang belum tentu mikirin kita balik.

mariskatracy-rockUntung mencegah hal laknat itu terjadi, pas nikah nanti, gue NGGAK MAU GELAR RESEPSI. Gue cuma mau adain pemberkatan pernikahan di gereja, di mana pernikahan gue direstui Tuhan dan keluarga inti. Karena, buat gue, menikah itu cuma buat dirayakan berdua, bukan rame-rame. Apalagi sama orang-orang yang nggak terlalu gue kenal. Gue pengin banget mendobrak tradisi resepsi yang udah mendarah daging selama ini. Gue pengin membuktikan bahwa resepsi pernikahan itu emang nggak penting. Dan masih banyak hal lain yang lebih penting.

Nggak apa-apa gue nikah modalnya murah banget, tapi abis itu gue bisa lebih kaya dan sukses karena duitnya dipakai buat hal berguna. Daripada gelar resepsi mewah dan dihadiri ratusan orang, tapi abis itu gue melarat karena banyak utang di mana-mana. Nggak apa-apa gue foto pre wedding cuma di Jakarta, tapi abis nikah gue bisa traveling ke mana aja, bahkan ke luar negeri. Nggak apa-apa nikah yang datang cuma keluarga inti, tapi video dan blog pernikahan gue dilihat jutaan orang di dunia maya dan bisa dilihat terus. Daripada gelar resepsi cuma dua jam, abis itu orang sama sekali nggak inget sama pestanya.

Gue juga nggak setuju sama ide pernikahan yang mengharuskan si pengantin pakai gaun menyapu lantai dan sepatu hak tinggi. Karena, ngapain sih harus atur-atur gaya berpakaian orang? Semua orang punya style masing-masing, termasuk pas nikah. Jadi, suka-suka si pengantin dong mau pakai apaan. Kata orang, pake baju pengantin super laknat itu buat membuktikan bahwa kalian adalah wanita seutuhnya. Gue NGGAK SETUJU BANGET! Karena, apa pun yang gue pakai, identitas gue tetep cewek, kok. Nggak ada yang berubah. Sama aja kayak melahirkan itu nggak harus normal, tapi juga bisa caesar dan orang-orang yang lahiran caesar, identitasnya juga nggak berubah. TETEP CEWEK. Makanya, pas nikah nanti, gue mau pake gaun pendek dan sneakers.

Gue nulis blog kayak begini, bukan buat menghina resepsi pernikahan atau menyuruh kalian buat nggak adain resepsi. Karena, mau gelar resepsi atau nggak, mau keluarin duit sebanyak apa pun buat nikah, mau undang siapa aja, itu merupakan hak masing-masing orang. Tapi, di luar sana banyak pasangan yang merasa tersiksa dengan adanya tradisi gelar resepsi pernikahan. Padahal, mereka nggak mau adain resepsi. Mereka cuma terpaksa buat mengikuti keinginan orangtua. Jadi, gue cuma mau mewakili perasaan orang-orang tersebut.

mariskatracy-rockBuat kalian yang sebenarnya nggak setuju dengan resepsi pernikahan, kalian pasti ingin kan tradisi tersebut diberantas? Kalian boleh share soal ini di kolom comment, ya!

Foto: bedobedo on depositphotos.com

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like¬†facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy