FacebookTwitter

Berkunjung ke Pasar Santa (Part 3)

By on Jul 20, 2015 in Diary, Food Porn

Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Nggak terasa udah 3 kali gue berkunjung ke Pasar Santa. Seharusnya sih, di kunjungan ketiga kalinya, gue disambut pake karpet merah dan dikalungin bunga bangkai oleh si pemilik pasar. Gue berkunjung ke sana tanggal 10 Juli 2015 di siang hari. Di mana hari itu umat Muslim masih menjalankan ibadah puasa dan belum memasuki jam buka puasa, jadi Pasar Santa sepi banget! Puji Tuhan. Kapan lagi bisa makan di Pasar Santa sambil selonjoran di lantai saking sepinya.

Photo 19-07-15 18.13.10

Di depan D.O.G (Diyoji).

Saking sepinya stand D.O.G (Diyoji), gue sampe bisa foto di depan stand itu. Biasanya, boro-boro bisa foto-foto di depan sana. Pas jam 3 sore aja, antrean udah mulai panjang. Nah, di blog soal Pasar Santa part-2, gue pernah kok review soal Diyoji. Harusnya sih sekalian selfie sama pemiliknya. Siapa tau dikasih hotdog gratis.

Photo 19-07-15 18.14.10

Sepi banget, ya, aulohh…

mariskatracy-rock

Pas gue promo buku di radio 99ers 100 FM Bandung kemarin, gue sempet mampir ke Rumah Makan Legoh Bandung. Di rumah makan yang hits itu gue sempet cobain babi cuka rica-rica dan bikin gue ngidam keesokan harinya. Gue sampe nggak bisa mikir dan kerja cuma gara-gara mikirin babi. Masya Allah, padahal babi aja nggak pernah mikirin gue!

Saking ngidamnya, gue sampe googling demi mencari tau, apakah Rumah Makan Legoh ada di Jakarta? Ternyata ada di Pasar Santa, Kak! Itulah sebabnya gue melakukan perjalanan ke Pasar Santa lagi. Niat mencari babi cuka ternyata beda tipis dengan niat mencari kitab suci di barat. Hanya saja kegiatan mencari babi cuka tergolong duniawi dan bersifat kedagingan.

Photo 19-07-15 18.06.45

RG, Bapak pemilik Rumah Makan Legoh Jakarta.

Begitu udah ketemu stand Legoh Jakarta (legoh_jkt) rasanya lega. Kayak abis ketemu air zam-zam di Mekah. Sama kayak di Bandung, kalau liat menunya, kita nggak bakal menemukan menu babi cuka di sini.

Photo 19-07-15 18.07.32

Jadi, harus bisik-bisik ke si empunya rumah makan dan bilang mau pesen menu kecil atau jujur aja bilang mau beli babi.

Alhasil, menu-menu yang gue dan Kak RG pesan di Legoh Jakarta itu sama persis kayak yang gue pesan di Legoh Bandung. Kami pesan 2 piring nasi goreng hitam dan seporsi babi cuka rica-rica. Tapi, tingkat kepedasan nasi goreng hitam yang kami pesan adalah pedas santai. Soalnya, waktu gue pesen yang tingkat kepedasannya pedas mampus aja, pedasnya udah kayak dikasih cabe sekebon. Nggak tahan, Kak!

Photo 19-07-15 18.16.40

Nasi goreng hitam pedas santai.

Btw, nasi gorengnya bisa hitam kayak begitu soalnya pake tinta cumi-cumi. Di nasi goreng itu juga disajikan bareng cumi-cumi. Jadi rasanya enak-enak asin gitu. Sayangnya, level kepedasannya kurang nampol di gue. Nggak pedes sama sekali kalau pesen yang pedas santai. Kayaknya kalau pesen yang pedas mampus pedesnya pas, deh! Feeling gue, cabe yang dipake di Legoh Bandung, takarannya lebih banyak, deh! Harganya nasi goreng hitamnya juga lebih mahal di Jakarta. Di Bandung, seporsi nasi goreng hitam itu Rp25 ribu, sedangkan di Jakarta harganya Rp29 ribu.

Photo 19-07-15 18.17.12

Babi cuka rica-rica.

Nah, itu babi cuka rica-rica yang selama ini bikin gue ngidam sampe gue digosipin hamil di luar nikah. Babi cuka itu kalau makannya dicampur sama nasi goreng hitam emang pas banget! Rasanya enak, mirip-mirip kayak yang di Bandung, tapi gue merasa babi cuka rica-rica di Bandung kok jauh lebih enak, ya! Lebih maknyus gitu, kayak abis menemukan cinta pada pandangan pertama karena enaknya bikin kaget. Sementara yang di Jakarta juga enak, tapi nggak ‘wah’. Harganya jelas lebih mahal yang di Jakarta. Kalau di Bandung harga seporsi babi cuka rica-rica itu Rp32 ribu. Kalau di Jakarta harganya Rp36 ribu. Kalau nggak salah inget, ya!

mariskatracy-rock

Selain makan nasi goreng dan babi, kami juga makan dessert, yaitu Banana Karamello (banana.karamello). Sejak gue makan pisang pasir, gue jadi suka banget sama pisang. Pisang itu udah kayak buah-buahan wajib yang harus gue makan.

Photo 19-07-15 18.12.02

Photo 20-07-15 00.43.11

Photo 19-07-15 18.08.12

Daftar menu Banana Karamello.

Photo 19-07-15 18.08.50

Daftar harganya.

Menurut Engkoh-engkoh yang jualan, menu yang best seller itu Skippy Choco Cheese dan Rocky Road Tella. Daripada menyesal tujuh turunan, lebih baik dengerin kata si Engkoh. Kami pun memesan 2 menu itu. Cara bikin pisangnya cukup unik, lho. Pisang karamelnya dilas. Serasa lagi di bengkel.

Photo 19-07-15 18.10.54

Photo 19-07-15 18.11.27

Photo 19-07-15 18.18.20

Abis dilas baru deh ditaburi toping-toping.

Hasil akhirnya seperti ini…

Photo 19-07-15 18.17.45

Yang kiri Rocky Road Tella, yang kanan Skippy Cheese Choco.

Dan pisang karamel yang paling enak adalah skippy cheese choco. Hore! Yang rocky road tella rasanya biasa banget. Ternyata, perpaduan antara cokelat, keju, dan skippy di atas pisang itu mantep banget rasanya! Duh, rasanya pengin delivery pisang pasir ke rumah deh, terus makan pake skippy! Kak RG juga begitu. Doi lebih suka skippy cheese choco.

mariskatracy-rock

Perut gue udah kenyang banget, tapi lidah gue gatel pengin makan sesuatu lagi. Sayangnya, Kak RG udah nggak mau makan lagi. Katanya lagi pengin mengurangi lemak dalam tubuh. Halah, banyak gaya lo! Ya udah deh, icip-icip di Pasar Santa part-3 berhenti sampe di situ.

Ini total yang kami makan. Dikit banget, ya, cuma segini! Kayak porsi diet.

Ini total yang kami makan. Dikit banget, ya, cuma segini! Kayak porsi diet.

Photo 19-07-15 18.19.17-1

Sekian sudah perjalanan Kak Uung ke Pasar Santa kali ini. Sampe jumpa di acara makan-makan berikutnya. Babay…

Foto: Mariska, RG

 

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like¬†facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy