FacebookTwitter

Icip Kari Jepang di Curry House CoCo Ichibanya

By on Apr 12, 2015 in Diary, Food Porn

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Awalnya, gue nggak terlalu excited sama kari Jepang karena rasa kari di mana-mana sama dan begitu-begitu aja. Monoton dan ngebosenin. Gue suka kari Jepang karena gue adalah pemakan segalanya, tapi dibilang suka banget, juga nggak. Beda banget sama Kak RG yang doyan banget sama kari Jepang. Masa kalau mampir ke resto sushi, dia pesen kari. Mampir ke resto ramen, dia juga pesan kari.

Dia doyan banget sama kari Jepang karena menurutnya, kari Jepang itu punya rich taste yang resepnya seolah-olah udah dipertahankan selama ratusan tahun sejak zaman nenek moyang kita. Beda dengan makanan Jepang lainnya yang terkesan seperti hasil eksperimen di dapur. Contohnya, sushi dan ramen.

Kenapa sushi dan ramen merupakan hasil eksperimen di dapur? Karena sushi dan ramen resepnya bisa dikembangkan dari waktu ke waktu. Bisa disesuaikan dengan kreativitas pembuatnya. Jika resepnya dikembangkan, rasanya makin enak. Sedangkan, kari Jepang itu lebih enak kalau dimasak dengan resep yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Resep kari Jepang itu bisa aja dimodifikasi sih, tapi nggak bisa dilakukan dengan sembarangan. Salah sedikit aja, rasanya bakal berubah jadi nggak enak. Dasar Kak RG sok filosofis! Makan aja milih-milih, padahal masih banyak orang yang kelaparan di luar sana!

Karena jarang ada resto dan chef yang bisa memasak kari Jepang dengan enak, sampai saat ini, Kak RG belum menemukan resto kari Jepang yang enak. Lama-lama, dia jadi males makan kari Jepang. Bahkan, outlet Curry House CoCo Ichibanya, resto kari franchise dari Jepang (#cocoichibanyaindonesia) yang udah berdiri di west mal, lantai 3A, Grand Indonesia (GI) sejak tanggal 8 Desember 2013 nggak terlihat di matanya. Padahal, resto itu terkenal banget di Instagram. Banyak Instagrammer yang nge-post foto menu makanan Curry House CoCo Ichibanya (#cocoichibanya, #cococurryhouse) di Instagram. Gue juga nggak ada insiatif buat ajak dia ke sana karena gue udah jelasin sebelumnya. Gue bosan sama rasa kari yang monoton. Dan gue bukanlah curry lover.

mariskatracy-rockTernyata, Curry House CoCo Ichibanya buka cabang baru di Downtown Walk, Unit DW 109, Sumarecon Mall Bekasi (SMB) (#cocoichibanyabsmb), tanggal 26 Februari 2015 kemarin. Mumpung opening-nya belum basi-basi banget, Swatriani, Area Manager Curry House CoCo Ichibanya pun mengundang bloger-bloger untuk mereview resto Curry House CoCo Ichibanya di SMB (#summareconmallbekasi). Gue termasuk salah satu blogger yang diundang. Ciyeeee… Gue pikir, gue cuma bakal diundang ke kawinan, tapi sekarang gue malah dapet undangan buat nge-blog. Tempatnya jauh lagi di Bekasi. Semoga nanti bisa mampir ke tempat yang lebih jauh lagi kayak Australia, Eropa, dan Amerika.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Processed with VSCOcam with c1 preset

Itu tampak luarnya. Kalau tampak dalemnya, memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan outlet Curry House CoCo Ichibanya di GI. Walaupun kecil, tapi tempatnya tetap nyaman buat makan dan ngobrol. Di setiap meja pun ada colokan buat nge-charge hape. Jadi, nggak perlu kuatir baterai hape habis dan nggak bisa eksis di media sosial.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Btw, di foto itu, gue lagi memandang tobikara dengan kagum. Apa itu tobikara? Nanti gue jelasin.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Di kanan outlet ada kaca. Selain bisa buat ngaca, efek dari kaca ini memang bisa membuat ruangan tampak lebih besar.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Kalau datengnya nggak rame-rame dan nggak mau nunggu terlalu lama, nggak perlu kuatir. Soalnya, ada standing bar-nya juga, lho.

“Outlet yang di GI itu emang buat fancy dining, jadi tempatnya dibuat lebih luas. Pengunjung yang datang bisa makan sambil ngobrol-ngobrol cantik. Kalau di SMB lebih ke penyajian fast food. Karena lebih ke fast food, jangan heran kalau ada beberapa menu yang ada di GI, tapi nggak ada di SMB. Nggak cuma makanannya yang fast food, tapi pelayanan yang kami berikan juga cepat. Dan nggak perlu kuatir makanannya abis karena bahan kami memang ready stock banyak banget. Nggak pernah ada kata sold out kayak resto lain,” jelas Kak Swatriani.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Processed with VSCOcam with c1 preset

Processed with VSCOcam with c1 preset

Itulah daftar menu yang tersedia di Curry House CoCo Ichibanya SMB. Kisaran harga karinya itu dari Rp50 ribu – 78 ribu. Buat yang bawa anak, ada menu Children’s Curry seharga Rp40 ribu. Sedangkan, kisaran harga minumannya dari Rp10 ribu – 18 ribu. Harganya masih terjangkau sih menurut gue, apalagi kata Kak Swatriani, porsinya itu cukup besar untuk orang Indonesia.

“Biasanya, nasi yang kami sajikan itu per piringnya 250 gram. Banyak pengunjung yang bilang itu udah banyak banget. Bahkan, banyak yang bagi dua, apalagi buat cewek-cewek yang lagi diet. Kalau untuk ukuran orang Jepang, porsi segitu terbilang normal karena mereka terbiasa makan banyak,” bilang Kak Swatriani.

Gue percaya sih bahwa porsi makan orang Jepang emang kayak kuli bangunan. Liat aja video lomba makan di YouTube. Kebanyakan yang jago itu orang Asia, terutama Jepang. Nggak cuma cowok, tapi cewek-ceweknya juga jago. Gue aja sempet iri sama cewek-cewek Jepang yang jago banget makannya, tapi badan mereka tetep langsing! Ah, dunia emang nggak adil!

“Lalu, kalau kita merasa nasinya kebanyakan, bisa dikurangi, Kak?” tanya gue.

“Bisa banget. Dikurangin jadi 150 gram. Harga makanan pun dikurangi Rp5 ribu. Kalau mau nambah juga bisa lho. Nasi bisa dibuat jadi 350 gram, tapi nambah Rp10 ribu. Nambah lebih banyak lagi juga bisa. Nasi bisa ditambah paling mentok sampe 550 gram,” kata Kak Swatriani.

Gila, 550 gram! Udah kayak lagi ikut lomba makan aja! Kalau diitung ke kg, udah jadi setengah kilo! Buat model seksi kayak gue, kayaknya nggak pantes makan segitu banyak, deh.

Dan, kabar gembira untuk teman-teman Muslim adalah Curry House CoCo Ichibanya di Indonesia sama sekali nggak menggunakan babi. Alhamdulillah, ya.

“Kalau CoCo Ichibanya di Jepang, sepertinya memang pakai babi, tapi kalau untuk di Indonesia dijamin bebas dari babi. Emang sih belum ada sertifikat halal karena proses untuk mendapatkan sertifikat halal itu nggak mudah. Apalagi, ini adalah resto franchise dari Jepang yang dari sananya nggak halal. Meskipun bebas dari babi, tapi semua menu dan bahan-bahannya dibuat sama persis kayak di Jepang. Sama sekali nggak ada yang diubah,” papar Kak Swatriani.

“Bahan-bahannya juga impor semua dari Jepang, Kak?” tanya gue.

“Yup! Bahkan, sampai nasi dan alat-alat makan kayak sendok dan garpu bener-bener diimpor dari Jepang.”

“Wow! Keren bingit, Kak!”

“Kecuali kalau bahan sayuran, ya. Nggak mungkin diimpor karena mudah busuk. Hehehe,” ucap Swatriani sambil melempar sandal. Eh, senyum maksudnya.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Itu sendok dan garpunya. Sekilas, bentuknya mirip kayak alat makan yang ada di rumah, tapi kalau diliat lebih dekat, ada lengkungan unik di leher sendoknya. Desain seperti itu emang sengaja dibuat untuk memudahkan pelanggan menyendokkan nasi dengan kari. Leher sendoknya melengkung ke belakang jadi cocok buat ditaroh di piring mereka yang kedalamannya cukup dalam kayak mangkok. Kalau pake sendok biasa yang lehernya nggak melengkung ke belakang, pasti bakal sulit buat menyendokkan nasi. Harus sering-sering tegakin sendok.

Karena selama ini menu di Curry House CoCo Ichibanya itu nggak pake babi, jadi sendok dan garpunya udah pasti belum ternoda babi. Kayaknya pegawai di sana cuci alat makannya nggak ribet. Nggak perlu dicuci sampe tujuh kali sambil dicampur abu atau pasir.

Photo 11-04-15 15.26.47

Kak Swatriani juga kasih liat ke kami bentuk beras impor mereka. Mirip kayak beras biasa pada umumnya sih, tapi kalau diliat lebih dekat, berasnya bersih dan jernih banget. Menurut Kak Swatriani, teksturnya lebih tulen dan padat ketimbang beras biasa.

Photo 11-04-15 15.26.37

Kebetulan, gue bawa lensa micro, jadi bisa lihat butiran beras dengan jarak yang sangat dekat. Saking bersihnya beras itu, butiran debu pun tidak terlihat. Luar binasa! Fotonya #nofilter, lho!

mariskatracy-rockSebelum makan, kami pun diberi kesempatan untuk melihat dapur Curry House CoCo Ichibanya dari dekat. Di dapurnya, ada quote bumbu-bumbu kari Jepang.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Processed with VSCOcam with c1 preset

Meskipun dapurnya kecil, tapi tetap bersih dan higienis. Nggak cuma dapurnya yang bersih, tapi semua staf di dapur juga terlihat sangat bersih penampilannya.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Processed with VSCOcam with c1 preset

Processed with VSCOcam with c1 preset

Processed with VSCOcam with c1 preset

Karena melihat para pegawai rajin, gue pun jadi ikutan rajin. Gue foto kayak begini biar pencitraan gue di depan Kak RG makin bagus dong. Terlihat bagaikan perempuan yang suka akan kebersihan. Biar pacar makin betah deket-deket sama gue.

mariskatracy-rockAbis jadi upik abu, gue dan kawan-kawan bakal dikasih makan. Sebelum pesan makanan, main-main sebentar di dekat antrian kasir dulu. Di dekat antrian kasir, ada tempat hits yang bisa dijadikan spot buat foto-foto seru.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Ayu – Mayseeta – Gue

Processed with VSCOcam with c1 preset

Gue – Kak RG

Sesuai yang tertera di tembok itu, Curry House CoCo Ichibanya didirikan di Jepang tahun 1978. Udah lama banget, ya! Bahkan, gue belum lahir, lho di tahun itu! Cieillaahh, sok muda banget lo, Ung! Dengan umur yang udah setua itu, Curry House CoCo Ichibanya pun makin terlatih dalam hal memberikan kepuasan tertinggi untuk pelanggan berdasarkan senyum, cekatan dalam bekerja dan bahan makanan yang segar.

Dengan umur yang sudah setua itu dan bisnis mereka masih bertahan, berarti integritas bisnis mereka sudah terjaga dari dulu hingga sekarang. Buktinya, sudah ada 1400 outlet Curry House CoCo Ichibanya yang beredar di dunia ini. 1200 outlet berada di Jepang. Sisanya (200 outlet) berada di negara lainnya, salah satunya di Indonesia yang sudah punya tiga outlet. Satu outlet lagi di Gandaria City yang bakal buka hari ini. 12 April 2015.

Gue pun jadi teringat dengan penjelasan Kak RG soal filosofi resep turun-temurun kari Jepang. Kalau Curry House CoCo Ichibanya sudah mempertahankan resep kari Jepang selama 37 tahun, berarti rasa karinya bener-bener enak dong? Kalau rasa karinya sesuai dengan ekspektasi kak RG sebagai pecinta kari Jepang, berarti resto ini benar-benar recommended untuk para pecinta kari.

Btw, busway, tadi kayaknya gue berjanji satu hal ke kalian. Tapi, apa, ya? Oh, ya! Gue kan janji mau jelasin apa itu tobikara. Tobikara adalah lada bubuk yang digunakan buat makan kari Jepang. Di Curry House CoCo Ichibanya emang sengaja nggak pakai sambal atau cabai soalnya bakal merusak rasa karinya.

Photo 11-04-15 15.04.12

Processed with VSCOcam with c1 preset

Pas gue cium aromanya, beh baunya cukup menohok di hidung gue. Lebih menohok daripada lada bubuk biasa. Pantesan udah nggak butuh cabai atau sambal lagi! Kayaknya gue bakal suka sama tobikara, nih!

Photo 11-04-15 15.04.04

Kalau suka acar, di Curry House CoCo Ichibanya juga disediain acar, lho! Tapi, beda dari acar biasanya karena acar macam ini emang diracik khusus untuk dihidangkan di Curry House CoCo Ichibanya. Nggak bakal kalian temukan di resto lain. Bentuknya agak unik, sih. Saking uniknya, gue pikir itu buah pala. Hahaha… maklum deh, gue hanyalah anak gadis yang jarang mengunjungi dapur.

Makanan emang belum dianter, tapi minuman gue, Kak RG, Ayu, dan Mayseeta udah dianter dong!

Processed with VSCOcam with c1 preset

Sorry kalau muka gue dan Ayu norak karena kelaperan. Btw, kalau soal minuman, minumannya standar semua, kayak green tea, apple juice, orang juice, dan iced tea. Soalnya, Curry House CoCo Ichibanya emang lebih fokus ke menunya yang berbau kari.

Pas pesen menu, kami sempet ditanya sama Kak Swatriani, pengin pesen kari yang tingkat kepedasannya level berapa?

Processed with VSCOcam with c1 preset

Once again, I’m sorry for my galau face akibat kelaparan.

Ternyata ada enam level saos kari di sana. Mulai dari mild, standar, level 1 (medium hot), 2 (hot), 3 (truly hot), 4 (super hot), dan 5 (crazy hot).

Processed with VSCOcam with c1 preset

Pas cobain yang level mild sampe level 3, ya ampun nggak berasa pedes sama sekali. Di level 4 dan 5, barulah rasa lada bubuk muncul. Pedes ladanya mantep banget! Kalau dibuat lebih pedes lagi, kayaknya bakal lebih mantep harusnya!

“Kalau di Jepang, levelnya dibuat sampai 10, lho. Kalau di Indonesia emang cuma sampai level 5, tapi level 5 di sini sama kayak level 10 di sana, kok,” imbuh Kak Swatriani.

“Kak, kalau misalnya request pesen level 10 untuk ukuran Indonesia bisa?” tantang gue.

“Belum bisa, Kak.”

Sayang banget, ya, nggak bisa tambah level. Coba kalau bisa nambah level lagi, mungkin gue dan Kak RG bakal sering adu pedas di sana. Dan, tentu aja kali ini gue pesan level 5!

Makanan pun akhirnya datang! Hore. Tapi, nggak bisa langsung dimakan karena kami harus foto-foto makanan dulu biar eksis di media sosial!

Processed with VSCOcam with c1 preset

Processed with VSCOcam with c1 preset

Namanya juga orang Asia! Foto #foodporn di Instagram kudu banget, dong!

Setelah difoto secantik mungkin oleh Kak RG, penampakan makanan di hape pun jadi kayak begini. JRENG… JRENG!

Processed with VSCOcam with c1 preset

Processed with VSCOcam with c1 preset

Cantik kan foto makanannya? Ah, pasti kalian pengin bilang kalau foto makanannya lebih cantik ketimbang gue kan? Kurang ajar kalian! Btw, meriah, ya, menunya! Soalnya, menunya masih bisa ditambahkan topping sesuka hati, sih.

Jadi, menu-menu yang kami pesan adalah:

1. Chicken Cutlet & Vegetable Curry

Processed with VSCOcam with c1 preset

Ini adalah menu pesanan gue. Salah satu menu yang best seller di Curry House CoCo Ichibanya! Harganya Rp78 ribu, tapi harganya dipotong Rp5 ribu a.k.a goceng karena gue minta nasinya dikurangi dari 250 gram jadi 150 gram. Soalnya, gue kan hanyalah seorang anak gadis yang kerjaannya diet dan terus menjaga penampilan. Menurut gue, porsi nasinya emang mesti dikurangi, sih, soalnya udah ada kentang yang cukup banyak di menu itu. Dan tadi gue juga udah bilang kalau gue pilih level 5 untuk tingkat kepedasannya biar maknyus!

Pas gue coba makan nasinya dicampur sama sepotong chicken cutlet dan saos karinya, beh, rasanya enak bingit! Bumbu karinya bener-bener terasa keasliannya. Pedas ladanya juga pas banget menurut gue. Tajem gimana gitu. Tadinya, gue pikir bakal kurang pedas dan harus ditambahin tobikara. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, kayaknya nggak usah, deh. Perpaduan sayur di dalamnya yang terdiri dari kentang dan wortel pun juga pas! Cocok banget buat orang yang suka makan sayur.

Soal rasa nasi, bener apa kata Kak Swatriani. Nasinya pulen dan padat. Makan beras Thailand di rumah aja udah enak banget! Apalagi beras Jepang! Duh, jadi pengin jualan beras Jepang, deh!

Processed with VSCOcam with c1 preset

2. Hamburg Curry with Cheese and Mushroom

Processed with VSCOcam with c1 preset

Kalau ini sih pesenan Ayu, yang menurut Kak Swatriani worth it buat dicoba. Pas gue cobain, gue suka banget! Mirip kayak makan hamburger campur keju, tapi tanpa roti. Rotinya diganti sama nasi. Dan gue nggak nyangka kalau makanan berbau western kayak begini, cocok banget di-combine sama kari dan mushroom!Kalau diliat di foto, kejunya nggak keliatan, ya! Itu karena kejunya udah dimasak sampe melted. Dan keju yang dipakai adalah keju mozarella yang tentu aja diimpor dari Jepang. pantesan enak bingit!

Saking enaknya, Ayu sampe terpesona. “Gue nggak bisa hidup tanpa kari yang enak banget kayak begini, nih!” ucap Ayu yang tengah berbadan dua.

Ayu pilih level 4 sebagai tingkat kepedasannya. Levelnya nggak jauh beda dari makanan gue. Jadi, rasa ladanya cukup menohok hati. Seharusnya sih, langsung aja pilih level 5! Kalau gue jadi Ayu, gue sih bakal tambahin tobikara biar maknyus. Porsi nasi Ayu, porsi standar 250 gram. Masih wajarlah dan nggak bikin begah menurut gue. Kalau kalian takut begah, kurangi aja jadi 150 gram.

Harga Hamburg Curry  itu Rp65 ribu ditambah sama topping cheese Rp18 ribu dan mushroom Rp15 ribu. Total semuanya adalah Rp98 ribu.

3.  Minced Beef Curry with Fried Shrimp

Processed with VSCOcam with c1 preset

Ini pesenannya Mayseeta. Kalau kari yang dicampur sama daging sapi, kayaknya nggak perlu diragukan lagi enaknya kayak apa. Cocok-cocok aja gitu. Apalagi kalau daging sapinya dicincang. Dagingnya jadi lebih gampang melebur bareng kari. Pake topping tambahan kayak fried shrimp pun juga makin asyik. Karena, fried shrimp-nya garing dan gurih.

Sayangnya, Mayseeta cuma pesan kari level 1. Ah, cupu bingit lo, May! Dia pun menyesal karena ladanya kurang mantep di lidah! Mau nggak mau, dia harus menambahkan tobikara di karinya. Kebetulan, Kak RG bawa Bon Cabe level 10. Mayseeta pun iseng menambahkan Bon Cabe ke karinya yang kurang pedes itu.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Rasanya jadi makin enak, sih karena Bon Cabe mampu mengubah cita rasa makanan menjadi mainstream. Tapi, cita rasa karinya jadi agak rusak. Ah, kejamnya, Mayseeta! Dan benar apa kata Kak RG bahwa kari itu spicy, bukan hot. Kalau hot itu pedas karena sambal atau cabai, sementara spicy itu pedas karena pakai lada atau spice (rempah-rempah).

Selain cupu karena takut makan pedas, Mayseeta juga mengurangi nasinya jadi 150 gram. Dan kalau kalian mau pesan menu seperti yang Mayeseeta pesan, kalian cukup merogoh kocek Rp60 ribu untuk Minced Beef Curry dan dtambah Rp25 ribu untuk tambahan fried shrimp-nya. Karena nasinya dikurangi, harga makanan dia pun berkurang goceng. Total yang harus dibayar Rp80 ribu!

4. Beef Omelette Curry

Processed with VSCOcam with c1 preset

Menu ini adalah pesanan Kak RG yang belum sempet gue coba karena udah keburu diabisin sama Kak RG. Dasar rakus kau, RG! Sayangnya kalau pesan menu omlet, kita nggak bisa pake level kepedesan. Karena, menu ini emang didesain dengan rasa kari yang orgininal. Tapi, kalau kalian pengin ngerasain rasa pedas, tambahkan aja tobikara.

Nasi yang dipesan Kak RG itu porsi standar 250 gram. Mungkin kalian bingung, di mana letak nasinya? Nasinya itu terbungkus rapih di dalam omlet. Ucul kan?

“Tekstur telurnya terasa lembut. Sayangnya, nasi putihnya agak terpisah dari kari. Daging sapinya juga terlalu tebal, jadi pas makan harus dibagi dua dulu supaya bisa dinikmati pelan-pelan pake kari. Tapi, rasa karinya tetep enak, sih. Menurutku, ini adalah kari terenak di Jakarta yang pernah aku makan,” kata Kak RG tentang makanannya. Dia nggak sadar kalau kami lagi di Bekasi, bukan di Jakarta.

Processed with VSCOcam with c1 preset

“Masih jauh lebih enak punya kamu, Ung,” kata Kak RG lagi dengan penuh dengki.

Harga makanan yang dipesan Kak RG adalah Rp75 ribu. Lumayan terjangkau kan? Kayaknya harga makanan Kak RG itu paling murah, deh.

5. Sausage and Fried Chicken Salad

Processed with VSCOcam with c1 preset

Processed with VSCOcam with c1 preset

Kedua salad itu dipesan buat dibagi berempat. Harga masing-masing saladnya Rp35 ribu. Isi dan dressing-nya sama. Yang membedakan kedua salad itu adalah yang satunya pake sosis, sedangkan yang satunya lagi pake fried chicken.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Yang membuat salad ini istimewa adalah dressing-nya yang terasa beda dari dressing salad kebanyakan. Selama ini, gue bosan makan salad bule yang rasanya begitu-begitu aja. Tapi, salad yang ini beda. Rasanya Asia banget!Bikin makan sayuran jadi menyenangkan. Kalau kata Kak Swatriani sih, mereka pakai saus wijen untuk dressing salad-nya. Tapi, gue sama Kak RG langsung teringat sama rasa bumbu buah yang cukup fenomenal dari kecil, yaitu Bumbu Buah Manis.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Herannya, Ayu dan Mayseeta justru nggak tau tentang bumbu buah fenomenal ini. Mungkin, bagi kalian yang tidak memiliki darah Cina dan tidak tinggal di daerah pecinan, kalian nggak tahu bumbu buah yang enak banget ini. Makanya, pas gue cobain kari Jepang di Curry House CoCo Ichibanya, gue langsung bilang enak karena gue emang suka banget sama bumbu buah ini. Sulit dijelasin pake kata-kata, sih, gimana rasa dressing saladnya. Pokoknya asin-asin enak gimana gitu. Kalau bisa, kalian belilah bumbu buah ini untuk dibandingkan dengan rasa dressing saladnya. Sekarang, udah jarang yang jual sih, tapi kalian masih bisa mendapatlannya di supermarket impor, seperti Toko Buah Jakarta, Rezeki, dan lain-lain.

Kami pun kenyang bingit sampe jalannya tegak banget kayak tentara. Kalau Kak RG mukanya kayak kucing yang sebentar lagi mau di-caesar. Kalau Kak Swatriani nggak undang kami, nggak mungkin bisa kami bisa makan enak sampe berdarah-darah kayak begini. Dengan ini, gue simpulkan bahwa kari di Curry House CoCo Ichibanya adalah kari Jepang terenak yang pernah gue makan. Bahkan, Albert Einstein aja bilang begitu.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Tadinya, kari Jepang bukanlah list makanan yang masuk ke dalam agenda gue. Tapi, setelah ini, agenda buat makan di Curry House CoCo Ichibanya bakal sering muncul, nih. Apalagi rumah dan kantor gue lumayan dekat sama GI. Tinggal lempar kolor beberapa biji langsung bisa sampe ke sana.

Terima kasih Kak Swatriani. Udah dikasih makan enak, dikasih goodie bag pula. Hihihi…

Processed with VSCOcam with c1 preset

Foto: RG, Mariska

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy