FacebookTwitter
Page 1 of 212

Review HQ7 Misty Musk Hair Milk

By on Mar 21, 2015 in Beauty, Diary, Review Produk

Gue termasuk cewek yang males bingit pake conditioner, soalnya kalau keramas, rasanya pengin cepet-cepet dikelarin. Pake conditioner aja males, boro-boro rajin creambath atau hair spa. Tapi, gue suka bingit menyiksa rambut bak sado masokis, salah satunya dengan sering mengecat rambut. Dalam setahun, kayaknya gue bisa cat rambut sebanyak 3 – 4 kali! Dengan perlakuan laknat gue, tentu aja rambut gue jadi ancur. Warnanya kusam, kasar, kaku dan bercabang. Sekarang, gue lagi dalam masa ingin meringankan penderitaan rambut dengan berhenti mengecat rambut, meskipun warna rambut gue udah nggak jelas. Gue mulai kepikiran untuk merawat rambut dengan baik dan benar. Gue ingin membawa rambut gue ke jalan yang benar. Sangat disayangkan apabila rambut gue masuk neraka dan terbakar panasnya api neraka. Mungkin, gue nggak langsung memulai dengan langkah yang besar, tapi setidaknya ada langkah sederhana yang ingin gue lakukan. Selain rajin pake Shampoo Kuda Mane and Tail supaya rambut cepat panjang, gue juga pengin pake vitamin rambut. Tapi, gue bingung mau pake vitamin rambut yang kayak gimana. Tiba-tiba, gue teringat kalau di Hypermart, Gajah Mada Plaza sempat ramai sama promo HQ7 Hair Milk! Didiskon gede-gedean gitu deh. Gue lupa didiskon sampe berapa duit. Yang jelas, poster dan botol-botolnya bener-bener dipajang dengan heboh di Hypermart. Ketika itu, gue lagi males-malesnya merawat rambut, jadi gue nggak acuh sama produk itu. Kayak cewek sok jual mahal seolah-olah nggak butuh gebetan. Baru seminggu yang lalu gue menaruh perhatian sama produk ini. HQ7 Misty Musk Hair Milk Gue pilih hair milk yang aromanya misty musk, karena gue lumayan suka sama aroma misty musk yang notabene sama kayak aroma white musk yang cukup fenomenal itu. Selain aromanya enak, hair milk ini juga punya banyak kandungan yang bermanfaat untuk rambut, yaitu: Milk and Honey Extract: Menutrisi sel rambut dan menjadikan rambut lembut, halus, berkilau dan mudah diatur. Argan...

Mengatasi Jerawat di Punggung dan Dada

By on Mar 14, 2015 in Beauty, Diary, Review Produk

Awalnya, gue pikir kalau jerawat nggak muncul di muka, berarti larinya ke punggung atau dada. Begitu pula sebaliknya. Ternyata nggak juga. Karena, kalau emang salah pake produk, jerawat bisa muncul di muka, sekaligus badan. Apalagi, buat yang punya kulit sensitif dan berminyak kayak gue. FYI, daerah punggung dan dada itu juga merupakan area berminyak buat si pemilik kulit berminyak, selain muka. Jadi, nggak heran kalau jerawat suka bermunculan di sana. Meskipun nggak langsung kelihatan, tapi tetep aja jerawat di punggung dan dada itu sangat mengganggu penampilan. Pas pake baju yang agak terbuka di daerah itu, langsung bikin penampilan kita jadi nggak enak dilihat. Rasanya pengin sirem tuh punggung dan dada pake obat pel lantai biar kuman-kumannya ilang! Selain ganggu penampilan, yang bikin KZL adalah bekasnya pun susah ilang dan bikin kulit jadi kelihatan belang kayak abis liburan dari Bali. Kalau belang gara-gara berjemur di pantai Bali sih nggak apa-apa. Ini cuma gara-gara jerawat bangkek. Kan malesin! Kalau gue ngeluh soal hal ini sama nyokap, beliau cuma bisa menyalahkan kodrat. “Sabar ya, Ung. Emang darah keluarga kita aja yang udah kotor dari sananya,” ujar nyokap. Kalau denger kalimat barusan, seakan-akan keluarga gue abis bikin dosa besar yang telah menodai leluhur kami. Dan hukumannya adalah darah kami yang harus ternoda. Ah, sungguh nista rasanya! Dengan pengalaman bertahun-tahun punya punggung dan dada berjerawat, gue pun makin ngerti cara mengatasinya. Ternyata, gue nggak boleh pake sabun mandi sembarangan. Padahal, banyak sabun mandi ucul di pasaran. Gue nggak boleh pake sabun mandi yang kandungan moisturizer-nya tinggi bingit. Gue pernah pake sabun Dove yang bikin kulit jadi lembut dan kenyal bingit, tapi abis itu break out di punggung dan dada. Sedih. Pake sabun cair berbahan dasar krim dan wanginya ucul kayak begini juga berbahaya buat pemilik kulit berminyak! Gue pernah pake sabun ini selama beberapa...

Hidup Sehat dengan Green Smoothies

By on Mar 9, 2015 in Diary, Food Porn

Gue bukan orang yang akrab dengan green smoothies. Denger namanya aja udah takut. Soalnya, warnanya ijo bingit dan bikin takut. Takut sama rasanya yang sayur bingit. Tapi, gue pernah cobain green smoothies di resto Mama Malaka yang ada di Grand Indonesia. Rasanya enak dan nggak seburuk yang gue bayangkan. Rupanya, sayuran-sayuran laknat tersebut emang sengaja dibuat dalam bentuk green smoothies supaya rasanya jadi enak dan bisa dinikmati oleh siapa aja, termasuk anak-anak dan orang dewasa yang nggak suka makan sayur. Weekend kemarin, gue dapet liputan ke acara launching buku berjudul Green Smoothies: Super-Healthy & Healing Drink.     Acara tersebut diadain di Warung Kebunku (Jl. Terogong Raya No. 11, Cilandak Barat, Jakarta). Gue suka sama warung makan ini, soalnya tempatnya vintage bingit kayak jiwa gue. Sesuai sama namanya yang terdengar sayur bingit, warung ini menyediakan berbagai macam makanan yang sehat dan alami. Karena, bahan makanannya fresh, bumbunya alami dan sayurnya dipetik dari kebun organik sendiri.     Nectaria Ayu, si penulis buku sekaligus pemilik Warung Kebunku nggak hanya adain launching buku, tapi doi juga adain workshop berjudul Making Lovely and Healthy Green Smoothies. Lewat workshop itu, kita diajarin buat praktekin resep-resep smoothies yang ada di buku itu. Dengan mengikuti kegiatan positif macam ini, minimal gue bisa ngerasain gimana rasanya masuk dapur. Bisa melatih insting untuk menjadi wanita seutuhnya. Mudah-mudahan, setelah pulang dari acara ini, gue bisa jadi perempuan yang rajin bikin smoothies atau mungkin jadi penjual smoothies yang ke mana-mana bawa blender.     Lho, kenapa di kedua foto tersebut bajunya Kak Ayu berubah dari biru ke hitam? Rupanya, fenomena warna dress black and blue dan white and gold pun masih berlanjut di workshop bikin smoothies! Menurut kalian, apa warna asli baju Kak Ayu? Kalau bisa jawab, kalian bakal dapet green smoothies buatan Kak Uung! A. Biru B. Hitam...

Diet OCD, Tapi Berat Badan Malah Naik (Lagi)?

By on Mar 7, 2015 in Diary

Pertama kali gue mencoba diet OCD (Obsessive Corbuzier Diet), gue memulai dengan jendela makan 6 jam. Bangun pagi nggak langsung makan, tapi mulai makan jam 12 siang sampe jam 6 sore. Begitu terus selama seminggu. Hasilnya, berat badan gue turun 2 kg. Dari berat 64 ke 62 kg, padahal olahraganya cuma anget-anget tai ayam. Sayangnya, momen indah itu nggak berlangsung lama. Soalnya, gue liburan ke Bangkok selama 5 hari 4 malam. Awalnya, gue sih niat pengin OCD di sana. Minimal nggak sarapan di hotel. Tapi, begitu sampe di sana, susah bingit buat dijalani. Meskipun makanan di hotel nggak enak, tetep aja gue bela-belain sarapan, karena gue mikirnya rugi dong kalau nggak sarapan. Toh, udah bayar hotel lumayan mahal. Abis itu, di siang hari dan malam harinya, gue dan teman-teman tentu aja cobain berbagai macam makanan enak lainnya! Alhasil, begitu sampe di Jakarta, berat gue naik 3 kg. Jadi 65 kg! Lebih berat dari sebelum gue OCD. Dari situ, gue sadar bingit kalau lakuin OCD emang harus konsisten. Harus dilakuin seumur hidup. Ibaratnya udah kayak kontrak mati sama setan botak. Kayak yang dibilang sama Ko Fei di artikel Efek Samping Diet OCD. Gue pun memulai OCD lagi dari nol, kayak anak yang abis nggak naik kelas. Dalam seminggu, gue ambil jendela makan 4 jam (dari jam 12 siang sampe 4 sore) setiap hari. Hasilnya, berat badan gue langsung turun 4 kg. 4 kg hanya dalam waktu seminggu, lho. Gue terus konsisten lakuin diet itu dan berat badan gue terus turun. Lalu, apakah gue pernah cheating saat OCD? Oh, tentu pernah. Tapi, nggak sampe gila-gilaan cheatingnya kayak pas di Bangkok. Dalam sebulan paling cheating 2 sampe 4 kali. Selain masalah di atas, mungkin kalian pernah mengalami masa di mana berat badan kalian mentok dan nggak turun-turun lagi. Padahal, OCD dan olahraganya...

Alasan Kak Uung Vakum Lomba Makan

By on Mar 6, 2015 in Diary

Setahun yang lalu, 5 Maret 2014 adalah hari di mana gue pertama kali ketemu Kak RG. Kami bertemu di toko buku, karena kami adalah anak terpelajar. Singkat cerita, tanggal 29 Maret 2014, gue ikutan lomba makan bakmi di mal deket rumah. Eh, plaza deh tepatnya. Mana ada mal deket rumah gue! Namanya juga daerah pecinan a.k.a. Cinko (Cina Kota). Sayangnya, gue kalah di perlombaan itu, soalnya tanpa disangka-sangka gue ketemu sama banyak monster laknat yang makannya jauh lebih jago daripada gue. Padahal, setahun sebelumnya, gue berhasil meraih juara 3! Di hari itu, Kak RG juga ikutan lomba makan. Gue aja kalah telak, apalagi dia. Beh, tentu aja dia langsung tumbang di meja makan. Terkapar dan hampir koma. Di saat itu, gue merasa bahwa ladang permakanan itu udah makin tertutup buat gue. Kekalahan tersebut cukup menyakitkan, tapi untungnya nggak sampe membuat gue mengeluarkan air mata. Tanpa disangka-sangka, malam harinya Kak RG malah ajak gue jadian. Masa ajak jadiannya di hari apes? Nggak tau setan apa yang membuat gue merasa senang dan pengin terima dia. Di hari itu, status gue sebagai jomblo abadi pun tergantikan dengan status ‘In a Relationship’. Begitulah kata Facebook. Gue sih seneng-seneng aja, karena akhirnya pecah telur juga, tapi tetep aja ada yang mengganjal di hati. Yaitu, soal masa depan gue di bidang lomba makan. Gue makin nggak optimis dengan karier gue, meskipun sebagai seorang cewek, prestasi gue di bidang itu bisa dibilang cukup gemilang. Belum lagi, gue harus puasa lebih ketat supaya bisa membakar karbohidrat bangkek yang udah masuk ke dalam tubuh gue akibat lomba makan keparat itu. Setelah tanggal 29 Maret 2014 itu, gue udah nggak pernah lagi ikutan lomba makan. Nggak terasa, waktu cepat berlalu dan udah mau setahun aje. Selama itu pula, semua orang bertanya tentang karier lomba makan gue. Ung, kapan lomba...

Page 1 of 212
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy