FacebookTwitter

Kisah Cina dengan Pribumi

By on Nov 16, 2015 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Gue bikin blog ini sebagai lanjutan dari blog Kenapa Orang Cina Nikahnya Sama Orang Cina Lagi?. Gue nggak menyangka sih blog tersebut jadi fenomenal banget hingga sempat menghasilkan lebih dari 100ribu views. Hahaha… Itu termasuk salah satu stats tertinggi gue selama hampir 1,5 tahun nge-blog. Kalau diuangkan dengan dikalikan kurs USD, gue udah bisa beli apartemen mewah, kebun binatang, bahkan kasino di Marina Bay Sands Singapura kayaknya.

Kalau baca judul blog ini, pasti ada orang-orang berpikiran sempit yang berpikiran negatif. Sebelum mikir negatif, mending dibaca dulu aja. Hehehe…

Selain mendapatkan pujian, peningkatan temen Facebook, jumlah likers di fan page, followers Instagram, Twitter, dan menerima beberapa pertanyaan di Ask.fm, gue juga menerima caci maki yang nggak mengenakan abis bikin blog fenomenal itu. Ada yang bilang artikelnya SARA. Hello, SARA dari mananya coba? Guma menjawab pertanyaan dari banyak orang selama ini. Serius, banyak yang penasaran mengenai hal ini. Kalau nggak banyak yang penasaran, nggak mungkin kan artikel itu dibaca sama banyak orang. Dan gue menjelaskan hal itu dari sudut padang gue sebagai orang Cina dan gue sama sekali nggak menyudutkan orang Cina atau pun pribumi. Tujuan utama gue bikin artikel itu adalah untuk membuktikan bahwa nggak semua orang Cina itu eksklusif dan hanya ingin bergaul dengan kaum mereka.

Lalu, ada juga yang bilang gue nggak etis pakai kata ‘Cina’ karena dianggap menghina dan harus mengganti kata tersebut dengan ‘Tionghoa’. Apalagi, hal itu udah sesuai dengan Keppres 2014 yang ditetapkan oleh Presiden SBY pada zamannya. Jadi, nggak boleh pake kata Cina untuk keperluan publikasi apa pun di media cetak maupun elektronik. Lah, blog gue kan blog pribadi. Bukan media besar kayak Liputan 6, Kompas, atau Detik. Kalian kasih lihat blog ini ke Pak Joko Widodo, gue rasa dia cuma ketawa-ketawa.

Kata Cina yang gue pakai sama sekali nggak ditujukan untuk menghina kaum Cina atau Tionghoa. Coba deh, kalian tunjukin satu kalimat aja yang menghina orang Cina di blog gue! Ada nggak? Kalau ada, gue kasih permen Jagoan Neon biar bibir kalian biru-biru kayak bibir gue. Kalau nggak menghina, jelas nggak masalah sama sekali. Hal itu bisa kalian baca di sini. Cukup sampai di sini, ya. Jangan sampai ke depannya ada ungkapan atau pertanyaan ‘Kak, kenapa pakai kata Cina? Bukannya harusnya Tionghoa?’. Kalau ada lagi yang tanya kayak begitu, nggak bakal gue jelasin lagi. Gue bakal kacangin! Atau gue block! Kalau orangnya ada di depan mata, bisa langsung gue gebuk. Ini serius!

mariskatracy-rockCukup sekian pembuktian bahwa gue nggak salah karena gue cewek. Toh, emang cewek nggak pernah salah kan? Gue langsung aja, ya, balik ke inti pembuatan blog kali ini. Abis baca blog itu, rupanya banyak juga yang curhat ke gue soal rumitnya kisah cinta antara Cina dan pribumi, soal nikah campur, bahkan soal kurang akurnya antara Cina dengan pribumi. Sebenarnya, ada banyak kisah yang gue dengar, tapi gue kasih 3 kisah yang mewakili aja, ya.

 

Orangtua Nikah Campur

“Nyokap gue Chinese. Masa mudanya dihabiskan sebagai anak pingitan. Sejak SD, beliau pulang sekolah harus langsung pulang. Telat 5 menit aja udah dipukul pakai sapu lidi sama Popo (Oma), lalu harus jaga toko sembako. Begitu terus sampai SMA. Nyokap pendidikannya cuma sampai SMA karena nggak mampu lanjutin ke bangku kuliah. Soalnya kan saudaranya aja ada 12!

Nyokap pacaran sama Bokap gue yang beda ras dan agama. Mereka kenalannya lucu banget! Dulu Bokap kan jaga toko jamu di depan toko sembako Nyokap, jadi mereka suka lihat-lihatan. Karena beda ras dan agama, hubungan mereka ditentang sama seluruh keluarga. Keluarga Nyokap menganggap bahwa menikah sama pribumi bisa merendahkan martabat. Apalagi, Bokap gue juga bukan orang kaya dan beliau cuma lulusan SD. Bokap itu merantau dari Cirebon ke Jakarta. Dari SD jualan es, pernah bikin roti di pabrik, jaga warung rokok, dan sebagainya. Mereka pun backstreet selama 6 tahun, tapi ketahuan sama keluarga dan Nyokap sempat diusir dari rumah.

Sempat dijodohkan juga sama orang lain, tapi Nyokap nggak peduli. Diajak kawin lari sama Bokap, Nyokap juga nggak mau. Nyokap nggak mau milih antara orangtua atau Bokap. Sampai akhirnya di tahun ketujuh mereka married juga secara Islam. Di Indonesia kan menikah beda agama susah, jadi salah satunya harus mengalah. KTP Nyokap pun diganti jadi Islam. Tapi, setelah itu mereka tetap menjalani keyakinan masing-masing. Bokap memeluk agama Islam dan Nyokap agamanya Buddha.

Keluarga Nyokap gue kasih syarat ke Bokap gue. Sesudah mereka menikah nanti, Bokap yang harus ikutan tradisi keluarga Nyokap gue yang punya latar belakang sebagai pedangang. Makanya mereka buka toko bangunan bareng. Start-nya bukan dari nol karena toko bangunan itu awalnya punya kakaknya Nyokap. Kakaknya Nyokap punya banyak hutang, jadi dia kabur ke pulau lain. Jadi, Nyokap dan Bokap-lah yang harus menanggung hutang-hutang kakaknya Nyokap.

Selain bayarin hutang kakaknya, Bokap gue yang cuma lulusan SD dan Nyokap gue cuma lulusan SMA juga bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai mendapatkan gelar Sarjana. Cicik gue bisa kuliah di luar negeri, Koko gue kuliah di UPH (Universitas Pelita Harapan), dan gue sekolah fashion design di ESMOD dan LaSalle.

Keluarga gue juga hidup dengan berbagai agama yang mereka. Bokap kan Islam, Nyokap Buddha, Cicik gue Agnostik, gue, dan Koko gue Kristen. Perbedaan itu nggak membuat kehancuran apa pun di keluarga gue. Wajar kalau di dalam keluarga ada masalah, tapi nggak ada satu pun yang disebabkan karena agama. Karena semua agama itu mengajarkan kebaikan dan kasih. Nggak ada yang mengajarkan hal buruk. Tuhan itu satu, manusia yang membuatnya nggak sama.”

Curhat-an itu disadur dari jawaban Selphie Usagi di Ask.fm-nya. Selphie Usagi adalah fashion designer sekaligus adiknya Uliel, temen gue. Gue ambil cerita itu karena ceritanya menarik. Sebelum bikin blog ini, gue juga udah tau kisah ini, sih. Karena Kak Selphie emang udah cerita di Ask.fm dan cerita itu udah kayak rahasia umum, jadi nggak ada salahnya gue ceritain lagi di sini. Gue juga udah minta izin sama orangnya, kok.

 

Di-bully Sama Pribumi

“Gue lahir di Jakarta. Dari TK sampai kelas III SD, gue sekolah di sekolah swasta yang notabene murid dan gurunya baik-baik. Lalu terjadilah kerusahan Mei 1998. Tahun 1999, gue pindah ke Batam karena krisis dan bisnis ortu gue di Jakarta udah nggak lancar kayak dulu. Di Batam, gue sekolah di SD Negeri yang mayoritas isinya pribumi.

Kayaknya dari 400-an murid, cuma gue doang yang Chinese. Waktu masuk ke kelas, gue kayak lagi ada di dunia lain. Gue kayak kambing yang dilepas di lapangan luas yang penuh dengan serigala. Ada yang tatapannya sinis, ada yang kayak lagi kelaparan, ada yang tatapannya kayak orang bloon, bengong, nggak gerak sama sekali, ada juga yang melihat gue kayak Alien yang abis turun dari UFO. Soalnya, di antara semua murid, cuma gue yang kulitnya paling terang.

Di masa inilah penderitaan gue yang paling berat dimulai. Di hari pertama gue masuk sekolah aja udah langsung di-bully. Bahkan, sama guru-guru di sekolah. Karena di hari pertama itu, gue nggak ada buku cetak pelajaran. Padahal kan wajar, ya, kalau di hari pertama gue pindah ke sekolah, gue belum ada buku cetak. Apalagi, di hari pertama gue pindah rumah ke Batam, besoknya langsung sekolah. Gue pun langsung di-strap di depan kelas!

Kalau nulis catatan, gue pakai tulisan tegak bersambung, rapih, dan indah karena di sekolah gue yang lama, gue diajarin nulis kayak begitu. Eh, gurunya malah nggak terima. Gue pun dipaksa buat belajar menulis dengan huruf cetak dan itu membuat gue serasa kembali ke zaman TK, di mana gue masih belajar menulis. Karena nggak terbiasa, pas nulis tulisan gue jadi jelek, udah gitu lamban juga. Dan itu bikin gue makin tersiksa di sekolah.

Murid yang duduk di belakang gue yang merupakan ketua kelas, di setiap kesempatan suka banget sabet gue pakai penggaris besi. Setiap kali gue lapor ke guru, malah gue yang kena marah. Ketika jam istirahat, gue juga nggak berani keluar kelas. Gue cuma duduk di dalam kelas karena takut. Karena biasanya gue suka digebukin rame-rame sama murid-murid lainnya tanpa alasan. Mereka juga suka menyeret gue belakang sekolah dan menjadikan gue karung pasir. Kalau udah kayak begitu, gue cuma bisa lari ke kantor guru. Kalau jam istirahat udah abis, gue ikut bareng guru aja masuk ke dalam kelas.

Gue trauma, tapi untungnya mental gue masih kuat. Kalau nggak, mungkin gue udah sakit jiwa. Gue udah laporin kejadian ini ke ortu gue. Ortu gue juga udah laporin ke pihak sekolah. Tapi, masalahnya guru yang mem-bully gue adalah wakil kepala sekolah dan dia wali kelas gue. Jadi pem-bullyan terus berlanjut.

Gue harus pasrah tetap sekolah di sana karena sekolah yang letaknya dekat sama rumah gue, ya, cuma SD Negeri itu. Sekolah swasta letaknya jauh dari rumah gue. Hal itu bikin gue nggak fokus buat belajar. Nggak ada pilihan lain selain harus melawan balik karena kerjaan gue di sekolah itu cuma diajak berantem.

Keadaannya berbeda banget sama di Jakarta. Di Jakarta kan gue masih innocent dan bisa melihat dunia ini dengan penuh kedamaian. Badan gue juga kecil dan lemah. Tapi, setelah itu semuanya berubah. Selama setahun, gue udah bisa menghadapi para preman bajingan di kelas. Karena setiap hari berantem, lama-lama badan gue jadi kekar, banyak luka sana-sini, dan nggak kalah bringas sama preman-preman. Gue udah masuk ke top 10 centeng di sekolah, cukup sering ikutan tawuran antar sekolah, dan cukup disegani di sekolah. Gue udah kayak mesin berantem. Setiap kali ketemu orang yang gue nggak suka, gue langsung hajar tanpa alasan sampai dia nangis dan teriak.

Di kelas pun nggak ada yang berani ganggu gue lagi. Apalagi, gue sempat nggak naik kelas sekali, jadi waktu itu murid-murid yang sekelas sama gue adalah bekas adik kelas gue. Hahaha… Pas masuk kelas VI SD, gue bisa berhasil jadi centeng pertama di sekolah dan bisa menghadapi hidup dengan damai. Selanjutnya, gue masuk ke sekolah swasta dan lebih bisa menjalani kehidupan dengan normal hingga sekarang. Sekarang, gue berprofesi sebagai 3D artist.

Jujur, gue kadang masih menyimpan dendam sama pribumi, meskipun sekarang gue bergaul dengan teman-teman pribumi. Ini bukan karena gue rasis. Tapi, kenyataannya banyak pribumi yang masih primitif pola pikirnya alias masih banyak yang belum beradab. Mungkin sama halnya dengan beberapa orang Cina yang pola pikirnya masih primitif juga alias eksklusif terhadap orang non Cina. (red.)

Di zaman globalisasi sekarang ini, untungnya nggak “segelap” kayak zaman dulu. Ini cuma salah satu contoh aja yang menyebabkan orang Chinese umumnya bersifat eksklusif terhadap pribumi. Jadi, tolonglah untuk saling bertoleransi dan menjaga kerukunan antar sesama manusia, apalagi kita adalah sesama WNI.”

Kalau cerita itu adalah cerita Wono, pembaca blog yang kasih komentar di blog gue. Isi curhat-nya sama persis, kok. Cuma gue edit aja tata bahasanya biar lebih indah. Ciyeee… Karena dia komentar kayak gitu di blog, berarti Wono nggak bakal keberatan ceritanya di-publish.

 

Putus Karena Beda Ras

“Gue pribumi beragama Islam dan udah 2 kali pacaran sama cewek Chinese. Yang pertama itu pacaran sama anak pengusaha di bidang otomotif. Sebenarnya kami hampir menikah karena keluarganya open-minded banget. Ortunya juga suka jalan-jalan sama gue ke Mangga Dua buat makan bareng dan lain-lain. Tapi, kami memutuskan buat putus karena sifat kami sama-sama keras.

Cewek Chinese yang kedua itu agamanya Buddha dan tinggalnya di Bandung. Sama cewek yang ini, gue udah anggap dia soulmate banget! Dia bukan anak orang kaya, sih. Dia cuma lahir di keluarga biasa, tapi anaknya rajin dan punya semangat kerja yang tinggi. Gue kan punya perusahaan yang cabangnya di Bandung, gue suruh dia yang pegang. Jam 3 pagi dia bangun tidur, terus langsung bikin kue, masak nasi uduk dan nasi kucing buat jualan. Di jam bikin kue dan masak itu, gue suka banget telepon dia buat temenin dia ngobrol. Jam 5 sampai 10 pagi, dia jualan kue di emperan. Pas dia jualan, gue juga suka temenin dia. Abis kelar jualan, dia langsung kerja di perusahaan gue. Selain rajin kerja, dia juga irit banget! Dia suka ajarin gue supaya nggak kasih uang tip banyak-banyak pas makan di resto, dia juga suka ajakin gue makan di pinggir jalan biar murah. Baik dan ngemong banget anaknya!

Kami juga udah ngomongin soal married, tapi Ibunya nggak setuju. Gue kan punya perusahaan dan bisa menghidupi anaknya lebih dari cukup, tapi Ibunya punya ketakutan sendiri. Ibunya mengira bahwa semua orang Islam punya kecenderungan untuk poligami. Padahal, biasanya kan orang yang poligami itu yang biasanya tinggal di kampung atau hidung belang.

Karena cinta, cewek gue itu sampai mempertahankan hubungan kami di hadapan Ibunya selama 2 tahun, tapi akhirnya dia capek juga dan menyerah. Kami berdua sedih banget karena terpaksa harus berpisah. Booking room di karaoke, bukannya nyanyi, malah nangis sambil peluk-pelukan. Hiksss…

Setiap kali lihat cowok Chinese, bawaannya langsung mikir ‘Untung banget lo! Lo kalau ngelamar mantan gue pasti langsung diterima!’. So I guess, ketika kita akhirnya menemukan soulmate kita, biasanya dia bukan jodoh kita. Karena udah putus dan dia nggak dibolehin buat ketemu gue lagi, gue pun tutup perusahaan gue yang di Bandung itu.

Setiap kali gue cerita ke orang soal putusnya hubungan gue sama dia, orang-orang pasti tanya tentang status ekonominya. Mereka bilang ‘Cari yang sederajat aja, Pak. Paling nggak orang kantoran juga’. Dari situ, gue melihat adanya gap antara orang middle ke atas sama orang yang middle ke bawah. Nggak mandang apakah dia Chinese atau pribumi! Bahkan, Nyokap gue pun sering wanti-wanti ke gue supaya cari pacar yang kaya juga. Gue jadi kesal dengarnya. Itu sih diskriminasi banget! Padahal, uang kan bisa dicari.

Terus terang sampai sekarang, gue masih nggak punya semangat. Karena percuma aja gue punya harta lebih, tapi nggak bisa di-share sama soulmate gue. Padahal, Kakak gue nikahnya sama orang Chinese dan anaknya jadi paling disayang sama ortu gue. Indah banget, ya, kalau udah bisa saling menyayangi tanpa liat perbedaan antara Chinese atau pribumi.”

Nah, kalau yang ini sih pengalaman salah satu pembaca blog gue yang di-curhatin lewat inbox Facebook. Sebut aja yang curhat namanya Joko. Joko nggak keberatan sih kisahnya ditulis di sini. Malahan temen-temennya bilang bahwa kisahnya bagus banget dan cocok buat dijadikan film!

 

mariskatracy-rock

Seperti itu sih kisah antara Cina dan pribumi yang gue tau. Ada yang sedih, ada juga yang akhirnya happy ending. Artikel ini bukan buat membahas SARA atau memancing keributan, tapi gue cuma pengin kasih tau bahwa semua makhluk hidup di dunia ini, apa pun latar belakang mereka, punya kisahnya masing-masing. Kadang, kita nggak bisa milih harus jatuh cinta sama siapa atau berteman dengan siapa.

Foto: Dok. Mariska

 

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like¬†facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy