FacebookTwitter

Belajar Menulis Biografi dari Kak Alberthiene Endah

By on Oct 1, 2015 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Gue udah tau sosok kak Alberthiene Endah (AE)  sejak tahun 2009. Waktu itu, doi bikin buku biografi Krisdayanti berjudul My Life, My Secret. Setelah itu, makin banyak kisah orang terkenal yang doi bukukan dan kak AE jadi penulis buku biografi nomor 1 di Indonesia. Tapi, gue baru tau bahwa doi adalah mantan redaksi di majalah Femina tahun 2010. Ketika itu gue juga baru masuk ke kantor itu, tapi kerjanya di majalah GADIS (yang juga segrup). Begitu tau kak AE pernah kerja di Femina selama 10 tahun, gue jadi ngefans sama doi.

Saking ngefans-nya, gue nggak cuma follow Twitternya doi, tapi juga pantengin timeline-nya setiap hari. Abis timeline-nya menarik untuk dikepoin dan di-retweet. Gue bisa ngefans sama doi kayaknya gara-gara kami punya latar belakang dan cita-cita yang hampir sama. Sama kayak kenapa gue ngefans sama Takeru Kobayashi. Sejak itu, gue juga jadi kepikiran buat mengejar cita-cita gue sebagai penulis buku lebih serius dan nggak mau lama-lama kerja di majalah.

Tahun 2012, kak AE pernah buka kelas menulis biografi dan kisah nyata di gedung Gramedia. Tentu aja gue nggak melewatkan kesempatan itu dan gue memutuskan untuk jadi peserta. Di workshop itu kak AE curhat kenapa doi nggak mau lama-lama kerja di kantor majalah. Soalnya doi bosan kelamaan nenteng majalah orang lain. Doi lebih bangga kalau bisa nenteng bukunya sendiri. Gue pun makin kagum sama doi dan makin terinspirasi buat nenteng buku sendiri ketimbang nenteng majalah orang lain. Tapi, saat itu gue merasa bahwa belum waktunya gue resign karena masih harus banyak belajar di kantor gue. Doi aja belajar di sana selama 10 tahun. Masa gue kerja baru seumur jagung udah ribut mau keluar?

Kak AE juga banyak bukain pikiran gue soal asyiknya menulis buku biografi dan kisah nyata. Sebelumnya kan gue merasa bahwa gue cuma bisa nulis fiksi atau karang-mengarang seperti di buku pertama gue Air Mata Ibuku dalam Semangkuk Sup Ayam. Sebelum gue masuk GADIS, gue orangnya emang suka berimajinasi dan melamun, jadi gue suka bikin cerpen fiksi. Bahkan cerita pribadi dan orang lain pun bisa gue sulap jadi fiksi. Tapi, setelah masuk GADIS, gue lebih banyak nulis artikel yang udah pasti berisi kisah nyata dan lebih banyak me-report sesuatu.

Gara-gara itu, gue jadi makin lupa gimana caranya nulis fiksi yang bagus. Tapi, gue jadi tertarik buat bikin buku biografi dan kisah nyata. Gue jadi mikirin siapa aja orang-orang yang pengin gue tulis kisahnya dan siapa aja orang-orang yang kisahnya unik dan menarik. Sampe sekarang, list-nya pun masih ada di otak gue. Bukan cuma orang terkenal yang list-nya ada di otak gue, tapi juga beberapa orang biasa. Karena menurut kak AE, siapa pun pasti punya cerita menarik untuk ditulis di buku.

mariskatracy-rockTahun ini, gue malah bikin buku kisah nyata gue sendiri yang judulnya Happy Tummy. Kalau udah baca bukunya, kalian pasti tau isi bukunya. Isinya tentang pengalaman gue yang suka ikutan lomba makan dan lumayan sering jadi juara. Awalnya gue nggak pernah kepikiran buat nulis tentang diri sendiri karena merasa belum sukses dan kaya bak motivator atau pengusaha. Tapi, kak AE bilang bahwa sukses itu bukan cuma dinilai dari uang atau harta. Yang penting, buku kita bisa membawa dampak positif bagi semua orang yang membacanya.

Yang bikin gue senang adalah kak AE jadi salah satu endorser di buku Happy Tummy. Gue cuma iseng kirim email dan bertanya, apakah doi mau jadi endorser gue? Dan ternyata doi mau! Kak AE baik banget dan nggak sungkan buat menolong penulis kayak gue yang pengalamannya masih kayak serpihan biskuit Khong Guan.

FullSizeRender

mariskatracy-rockTanggal 28 September kemarin, majalah Femina adain Femina Writers Club dengan tema Menulis Biografi dengan Hati bersama kak AE di Writer’s Bar, Raffles Jakarta Hotel. Ya udah deh, gue iseng-iseng aja ikutan padahal daftarnya di jam-jam mepet. Untung aja masih bisa jadi peserta. Hahaha… Terima kasih Kak Rahma Wulandari buat bangku peserta yang disisain buat gue.

Meskipun gue udah pernah ikutan workshop serupa di tahun 2012, tapi gue masih merasa butuh. Karena nggak semua hal bisa kita ingat semuanya hanya dengan satu kali mendengar. Kadang, kita juga butuh mendengar hal yang sama berulang-ulang supaya nyantol lagi di otak. Apalagi, gue lagi kerjain proyek baru, yaitu bikin biografi seseorang yang gue kenal cukup baik.

Eh, iya kalau di Alkitab bilangnya apa yang pernah kita pikir dan doakan, itu Tuhan bakal kasih. Tahun 2012 kemarin, gue mikirin salah satu artis yang gue sering banget wawancarain dan gue pengin banget bikin buku biografinya. Tapi, gue nggak pernah berani bilang langsung ke doi karena nggak punya nyali. Di tahun ini, gue malah dapat kesempatan itu dan orangnya mau banget gue tulis. Tentu aja gue senang banget! Nanti kalau bukunya udah jadi, gue bakal share lagi di blog ini, ya! Hahaha…

Tadinya sih target gue bukunya bisa jadi di bulan September kemarin, tapi karena ada beberapa hal, bukunya nggak bisa selesai bulan kemarin. Apalagi sekarang udah tanggal 1 Oktober. Kandas sudah dengan harapan itu. Tapi, gue janji bakal menyelesaikan buku itu secepatnya.

Oh ya, kembali lagi ke acara writers club kemarin. Jadi, di acara itu, kak AE sempat bagi-bagi wejangan soal menulis buku biografi, yaitu:

1. Siapa pun Pantas Bikin Buku Biografi

Kayak yang tadi gue jelasin sebelumnya. Bahwa nggak ada satu pun orang di dunia ini yang kisahnya nggak pantas untuk ditulis. Setiap orang punya drama dalam kehidupannya masing-masing. Seorang tukang becak bisa aja punya kisah yang lebih menarik dibandingkan dengan kita. Jadi, jangan nge-judge orang dari nama, status, kejahatan, atau kebaikannya. Bahkan, artis atau diva yang udah drop, bahkan koruptor pun pantas-pantas aja jika ingin buat buku biografi.

Contohnya, dulu kak AE setelah bikin buku biografi almarhum Chrisye, doi bikin buku biografinya Venna Melinda. Menurut orang-orang sekitarnya, kak AE menurunkan kelasnya sendiri. Karena ketika itu citra Venna Melinda sedang menurun. Doi udah nggak populer lagi.

“Waktu saya ketemu sama Venna, dia cerita bahwa keadaannya lagi drop. Dia juga curhat 10 tahun sebelumnya, ketika dia masih jaya-jayanya sebagai seorang artis, dia melakukan kesalahan yang sangat fatal. Dia sangat egois dan arogan di lokasi syuting, bahkan dia pernah menendang kru dan melakukan perbuatan lain yang nggak elok sebagai seleb. Tapi, dia jadi seperti itu karena punya dendam di masa kecil. Ibunya dulu di-abused sama Ayahnya. Dia juga pernah kelaparan banget, Ibunya nggak punya uang dan Ayahnya nggak peduli. Dia sampai mencuri salad di supermarket, lho.

Menurut Venna, seseorang bisa punya psikologi yang nggak beres karena mereka punya pengalaman traumatic di masa lalu. Makanya, dia pengin menuliskan tentang hal itu di buku. Sebagai seorang penulis, saya merasa sinyal itu sudah menggetarkan hati dan saya merasa perlu menuliskan itu. Di dunia ini, pasti banyak orang belum bisa lepas dari trauma masa kecil,” ujar kak AE.

2. Penulis Biografi Biasanya Memulai Karier Sebagai Novelis atau Wartawan

“Biasanya mereka nulis novel fiksi, buku kisah nyata, atau memulai karier sebagai wartawan. Karena penerbit lebih mempercayai orang-orang yang punya kemampuan menulis kisah nyata. Mereka dinilai punya akar yang kuat untuk menulis buku biografi. Setelah itu, barulah karier biografi berjalan. Nggak ada tuh yang tiba-tiba muncul, terus bilang ‘Eh, saya mau nulis biografi, ya’.

Saya merasa beruntung pernah bekerja di Femina karena di sana saya bisa menulis tentang apa saja. Saya bisa nulis soal pemain sinetron, presiden, bahkan tentang seorang aktivis kerusuhan Mei 98. Femina mengajarkan saya bagaimana menelusuri isi hati seseorang, bagaimana menyerap perasaan seseorang, dan bagaimana kita memahami kepedihan orang lain. Ditambah lagi, di zaman itu saya juga lagi susah-susahnya. Itulah modal membuat biografi. Bukan sekadar punya kemampuan menulis profil seseorang.

Sebenarnya, nggak cuma mereka yang punya latar belakang tersebut yang mampu jadi penulis biografi. Saya melihat banyak kok orang yang nggak punya latar belakang seperti itu, tapi mereka bisa menulis dengan sangat cantik mengenai kisah hidupnya, walaupun hanya di status Facebook atau Twitter. Orang-orang seperti ini sangat berbakat untuk menulis buku biografi. Itu yang jadi beban untuk saya, gimana caranya memperkenalkan orang-orang seperti itu di dunia penulisan. Nah, mungkin ajang seperti inilah yang bisa digunakan agar bisa melahirkan penulis-penulis biografi baru,” papar kak AE.

Gue merasa langkah gue udah bener. Gue pernah bikin buku fiksi, kisah nyata, dan pernah jadi wartawan selama 5 tahun. Tapi, gue tetap harus melatih yang namanya kepekaan dan memahami isi hati seseorang. Gue kan orangnya datar, lempeng, dan cuek, jadi harus dikurang-kurangin yang kayak gitu, deh.

3. Kepekaan, Bisa Menulis, dan Punya Jiwa Pengejar Pesan

“Itu adalah 3 modal utama seorang penulis biografi maka tulisan akan jadi bernyawa. Kalau sudah punya 3 modal itu, menulis biografi akan sangat mudah. Jangan pernah mikir bahwa menulis biografi itu cuma mengumpulkan data dan CV yang dipanjang-panjangin.

Misalnya, ada yang cerita bahwa suaminya punya istri 4 dan dia adalah istri yang keempat. Di rumah tangganya, dia mengalami siksaan. Mungkin kalau orang lain yang dengar cerita itu responnya bakal biasa aja. Seperti dengar cerita seru pada umumnya. Tapi, kalau saya yang dengar cerita itu, radar saya langsung jalan. Dari cerita itu, pasti banyak pesan yang bisa ditangkap, banyak tema yang bisa digali,” pungkas kak AE.

4. Punya Kesabaran yang Tinggi

Kalau nulis biografi seseorang, pastinya kita bakal sering ketemu doi dan mood narasumber belum tentu sama dari waktu ke waktu. Ada kalanya doi senang, atau mungkin bad mood. Maka kita perlu memiliki kesabaran yang tinggi.

“Ini terjadi ketika saya menulis biografi Chrisye. Chrisye minta saya menulis soal dia karena sepanjang hidupnya dia nggak pernah berbagi. Bahkan, dia berbohong soal identitasnya. Dia kan Chinese tapi ngakunya Manado. Dia nggak mau ngaku Chinese karena ketika tahun 1959 Chinese kan di-abused. Dia merasa sudah melakukan dosa besar dan dia pengin menulis buku buat mengakui siapa dirinya, mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, dan membagikan banyak ilmu sebelum meninggal di bulan Desember 2006.

Sepertinya gampang menulis soal Chrisye, tapi yang waktu itu saya hadapi adalah orang yang sedang sangat takut menghadapi kematian dengan kankernya yang sudah stadium 4. Kalau orang abis kemoterapi, ternyata dia bakal merasakan rasa sakit yang luar biasa di tubuhnya. Kakinya berasa panas banget. Tentu saja itu berpengaruh sama mood-nya. Dengan keadaan itu, saya tetap harus melakukan wawancara yang mumpuni supaya bisa mengumpulkan banyak data. Akhirnya, saya sampai ikutan rawat dia dengan mengkompres kakinya pakai handuk dingin dan kalau dia nangis, saya harus banyak diem. Bahkan, saya sampai banyak melawak waktu itu. Untungnya dia banyak tertawa karena dia gemas melihat pipi saya yang cabi. Ketika itu kan saya lagi gemuk-gemuknya. Hahaha…

Karena hal itu, akhirnya kondisinya sempat membaik. Bahkan beliau sempat show lagi di beberapa stasiun teve. Dokter pun nggak percaya karena sebelumnya kan kondisinya sudah parah banget. Istrinya bilang ke dokter bahwa dia lagi bikin biografi dan hidupnya jadi bersemangat lagi. Dan itu hampir selalu terjadi pada seluruh narasumber saya. Membuat biografi jadi healing therapy untuk mereka,” curhat kak AE.

5. Sukses Kalau Narasumber Nyaman dan Selalu Pengin Ketemu

Ketika narasumber bercerita soal indahnya masa kecil dan pengalaman masa lalu mereka, mereka akan kembali merasakan semangat hidup. Akhirnya mereka akan terus terbuka dan itu memudahkan kita untuk mengumpulkan data.

“Saya biasanya menemui hal itu ketika kami sudah berada di pertemuan keempat atau kelima. Akhirnya, bukan lagi saya yang cari mereka, tapi mereka yang cari saya. Repotnya adalah kita jadi diteleponin terus supaya datang ke rumahnya. Hahaha…” kenang kak AE.

Sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa gue ceritain di sini, tapi bakal jadi kepanjangan. Hahaha… Lebih baik kalian jadi peserta aja jika kak AE buka workshop menulis biografi lagi.

Processed with VSCOcam with hb2 preset

foto bareng peserta.

Processed with VSCOcam with hb2 preset

Bersama teman-teman sebangku.

Processed with VSCOcam with hb2 preset

Senior dan penerusnya. Amin 🙂

mariskatracy-rockSelain dengerin kak AE ngomong, kak AE juga samperin kami per grup dan ajak ngobrol. Yang gue nggak sangka, doi masih inget sama gue, lho! Kak AE masih inget bahwa gue pernah minta tolong doi lewat email buat jadi endorser buku. Hihihi… Tadinya gue pikir doi pasti lupa sama gue karena yang minta doi jadi endorser pasti banyak.

Di awal obrolan, gue sempet curhat bahwa gue baru resign dari GADIS dan pengin fokus menulis buku kayak doi. Doi pun mendukung gue resign dan bilang bahwa kalau pengin jadi full time writer harus rela keluar dari zona nyaman, yaitu nggak menerima gaji bulanan lagi.

Sama kayak doi dulu juga begitu pas resign dari Femina. Awal-awal pasti galau karena udah nggak terima gaji bulanan. Dengan ilmu yang udah didapet selama 10 tahun di Femina, doi pun akhirnya berani untuk resign dan memutuskan untuk jadi penulis biografi.

“Selama masih kerja kantoran, kamu pasti nggak bakal punya banyak waktu untuk menulis. Apalagi menulis buku biografi. Waktu nulis Krisdayanti, tiba-tiba banyak sponsor yang berdatangan. Dari situ saya makin yakin bahwa ini memang jalannya. Yakin aja bahwa Tuhan nggak pernah lupa sama kerja keras kita,” bilang kak AE.

Awalnya gue kan merasa yakin dengan keputusan resign di bulan Juli 2015 kemarin, tapi kadang gue suka galau lagi kalau inget-inget resign. Takut salah ambil keputusan. Tapi, begitu gue ngobrol sama kak AE, gue merasa keputusan gue sudah tepat. Nggak ada yang perlu disesali. Saat ini gue lagi banyak menabur banyak hal positif demi menjadi penulis dan nantinya gue pasti bakal menuai hal yang positif pula.

Akhir kata Kak Uung mengucapkan selamat belajar menulis bagi yang ingin menjadi penulis. Jangan pernah patah semangat dan putus asa! Ini juga berlaku untuk gue yang lagi bikin buku biografi. Hari ini, gue juga bakal ketemu sama editor tersayang gue, Kak Anye buat omongin perkembangannya. Doakan semoga lancar, ya!

Foto: Dok. Mariska dan teman-teman writers club

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy