FacebookTwitter
Page 1 of 212

Surat Terbuka untuk Jesslyn Irwana

By on Apr 28, 2015 in Diary

Halo Jesslyn, apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa. Tadinya, gue nggak pengin bikin surat terbuka buat lo, tapi karena beberapa hari lalu gue bertemu dengan seorang perempuan misterius, gue pun jadi gatel pengin nulis surat terbuka buat lo. Biar gaya dan bisa ngalahin rating ‘Surat Terbuka untuk Jokowi’. Ini wajah si perempuan misterius. Seorang perempuan yang suka banget pake atribut panda. Udah itu aja clue-nya. Biar lo susah nebak. Perempuan misterius itu banyak ngomongin lo yang aneh-aneh. Bikin gue ketawa ngakak. Sayangnya, gue hanya tau kabar lo dari dia, bukan dari lo secara langsung. Kenapa sih harus tau kabar temen sendiri dari orang lain? Kenapa nggak dari lo sendiri aja, Jes? Ini semua karena gue udah lama banget nggak ketemu sama lo. Coba lo itung sendiri deh udah berapa lama kita nggak ketemu? Pasti males itung kan lo. Ah, udah ketebak deh. Ambil kalkulator aja males. Apalagi ngitung! Percuma deh lo kuliah ambil jurusan Ekonomi dan belajar setinggi langit di kampus kandang burung itu. Padahal, rumah kita nggak jauh-jauh banget kan? Nggak sampe harus naik roket kayak mau ke Bekasi, kan? Gue di Mangga Besar, sedangkan lo di Jelambar. Masih sama-sama di Jakarta Barat yang merupakan daerah Cinko (Cina Kota). Tinggal lempar beberapa kolor harusnya udah nyampe, sih. Coba deh itung, berapa banyak kolor yang harus dilempar? Pasti males kan itung kolornya? Kata si perempuan misterius itu, kamu sebentar lagi mau cari kerja, ya? Kok nggak bilang-bilang ke gue? Mau ambil bidang apa? Perbankan, administrasi, sekretaris, media, science, atau psikologi? Gue seneng mendengar kabar itu. ASAL, jangan berubah pikiran di tengah jalan, ya. Takutnya nanti lo malah menyesal di hari tua karena nggak pernah mencoba hal-hal seru di masa muda. Ingat Jes, bahwa masa muda itu tidak akan pernah bisa diulang kembali. Btw, gue jadi inget dilema lo ketika...

Ayam Beranak?

By on Apr 26, 2015 in Diary

Kebanyakan ayam emang bertelur, tapi ada juga yang beranak. Namanya Frediyanto. Doi merupakan temen SMA gue yang akrab dipanggil Ayam. Nggak tau kenapa waktu sekolah doi dipanggil kayak begitu. Katanya sih, gara-gara mukanya mirip ayam. Tapi, kalau diliat-liat, doi nggak mirip ayam kok. Karena, pas lagi nyebrang jalan, doi masih sibuk liat kiri dan kanan kayak orang takut ketabrak mobil. Kalau ayam beneran kan pandangannya lurus ke depan ketika nyebrang jalan. Fearless. Tetap tenang dan nggak takut ketabrak mobil. Lalu, kenapa doi beranak dan bukan bertelur? Dengerin dulu cerita ini. Begitu pertama kali gue kenal sama Ayam di SMA Budi Mulia, Mangga Besar, yang melekat di otak gue cuma satu. Doi itu LEMES banget. Hahaha.. Ngomongnya pelan banget, padahal doi bukan orang Jawa. Ngomongnya lumayan halus, tapi nggak sehalus banci kaleng. Udah gitu, badannya kurus bingit kayak orang nggak pernah makan! Duh Yam, kalau gue bisa bagi lemak ke lo, gue udah kurus dari zaman dahulu kala. Tapi, di balik kekurangannya itu, doi orangnya baik bingit. Kalau bertemen sama doi, kalian pasti nggak tega buat nge-bully doi. Kalau nge-bully doi, rasanya kayak abis ngelakuin dosa gede banget. Kayak abis jadi pengedar narkoba yang udah merusak generasi muda di Indonesia. Terus, gue bikin blog soal ayam dan bicarain soal masa lalunya yang kelam, emangnya itu bukan nge-bully, ya? Oh, tentu tidak! Tindakan yang gue lakukan kali ini merupakan bukti bahwa gue sayang bingit sama doi. Hahaha.. Sumpah! Baiklah, kita lanjut ke kisah masa lalu Ayam lainnya, yuk! Di zaman dahulu kala, Ayam pernah naksir seorang cewek di kelas. Nggak usah disebutlah, ya, namanya. Pokoknya, cewek itu cukup populer di sekolah. POPULER = Pokoknya Pulang Teler. Ketika itu, kebetulan udah mau Valentine dan Ayam pun bertanya ke Bunga (bukan nama sebenarnya). “Bunga, lo mau cokelat apa?” tanya Ayam dengan polosnya. “Gue...

Hellen: “Gue Cina Tauk!”

By on Apr 21, 2015 in Diary

Di kampus gue, yang terkenal dengan sebutan kandang burung itu, sebagian besar isi mahasiswanya adalah orang Cina. Di setiap kelas, paling cuma ada 1 atau 2 orang non-Cina. Meskipun begitu, kami tetap saling menyayangi. Nah, di blog kali ini, yang pengin gue bahas adalah salah satu temen kampus gue bernama Hellen Poulina yang diragukan identitasnya. Gue dan Hellen beda konsentrasi jurusan. Gue ambil Manajemen Pemasaran, sedangkan Hellen ambil Manajemen Keuangan. Ketauan kan mana yang rajin ke pasar dan mana yang rajin mengatur keuangan? Meskipun rajin mengatur keuangan, tapi Hellen kalau narik duit di ATM, struknya diambil, terus duitnya ditinggal. Sumpah, ini kisah nyata, lho. Hellen: #GueMahGituOrangnya Udahlah stop ngomongin kekurangan Hellen yang satu ini, tapi kita lanjut yuk ke kekurangan Hellen yang lain. Meskipun beda konsentrasi jurusan, tapi gue dan Hellen cukup sering bertemu tanpa sengaja di semester-semester awal. Lumayan sering sekelas, padahal nggak pernah direncanain. Ah, emang udah jodoh dari sananya, sih! Anaknya baik, ramah, pintar, dan terlihat rajin ketika di kelas. Beda banget sama gue. Kalau gue sih, lebih rajin lagi pastinya! Ketika kami pertama kali ketemu, kami masih sama-sama gemuk. Nggak gemuk-gemuk amat, sih, tapi agak montok gimana gitu. Beda tipis sama babi merah yang suka ada di nasi campur. Karena semua orang di sana banyak yang Cina, gue pun menganggap bahwa Hellen juga Cina, meskipun aura Cina totok kurang begitu terpancar di wajahnya. Soalnya, kulitnya nggak putih. Agak cokelat. Tapi, yang melekat di otak gue adalah dia Cina. Sebenernya, apa pun status Hellen, gue tetep mau berteman sama dia, kok. Sampai sekarang pun, kami masih berteman baik. Suka curhat, makan bareng, nongkrong, bahkan kami punya grup di Whatsapp yang isinya banyak banget. Empat orang. Bisa dibilang, kami malah lebih dekat ketika sudah lulus kuliah, ketimbang ketika kuliah dulu. Gue yakin dia Cina, tapi ada obrolan...

Icip Kari Jepang di Curry House CoCo Ichibanya

By on Apr 12, 2015 in Diary, Food Porn

Awalnya, gue nggak terlalu excited sama kari Jepang karena rasa kari di mana-mana sama dan begitu-begitu aja. Monoton dan ngebosenin. Gue suka kari Jepang karena gue adalah pemakan segalanya, tapi dibilang suka banget, juga nggak. Beda banget sama Kak RG yang doyan banget sama kari Jepang. Masa kalau mampir ke resto sushi, dia pesen kari. Mampir ke resto ramen, dia juga pesan kari. Dia doyan banget sama kari Jepang karena menurutnya, kari Jepang itu punya rich taste yang resepnya seolah-olah udah dipertahankan selama ratusan tahun sejak zaman nenek moyang kita. Beda dengan makanan Jepang lainnya yang terkesan seperti hasil eksperimen di dapur. Contohnya, sushi dan ramen. Kenapa sushi dan ramen merupakan hasil eksperimen di dapur? Karena sushi dan ramen resepnya bisa dikembangkan dari waktu ke waktu. Bisa disesuaikan dengan kreativitas pembuatnya. Jika resepnya dikembangkan, rasanya makin enak. Sedangkan, kari Jepang itu lebih enak kalau dimasak dengan resep yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Resep kari Jepang itu bisa aja dimodifikasi sih, tapi nggak bisa dilakukan dengan sembarangan. Salah sedikit aja, rasanya bakal berubah jadi nggak enak. Dasar Kak RG sok filosofis! Makan aja milih-milih, padahal masih banyak orang yang kelaparan di luar sana! Karena jarang ada resto dan chef yang bisa memasak kari Jepang dengan enak, sampai saat ini, Kak RG belum menemukan resto kari Jepang yang enak. Lama-lama, dia jadi males makan kari Jepang. Bahkan, outlet Curry House CoCo Ichibanya, resto kari franchise dari Jepang (#cocoichibanyaindonesia) yang udah berdiri di west mal, lantai 3A, Grand Indonesia (GI) sejak tanggal 8 Desember 2013 nggak terlihat di matanya. Padahal, resto itu terkenal banget di Instagram. Banyak Instagrammer yang nge-post foto menu makanan Curry House CoCo Ichibanya (#cocoichibanya, #cococurryhouse) di Instagram. Gue juga nggak ada insiatif buat ajak dia ke sana karena gue udah jelasin sebelumnya. Gue bosan sama...

Behind The Scene Buku Kedua Kak Uung

By on Apr 7, 2015 in Diary

Sebelumnya, gue minta maaf karena gue udah lama nggak update blog. Gara-gara sibuk kelarin buku kedua gue yang udah cukup lama terlantar. Mungkin kalian belum tau, bahwa sebelumnya gue pernah nulis buku di tahun 2010, judulnya Air Mata Ibuku dalam Semangkuk Sup Ayam, terbitan Elex Media. Gue ceritain sekilas tentang buku ini, ya. Buku ini berisi 16 cerpen fiksi yang sebagian besar temanya tentang kemanusiaan, romance, dan ada komedinya sedikit. Komedinya cuma 15%. Beda banget sama blog ini, yang orang-orang bilang isinya bikin ngakak. Buku itu gloomy banget. Beda banget sama karakter sehari-hari gue yang terlihat ceria dan agak eror. Orang-orang pun sampe heran, kenapa gue bisa nulis cerita sedih kayak begitu. Mereka menganggap bahwa gue pasti salah minum obat. Abis itu, gue cukup lama vakum menulis buku karena sibuk kerja di GADIS. Akhirnya, di pertengtahun 2013 kemarin, gue dapet kesempatan buat nulis buku lagi. Ketika itu, gue sempet frustasi berat sama kekalahan gue di lomba makan. Bayangin deh, kalah lomba makan aja bisa bikin gue frustasi berat! Tapi, gara-gara kekalahan itu, gue jadi terpikir ide untuk membagikan cerita lomba makan gue melalui buku. Kebetulan, gue kan emang udah lumayan lama nggak nulis buku. Apalagi, kata orang-orang nulis buku itu bisa bikin kita sembuh dari kegalauan, sakit hati, dan lain-lain. Sudah banyak seniman, penulis, dan musisi yang membuktikan bahwa mereka bisa sembuh setelah menulis. Jadi, gue pun berinisiatif buat cari penerbit yang pas. Entah kenapa, yang kepikiran di otak gue adalah Gagas Media. Gue pun minta dikenalin ke editor Gagas Media melalui Kak Nilam Suri yang pernah terbitin buku di sana. Kak Nilam pun memberikan email Kak Resita Febiratri. Doi adalah redaktur pelaksana Gagas Media. Gue pun menjabarkan ide tulisan gue lewat email. Biar lebih afdol, gue juga kirimin artikel tentang kisah lomba makan yang pernah gue tulis buat...

Page 1 of 212
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy