FacebookTwitter

Kenapa Kerja Jangan Sampai 5 Tahun?

By on Aug 21, 2015 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter


Gue bukan orang yang expert di pekerjaan atau karier, tapi gue cuma belajar dari pengalaman diri sendiri dan orang lain. Salah satunya belajar dari Rudy Dalimunthe (Division Head of Customer Experience Management di Indosat). Doi berbagi tentang tips karier yang berjudul Kalau 5 Tahun Masih di Perusahaan yang Sama, There Might Be Something Wrong with You di website Qerja.com.  Gue tau artikel itu juga dari Kak RG yang emang kerja di sana. Apa itu Qerja? Kapan-kapan bakal gue jelasin di blog ini mengenai manfaat website itu. Kalau lupa, tagih aja janji ini ke Kak Uung. Anggaplah gue punya utang ratusan juta ke kalian.

 

Berawal dari sekolah pilot, sempat jadi sports reporter di sebuah media, associate di Ernst & Young, dan sekarang…

Posted by Qerja on Thursday, August 20, 2015

 

mariskatracy-rockBTW, like & share postnya ya, kak!

Biar banyak yang bisa ikuti jejak kak Rudy!

 

Waktu baca artikel itu, gue jadi kesel sendiri karena mengingat gue udah menghabiskan waktu selama 5 tahun di tempat kerja gue yang lama. Terlalu banyak waktu yang gue habiskan di sana, sehingga gue merasa nggak belajar hal lain dan nggak menikmati tempat baru. Emang sih kalau kata orang bijak, sebagai fresh graduate yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat kerja, kita nggak boleh kayak kutu loncat yang baru beberapa bulan kerja langsung ngeluh nggak betah, terus minta resign. Karena itu bakal bikin CV kita jelek. Apalagi, kalau tempat kerja itu adalah tempat yang bergengsi. Kita disarankan buat kerja di sana minimal 3 tahun.

Masuk akal, sih, karena gue kalau punya perusahaan, gue juga nggak mau direpotin sama anak fresh graduate yang belum bisa apa-apa, kerjaannya belum beres, tapi udah minta cabut.Gue setuju banget sama pendapat itu. Saking setujunya, gue malah jadi kelamaan di sana. Jadi bablas sampe 5 tahun. Antara terlalu nyaman dan takut mencoba hal baru. Seharusnya sih, gue udah cabut dari kantor itu 2 tahun yang lalu.

Percayalah bahwa makin lama kita mencoba buat stay di tempat itu, pastinya makin banyak yang “menghasut” agar kita tetap stay.

Ngapain pindah? Belum tentu tempat lain lebih enak.

Bersyukur aja sama perusahaan yang sekarang. Udah bagus ada kerjaan. Belum tentu gampang buat dapetin pekerjaan baru.

Tempat lain itu nggak nyaman, lho. Belum tentu dapat uang transport kayak di sini.

Kerja di tempat lain ongkosnya lebih mahal, lho. Tempatnya jauh.

Kerja di tempat lain belum tentu bisa masuk lebih siang.

Dan masih banyak hasutan lainnya. Kalau dengerin semuanya, kita pasti bakal memilih untuk stay dan nggak mau buat belajar hal yang baru. Dan hal itu jelas nggak sehat! Kalau misalnya selama 5 tahun karier di tempat yang sama makin bagus gimana, Kak? Ya, nggak apa-apa. Mungkin emang udah jadi rezeki kalian kerja di sana. Berarti emang nggak ada masalah sama kerjaan dan orang-orangnya. Tapi, kalau yang dirasakan sebaliknya, mendingan cepet-cepet cabut dari sana. Ibaratnya, kalau pacaran udah lama banget nggak pernah ada omongan buat nikah. Boro-boro nikah, dikenalin ke ortu aja kagak! Pacaran terus aja sampe jenggotan!

mariskatracy-rock

Gue mau flashback dulu nih tentang cita-cita gue pas zaman kuliah. Mungkin karena kebanyakan bergaul sama orang Cina dan orang MLM, gue jadi pengin punya kerjaan yang waktunya bebas. Nggak terikat sama jam kantor yang 9 to 5 dan gue pengin punya pekerjaan dari hobi yang dibayar. Suka makan dibayar, suka nulis dibayar, suka jalan-jalan dibayar, suka tidur dibayar, suka kerjain orang dibayar, bahkan kalau bisa gue kentut pun dibayar.

Pas zaman-zaman mau lulus kuliah gitu, kalau ditanya orang-orang ‘Nanti mau lamar kerja di mana?’. Jujur aja gue bingung jawabnya. Karena gue males kerja, males bangun pagi, males pake kemeja dan celana bahan. Gue lebih menikmati zaman kuliah di mana gue masih dapat uang jajan dari ortu dan bisa punya sambilan berupa ngajar les privat buat anak SD. Sayangnya, gue nggak enjoy sama jurusan yang gue ambil, jadi gue juga pengin cepet-cepet cabut dari kampus laknat itu.

Dan gue bukan lahir di keluarga kaya raya, jadi mau nggak mau harus kerja. Ya udah deh, gue cari kerja dan Puji Tuhan dapet kerjaan di perusahaan yang terkenal. Semua orang yang tau gue masuk di sana langsung sembah sujud ke gue karena banyak banget yang pengin kerja di sana. Gue punya passion dan enjoy banget kerja di sana. Tapi gue tetep punya prinsip yang sama, yaitu gue pengin punya pekerjaan yang nggak terikat waktu. Dengan kata lain, gue pengin punya passive income, meskipun nggak masuk MLM.

Jujur aja, gue nggak tertarik dengan jabatan tinggi dan rebut-merebut jabatan di kantor. Karena semua itu dilakukan untuk mewujudkan mimpi orang lain, bukan mimpi gue sendiri. Tujuan gue kerja di kantor itu adalah untuk belajar banyak hal supaya nantinya gue bisa kerja sendiri atau punya perusahaan sendiri.

Mungkin itulah yang membuat gue akhirnya nggak naik jabatan selama 5 tahun bekerja di sana. Hahaha… Antara senang dan nggak senang, sih. Sekilas kayaknya enak karena punya tanggung jawab yang nggak terlalu besar dan masih bisa melakukan job sambilan, kayak lomba makan, nulis buku, dan lain-lain. Serasa jalan dari Tuhan karena emang gue di sana maunya buat belajar, bukan buat mengabdi selamanya di sana.

Di sisi lain gue juga gondok karena merasa nggak dihargai. Padahal, gue udah mengoreksi kesalahan gue di mana aja, gue udah berusaha keras. Ada beberapa pekerjaan gue yang dianggap bagus banget, tapi ada beberapa pekerjaan yang dianggap kurang, dan biasa banget. Dan katanya, hal itu membuat gue tertinggal dari yang lain. Kalau melihat situasi seperti ini, seharusnya gue udah mengambil keputusan resign sejak 2 tahun yang lalu, terus pindah kerja atau fokus berwirausaha. Tapi, gue belum punya keberanian yang cukup untuk melakukan hal itu. Karena hal-hal yang gue ceritain di atas itu.

Jadi, gue cuma pengin kasih saran ke kalian agar mempertimbangkan banyak hal saat bekerja. Alangkah lebih baik jika kalian ngecek apakah kalian mengalami pertumbuhan di sana atau nggak. Kalau jabatan nggak naik-naik, gaji cuma naik sedikit, terus merasa nggak dihargai, mending cabut aja. Apalagi kalau kerjanya udah 3 tahun. Jangan-jangan selama ini cuma dibego-begoin sama perusahaan.

Selain dibego-begoin alias dimanfaatkan, memaksakan diri untuk terus bekerja di perusahaan yang sama cuma bakal bikin kalian makin stres dan capek. Seperti itulah yang gue alami di tahun keempat dan kelima. Kalau udah makin stres, kerjaan bukannya makin beres, tapi makin hancur. Bukan cuma nggak bagus buat diri sendiri, tapi juga nggak bagus buat perusahaan.

Gue jadi mikir, andaikata gue udah cabut dari 2 tahun yang lalu, mungkin aja sekarang gue udah punya banyak pengalaman di mana-mana. Kayak gitu deh, yang namanya penyesalan selalu datang terlambat. Tapi, lebih baik terlambat daripada gue nggak melakukan tindakan apa-apa. Entah kenapa pas gue resign, gue jadi lebih bisa mikir jernih dan tau ke depannya mau ngapain. Lebih punya banyak waktu luang seperti yang gue idam-idamkan waktu zaman kuliah dan lebih berani untuk mencoba hal baru. Kemarin itu, gue sempet kok mencoba hal baru. Gue belum bisa cerita tentang hal baru itu di sini karena masih belum fix. Nanti deh kalau udah pasti dapet, gue bakal share di sini!

Foto: Mariska

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy