FacebookTwitter
Page 1 of 212

Buku Kedua Gue: Happy Tummy: Berdoalah Sebelum Makan, Menanglah Sebelum Pulang

By on May 31, 2015 in Buku

Siapa yang happy kalau dapat makanan gratis? Hayo, ngacung! Oke, gue juga, kok. Hobi gue itu makan-dengan-porsi-banyak. Nah, demi menyalurkan hobi gue tersebut, gue suka ikutan lomba makan. Ini artinya, gue bisa makan gratis sebanyak-banyaknya dan dapat hadiah pula! Lomba makan? Iya, lomba makan yang kayak di TV Champion itu. Menurut gue, jadi competitive eater itu merupakan cita-cita yang keren. Coba bayangkan bagaimana bangganya saat lo bisa menghabiskan makanan enak dalam waktu singkat?! Lo nggak hanya bisa menikmati makanan superenak, tapi bisa terkenal kayak gue. Hahaha…. Yang penting, gue happy ketemu makanan. Yuk, ikuti cerita seru gue yang kata orang “Jago Makan” ini di buku Happy Tummy. Selamat makan, eh, selamat membaca! Gimana ceritanya buku ini bisa lahir? Baca di Behind The Scene Buku Happy Tummy aja, Kak! Kata mereka yang udah baca?   Rafael Tan (Personel SM*SH, Solois, Aktor) “Membaca buku ini mengingatkan gue tentang banyak hal. Tentang masa kecil, tentang waktu, tentang omelan nyokap, tentang pengalaman makan, juga tentang menemukan seseorang yang bisa mengubah kita jadi lebih baik. Ceritanya lucu, jadi gue yakin buku ini bisa menghibur banyak orang untuk membacanya, terutama yang punya pengalaman yang sama dan yang suka kuliner kayak gue! Hahaha…”   Icha Rahmanti (Penulis buku Cintapuccino, dll) “Budaya makan yang terlihat sepele dan amat biasa karena dilakukan setiap hari sebetulnya menyimpan banyak cerita “tersembunyi”. Baca kisah Mariska ini salah satu contohnya: unik dan nggak biasa. Saat cewek-cewek lajang berlomba diet demi langsing, Mariska malah ikutan lomba makan untuk berdamai dengan dirinya.”   Dea Azkadi (Vokalis band HiVi!, Pekerja Seni) “Bukunya bagus dan genre cerita seperti ini sudah banyak digemari. Pastinya bakal banyak yang baca. Sukses terus, ya!” Dan masih ada komentar dari artis-artis lainnya, lho. Baca di sini aja!     Penerbit: Gagas Media Tanggal Terbit: 3 Juni 2015 Harga: Rp50ribu Bisa dibeli...

Buku Pertama Gue: Air Mata Ibuku dalam Semangkuk Sup Ayam

By on May 31, 2015 in Buku

Tangisan tanpa suara itu terus berlanjut. Miranti terus menutupi wajahnya agar tidak ada orang yang melihat. Pandangannya mengarah pada sup ayamnya. Sup yang tadi ia pikir bisa menghangatkan tubuh dan pikiran, kini perlahan mendingin, bercampur dengan banjir air matanya. Ah, andai saja putrinya yang hilang diculik masih bersamanya, tentu hari ini ia akan meniup lilin di kue tar ulang tahunnya. Disentuhnya mangkuk sup ayamnya dengan hati pedih. Simak pula belasan cerpen lainnya di dalam buku ini: Penebusan dan Pergantian Luka Masa Lalu, Cengeng, Janji dalam Sebuah Botol Bekas, Cinta Bukan Perkara Gemuk atau Langsing, Permainan Rumah Duka, Penulis Puisi Itu, dan masih banyak lagi. Buku ini merupakan buku pertama gue. Kenapa buku ini bisa terbit? Awalnya, gue nggak kepikiran bikin buku kumpulan cerpen sama sekali karena gue penginnya bikin novel. Selain berusaha menulis novel, gue juga bikin beberapa cerpen yang udah pernah dipublikasikan lewat online. Yang baca cerpen-cerpen gue adalah orang-orang yang juga suka baca cerita fiksi. Alhamdulillah, responnya bagus. Gue pun jadi semangat bikin cerpen terus dengan cara ngayal-ngayal babu, nuangin curhatan temen, kadang nuangin curhatan sendiri juga, sih. Hehehe… Terus, tiba-tiba Elex Media adain workshop penulisan. Gue lupa tema workshop-nya apa. Yang jelas ngomongin gimana sih cara supaya bisa jadi penulis buku bla bla bla. Gue pun iseng ikutan. Pihak yang adain workshop bilang bahwa peserta boleh bawa contoh tulisan. Terus gue iseng deh bawa 5 cerpen gue dan gue kasih ke editor Elex Media, Mbak Retno Kristi yang juga datang ke acara itu. 10 hari kemudian, Mbak Retno telepon gue dan bilang bahwa beliau suka sama tulisan gue. Gue pun diminta buat bikin cerpen banyakan supaya bisa jadi buku kumpulan cerpen. Kalau kalian jadi gue, pasti bawaannya pengin tampar-tampar diri sendiri karena nggak percaya kalau mimpi lo buat terbitin buku hampir tercapai!     Penerbit: Elex...

350 Tanda Tangan dalam Sehari

By on May 28, 2015 in Diary

Menyambut rilisnya buku Happy Tummy, kemarin gue menyempatkan diri buat ketemu editor gue, Kak Alaine Any (kali ini sebutannya bener, kok. Bukan Any ALAYne) di Solaria, Pasar Festival buat tanda tangan 350 buku Happy Tummy. Rencananya, buku-buku itu bakal dijual secara pre order lewat toko buku online. Yang bikin buku ini spesial adalah ada tanda tangan gue. Hihihi… Karena gue anaknya baik banget, jadi selain kasih tanda tangan, gue juga kasih cap bibir warna pink gonjreng dengan merk NYX seri matte. Tadinya sih, niat gue pengin kasih cap bibir untuk 350 buku, tapi apa daya, bibir ini udah nggak sanggup buat dimonyongin dan hampir sariawan. Kayaknya sih, cap bibir berhenti di buku ke 50. Jikalau kalian beruntung, kalian pasti akan mendapatkan buku dengan cap bibir ketika pre order. Kalau nggak dapet, ya udah temui saja Kak Uung, maka Kak Uung akan memberikan cap bibir sepuas hati kalian. Warna apa pun gue jabanin. Gimana rasanya tanda tangan 350 buku? Capek, Kak, tapi seneng. Hahaha… Dan gue lakuin ini dengan mood yang happy. Seperti judul bukunya, Happy Tummy. Karena, yang gue tanda tangan ini kan buku-buku buat pembaca gue. Gue sih ngebayangin betapa happy-nya muka mereka ketika melihat ada tanda tangan plus cap bibir gue. Hahaha… Apalagi, dari kecil gue udah terbiasa membatik dan merajut di rumah, jadi ini mah nggak ada apa-apanya buat gue. Kalau misalnya tanda tangan 350 buku aja udah ngeluh, gimana pas tanda tangan 3000 buku kayak Raditya Dika? Pasti bawaannya pengin ngamuk-ngamuk dan bakar gedung. Ini yang disebut dengan setia sama perkara kecil, pasti nanti dikasih kepercayaan untuk melakukan perkara yang lebih besar. Ada 1 buku yang gue kasih cap bibir dan kata-kata penguatan seperti ini. Jika kalian ingin ikutan pre order, kalian bisa memesannya di ParcelBuku. Selamat makan, eh selamat membaca. Kak Uung doakan upah kalian besar di surga jika membeli buku ini. Hahaha… Amin. Foto: Dok. Mariska, Dok. Gagas Media...

Read More

350 Tanda Tangan dalam Sehari

Happy Tummy Happy Birthday

By on May 26, 2015 in Diary

Kali ini, gue mau bikin blog yang serius. Beneran deh, gue mau ngomong yang bahasanya agak tinggi gimana gitu. Soalnya, kemarin umur gue baru bertambah 1 tahun, berarti gue harus makin bijak dan bahan pembicaraan gue harus lebih berbobot. Sehari sebelum gue ultah, 24 Mei 2015, gue impulsif dan memutuskan buat keriting rambut malem-malem di salon. Gue lakuin hal ini karena gaji gue gede banget. Udah kayak gaji pejabat gitu, jadi harus gue hambur-hamburkan buat menyenangkan diri sendiri. Walaupun udah jam 8 malem, tapi gue memutuskan buat capcus ke Gajah Mada (GM) Plaza buat keriting rambut di salon Wawa. Karena, gue ingin mengubah penampilan gue sebelum ganti umur. Tadinya gue mau operasi plastik di Korea, tapi apa daya belum sempet pesen tiket pesawat dan tur, jadi keriting rambut aja deh. Anggep aja ini sebagai cara untuk menghadiakan diri sendiri ketika ultah. Apalagi, encik Wawa, si pemilik salon bilang bahwa doi masih sempet keritingin rambut gue. “Keriting itu cepet, kok. Cuma sejam,” kata encik Wawa yang ingin mengeluarkan jurus keriting Korea-nya. Katanya, doi baru pulang belajar tata rambut di Korea. Setahun sekali dia belajar tata rambut di luar negeri gitu, deh. Duh, kayaknya kalau gue belajar tata rambut setahun sekali di luar negeri kayak doi, gue bisa jadi bantjik salon, deh. Bisa mengalahkan keahlian Kak RG dalam hal menata rambut. Karena doi bilang bahwa keriting rambut cuma sejam, tanpa pikir panjang, gue langsung memutuskan buat mengeriting rambut gue di salon yang katanya udah berdiri sejak 15 tahun yang lalu itu. Dan mau nggak mau rambut gue dikeramas pake shampoo sama pegawai encik Wawa, padahal gue udah memutuskan buat nggak keramas pake shampoo. Ya udah deh, sekali-kali pake shampoo. Proses pengeritingan udah berjalan setengah jalan, tapi tiba-tiba GM mati lampu saudara-saudara! Semua orang di sana langsung teriak-teriak nggak jelas. “ARRGGGHHHHHH!” Persis kayak ibu-ibu yang ketubannya udah pecah. Gue pun harus sabar menunggu, padahal rambut gue lagi di-steam. Beberapa menit kemudian, lampu pun nyala lagi. Semua orang di luar tepuk tangan. Sumpah deh, emang ini lagi rayain lampu nyala atau nonton kabaret sih? Sayangnya, nyalanya cuma sebentar, abis itu lampunya mati lagi. Kampret, deh. “ARGGGHHHHHHHH!” Orang-orang di luar teriak-teriak lagi. Kali ini teriaknya kayak orang kesurupan. Gue, encik Wawa, dan si pegawai salon pun terus menunggu sampai mendapatkan kepastian yang jelas dari PLN. Padahal, udah jam 9 malam. Sembari menunggu, si encik menyempatkan diri buat maskeran, sedangkan si pegawai makan cemilan. Udah gitu, gue ditawarin cemilan sama si pegawai dan gue nggak bisa nolak sama sekali. Padahal, jendela makan OCD gue udah selesai. Arrghh, gendut, deh! KZL. Akhirnya, lampunya nyala lagi, tapi nggak ada yang teriak lagi soalnya pengunjung GM udah pada pulang semua. Maklum, sebentar lagi udah mau tutup. Gue pun...

Read More

Happy Tummy Happy Birthday

Review Masker Tanah Liat (Ghassoul Clay)

By on May 23, 2015 in Beauty, Diary, Review Produk

Kata Mastini, masker tanah liat ini baunya kayak bandot. Hahaha… Setelah gue cium, emang bener sih agak bandot gimana gitu. Tapi, gue suka sih sama hasilnya. Mungkin banyak yang belum pernah denger soal masker ini. Nama gampangnya masker tanah liat, nama ribetnya Ghassoul Clay. Kalau diliat dari packaging-nya, banyak banget bahasa aliennya. Bikin gue bingung bacanya harus kayak gimana. Kemasannya terlihat nggak gede-gede amat, tapi isinya banyak juga, lho. 500 gram, Kak! Kalau diitung ke kg, jadi 1/2 kg. Udah kayak jatah makan beras gue selama bertahun-tahun. Gue beli Ghassoul di www.AgenGrosir.com. Sebenernya, gue pernah beli Ghassoul pas zaman kuliah. Saking banyaknya nih masker, gue sampe bagi dua sama Kak Susi. Udah dibagi dua aja, abisnya lama banget! Soalnya, bentuknya itu kayak lempungan yang udah pecah-pecah. Pakenya juga nggak perlu banyak-banyak. Cuma perlu pake sedikit pecahan, terus dicampur sama air hangat. Kalau udah dicampur air hangat, terus dioles ke muka, jadinya kayak begini. Tinggal tunggu 10-15 menit, muka lo pasti mengeras kayak abis disemenin. Abis itu tinggal bilas pake air. Kalau bisa sih bilasnya pake air hangat. Soalnya, bersihin sisa Ghassoul di muka itu PR banget kalau cuma pake air biasa. Agak susah bersihnya. Abis gue bilas sampe bersih, kulit berasa bersih banget, halus, dan lebih kenceng. Udah gitu, kulit juga jadi nggak berminyak. Pas bangun tidur pun, kulit tetap nggak berminyak, tapi nggak bikin kulit jadi kekeringan. Kalau misalnya kalian punya kulit wajah yang kering banget, lebih baik sih campurin masker tanah liat ini dengan olive oil supaya nggak bikn kulit kering dan iritasi. Kok ampuh banget, ya? Padahal baunya amit-amit kayak bau bandot! Maklum aja, namanya juga skin care yang menggunakan bahan alami. Ghassoul diambil dari sebuah tanah kuno yang bersumber di pegunungan Atlas, negara Maroko. Ghassoul ini sudah banyak digunakan oleh perempuan Timur Tengah untuk perawatan...

Page 1 of 212
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy