FacebookTwitter

Kenapa Orang Cina Nikahnya Sama Orang Cina Lagi?

By on Nov 8, 2015 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Lah, emang salah? Gue cuma bisa jawab begitu kalau ditanya pertanyaan kayak begitu. Daripada membahas benar atau salah, gue bahas dulu kenapa gue bikin blog ini. Karena di search engine terms blog gue, banyak banget yang mencari jawaban atas pertanyaan ini. Blog gue kan suka banget bahas hal-hal yang berhubungan dengan kecinaan, jadi ketika mereka mencari jawaban, mereka malah nyasar di blog gue. Kasihan, ya, udah capek-capek buka blog gue ternyata malah nggak mendapatkan jawaban apa-apa.

Udah gitu, banyak juga yang kirim komentar dan bertanya soal pernikahan beda ras dan sejenisnya. Banyak juga yang galau karena nggak bisa pacaran sama orang Cina karena dirinya pribumi. Padahal, di luar sana banyak juga kok orang pribumi yang akhirnya menikah sama orang Cina. Karena pada dasarnya jodoh itu kan pilihan manusia. Bukan dicomblangin sama Tuhan sejak kita masih di dalam kandungan. Kita bebas menikah sama siapa aja, bebas jika ingin bercerai, bebas jika ingin berpoligami, dan lain-lain. Mau jadi jomlo dan nggak menikah seumur hidup juga boleh. Semua pilihan ada di tangan kita.

Meskipun gue belum nikah, tapi yang gue tahu sih, memilih jodoh itu nggak cuma berdasarkan keinginan sendiri, tapi banyak faktor lain yang harus dipikirin sebelum akhirnya menikah. Salah satunya faktor orangtua. Menikah itu bukan cuma menikahkan 2 orang, tapi juga 2 keluarga besar. Biasanya, orangtua ingin tetap mempertahankan tradisi atau adat istiadat di keluarga, jadi mereka lebih memilih untuk menikahkan anak mereka dengan seseorang yang rasnya sama. Biar nggak ribet nantinya.

Begitu pula dengan orangtua Cina yang masih totok dengan tradisi yang mereka miliki. Mereka nggak mau tradisi di keluarga nantinya punah karena anak mereka menikah dengan seseorang yang berbeda ras dan memiliki tradisi yang juga berbeda. Meskipun di zaman modern seperti sekarang ini orang Cina udah nggak terlalu mengikuti tradisi dan adat istiadat, tapi tetep aja mereka berprinsip teguh untuk menikahkan anak mereka dengan sesama Cina. Soalnya, mereka mikirnya, nikah dengan sesama orang Cina aja masih suka ribet, apalagi sama orang non Cina.

Selain supaya bisa melanjutkan tradisi dan adat istiadat, orangtua juga pasti pengin nantinya cucu mereka masih punya marga Cina. Kalau anaknya cowok, kayaknya masih bisa memilih cewek pribumi karena cowok itu kan bisa menurunkan marga. Beda sama cewek yang harus ikut marga suami jika udah menikah. Makanya, Cewek Cina biasanya harus punya suami cowok Cina juga. Jadi, cucu mereka masih punya marga Cina.

mariskatracy-rockKita juga tahu bahwa orang Cina mengalami diskriminasi di Indonesia sejak zaman dahulu kala. Keberadaan orang Cina nggak dianggap di Indonesia. Orang Cina cuma dianggap menumpang di Indonesia dan selalu disarankan untuk kembali ke negeri asalnya. Bahkan, orang Cina juga nggak bisa bebas terjun ke berbagai bidang kehidupan. Orang Cina cuma dikasih kesempatan berdagang. Karena cuma bisa menguasai bidang itu, akhirnya orang Cina jadi ahli berdagang dan berperan penting memajukan perekonomian di Indonesia. Udah sukses gila-gilaan, tapi malah dianggap ngambil lahan pribumi. Jadi, orang Cina tetep aja didiskriminasi.

Nggak heran kalau orangtua Cina lebih pengin anaknya menikah sama orang Cina juga karena dari sananya udah sakit hati. Mereka lebih merasa safe jika besanan sama keluarga Cina juga. Emang sih, hal itu nggak menjamin kehidupan rumah tangga bakal bahagia, tapi setidaknya menurut mereka itu adalah hal yang terbaik.

Kalau kalian googling tentang kerusuhan dan pembantaian orang Cina di Indonesia, dari zaman jebot, hal itu udah terjadi. Cuma waktu itu gue belum lahir aja, jadi belum tahu rasanya gimana. Yang paling terpampang nyata yaitu kerusahan Mei 1998 silam. Di mana orang Cina dibantai dan diperkosa habis-habisan. Rumah keluarga gue yang dulunya dipake buat buka toko kelontong juga kena imbasnya. Dijarah, tapi nggak terlalu parah, sih. Dan Puji Tuhan nggak sampe dibakar. Dan yang bikin gue bersyukur sampe sekarang adalah gue dan keluarga nggak ada yang diperkosa atau dibunuh. Terus gue sekeluarga jadi benci nggak sama pribumi? Ya, iyalah. Bohong banget kalau gue bilang nggak benci sama sekali. Dengan kejadian kayak begitu, gue sih nggak heran kenapa orangtua Cina makin over-protective soal jodoh anak-anak mereka.

Sebenci-bencinya gue sama pribumi, tapi gue tetep berusaha mikir positif sih. Gue mikirnya, nggak semua pribumi jahat kayak begitu, kok. Yang baik juga masih banyak. Salah satunya, pembantu gue yang udah kerja di keluarga gue selama belasan tahun. Baik atau nggak seseorang kan nggak ditentukan dari ras, warna kulit, agama, atau apa pun. Orang Cina ada juga kok yang jahat dan licik.

Gue juga ngerti sih kenapa orangtua Cina bisa sangat selektif dalam hal memilih jodoh untuk anak mereka. Gue sih nggak masalah dengan pemikiran kayak begitu, lagipula ketika itu gue masih muda banget dan belum mikirin soal jodoh-jodohan. Gue juga nggak pernah suka sama cowok pribumi. Karena hampir setiap hari yang gue temui adalah cowok Cina. Di masa kanak-kanak dan remaja gue juga dicekoki oleh banyak serial Taiwan kayak Pendekar Rajawali, Meteor Garden, dan lain-lain. Hal itu cukup banyak berpengaruh ke selera gue. Gue jadi lebih tertarik sama cowok yang matanya segaris kayak gue.

Nyokap gue juga masukin gue ke sekolah Kristen atau Katolik dari TK sampe SMA. Di masa-masa sekolah, gue hampir nggak pernah bergaul sama yang namanya pribumi. Temen pribumi ada sih, tapi paling cuma 1 atau 2 orang. Begitu juga waktu masuk kuliah. Gue tetep bergaul sama banyak orang Cina. Kalian kan tau sendiri kayak gimana kampus gue. Fakultasnya aja Ekonomi dan di sana banyak anak pengusaha dan orang-orang yang jago banget itung duit! Gue di sana bagaikan butiran debu yang ilmu hitung-hitungannya pas-pasan banget! Sebagai Cina, gue merasa gagal.

mariskatracy-rockBisa dibilang, gue lebih mengenal keberagaman waktu gue masuk ke dunia magang dan kerja. Apalagi gue kerja di bidang media, di mana gue lebih banyak bertemu orang pribumi ketimbang orang Cinanya. Gue juga nggak ngerti kenapa gue lebih suka sama dunia itu ketimbang bisnis dan dagang-berdagang. Kalau bisa memilih, gue lebih memilih untuk jadi pedagang kayak orang Cina pada umumnya karena duitnya kenceng banget. Mirisnya, sebagai Cina gue malah nggak bisa dagang. Lebih bisa menulis dan lebih terpanggil ke bidang tulis-menulis.

Awalnya, gue nggak pernah menyangka bisa masuk ke dunia media karena di dalam pikiran gue, orang Cina pasti susah masuk ke bidang itu. Mustahil banget, deh. Ternyata, itu cuma sekadar mitos. Gue bisa-bisa aja masuk ke dunia itu. Bahkan, makin lama gue jadi melihat banyak orang Cina yang kemampuannya diakui di berbagai bidang, nggak cuma dagang-berdagang.

Waktu kerja, gue juga sadar bahwa masih banyak orang pribumi yang baik hati. Orang kantor gue semuanya baik. Mereka sangat menghargai perbedaan. Kalau gue Natalan atau Imlek pasti diucapin. Yang gue nggak suka dari mereka cuma satu, yaitu nggak bisa diajak makan babi. Hahaha…

Sebagai kaum minoritas di kantor, gue pernah dapet pertanyaan seperti ini.

Kenapa sih orang Cina cuma mau bergaul sama sesama Cina?

Kenapa orang Cina nikahnya sama orang Cina lagi?

Kenapa orang Cina nggak mau nikah sama pribumi?

Lalu gue bingung jawabnya gimana. Gue cuma bisa jelasin seadanya soalnya takut menyinggung perasaan mereka. Jawaban-jawaban lebih lengkapnya baru aja gue jelasin di sini. Kalau soal pertemanan dengan beda ras, kebanyakan orangtua Cina nggak pernah keberatan jika anaknya bergaul dengan pribumi asal orangnya baik. Tapi, kalau sampe pacaran apalagi nikah, mereka belum tentu setuju. Ya, karena alasan-alasan yang tadi itu. Dan kayaknya, nggak cuma orang Cina yang strict dalam hal ini, tapi orang Arab dan Batak juga begitu, kok. Semua punya alasan masing-masing.

Ada temen kantor gue yang sangat peka sama gue, namanya Adisti. Adisti sangat yakin bahwa gue takut sama orang pribumi. Gue bingung sama pendapat dia. Hah, takut kayak gimana? Kayaknya biasa aja, deh.

“Uung itu pas baru masuk kerja, anaknya pendiem banget. Gayanya normal, nggak brutal kayak sekarang,” kata Adisti ke Kak RG.

“Oh…” Kak RG cuma bisa angguk-anggukin kepala.

“Dan dia itu kelihatan takut banget sama pribumi. Mungkin karena dulunya dia belum terbiasa bergaul sama pribumi,” kata Adisti lagi.

“Hah, kata siapa? Nggak kayak gitu, kok,” bilang gue.

“Halah, dari bahasa tubuh lo keliatan tau. Sekarang sih udah nggak. Sekarang, lo udah terlihat nyaman bergaul sama pribumi. Tadinya, gue juga kayak begitu, kok. Gue merasa orang Cina itu sangat eksklusif dan nggak mau bergaul sama pribumi. Tapi, setelah mengenal lo, ternyata nggak begitu, kok. Asyik-asyik aja. Gue juga jadi lebih bisa bergaul sama banyak orang Cina kayak si Kakak dan Adik (Sherly dan Willy). Mereka juga asyik-asyik,” jelas Adisti.

Terus, gue jadi ngerti deh, dulunya gue kayak gimana. Kadang, kita suka denial dan nggak bisa menilai diri sendiri. Karena menilai diri sendiri kadang lebih sulit ketimbang menilai orang lain. Makanya, kita butuh bantuan orang lain. Yang penting sih, rasa takut gue sama pribumi udah sembuh. Hehehe…

mariskatracy-rockKalau sekarang kalian lihat gue pacaran sama orang Cina juga, percayalah itu bukan karena gue masih benci sama orang pribumi. Ya, emang karena dikasihnya yang sipit juga. Dan kayak yang tadi gue jelasin sebelumnya bahwa ini bicara soal selera pribadi. Selain itu, gue juga menghormati keinginan orangtua gue yang masih pengin punya menantu orang Cina dan cucu Cina.

Lalu, jika ingin nikah campur gimana? Tentu tidak masalah, toh Chihuahua kalau kawin sama Puddle, anaknya lucu-lucu juga. Sama aja kayak orang Sunda bisa makan Chinese food dan orang bule bisa makan Indian food. Enak atau nggaknya makanan itu kan tergantung dari cara memasak dan mengemasnya, nggak hanya dilihat dari asalnya. Orang bakal lebih mudah tertarik sama kalian jika kalian punya kepribadian yang baik, bukan dinilai dari mana asal kalian.

Bicara soal nikah campur, gue pernah denger penelitian bahwa nikah campur itu bagus banget buat genetik keluarga kita ke depannya. Karena, kalau orang Cina nikah sama orang Cina lagi, biasanya keturunannya bakal menderita penyakit yang itu-itu aja kayak stroke, diabetes, tekanan darah tinggi, dan lain-lain. Sering denger kan orang Cina penyakitnya seputar itu-itu aja? Pernikahan beda ras dipercaya bisa mencegah hal itu.

Dan di antara banyaknya keluarga Cina totok, masih ada kok keluarga Cina yang memberikan kebebasan kepada anaknya buat memilih jodoh. Ada yang mikir, nggak apa-apa rasnya beda asal agamanya masih sama. Ada juga yang mikir asal anaknya baik, kenapa nggak? Semua balik lagi ke pribadi orangtua masing-masing, apalagi makin lama pemikiran orang kan bisa lebih maju.

Selain itu, banyak juga orang Cina yang belum tentu sukanya sama orang Cina lagi. Ada juga kok orang Cina yang bosan lihat yang sipit-sipit dan pengin punya keturunan yang nggak gitu-gitu aja. Ada orang Cina yang lebih suka bule, lebih suka orang Sunda, dan sebagainya. Karena setiap orang itu unik dan kadang seleranya nggak bisa ditebak. Intinya sih, nggak semua orang Cina nikahnya sama orang Cina lagi.

mariskatracy-rockYa kayak begitu, deh hal-hal yang bisa Kak Uung sampaikan. Semoga bisa menjawab pertanyaan kalian yang selama ini menjadi misteri. Sampai jumpa di blog gue yang berbau Cina lainnya. Hahaha…

Lanjutan blog ini bisa kalian baca di blog Kisah Cina dengan Pribumi.

Foto: Dok. Mariska

 

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like¬†facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy