FacebookTwitter

Semua Akan Resign Pada Waktunya

By on Jul 26, 2015 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Waktu itu gue sempat jalan sama Priska (beruang kutub), Innangg (Indah Nainggolan fashion stylist GADIS), dan Nanet (anak magang GADIS) di Grand Indonesia. Tiba-tiba, kami melihat ada Maudy Ayunda yang lagi dimintain foto bareng sama fans-fansnya. Melihat kejadian itu, Innangg langsung mengingat masa lalunya.

“Kak, zaman dulu aku juga begitu, lho. Kalau jalan, ada yang minta foto,” curhat Innangg yang sering dibilang sebagai Kak Uung versi Batak.

“Ah, masa sih? Emang lo siapa, Nang?” tanya Priska nggak percaya. Gue juga nggak percaya, sih.

“Zaman bahela banget, sih. Waktu aku masih aktif jadi fashion blogger.”

“OHHH…” Gue dan Priska baru mengerti.

“Kalau sekarang kayaknya aku pengin non-aktifin blog, deh. Soalnya aku udah nggak ada waktu buat nge-blog dan udah nggak ada passion di sana,” jelas Innangg.

“Kalau nggak jadi fashion blogger, sekarang jabatan lo apa, Kak?” tanya gue.

“Fashion stylist dong, Kak. Udah bukan lagi fashion blogger.”

Di saat Innangg udah jenuh sama blognya, gue malah lagi semangat banget buat ngeblog. Menurut gue sih, sangat disayangkan apabila Innangg meninggalkan blog yang udah membesarkan namanya itu. Dia bisa kerja di GADIS juga karena blog itu. Coba kalau nggak ada blog itu, belum tentu dia bisa diterima kerja di GADIS. Apalagi, Innangg nggak sekolah fashion, tapi dia ambil FKIP di Atma Jaya. Menurut gue sih, jadi fashion blogger bisa dijalankan bersamaan dengan jadi fashion stylist. Malahan keduanya bisa saling melengkapi. CV Innangg bisa makin kaya.

Menurut orang Cina, bisnis yang dimulai pertama kali jangan sampe ditutup meskipun kita masih punya banyak bisnis lainnya yang lebih menjanjikan. Gue emang Cina, tapi sumpah gue baru tau soal itu beberapa bulan lalu dari Wahyu (artis yang sering gue wawancarai dan bukan nama sebenarnya). Di blog ini, gue pernah menceritakan soal kisah Wahyu yang pemikirannya lebih Cina dari orang Cina asli.

Waktu itu, si Wahyu pernah masukin foto di Instagramnya dan dia bikin quote sambil sebut nama bandnya yang udah didirikan sejak tahun 2008. Sebut aja nama bandnya Bentol.

‘Salah satu kunci keberhasilan seseorang adalah mempertahankan bisnis awalnya. Saya banyak belajar dari orang Chinese, rezeki bisa sangat mengalir jika bisnis awal kita dipertahankan. Bisnis awal saya adalah Bentol.’

Gue sangat berterima kasih sama Wahyu karena doi udah kasih tau quote bagus seperti itu. Coba kalau dia nggak kasih tau! Gue pasti makin buta soal ilmu bisnis ala pecinan.

mariskatracy-rock

Ngomong-ngomong soal bisnis pertama, awalnya gue bingung, apa sih bisnis pertama gue? Emangnya gue pernah bikin bisnis? Gue emang belum pernah bikin bisnis yang ‘wah’ kayak resto, butik, bengkel, dan lain sebagainya. Yang gue tau adalah gue pernah bikin buku Air Mata Ibuku dalam Semangkuk Sup Ayam di tahun 2010. Tadinya, gue nggak menganggap bahwa menulis buku merupakan bisnis, tapi kalau dipikir-pikir lagi, menulis buku juga merupakan bisnis. Karena, gue menjual karya gue yang berupa tulisan ke orang-orang. Gue mikirin banget tulisan seperti apa yang bagus untuk ditulis, kayak gimana bahasa yang bagus, dan seperti apa promonya.

Berarti, jadi penulis buku merupakan bisnis pertama gue dan TIDAK BOLEH DITINGGALKAN! Sesibuk-sibuknya gue, gue nggak boleh melupakan passion gue yang satu ini. Makanya, kemarin itu gue bela-belain buat mengerjakan buku Happy Tummy sampe selesai meskipun gue sibuk kerja di GADIS. Dari awal, gue juga sadar bahwa menulis buku membuka banyak peluang buat gue, seperti bisa diterima magang jadi jurnalis musik di radio online, bisa diterima kerja jadi jurnalis di GADIS, bahkan sampe bisa menulis soal pengalaman jadi competitive eater (atlet lomba makan). Jadi, apa pun profesi gue suatu hari nanti, ceritanya bisa gue abadikan dalam bentuk buku. Banyak banget hal yang bisa diceritakan di buku. Nggak bakal ada habisnya. Hidup orang lain pun bisa gue ceritakan di buku.

Dan di awal tahun 2015 kemarin, gue sempat mengalami kegalauan luar biasa. Di saat itu, gue galau menghadapi masa depan. Galau karena gue pengin banget menyelesaikan buku Happy Tummy (ketika itu belum selesai dan belum kepikiran judulnya) dan serius untuk melanjutkan profesi sebagai penulis buku. Tapi, di sisi lain, gue juga sibuk kerja di GADIS. Kerjaan di GADIS itu bukan cuma dateng ke kantor, terus interview artis, nulis artikelnya, terus pulang ke rumah. Bukan cuma itu, Bray. Karena, di sana kami nggak hanya nulis, tapi juga mengurus event dan pekerjaan lainnya yang menguras otak dan tenaga. Pulang kerja udah capek banget. Nggak bisa mikir lagi. Pas weekend, bawaannya pengin jalan-jalan atau tidur seharian di rumah.

Kalau misalnya gue tinggalin pekerjaan di GADIS, gue harus siap dengan berbagai konsekuensi yang ada seperti nggak dapet gaji bulanan lagi. Karena, royalti penulis itu dibagikan enam bulan sekali. Terus, banyak ketakutan yang ada di pikiran gue, kayak kalau misalnya bukunya nggak laku gimana? Kalau misalnya gue nggak ada ide lagi buat nulis gimana? Dan masih banyak berbagai ketakutan lainnya. Sebenarnya, pikiran untuk resign dari GADIS dan fokus menulis buku udah gue pikirkan dari setahun lalu, tapi gue masih ragu karena gue merasa belum waktunya. Masih banyak hal yang harus gue pelajari di kantor itu.

Akhirnya, gue pun berserah sama Tuhan. Gue berdoa supaya bisa bikin keputusan yang terbaik. Bukan bikin keputusan ngasal karena merasa tertekan. Gue bilang sama Tuhan gini, kalau misalnya di kantor gue udah nggak dapet tantangan baru, nggak berkembang, suasananya jadi nggak enak, dan gue makin nggak ada waktu buat nulis buku, berarti udah waktunya gue resign. Selama menunggu jawaban dan mempertimbangkan banyak hal, gue juga sambil berusaha keras menyelesaikan buku Happy Tummy meskipun nggak mudah mengerjakan dua pekerjaan berat sekaligus.

Bulan demi bulan, jawaban dari Tuhan kayak makin berasa. Gue jadi kehilangan passion di GADIS. Pekerjaan yang awalnya terasa begitu menyenangkan, jadi terasa garing dan nggak ada bumbunya. Gue masuk kerja setiap hari berasa kayak mayat hidup yang cuma datang demi kewajiban, kelarin kerjaan, dan terima gaji. Selain itu, banyak hal nggak enak yang terjadi dan makin memantapkan niat gue buat resign. Kalau gue pertahanin kerjaan ini terus, gue bisa nangis tiap malam, depresi, gila, bahkan bunuh diri. Serius deh, kalian nggak bakal ngerti kalau belum rasain sendiri. Gue nggak mau lagi air mata gue keluar sia-sia karena masih mempertahankan sesuatu yang nggak sehat. Sebenarnya gue gatel banget pengin ceritain semuanya, tapi nggak deh karena masalahnya bersifat sangat rahasia.

mariskatracy-rock

Photo 24-07-15 18.49.01

Quote itu emang cuma meme di Path, tapi gue rasa ada benarnya juga. Secinta-cintanya kita sama pekerjaan kita, pastinya kita bakal mengalami titik jenuh. Di saat itulah kita mikir, mau break dulu atau bener-bener berhenti dan cari passion lain? Ninggalin kerjaan itu nggak dosa dan manusiawi menurut gue asalkan kita tau ke depannya mau ngapain dan udah menemukan passion baru. Contohnya, Kak Deddy Corbuzier. Baru-baru ini, dia farewell dari sulap yang udah dijalanin selama 30 tahun karena udah jenuh. Dan dia pengin mengejar passion lain yang lebih seru. Banyak yang kecewa kenapa dia milih untuk farewell, tapi ya kayak yang gue jelasin tadi. Orang-orang cuma bisa kecewa dan nggak bakal ngerti kenapa orang harus move on akan sesuatu.

Nggak cuma Kak Deddy yang alamin hal kayak gitu. Semua orang pasti pernah mengalami hal kayak begitu. Gue juga kok. Udah ada beberapa orang yang gue ceritain soal rencana resign dan mereka kebanyakan pada kaget, kecewa, dan anggep gue udah melakukan hal bodoh. Begitu pula dengan nyokap gue. Nyokap mane yang nggak syok pas denger anaknya mau resign dari pekerjaan tetap dan malah memilih pekerjaan yang penghasilannya nggak pasti? Tapi, gue udah pertimbangin semua risikonya kok dan kayak gimana perhitungan keuangannya.

Karena gue yakin akan pilihan gue, gue pun positif mau resign. Gue memutuskan untuk kerja terakhir di GADIS tanggal 22 Juli 2015 kemarin. Gue sengaja pilih tanggal itu supaya gue masih bisa terima THR. Hahaha… Kalau dihitung-hitung, gue udah kerja di GADIS selama 5 tahun, 1 bulan, 8 hari (terhitung sejak 14 Juni 2010). Masa kerja yang menurut gue lama banget dan udah saatnya move on! Sampe hari terakhir kerja, gue pun berusaha menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik dan tepat waktu. Biar gimana pun, hubungan baik dengan kantor harus tetap terjaga dengan memberikan kesan positif sampe hari terakhir.

Photo 22-07-15 14.18.41

Kartu press yang udah usang.

Selain meninggalkan rutinitas, gue juga meninggalkan hak untuk diperlakukan istimewa dengan kartu “sakti” itu. Tadinya gue pengin bilang ke HRD bahwa kartu itu hilang, terus bayar denda cepekceng supaya gue bisa simpan kartu itu terus supaya gue bisa gue pergunakan suatu saat nanti untuk mendapatkan hak-hak gue. Tapi, setelah gue pikir-pikir lagi, kalau mau move on itu nggak boleh setengah-setengah. Harus total, Bray! Bahkan, gue juga harus rela jika gue nggak lagi mendapatkan perlakuan istimewa.

Terus nangis-nangisan nggak pas farewell? Ya nggaklah! CENGENG banget kalau nangis. Gue juga nggak suka sih dinangis-nangisin gitu. Kesannya kok gue butuh dikasihani banget? Menurut gue, resign itu sama kayak putus cinta. Kalau misalnya lo atau temen lo putus cinta, seharusnya lo seneng karena hidup dia bakal lebih baik dengan menemukan orang yang lebih baik dan tepat! Resign juga begitu. Berarti kita udah berani keluar dari zona nyaman dan menemukan passion baru yang lebih menantang!

Photo 08-06-016

Untuk ke depannya, gue bakal mengerjakan beberapa proyek menulis buku dan gue sangat antusias akan hal itu! Dan jikalau gue dihadapkan pada pekerjaan baru selain menulis dan gue suka sama pekerjaan itu, tentu aja gue nggak bakal nolak. Karena, kayak yang gue jelasin sebelumnya bahwa pekerjaan apa pun itu atau kisah apa pun itu, semuanya bisa diceritakan dalam bentuk buku!

Gue juga harus optimis buku gue emang bagus dan layak dibeli orang. Awalnya, gue cuma pengin buku gue nangkring di rak buku baru. Sekarang, mimpi gue udah makin besar. Gue juga pengin buku gue nangkring di rak best seller! Amin.

Photo 26-07-15 02.28.55

Sebentar lagi, buku gue yang bakal ada di situ!

Setelah membaca tulisan ini, gue takutnya kalian langsung bikin surat resign dan cabut ke HRD. Hahaha… Eh, resign itu memang manusiawi, tapi sebelum dilakukan, pikirin dulu baik-baik tentang risikonya. Bukan karena merasa tertekan terus langsung resign. Buatlah keputusan di saat kalian udah merasa tenang dan bisa berpikir sehat. Salam Uung Teguh.

Foto: Dok. Mariska

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like¬†facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy