FacebookTwitter
Page 2 of 3123

Berkunjung ke Pasar Santa (Part 3)

By on Jul 20, 2015 in Diary, Food Porn

Nggak terasa udah 3 kali gue berkunjung ke Pasar Santa. Seharusnya sih, di kunjungan ketiga kalinya, gue disambut pake karpet merah dan dikalungin bunga bangkai oleh si pemilik pasar. Gue berkunjung ke sana tanggal 10 Juli 2015 di siang hari. Di mana hari itu umat Muslim masih menjalankan ibadah puasa dan belum memasuki jam buka puasa, jadi Pasar Santa sepi banget! Puji Tuhan. Kapan lagi bisa makan di Pasar Santa sambil selonjoran di lantai saking sepinya. Saking sepinya stand D.O.G (Diyoji), gue sampe bisa foto di depan stand itu. Biasanya, boro-boro bisa foto-foto di depan sana. Pas jam 3 sore aja, antrean udah mulai panjang. Nah, di blog soal Pasar Santa part-2, gue pernah kok review soal Diyoji. Harusnya sih sekalian selfie sama pemiliknya. Siapa tau dikasih hotdog gratis. Pas gue promo buku di radio 99ers 100 FM Bandung kemarin, gue sempet mampir ke Rumah Makan Legoh Bandung. Di rumah makan yang hits itu gue sempet cobain babi cuka rica-rica dan bikin gue ngidam keesokan harinya. Gue sampe nggak bisa mikir dan kerja cuma gara-gara mikirin babi. Masya Allah, padahal babi aja nggak pernah mikirin gue! Saking ngidamnya, gue sampe googling demi mencari tau, apakah Rumah Makan Legoh ada di Jakarta? Ternyata ada di Pasar Santa, Kak! Itulah sebabnya gue melakukan perjalanan ke Pasar Santa lagi. Niat mencari babi cuka ternyata beda tipis dengan niat mencari kitab suci di barat. Hanya saja kegiatan mencari babi cuka tergolong duniawi dan bersifat kedagingan. Begitu udah ketemu stand Legoh Jakarta (legoh_jkt) rasanya lega. Kayak abis ketemu air zam-zam di Mekah. Sama kayak di Bandung, kalau liat menunya, kita nggak bakal menemukan menu babi cuka di sini. Jadi, harus bisik-bisik ke si empunya rumah makan dan bilang mau pesen menu kecil atau jujur aja bilang mau beli babi. Alhasil, menu-menu yang gue dan...

Icip Daging Asap BBQ di Holy Smokes

By on Jul 19, 2015 in Diary, Food Porn

9 Juli 2015 kemarin, gue diajak Lizta ke liputan buka puasa. Gue pikir cuma liputan buka puasa biasa, ternyata ada acara review makanan segala. Ada acara review makanan soalnya restonya baru mau dibuka. Gue pun makin semangat karena bakal cobain makanan jenis baru! Resto baru itu namanya Holy Smokes yang nyediain daging asap BBQ ala Texas, AS. Tadinya gue cuma pengin makan gratis di sana, tapi ternyata di sana selain ada media gathering, ada juga blogger gathering. Dan gue langsung kepikiran buat review Holy Smokes di blog ini. Sebagai mantan juara makan, nggak ada salahnya dong kalau gue banyak membahas makanan? Pas gue baca press kit-nya, gue baru tau bahwa Holy Smokes ini merupakan bagian dari Ersons Food, perusahaan penyedia jasa layanan makanan dan minuman yang udah mengusung berdirinya Hokkaido Ramen Santouka, The Holy Crab, dan The Holy Crab Shack! Holy Smokes merupakan ide terbaru dari Albert Wijaya, chef sekaligus pemilik Ersons Food. Gue dan Kak RG adalah penggemar Ramen Santouka. Ramen-ramen di sana enak, apalagi ramen yang pake babi. Gue emang belum pernah review soal Ramen Santouka sih di blog ini, tapi gue pernah share foto-foto makanannya di Instagram. Nah, karena Ramen Santouka enak, gue pun berharap banyak sama daging asap BBQ di Holy Smokes. Awas aja kalau nggak enak! Kalau nggak enak, gue bakal gebrak meja sambil ngamuk-ngamuk kayak artis yang suka cari sensasi di infotainment. Siapa tau bisa disorot sama jurnalis teve terus masuk teve. Selain lokasinya strategis, yaitu di jalan Wolter Monginsidi yang deket banget sama Pasar Santa, gue juga suka sama suasananya. Konsep restonya western banget. Kayak resto di film atau serial bule. Tempatnya juga cozy dan bikin kita nyaman berlama-lama di dalamnya. Karena tempatnya yang luas, kita bisa makan dengan nyantai sambil ngobrol tanpa takut orang lain nggak kebagian tempat. Pas gue dateng...

First Impression Review: Za Energy Water Skin Lotion

By on Jul 12, 2015 in Beauty, Diary, Review Produk

Kali ini, gue mau review barang gratisan. Bukan karena gue di-endorse, tapi karena gue dapet produk ini dari lomba fashion show di kantor. Nama produknya adalah Za Energy Water Skin Lotion. Pas gue terima produk ini, yang kepikiran di kepala gue adalah Beauty Water yang pernah gue review. Za Energy Water Skin Lotion ini bermanfaat untuk menyegarkan kembali kulit kita karena air ini mengandung vitamin B5 dan mineral. Bisa digunakan untuk kulit wajah dan tubuh. Pakenya juga gampang tinggal disemprotin aja. Dan, dalam sehari, bisa dipake berulang-ulang. Pas gue cium aromanya, baunya hampir mirip kayak air putih biasa dengan sedikit efek “obat”. Tapi, nggak menyengat, kok. Terus gue semprotin ke muka. Terus mata gue agak sepet. Kampret banget, deh! Soalnya, gue lupa merem. Meskipun nggak mengandung alkohol dan bahan aneh-aneh, tetep aja rasanya nggak enak kalau kena mata. Begitu air ini kena di kulit, kulit jadi seger, sih, tapi efeknya nggak ‘wah’. Biasa aja malah. Katanya, air ini juga bisa digunakan sebagai lotion untuk kaki dan tangan. Kulit kaki dan tangan jadi halus, sih, tapi nggak terlalu melembapkan. Masih lebih lembap kalau kalian pake hand and body lotion! Hebatnya sih, air ini bisa dipake sesudah kita mengaplikasikan makeup. Gue coba semprotin airnya ke muka yang udah diolesin makeup dan nggak luntur, Kak! Air pun tetap menyerap tanpa melunturkan makeup! Dan, tiba saatnya, Kak Uung membuat kesimpulan, yaitu: Kelebihan: (+) Packaging-nya menarik dan mudah dibawa ke mana-mana. (+) Nggak bikin makeup luntur. (+) Gampang dipakenya. Kekurangan: (-) Gue nggak tau berapa harganya. Kalau diliat dari merk-nya, sepertinya mahal, ya! (-) Kualitas terasa standar. Nggak ada efek yang hebat gimana gitu. (-) Kalau kena mata nggak enak. (-) Kurang moisturize. Next Purchase: No. Kalau dapet gratisan, sih, nggak nolak! Hahaha… Foto: Mariska...

Review Shampoo BSY NONI Black Hair Magic

By on Jul 12, 2015 in Beauty, Diary, Review Produk

Gue lebih sering dibuat galau sama rambut gue sendiri, ketimbang dibuat galau oleh lelaki. Pasalnya, semua orang tau bahwa warna rambut gue udah nggak jelas. Atasnya item, tengahnya cokelat, bawahnya kuning. Nggak jelas banget kayak kasus lumpur di seberang sana. Kira-kira, kayak begini deh hancurnya warna rambut gue. Sekilas kayak ombre, ya! Kok rambut gue makin pendek? Iya, soalnya gue sempet potong rambut. Dan, gue potongnya sendiri, tanpa bantuan Kak RG atau teman. Gue bisa potong rambut sendiri, bukan karena gue udah belajar potong rambut di Korea, tapi karena potongnya emang gampang. Cuma potong rata. Gue rasa anak TK juga bisa. Hasilnya juga lumayan, kan? Pada bilang bagus. Ciyeee… Gue potong kayak begitu karena gue cuma pengin meratakan potongan rambut aja. Pas kemarin kan model rambut gue layer gitu. Depannya pendek dan belakangnya panjang. Ternyata, gue nggak suka sama model rambut kayak begitu. Ya uda deh, gue babat abis aja sampe segitu! Toh, dari dulu gue emang pengin punya rambut pendek dan keriting. Kalau kalian liat kondisi rambut gue, pasti kalian bisa merasakan betapa kejamnya cream bleaching rambut. Mungkin efeknya seperti nikotin yang menggerogoti paru-paru. Untuk ke depannya, gue udah nggak mau lagi main bleaching-bleachingan! Kalau mau warnain rambut pake warna aneh-aneh, mending gue pake wig. Rambut gue nggak bakal rusak dan gue tetap bisa bergaya bak anak gaul Jakarta. Karena gue cukup frustasi menghadapi kondisi rambut gue, gue pun memutuskan untuk menghitamkan rambut. Seperti biasanya, gue lebih suka hal-hal yang praktis, tanpa perlu berangkat ke salon, sehingga gue memutuskan buat cari black shampoo. Itu lho, itemin rambut praktis dengan cara shampoo-an aja. Dulu, gue pernah beberapa kali pake cara ini dan cukup berhasil, kok. Asalkan, abis itemin rambut pake shampoo, jangan langsung keritingin rambut atau smoothing. Karena, obat keriting atau smoothing bisa bikin warna cat rambut luntur! Gue...

Beli Pisang Pasir di Pisangku.com

By on Jul 8, 2015 in Diary, Food Porn

Di saat gue ngidam babi cuka, Kak RG malah ngidam pisang pasir. Gue bingung apa yang dimaksud dengan pisang pasir. Apakah itu makanan jenis baru? Apakah makannya dicampur sama pasir? Kegaptekan gue membuat gue nggak tahu soal pisang hits itu. Ternyata, pisang pasir itu adalah pisang kepok yang digoreng dengan balutan butiran tepung pasir. Bentuknya mirip chicken katsu, rasanya gurih, dan manis. Menurut Kak RG, pisang ini patut dicoba karena berbeda dari pisang goreng kebanyakan. Tadinya gue pikir beli pisang pasir itu harus mampir ke tempat yang jauh, seperti Bogor atau Bandung, tapi ternyata nggak kok. Karena, pisang tersebut bisa dipesan di www.pisangku.com. Kalau kalian buka web itu, langsung keliatan jelas nomor telepon dan hape untuk delivery, yaitu 93004000 dan 081317810000. Sayangnya, mereka delivery-nya baru bisa di daerah Jakarta Selatan aja. Belum bisa ke daerah Mangga Besar. Hiksss.. Ya sudah deh, gue pun minta dikirim ke kantor gue aja yang emang berdomisili di daerah Jakarta Selatan. Gue emang bunglon gitu, deh. Bisa jadi anak pusat, utara, selatan, dan barat. Gue cuma belum pernah mencoba jadi anak timur. Ada minimal pemesanan delivery, yaitu 20 biji, ditambah ongkos kirim Rp25ribu. Jadi, gue pun memesan 20 pisang pasir untuk dibawa pulang ke keluarga buat dibagi-bagikan ke Kak RG dan keluarga gue. Sebenarnya, ada menu-menu lain sih di sana, seperti pisang pasir kecil, onde-onde kacang hijau, pastel istimewa, dan risol raghout. Cuma, gue lebih penasaran sama pisang pasir, jadi gue pesen pisang pasir gede semua, deh. Di web-nya, tertulis bahwa harga sebijik pisang pasir adalah Rp3.500. Cuma pas gue telepon, dia bilang harga per bijiknya Rp3 ribu. Nggak mungkin kan turun harga di saat perekonomian lagi makin susah. Kayaknya sih, gara-gara gue pesen 20 biji makanya dikasih diskon. Murah banget, ya! Beli burger sebijik aja nggak dapet dengan harga segitu! Jadi, biaya yang gue...

Page 2 of 3123
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy