FacebookTwitter
Page 2 of 212

Grungy School Girl

By on Jan 12, 2015 in Fashion, Narsis

Pernah liat anak sekolah bolos, terus makan ke resto ayam presto Ny. Nita dan belanja kebutuhan ngemil di Family Mart, Wolter Monginsidi? Mungkin aja abis makan dan belanja, tuh anak malah hirup lem warna kuning rame-rame sama temen. Nah, Kak Uung mulai membayangkan jika dirinya berada di posisi itu. Gaya boleh aja nerd dengan kacamata dan kaos kaki tinggi putih kayak anak sekolah pada umumnya, tapi sepatunya, sepatu disko dong! Karena lagi madol, jadi atasannya nggak perlu pake seragam putih. Pake denim vest aja, terus bawahannya pake rok army biar makin asyik waktu hirup lem kuning. Backpack-nya juga nggak usah gede-gede, karena nggak pernah belajar. Pake aja backpack medium warna rainbow. Kalau soal rambut gimana, Kak? Mumpung lagi madol, pakailah wig blonde yang panjang dan keriting di bagian bawah biar cetar membahana. Jangan lupa diikat, karena udara Jakarta begitu panas. Untuk menambah kesan brutal, namun girly tambahin aja denim polkadot hair bow. Triangle ring dan neon spike bracelet juga penting banget buat dipake supaya bertambah gahul!   Blonde Dolly Wig: Belle Wonderful Hair Denim Polkadot Hair Bow: Callista Room Glasses: Naughty Accessories Denim Vest: Mr. Freddy Army Skirt: Beli di Bangkok White High Knee Socks: Akari_Shoppu Sepatu Dikso: Beli di Kak Asri Rainbow Backpack: Roxy Triangle Ring and Neon Spike Bracelet: Beli di Kak Lucia...

Kak Uung Lebih Laki, Sedangkan Kak RG Lebih Wanita

By on Jan 5, 2015 in Diary

Beberapa waktu lalu, sempat ada yang pengin gue nge-blog tentang kisah gue sama Kak RG waktu berantem. Ternyata, bukan cuma 1 orang yang pengin tau cerita itu, tapi masih ada beberapa temen yang juga kepo. Mungkin ini adalah balasan untuk gue yang juga suka kepoin orang. Nampaknya karma benar-benar eksis. Mamam tuh karma, Ung! Daripada bahas soal kisah berantem, lebih baik membahas hal lain yang lebih mendidik. Karena, gue dan Kak RG nggak ingin kalau gaya berantem kami ditiru oleh banyak orang, terutama anak muda zaman sekarang. Kalau mau berantem sama pacar mendingan cari gaya sendiri aja. Kali ini, yang pengin gue bahas adalah tentang perbedaan Kak Uung dan Kak RG. Banyak yang bilang kalau cewek itu berasal dari planet Venus, sementara cowok itu dari Mars. Itulah yang membuat keduanya berbeda dan bisa saling melengkapi. Tapi, kalau kasus gue dan Kak RG itu lain. Gue yang dari Mars, sedangkan Kak RG dari Venus. Dengan kata lain, gue lebih laki, sedangkan Kak RG lebih wanita. Lho, kok bisa? Apa karena jiwa kami tertukar kayak di film-film? Mungkin aja, sih. Berikut perbedaannya Kak Uung dan Kak RG:   1. Dari Segi Suara Mungkin ini karena pengaruh dari mana kami berasal. Kak RG adalah Cina Jawa. Lahirnya aja di Kebumen dan kuliahnya di Jogja. Sedangkan gue, lahir dan besar di Jakarta. Seluruh nafas gue hampir dihabiskan di Jakarta doang. Tentunya, itu berpengaruh terhadap gaya bicara. Meskipun Kak RG ngomongnya nggak medok kayak orang Jawa pada umumnya, tapi gaya bicaranya halus banget kayak cewek. Setiap kali gue kenalin dia ke temen gue, temen gue itu pasti komen tentang suaranya. Suaranya kecil banget, ya. Coba ulangin tadi ngomong apa? Suara lo alus banget kayak Princess Elsa di Frozen. Dan masih banyak komentar lainnya mengenai suara. Kalau udah kayak begitu, biasanya gue yang mempertegas ucapannya...

7 Shao Kao: Jajanan Sate Khas Cina

By on Jan 5, 2015 in Diary, Food Porn

Kalau di China, Shao Kao adalah jajanan sate pinggir jalan. Mungkin kalau di Indonesia, kayak kita liat jajanan gorengan tahu Sumedang yang bertebaran di mana-mana. Kebetulan, keluarga gue punya bisnis jualan sate khas Cina yang diberi nama 7 Shao Kao Chinese BBQ di Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Kenapa dikasih angka 7 di depannya? Soalnya biar namanya beda sama resto Shao Kao lain yang juga buka di PIK. Keluarga gue lagi suka sama angka 7, karena angka 7 dianggap populer di kalangan bule. Awalnya gue juga heran sih, kenapa nggak pake angka 8 aja yang lebih Cina. Apalagi, filosofi angka 8 itu juga bagus, yaitu bisa membawa hoki. Tapi, kalau pake angka 8, emang kurang enak ucapinnya, sih. Lebih enak pake angka 7 (baca: Seven Shao Kao). Yang bikin resep dan bumbu-bumbunya juga bukan orang sembarangan, tapi yang ajarin itu orang China asli. Bukan Cina Kota, peranakan atau sejenisnya macam gue. Emang kebetulan, sepupu gue yang buka resto ini nikah sama cewek China asli. Eh, tapi bukan cewek China yang jago pijat lho, ya! Nah, istrinya itu punya saudara yang jago meramu bumbu sate khas Cina! Tanpa jasa doi, resto 7 Shao Kao kayanya nggak bakal ada deh. Gue ke sana tanggal 31 Desember 2014 kemarin. Emang udah direncanain banget buat makan sate pas malam Tahun Baru. Bisa dibilang, sate-sate yang gue makan di 7 Shao Kao adalah makan malam terakhir di penghujung 2014 kemarin. Perut kenyang, hati pun senang! Buat main ke sana, butuh perjuangan berat. Pasalnya, gue anak Mangga Besar, cuy! Kurang menguasai daerah PIK dan sejenisnya. Dan letaknya cukup jauh dari rumah gue. Meskipun pas nyampe ke sana gue dan Kak RG keujanan. Rambut kami juga jadi lepek bingit. Tapi, gue lega pas nyampe di sana, soalnya tempatnya cozy dan homie. Nggak perlu kuatir nggak...

Page 2 of 212
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy