FacebookTwitter

Gue Ngerti Perasaan Jessica Wongso

By on Feb 5, 2016 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Sebagai anak gaul, gue rasa kalian tahu soal cerita Jessica yang taburin sianida di es kopi Vietnam-nya Mirna hingga Mirna tewas. Gue rasa normal banget kalau kalian nyalahin tindakan Jessica yang sudah seenak jidat hilangin nyawa anak orang. Hilangin nyawa anak kucing aja dosanya sudah kayak abis korupsi! Coba deh bayangin kalau Mirna itu adalah anak, istri, atau saudara kalian. Kalian pasti gemes, pengin ancurin, dan bakar mukanya si Jessica.

Gue sempat mikir, sebenci-bencinya gue sama orang, kayaknya gue nggak bakal tega bunuh dia, deh. Ah, emang dasar si Jessica aja yang psikopat!

Kak, gue ludahin makanan orang yang gue sebel aja nggak tega! Gue pernah bilang kayak gitu ke Peggy. Iyalah, ludahin makanan orang aja nggak tega, apalagi bunuh orang.

Eh, beneran lho. Sampai sekarang, di dalam otak gue sama sekali nggak pernah ada pikiran buat bunuh orang. Kalian mungkin menilai gue sadis, kasar, mukanya seram, dan lain-lain, tapi percayalah bahwa gue bukan orang seperti itu. Kalau nggak percaya, belah aja duren di Mangga Besar. Waktu kena kasus sama sebuah institusi yang merk-nya enggan disebut itu, gue aja sama sekali nggak pernah kepikiran buat bunuh si oknum. Padahal, gue gondok setengah mati! Tapi, tiba-tiba pikiran gue mulai mengarah ke masa lalu yang menurut gue cukup kelam buat diceritain.

mariskatracy-rock

Gue jadi keingetan sama salah satu cerita pendek di buku pertama gue, Air Mata Ibuku dalam Semangkuk Sup Ayam. Di cerita pendek itu, gue ceritain soal cewek yang berencana membunuh mantan pacarnya pakai racun yang ditaburin di kopi. HAHAHA…. Gue sendiri bingung kenapa gue bisa bikin cerita fiksi macam sinetron Indonesia itu! Sinetron apa aja yang sudah pernah gue tonton hingga gue nekat nulis kayak begitu sampai diterbitkan jadi buku dan sempat beredar di Gramedia. Pas gue baca lagi buku lawas gue itu, gue jadi geli-geli sendiri gimana gitu. Hahaha…

Air Mata Ibuku dalam Semangkuk Sup Ayam

Ini cuplikan cerita racun dalam kopi.

Agak bangga gimana gitu karena buku gue sekelas komik Detektif Conan karena sama-sama berhubungan dengan racun dan kopi, meskipun nggak seterkenal Conan! Kumpulan cerita di dalam buku itu emang fiksi semua. Eh, tapi ya, kalau dipikir-pikir lagi, ceritanya nggak fiksi-fiksi amat, sih. Soalnya kebanyakan itu idenya berasal dari kisah nyata yang dibuat seolah-olah itu fiksi. Makanya, kebanyakan orang yang baca, komentarnya pasti sama.

Kok kayak kisah nyata, ya?

Gimana cara Kak Uung nulis fiksi, tapi bisa kayak kisah nyata?

Jadi, cerita soal racun dalam kopi itu kisah nyata gue dong? Oh, tentu! Terus, kalian pasti langsung cap gue sebagai pembunuh berdarah dingin, kan? Jangan buru-buru lapor polisi dulu, Kak! Mending gue ceritain dulu kronologisnya kenapa gue bisa nulis cerita kayak begitu. Ehm, begini ceritanya…

Kemarin, gue baru inget kenapa gue bisa nulis cerita kayak begitu. Itu karena gue terinspirasi dari kisah nyata gue sendiri yang pernah hampir racunin seseorang yang sangat gue benci. Beneran, gue benci banget sama orang itu, makanya gue bisa sampe kepikiran mau bunuh orang itu. Gue mikir, kalau gue bunuh orang itu, maka masalah langsung kelar dan gue bisa sembuh dari sakit hati. Karena, gue nggak perlu lihat mukanya lagi selamanya.

Mungkin kalian kepo, pengin tahu kenapa gue sampe sakit hati banget sama orang itu. Tapi, gue memilih buat nggak menceritakan hal itu di blog. Biarlah hanya Tuhan dan beberapa orang terdekat yang tahu. Dan, keinginan untuk membunuh orang itu, sebenarnya nggak direncanain secara rapih. Itu terjadi karena ada kesempatan. Gue benar-benar baru terpikir di hari itu. Soalnya, gue sempat mengira gue sudah pulih, sudah mengampuni, dan melupakan. Tapi, ternyata gue belum benar-benar sembuh.

Karena waktu itu dia lagi minum segelas air dan kebetulan gue punya She Splash Cologne (cologne sejuta abege yang populer saat itu), gue langsung netesin segelas air itu dengan She Splash Cologne berkali-kali waktu dia lagi ke kamar mandi. Gue netesin dengan penuh kesadaran dan rasa benci tanpa mikir akibatnya nanti. Yang gue pikirin saat itu adalah gue harus bisa habisin nyawa dia biar sebanding sama kejahatan yang pernah dia lakukan. Kayak yang tadi gue jelasin, kalau dia mati, masalah selesai. Tapi, baru aja sampai hitungan menit, gue langsung ketakutan. Gue deg-degan setengah mampus. Sebelum dia balik, gue langsung buang airnya, terus gelasnya gue ganti sama yang baru.

Gue juga nggak ngerti, apa yang bikin gue takut? Apa karena gue nggak punya pengalaman bunuh orang, jadi gue takut dengan berbagai risiko yang ada. Padahal selama ini, gue adalah orang yang cukup sering bertindak nggak pake mikir, terutama ketika dulu. Waktu masih jadi abege labil. Mungkin karena gue takut kalau dia mati, terus gue yang diperiksa polisi kali, ya? Ketika gue berubah pikiran, ada berbagai hal yang menghantui pikiran gue. Di satu sisi, gue lega karena gue nggak jadi bunuh orang. Gue nggak jadi berbuat dosa yang lebih besar. Nggak jadi ketangkep polisi juga.

Di sisi lain, gue menyesal karena nggak jadi bunuh orang yang paling gue benci. Lagian, kalau dipikir-pikir, racun yang gue pakai kan cuma cologne abege. Nggak mungkin orang itu sampai mati. Paling keselek, tenggorokannya cidera, atau lambungnya luka. Terus nyesel deh, kenapa gue sampai batalin niat. Tapi, kalau cuma cidera, gue juga mikir, apa untungnya buat gue? Toh, orang itu bakal tetep hidup. Gue bakal lihat dia lagi, deh! Serba salah, kan! KZL

Akhirnya, gue lebih memilih buat mengampuni, meskipun sampai sekarang orang itu sama sekali nggak pernah minta maaf sama gue. Sebenarnya, gue sudah mengampuni dan sudah agak lupa sama kejadian itu, tapi kalau gue lihat mukanya lagi, bawaannya pasti kesal lagi. Tapi, gue harus mengampuni terus-menerus. Itulah yang disebut mengampuni sepenuh hati. Di alkitab aja bilang bahwa mengampuni itu nggak cukup 7 kali, tapi harus 70 kali 7 kali. Nah, sampai sekarang gue bingung maksudnya gimana, tuh. Dulu, gue pernah dijelasin mengenai teorinya kenapa bisa begitu. Cuma gue lupa. Hahaha…

mariskatracy-rock

Dari kejadian itu, yang bikin gue sekarang ngakak banget adalah racun yang gue gunakan ketika masih abege, yaitu She Splash Cologne. Bisa-bisanya gue pakai cairan itu buat racunin orang! Kenapa nggak pakai parfum atau cologne lain yang lebih berkelas, ya? Hahaha… Kenapa nggak pakai Versace atau Chanel aja?

Gue juga jadi ngerti perasaan Jessica Wongso, kenapa dia bisa sampai nekat racunin temannya sendiri. Dia pasti merasakan hal yang sama kayak gue. Mungkin sakit hatinya lebih parah, jadi niat membunuhnya benar-benar direncanakan dan dilakukan. Tapi, jangan salah sangka, ya, karena gue sama sekali nggak membenarkan tindakan Jessica karena hal itu merupakan tindakan kriminal. Mungkin, si Mirna juga punya salah sama Jessica, tapi tetep aja yang namanya bunuh orang itu dosa. Bisa aja dimaafkan, tapi nggak bakal bisa bikin si korban hidup lagi dan pastinya bakal jadi luka yang selamanya membekas.

Untungnya sih, waktu itu gue nggak jadi bunuh orang. Hahaha… Coba deh, bayangin kalau misalnya waktu itu gue bunuh orang. Bayangin, berapa tahun yang bakal gue habiskan di dalam penjara? Bisa-bisa begitu gue keluar dari penjara, gue sudah menopause, terus nggak sempat menikah dan gendong cucu! Kalau pun gue berhasil lolos dari penjara, gue pasti bakal terpenjara sama rasa bersalah yang nggak bakal hilang. Dan kalau gue lakuin perbuatan laknat itu, berarti sifat gue sama buruknya kayak orang yang gue benci itu, bahkan lebih parah.

Segitu aja sih blog singkat Kak Uung kali ini. Semoga bisa jadi bahan renungan untuk semua pembaca agar nggak bertindak bodoh dan akhirnya bukan cuma merugikan orang lain, tapi juga merugikan diri sendiri. Jangan lupa untuk terus mengampuni karena kalau kita nggak mengampuni, itu sama aja kayak kita yang minum racun, tapi berharap orang lain yang mati.

Foto: Dok. Mariska

 

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like¬†facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy