FacebookTwitter

Bercengkrama dengan Anak Koh Ahok

By on Dec 15, 2014 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Mungkin kalian bakal banyak membaca tentang kisah orang Cina di blog ini. Karena, blog ini bisa lahir berkat ada cerita tentang tukang pijat sadis di daerah Hayam Wuruk. Menurut gue, kisah orang Cina itu selalu menarik untuk dibahas dan nggak rasis sama sekali kalau gue yang bahas, soalnya gue juga Cina. Kalau kalian yang cerita barulah disebut rasis! Hahaha…

Nah, kisah orang Cina yang pengin gue ceritain kali ini adalah tentang hidup anak gubernur. Beberapa waktu lalu, hape pintar gue rusak dan gue sempet ceritain di sini. Waktu hape pintar gue rusak, ternyata di Path lumayan banyak yang ngomongin soal anak sulungnya Koh Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Namanya Nicholas Sean. Anak ini diomongin banget, karena pas bapaknya dilantik jadi gubernur, doi juga dateng. Ya iyalah, masa dia nggak dateng? Mau jadi anak durhaka?

Nicholas ini diomongin, karena cakep dan tinggi. Dia diomongin banget di socmed, tapi gue nggak tau apa-apa. Gue pun merasa rendah diri. Bagaikan katak dalam tempurung. Ini bukan salah gue, tapi salahkan si hape pintar yang tiba-tiba ngambek dan minta diservis!

Karena anak itu cakep bingit, bos-bos di kantor pun punya target yang luar biasa, yaitu memasukkan doi di rubrik Hot Boys majalah GADIS (tempat gue gawe). Mendengar hal itu, gue teramat tertantang buat cari doi. Tapi, bingung mau cari di mana, karena kayaknya nih anak nggak punya socmed. Kalau pun ada, gue juga trauma tweet gue nggak dibales. Takut sakit hati lagi, karena tweet gue ke Kaesang Pangarep (anaknya Pak Joko Widodo, presiden kita) tak kunjung dibalas. Rasa traumanya itu mirip kayak abis ditolak gebetan. Gue pernah hubungi doi lewat Twitter, karena emang mau cari doi buat wawancara.

“Kak, coba gue tanya ke orang gereja, ya! Si Koh Ahok itu akrab sama orang gereja gue!” bilang gue ke Kak Asri, editor gue.

“Ya cobalah Ung. Kali-kali aja ada konteknya!”

“Kalau gue berhasil dapetin doi, gue ditraktir apa, Kak?” Lagi-lagi hasrat ingin ditraktir muncul.

“Terserah lo maunya apa.”

“Hanamasa boleh, Kak?”

“Oke,” jawab Kak Asri pendek. Padahal, kemarin-kemarin doi pernah bilang kalau doi trauma menantang gue, karena gue selalu hoki kalau soal taruhan. Tapi, tetep aja doi selalu menerima tantangan gue. Itu sih namanya malu-malu tapi mau.

Entah kenapa, gue seperti punya secerca harapan yang cerah, meskipun kayaknya misi ini terlihat mustahil. Gue pun langsung menghubungi seseorang di gereja yang kelihatannya cukup akrab dengan Koh Ahok. Gue menghubungi doi lewat Facebook, karena gue nggak punya nomor hapenya. Begitulah pergaulan anak zaman sekarang. Punya semua akun socmed kerabat, tapi nggak punya nomor hapenya. Minta nomor hape kalau kepepet dan ada maunya doang.

Sayangnya, gue nggak menerima jawaban yang bisa memuaskan hati gue. Karena, doi suruh gue buat menghubungi Koh Ahok lewat SMS pengaduan yang ada di bio Twitter-nya. Kalau pun gue kirim SMS ke Koh Ahok, apakah SMS itu bakal dibaca? Kan gue bukan pengin mengadu, tapi pengin cari anaknya. Rasa trauma nggak dibalas itu tetap membekas di dada. Salahkan aja si Kaesang!

Tapi, bukan Kak Uung namanya kalau nggak mencoba. Lebih baik gagal, tapi udah mencoba. Daripada nggak mencoba sama sekali dan akhirnya malah nggak bisa tidur.

Dengan bahasa riang gembira dan sudah diatur sedemikian rupa, gue pun kirim ke salah satu nomor hape yang digunakan untuk mengadu.

Halo Koh Ahok, saya Mariska dari majalah GADIS. Saya ingin sekali bikin janji untuk mewawancarai Nicholas Sean, anak Koh Ahok. Untuk rubrik profil dan kegiatan sehari-hari. Adakah nomor yang bisa saya hubungi? Ditunggu kabar gembiranya.

Ya, semoga aja Koh Ahok nggak menjawab kalau kabar gembiranya itu adalah kulit manggis kini ada ekstraknya.

Bahasa SMS gue udah kayak ibu guru yang lagi nawar barang di Glodok. Sopan, tapi tetep panggil koko(h) biar kesannya akrab banget. Ya, kali-kali aja dibalas gitu. Entah dikasih nomor asisten atau nomor anaknya langsung. Kalau dibales, rasanya gue pengin pingsan deh. Okelah, gue janji bakal pingsan kalau SMS itu dibales.

Pas kirim SMS ye, susah banget nyampenya. Failed terus. Gue pikir, pulsa gue yang abis, tapi nggak tuh. Soalnya pulsa gue masih ada jutaan rupiah. Kayaknya emang nge-hang dari sananya. Mungkin setiap 5 detik, ada 1 SMS yang masuk. Setelah mencoba ribuan kali, akhirnya SMS itu bisa masuk juga. Puji Tuhan!

mariskatracy-rock

Karena SMS-nya nggak kunjung dibalas, gue pun lupa pernah kirim SMS ke Koh Ahok. Gue pun lupa pernah pasang target buat cari Nicholas. Abis menyerah pada keadaan, nggak disangka-sangka, SMS-nya malah dibalas sama Koh Ahok. Dibalasnya dua hari kemudian. Untuk seseorang yang super sibuk kayak Kok Ahok, itu termasuk cepat, lho. Walaupun yang balas mungkin bukan doi, tapi orang di timnya.

Nggak kebayang kan kalau jadi salah satu anggota di tim-nya doi. Mungkin bisa emosi, karena setiap harinya ada ribuan pengaduan yang masuk. Salah satunya, pengaduan karena jomblo dan minta dicariin pacar! Oh ya, bukannya gue janji buat pingsan kalau SMS-nya dibales? Mendadak gue terserang amnesia berat.

Gue pun menghubungi nomor seseorang bernama Mbak Ririn (contact person Nicholas). Entahlah Ririn ini siapa, karena gue nggak kenal. Sepertinya sih salah satu anak buah Koh Ahok. Entah asisten, atau sekertaris.

“Halo, dengan Kak Ririn?” sapa gue di telepon.

“Iya betul. Saya sendiri.”

“Saya Mariska dari majalah GADIS. Kak, bolehkah aku bikin janji untuk foto dan wawancara Nicholas?”

“Wawancara tentang apa ya, Mbak?”

“Tentang profil gitu, sih. Kegiatan sehari-hari gitu, Kak. Doi kan anaknya gubernur. Pasti, banyak hal unik yang bisa dikulik. Hehehe.” Gue ngomong di telepon sambil senyum pasang muka bidadari, padahal si Ririn juga nggak liat muka gue.

“Oh gitu, ya. Bisa sih diatur, tapi kayaknya nggak bisa minggu ini. Karena Nicho itu sibuk sekolah dan les.”

“Oh.. Les-nya kapan aja Kak?”

“Setiap hari sih.”

“Oh gitu, ya.”

“iya, makanya harus dicari dulu waktunya.”

“Oh, baiklah. Nanti dikabari aja ya, Kak.”

“Oke.”

Gue pun menunggu sampe semingguan, lalu menelepon doi lagi. Dan hasilnya nihil. Nicholas tetep aja sibuk sama les-lesannya. Akhirnya, gue pasrah. Mungkin Nicholas lagi lelah dengan les-lesannya. Mungkin, emang belum jodoh sama dia. Mungkin kami nggak ditakdirkan buat ketemu di sesi wawancara, tapi bisa jadi kami bakal berjodoh di pelaminan. Andaikan kami berjodoh sebagai pasangan, mungkin aja ketika menikah, gue udah mengalami menopause. Miris banget.

mariskatracy-rock

Kadang, kita perlu mengejar sebuah impian mati-matian, tapi kadang kita juga perlu berserah. Bener aje, ketika kita angkat tangan, Tuhan yang turun tangan. Waktu gue udah lupa buat follow up Ririn lagi, eh doi malah hubungi gue dan kasih tau kalau gue bisa menemui Nicholas! Beh, pas denger kabar itu, kayaknya trauma gue terhadap Kaesang sembuh begitu aja.

 

GUE BAKAL MAIN KE RUMAH GUBERNUR, KAK! HOREEEEE!

 

Pengin banget teriak kayak begitu di depan gang rumah gue sampe kedengeran ke rumah orang Arab deket masjid sana. Seperti yang sering gue lakukan ketika masih kecil. Yup, gue sering banget bikin orang Arab deket rumah gue marah-marah, karena gue suka teriak-teriak nggak jelas kayak orang gila.

Pas denger kabar itu, gue langsung curhat di Path, tapi gue nggak bilang kalau gue mau ketemu Nicholas. Gue cuma bilang kalau gue bakal main ke rumah pejabat. Hahaha… Gue pun langsung semangat cat rambut di rumah, karena rambut gue udah belang-belang kayak kucing garong. KZL-nya, cat rambutnya gagal, karena warnanya nggak sesuai dengan yang dinjanjikan. Kisah cat rambut itu, pernah gue ceritain di sini.

Main ke rumah orang penting itu, nggak bisa sembarangan. Kita harus kasih tau berapa orang yang datang ke sana dan berapa lama sesi wawancara dan fotonya. Ya begitu deh! Sama seleb aja nggak bisa sembarangan, apalagi sama anak orang nomor 1 di Jakarta! Tentu aja gue nggak boleh sembarangan waktu pake baju. Kalau biasanya gue bisa pake 5 motif di badan, kali ini gue cukup pake satu motif aja. Nggak mungkin kan motif baju gue lebih banyak daripada motif baju anak pejabat?

Yang menemani gue main ke rumah Koh Ahok adalah Vinty, temen kantor gue yang juga berdarah Cina dan Kak Ichmosa Rachmat (Mamat), fotografer gue. Menurut gue, kalau wawancara orang penting kayak begini, lebih enak ditemani daripada sendirian. Biar kalau malu, malunya bisa bareng. Kalau disakiti, disakitinya juga barengan.

Kak Ririn sebagai penengah pun juga sangat memfollow up kami dengan sangat baik. Satu jam sebelum jam janjian tiba, doi sempat nge-Whasapp gue buat tanya gue udah jalan belum? Tau nggak tempatnya di mana? Dan pertanyaan penting lainnya. Pokoknya servisnya sangat memuaskan!

Di perjalanan, doi juga curhat sama gue di Whatsapp. Doi bilang kalau yang cari Nicholas buat diwawancara banyak banget! Tapi, semuanya ditolak dan doi lebih mendahulukan GADIS. Dengan kata lain, gue adalah orang yang mewawancarai Nicholas untuk pertama kalinya secara personal. Emang sih, sebelumnya si Nicholas pernah diwawancarai sama wartawan-wartawan ketika bapaknya dilantik, tapi itu kan nggak personal. Wawancara rame-rame kayak di press conference gitu.

Kalau bukan karena nama majalah GADIS yang udah gede banget itu, gue nggak mungkin bisa jadi wartawan pertama yang mewawancarai Nicholas Sean secara personal. Gue merasa ini anugrah banget deh! Sampai kapan pun, gue nggak bakal lupa dengan jasa-jasa majalah GADIS yang udah mempertemukan gue dengan banyak orang keren. Nggak semua orang bisa punya kesempatan kayak begini. Makanya, banyak yang iri sama kerjaan gue. Nah, kalau lagi down atau males-malesan, gue selalu mengingat orang-orang penuh dengan rasa iri itu.

Rumah Koh Ahok itu di perumahan Pantai Mutiara, Jakarta Utara. Kayak Cina-Cina pada umumnya gitu! Rumahnya kalau nggak di Jakarta Barat, ya, di Jakarta Utara. Ketika menginjakan kaki di perumahan sana, gue jadi teringat dengan masa-masa Shincia (tahun baru Imlek). Kalau lagi Shincia, pasti tempat gue “mencari uang” nggak jauh-jauh dari sana.

Dan tibalah kami di rumah Koh Ahok. Janjian jam 4 sore, tapi jam setengah 4 udah sampe. Gue merasa seperti artis yang datang ke tempat syuting secara profesional.

“Pada takut sama anjing nggak?” tanya si penjaga rumah.

“Oh, ada anjingnya, Pak? Kalau galak sih takut. Emang galak, Pak?” tanya gue.

“Ehm, nggak galak sih. Cuma gede banget.”

“Ya udah deh nggak apa-apa,” kata gue pasrah.

Feeling gue sih anjingnya nggak galak-galak amat. Paling suka ngejilat kaki dan gangguin orang doang. Gue sih mendingan ketemu anjing daripada kucing, karena ketemu kucing bawaannya pengin masukin oven terus dipanggang kayak di film horor Ju-On. Kayaknya sih, si Kak Mamat yang ketakutan sama anjing, karena pantatnya pernah digigit sama anjingnya Kevin Aprilio.

Kami pun disambut sama Om Harry Basuki, adiknya Koh Ahok yang paling bungsu. Dengan ramah, Om Harry suruh kami masuk ke ruang meeting yang biasa digunakan Koh Ahok untuk menerima tamu atau rapat dengan orang-orang penting kayak Joko Widodo, Megawati dan lain-lain. Pas masuk ke dalam ruangan itu, atmosfirnya pun terasa beda. Gue merasa bagaikan orang (sok) penting. Dengan penuh kesombongan, gue sempet foto-foto di sana.

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

Setelah mengisi waktu dengan pipis di rumah Koh Ahok, ngobrol-ngobrol dikit sama Vinty dan Kak Mamat, Nicholas pun mendatangi kami dengan baju yang udah rapih. Bajunya mirip-mirip kayak ketua senat di kampus. Akhirnya, gue bisa wawancara anak ucul ini.

nicholas3

Kursi yang kami duduki itu adalah kursi yang dipake Koh Ahok buat rapat dengan orang penting. Mungkin aja kursi yang lagi gue dudukin itu adalah kursi yang pernah diduduki sama presiden kita!

Setelah mengobrol kurang lebih 45 menit, ternyata abege yang akrab disapa Sean ini anaknya baik, nggak sombong dan polos bak remaja pada umumnya. Semua jawaban yang dia kasih itu nggak ada yang dibuat-buat sok dewasa dan jauh dari kesan jaim.

Penginnya sih, gue bisa ceritain semua isi interview gue dengan Sean, tapi kayaknya nggak mungkin. Karena, gue harus menghormati majalah gue. Bakal lebih etis kalau gue ceritain isi interview-nya di majalah dan website GADIS. Jadi, kalau mau tau isi interview-nya, beli aja majalah GADIS atau baca www.gadis.co.id! Gue kayak penjual majalah yang lagi jajahin majalah di kaki lima, ya!

Tapi, di sela interview, gue sempet tanya hal-hal yang berhubungan dengan kecinaan sama doi. Kalau wawancarain orang Cina, kadang gue suka nggak tahan buat tanya-tanya hal-hal yang berhubungan dengan kecinaan. Meskipun gue sendiri adalah orang Cina, tapi rasa ingin tahu gue tentang kecinaan masih begitu besar. Kadang, ada nilai-nilai kecinaan yang berbeda di keluarga gue dan orang Cina lainnya.

“Kamu bisa bahasa Khek?” tanya gue ke Sean.

Khek itu macam dialek yang biasa digunakan sama orang Belitung dan sekitarnya. Seharusnya sih, si Sean ini bisa ngomong Khek, walaupun cuma dikit. Karena, bapaknya orang Belitung.

“Kalau Khek, aku nggak bisa. Lagian, aku lahir dan besar di Jakarta. Terus, kalau ngomong sama Papa kebanyakan pake Inggris, tapi aku bisa ngomong Hokkian sedikit. Karena, diajarin Mama.”

“Oh, Mama kamu orang Medan, ya?” tanya gue sok tahu.

“Iya betul. Mama dari Medan.”

Ternyata tebakan gue bener, Kak! FYI, Hokkian itu dialek yang suka dipake sama orang-orang Cina di Medan. Nggak di Medan doang sih, tapi juga di tempat lain. Cuma kayaknya Hokkian di Indonesia itu identik dengan orang Cina Medan.

Dari situ, gue belajar bahwa orang Cina modern di zaman sekarang, udah nggak lagi mengharuskan anak-anaknya untuk mahir berbahasa daerah. Bahkan, mereka udah nggak lagi menutup diri untuk pakai bahasa Inggris di rumah.

Beda sama orang Cina zaman dulu. Kalau nggak bisa ngomong bahasa daerah, pasti bakal dihina-hina sama orang yang lebih tua. Dianggap orang Cina Medan atau Belitung palsu! Dan kalau bisa ngomong, tapi logatnya jelek banget, juga dihina-hina. Ya gitu deh. Nggak bisa ngomong salah. Belajar ngomong, tapi nggak perfek juga salah.

Setelah gue pikir-pikir, darah yang mengalir di tubuh gue itu sama kayak si Sean. Yang bikin beda adalah bokap gue dari Medan, sedangkan bokap dia dari Belitung. Nyokap gue dari Belitung, sedangkan bokap gue dari Medan. Cuma kebalik aja. Pantesan kami cocok ngobrol panjang lebar. Coba kalau gue masih seumuran sama dia, mungkin kami ditakdirkan untuk berjodoh!

Di keluarga Koh Ahok, nggak semuanya berbisnis, seperti orang Cina pada umumnya. Ya bisnis sih setau gue ada, tapi mereka kayaknya lebih aktif di bidang yang lain. Setidaknya, begitulah kata Om Harry. Seperti yang kita tau, Koh Ahok sendiri bergerak dalam bidang politik. Sedangkan adik pertamanya, Basuri Tjahaja Purnama jadi dokter, sekaligus bupati di Belitung. Adik keduanya, Fifi Lety jadi pengacara dan Om Harry bergerak  bidang pariwisata dan kadang juga di bidang budaya dan hiburan.

Begitu juga dengan Sean yang nggak pengin jualan.

“Aku pengin jadi dokter bedah. Nggak suka jualan. Lagian, Matematikaku juga nggak begitu bagus. Makanya aku ambil les Matematika,” imbuh Sean.

“Kalau terjun di bidang politik kayak Papa gimana?” tanya gue.

“Nggak juga. Aku nggak tertarik masuk politik. Untuk saat ini sih belum, ya.”

Beda banget sama orang Cina zaman dulu yang lebih suka anak-anaknya jualan kayak mereka. Anak-anak kayak nggak dibolehin punya cita-cita yang lain. Nggak bisa disalahin juga sih kenapa orang Cina bisa mendidik anak kayak begitu. Karena, dulu orang-orang Cina itu mengalami diskriminasi. Mereka nggak punya kesempatan untuk mencoba berbagai peruntungan. Bolehnya cuma berdagang. Ya udah deh, akhirnya dagang doang.

Beda dengan zaman sekarang. Di mana udah banyak orang Cina yang unjuk gigi di bidang yang lain, selain dagang. Meskipun bullying terhadap orang Cina masih ada. Kayak Koh Ahok yang sering di-bully, karena darah Cina yang mengalir di tubuhnya.

Selain les Matematika, Sean juga ambil les Mandarin, wushu dan gitar. Pas tau anak ini lesnya banyak, pasti kalian langsung bilang ‘Ih, Cina banget, ya! Les mulu!’. Nah, kalau yang ini gue emang setuju. Keluarga Cina itu emang sangat mengutamakan pendidikan dan skill. Meskipun ujung-ujungnya kerjaan mereka bakal kembali ke toko atau bantu-bantu bisnis orangtua, tapi pendidikan dan skill emang penting banget buat orang Cina. Contohnya temen gue, si Mastini yang sekarang kerjaannya bantuin ortu jaga toko. Doi emang cuma jaga toko, tapi setiap seminggu sekali masih suka les piano dan aktif ikutin ujiannya.

Di keluarga Asia, terutama Cina biasanya nilai rapor atau ijazah merupakan hal terpenting. Kalau dapet nilai jelek dianggep goblok. Kalau dapet B dianggep kurang pinter, karena belum bisa dapet nilai A. Begitu udah dapet nilai A dianggep biasa aja, karena yang lain juga banyak yang dapet nilai A. Serba salah pokoknya!

Kalau di keluarga Koh Ahok, gue sih nggak melihat adanya sifat orangtua yang diktator dalam hal pendidikan. Soalnya, Sean bukan anak yang gila nilai atau terobsesi untuk jadi nomor satu di sekolah. Anaknya santai dan woles banget! Bikin resolusi buat tahun baru aja nggak pernah.

Begitu juga dengan menunjukkan bahasa kasih di keluarga. Sesibuk-sibuknya Koh Ahok jadi gubernur, doi masih sempat meluangkan waktu di pagi hari bersama keluarga buat doa bareng sebelum berangkat gawe.

“Papa juga suka kasih nasihat supaya aku tetep dekat sama Tuhan dan punya hidup yang benar,” kata Sean.

“Terus, kamu jadi tetep deket sama Tuhan dong?”

“Nggak juga sih. Kadang suka khilaf. Hihihi,” katanya cengengesan.

Setau gue, belum tentu lho anak-anak di keluarga Cina bisa akrab sama orangtuanya. Karena, dari orangtuanya sendiri kurang tau cara mengungkapkan bahasa kasih berupa kata-kata ke anak-anak. Mereka nggak biasa bilang kata-kata sejenis ‘I love you’ ke anak-anaknya. Mereka lebih suka menunjukkan kasih sayang dengan perbuatan nyata, kayak kasih duit, anterin anak ke sekolah dan lain-lain. Makanya, anak-anaknya pun juga bersikap kaku ke orangtua. Mereka mikir kalau orangtuanya nggak pernah sayang, jadi mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-teman, ketimbang keluarga. Untungnya sih, keluarganya Koh Ahok nggak begitu.

Lalu, mungkin kalian sering berpikir kalau orang-orang Cina yang kaya raya pasti bakal lebih sering menghabiskan liburan mereka dengan menghambur-hamburkan uang di luar negeri. Tapi, nggak semuanya begitu. Contohnya Sean yang lebih memilih buat pulang kampung ke Belitung pas Natalan dan Tahun Baru nanti.

“Aku lebih suka main ke Belitung pas libur, daripada ke luar negeri. Karena, suasana di Belitung sejuk. Pantainya bagus banget dan makanannya enak-enak!” curhat Sean yang katanya jarang ke luar negeri.

Dari hal itu, gue menilai bahwa masih ada orang Cina yang nggak melulu bolak-balik ke luar negeri. Masih ada orang Cina yang lebih suka menjelajah negeri sendiri dan menikmati keindahan Indonesia. Dan sepertinya, Sean ini lebih suka menggunakan produk dalam negeri ketimbang produk impor. Kayaknya sih begitu, ya. Setidaknya begitulah pemikiran Kak Uung.

Buat kalian yang jomblo, kayaknya kalian nggak perlu jadi ngenes atau berpikir bahwa hidup kalian yang paling menderita. Karena, anak ucul dan keren kayak Sean aja belum pernah pacaran. Dulu, doi juga pernah ditolak sama cewek, padahal udah mati-matian ngejer sampe ikutan si gebetan main drama. Ingatlah bahwa penolakan itu ada di mana-mana dan itu adalah hal yang wajar. Kalau kalian tidak pernah ditolak, berarti kalian tidak pernah mencoba.

Itulah hal-hal yang Kak Uung pelajari dari hidup Sean dan keluarganya yang berdarah Cina. Dan sepertinya, kehidupan keluarga Cina zaman sekarang nggak jauh berbeda dengan keluarga non Cina. Ya mungkin masih ada sisa-sisa peninggalan tradisi, tapi udah nggak segitunya juga sih. Gue sih berharap dari blog ini, kalian bisa lebih mengenal orang Cina itu seperti apa.

Dan nggak lupa, gue pun foto bareng dengan koko Sean. Dress hijau dengan satu motif, yaitu motif bunga-bunga inilah yang gue pilih untuk berkunjung ke rumah Koh Ahok. Gue beli baju ini udah lumayan lama. Belinya di online shop temen gue, si Kak Sherly. Nama Instagram online shop-nya @Shoppers_Shopp. Sekalian bantu-bantu jualan Kak Sherly deh. Inilah yang disebut dengan bantu-bantu Cina!

nicholas4

nicholas5

Kalau yang ini foto lengkap kami berempat. Vinty, gue, Sean dan Kak Mamat. Kalau di foto ini, kami terlihat seperti keluarga Cina, ya! Soalnya, meskipun kulit Kak Mamat hitam, tapi matanya sipit. Doi udah mirip kayak hitaci (hitam tapi Cina). Oh ya, yang digendong sama si Sean itu adalah anjing Pom bernama Cookie. Kalau kata Sean, Cookie itu adalah anjing yang tidak berguna. Cuma lucu buat dipajang.

nicholas6

Dia lebih sayang sama anjing yang satunya lagi. Namanya Muffin. Muffin adalah anjing campuran ras Siberian Husky dan anjing kampung yang jinak, tapi bisa jadi gahar kalau ngeliat kucing. Kata Sean, doi udah bunuh belasan kucing di sekitar komplek. Btw, Muffin nggak diajak foto bareng, karena nggak bisa diem. Takut banget ngeliat kamera. Mungkin Muffin merasa dirinya nggak fotogenik, seperti Gadis Sampul.

Foto: Ichmosa Rachmat, Vinty, Harry Basuki

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy