FacebookTwitter
Page 2 of 212

Kisah Anak Magang Culun (Part-2)

By on Nov 16, 2014 in Diary

Kali ini, gue bakal melanjutkan kisah gue sewaktu masih jadi anak magang yang culun. Sebelumnya, gue pernah bercerita bagaimana awal mula gue menjadi anak magang di bidang properti. Kisah part 1-nya bisa kalian baca di sini. Setelah gue kasih tahu ke orang-orang kalau gue udah magang di perusahaan properti, ada aja pro dan kontra yang bermunculan. Kalau pro-nya sih lebih bahas mengenai komisi yang lumayan gede. Mereka setuju banget gue magang di sana, karena siapa tau gue bisa jadi orang terkaya pertama di Indonesia. Soal jam kerja juga enak. Fleksibel. Bisa disesuaikan sama jadwal kuliah dan mengajar les privat. Tapi, ada yang kurang setuju dengan keputusan gue ini. Salah satunya si Temmy (ini cowok, bukan cewek), temen kampus gue yang biasanya akrab disapa Kecoa. Menurut Temmy, mendingan cari tempat magang lain yang lebih bonafit. “Buat apa masuk properti? Itu mah lulusan SMA juga bisa,” kata Temmy sok bijak. Padahal, kuliah aja jarang masuk. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya buat nongkrong di kantin. Kalau malem-malem sampe subuh biasanya main ke tempat dugem. Bilangnya sih diculik temen, tapi sebenernya emang demen aja diculik. “Biar gampang aja sih, Tem. Biar urusan magang ini cepet kelar. Bosnya bisa diajak kerjasama buat kibul-kibulan jadwal. Udah gitu komisinya kan lumayan kalau gue bisa ngejual rumah.” “Iya sih. Tapi, kalau gue sih ogah magang di properti. Mendingan gue cari perusahaan lain yang emang butuh pendidikan tinggi buat masuk,” kata Temmy dengan nada sombong. Suka-suka dia deh mau magang di mana. Yang penting, mata kuliah ini bisa segera dikelarin. Gue udah muak banget sama kampus gue yang bentuknya mirip Pagoda Pai Su Chen di serial drama Ular Putih itu. Gue nggak mau lama-lama semedi di sana. Gue pengin menghirup udara bebas, pengin ngerasain dunia kerja dan indahnya menuju pelaminan sampai bahagianya menggendong cucu! Oke, kembali lagi ke...

Keuntungan Memiliki Muka Lempeng

By on Nov 7, 2014 in Diary

Kata orang, muka gue lempeng. Kayak nggak punya ekspresi. Nggak bisa dibedain lagi seneng atau susah. Itu kadang-kadang doang, sih, karena pada dasarnya gue adalah perempuan yang suka berekspresi. Buktinya, gue pernah diomelin sama BOD (board on director) di kantor, karena ketawa kenceng banget kayak raksasa. Muka lempeng gue ini cuma muncul di situasi tertentu dan kadang, gue nggak sadar kalau gue abis lempengin muka. Salah satu contoh kasus adalah ketika gue menghadapi temen yang norak dan suka pamer. Dia cerita panjang lebar dan pamer hartanya yang melimpah kayak harta keluarga Cendana sampe mulutnya berbusa, tapi gue sama sekali nggak antusias. Tanpa sadar, muka gue lempeng dan cuma menanggapi dengan kata ‘oh’. Lalu, tanpa disuruh pun, dia berhenti cerita. Kebiasaan itu berlanjut di tempat kerja. Gue kerja di majalah yang terbagi dalam 3 kapling, yaitu Gaya, Gaul dan Gosip. Gue masuk ke kapling Gosip. Di kapling tersebut, udah pasti kami bertemu banyak seleb, baik lokal, maupun luar negeri. Pertama kali liat seleb, kayak liat Lamborghini-nya Princess Syahrini. Mewah banget! Tapi, lama-lama biasa aja. Kalau lihat mereka pun, gue lebih suka memasang muka lempeng. Temen-temen di kapling gue juga begitu sih. Udah nggak norak kalau ngelihat seleb. Tapi, mereka bisa norak kalau bertemu idola mereka. Bawaannya pengin teriak-teriak sambil pukul-pukul manja dada si seleb. Jikalau dapat kesempatan buat interview seleb itu, mereka bisa pingsan di depan si seleb saking tegangnya. Kalau gue sih, OGAH! Karena, gue nggak punya idola. Idola gue cuma Tuhan Yesus. Suwer! Lagipula, gue punya prinsip kayak begini: ‘Buat apa jadi fans kalau bisa jadi artis’. Quote tersebut pernah gue share di Facebook dan banyak mendapatkan ancungan jempol dari alay-alay di sana. Dan itu sempet bikin Kak Asri yang jadi editor gue bingung sama kelakukan gue yang satu ini. Anak Gosip, tapi nggak punya idola sama sekali. “Lo...

Review Gizi Super Cream: Secret of Seaweed

By on Nov 6, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Ternyata, ada krim muka yang umurnya lebih tua daripada umur majalah GADIS, yaitu Gizi Super Cream (GSC): Secret of Seaweed. Soalnya, krim ini udah lahir sejak tahun 1972, sementara majalah GADIS baru lahir setahun setelahnya (1973). Berarti kemungkinan besar, nenek dan nyokap kalian pernah pake krim ini. Waktu masih SMP, gue sering lihat GSC bertebaran di mini market. Kemungkinan besar, dulu gue juga pernah pake krim ini. Kalau nggak salah lho, ya. Soalnya, setau gue sih ketika masih kecil sampe SMA, gue nggak pernah pake krim apa-apa. Dibeliin body lotion aja nggak pernah dipake. Padahal, gue suka banget panas-panasan sambil main sepeda atau layangan. Gue nggak nyangka kalau masa kecil gue dihabiskan untuk menjadi alay (anak layangan). Gue baru sadar kalau gue adalah cewek pas awal-awal kuliah. Di zaman kuliah itulah gue mulai mengeksplor krim perawatan. Tapi, gue nggak pernah melirik GSC. Karena, dulu kalau nggak salah harganya cuma goceng sampe Rp 7 ribuan. Dalam pikiran gue, ada harga baru ada kualitas. Kalau barang murahnya kebangetan, berarti kualitasnya udah pasti nggak ada. Apalagi, packaging-nya juga biasa banget, malahan terkesan jadul. Waktu pun terus berlalu dan gue masih nggak percaya sama krim ini. Dari tahun ke tahun, harganya masih murah. Paling cuma nambah beberapa ribu. Nggak sebanding dengan peningkatan populasi jomblo di dunia ini. Tapi, yang bikin gue salut adalah krim ini masih terus ada dan bertahan. Dari zaman gue belum lahir, terus gedenya menjomblo sesuai umur, sampe akhirnya bisa dapet pacar. Apa mungkin karena murah, ya, jadi kalau orang nggak punya duit, tinggal beli aja krim ini. Bodoh amat hasilnya bagus atau nggak. Yang penting bisa pake sesuatu di muka. Seiring meningkatnya penggunaan internet dan media sosial, gue melihat GSC makin tersohor. Banyak blogger yang menceritakan soal krim ini. Mulai bercerita soal nenek-nenek yang masih cantik, padahal perawatannya cuma...

Kisah Anak Magang Culun (Part-1)

By on Nov 3, 2014 in Diary

Ada meme di Path yang bilang begini: ‘Orang ngeliat hidup gue enak terus. Sebenernya sedih kalau diceritain’. Dan gue merasa itu terjadi dalam hidup gue. Ketika gue kerja di majalah perawan a.k.a GADIS, gue banyak melihat anak magang berseliweran. Mereka enjoy banget ngelakuin tugas magang mereka. Soalnya, mereka emang suka banget sama kerjaan yang dikasih. Udah gitu emang cocok banget sama jurusan yang diambil. Dalem hati gue pun mulai sirik, karena sejak muda gue nggak punya kesempatan kayak mereka. Nggak mungkin banget jadi anak magang di majalah. Selain karena nggak punya channel ke sana, jurusan gue (Ekonomi) nggak bakal ngebolehin gue buat magang di bidang jurnalistik. Karena, yang namanya magang itu harus berhubungan sama jurusan. Waktu kuliah, konsentrasi kuliah gue adalah Manajemen Pemasaran. Di semester 6 atau 7 (tahun 2007 kalau nggak salah), kami diharuskan ambil mata kuliah magang. Tujuannya, supaya kita siap menghadapi kerasnya dunia kerja. Apa pun alasannya, tetep aja gue males, karena gue bakal menjalani magang kayak orang hidup segan, mati tak mau. Pasti gue bakal disuruh melakukan sesuatu yang gue nggak suka. Biar hidup aman dan sejahtera, akhirnya menyetujui ide seorang teman buat ambil magang di perusahaan properti yang katanya masuknya gampang dan kerjanya santai. Katanya sih begitu. Ini bermula dari ajakan temen sekelas gue yang namanya Welly (ini cowok, bukan cewek). Gue lupa waktu itu kami sekelas di mata kuliah apa. Welly ini adalah kakak kelas gue di IBII yang cuma beda setahun angkatannya. Meskipun umurnya udah cukup tua, tapi Welly baru ambil mata kuliah magang bareng kami. Gue juga baru tau riwayat kuliah Welly dari Jesslyn. “Waktu semester I, Welly itu IP-nya 4.00! Tapi, semester selanjutnya, IP-nya malah nasakom,” kata Jesslyn. Begitu denger kenyataan tersebut, gue agak mengucap syukur. Setidaknya, walaupun gue nggak pernah jadi anak cum laude, tapi IP gue nggak pernah...

First Impression Review: My Scheming Facial Mask

By on Nov 1, 2014 in Beauty, Diary, Review Produk

Kenapa cewek-cewek Asia, terutama di Taiwan terlihat lebih muda ketimbang umurnya? Karena, mereka pakai banyak skin care di wajah. Jadi, pas nggak pake makeup kulitnya tetep bagus kayak bayi dan nggak ada keriputnya. Pas dipakein makeup, mukanya pun jadi lebih cantik. Karena, makeup jatuhnya lebih bagus di kulit yang emang udah sehat. Kalau kulit terlalu kering dan kusam, makeup nggak bisa menempel dengan baik. Kulit terlalu berminyak, makeup cepet luntur. Kulit jerawatan kalau dipakein makeup jatuhnya juga nggak bagus. Kelihatan banget kayak sengaja nutupin jerawat. Jadi, pake skin care itu penting banget! Di Taiwan yang notabene udaranya jauh lebih bersih aja, cewek-ceweknya tetep rajin pake skin care. Apalagi buat kalian yang tinggal di Indonesia yang udaranya jauh lebih kotor, banyak polusi udara dan sebagainya. Hampir setiap harinya, kita juga dihadapi oleh rutinitas dan kemacetan lalu lintas yang bisa bikin kulit gampang stres dan keriput. Ngomong-ngomong soal skin care, skin care itu banyak macamnya, ada cleanser, toner, face wash, lotion, moisturizer dan masker. Nah yang gue mau bahas kali ini adalah facial mask dari My Scheming Facial Mask, facial mask best seller dari Taiwan. Kalau hasil penjualannya best seller, berarti produknya emang bagus. Untuk mendapatkan produk ini, kalian nggak harus jauh-jauh melancong ke Taiwan, karena gue punya temen yang emang kerja di Taiwan dan sekarang jadi first hand reseller facial mask ini buat dijual di Indonesia. Beberapa waktu lalu, doi sempat kasih gue 10 sample facial mask ini. Begitu gue terima, Masya Allah, packagingnya ucul-ucul a.k.a lucu. Bakal bikin kalian semangat maskeran! Lumayan buat mengisi waktu saat ingin melakukan me time. 10 macem facial mask ini terdiri dari: 1. Apple Brightening & Hydrating Mask 2. Hyaluronan Hydrating Mask 3. Rose Dew Moisturizing Mask 4. Mandelic Acid Brightening Mask 5. L-Ascorbic Acid Brightening Mask 6. Snail Essence Hydrating Mask 7. Skin...

Page 2 of 212
Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy