FacebookTwitter

Keuntungan Memiliki Muka Lempeng

By on Nov 7, 2014 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Kata orang, muka gue lempeng. Kayak nggak punya ekspresi. Nggak bisa dibedain lagi seneng atau susah. Itu kadang-kadang doang, sih, karena pada dasarnya gue adalah perempuan yang suka berekspresi. Buktinya, gue pernah diomelin sama BOD (board on director) di kantor, karena ketawa kenceng banget kayak raksasa.

Muka lempeng gue ini cuma muncul di situasi tertentu dan kadang, gue nggak sadar kalau gue abis lempengin muka. Salah satu contoh kasus adalah ketika gue menghadapi temen yang norak dan suka pamer. Dia cerita panjang lebar dan pamer hartanya yang melimpah kayak harta keluarga Cendana sampe mulutnya berbusa, tapi gue sama sekali nggak antusias. Tanpa sadar, muka gue lempeng dan cuma menanggapi dengan kata ‘oh’. Lalu, tanpa disuruh pun, dia berhenti cerita.

Kebiasaan itu berlanjut di tempat kerja. Gue kerja di majalah yang terbagi dalam 3 kapling, yaitu Gaya, Gaul dan Gosip. Gue masuk ke kapling Gosip. Di kapling tersebut, udah pasti kami bertemu banyak seleb, baik lokal, maupun luar negeri. Pertama kali liat seleb, kayak liat Lamborghini-nya Princess Syahrini. Mewah banget! Tapi, lama-lama biasa aja. Kalau lihat mereka pun, gue lebih suka memasang muka lempeng.

mariskatracy-rock

Temen-temen di kapling gue juga begitu sih. Udah nggak norak kalau ngelihat seleb. Tapi, mereka bisa norak kalau bertemu idola mereka. Bawaannya pengin teriak-teriak sambil pukul-pukul manja dada si seleb. Jikalau dapat kesempatan buat interview seleb itu, mereka bisa pingsan di depan si seleb saking tegangnya. Kalau gue sih, OGAH! Karena, gue nggak punya idola. Idola gue cuma Tuhan Yesus. Suwer! Lagipula, gue punya prinsip kayak begini: ‘Buat apa jadi fans kalau bisa jadi artis’. Quote tersebut pernah gue share di Facebook dan banyak mendapatkan ancungan jempol dari alay-alay di sana.

Dan itu sempet bikin Kak Asri yang jadi editor gue bingung sama kelakukan gue yang satu ini. Anak Gosip, tapi nggak punya idola sama sekali.

“Lo beneran nggak punya idola, Ung?” tanya Kak Asri.

“Nggak, Kak. Emang harus, ya?”

“Ya nggak juga, sih. Tapi setidaknya, gue jadi tahu lo sukanya sama siapa, jadi gue tahu spesialisasi lo di mana. Artis-artis Cina itu lo nggak suka?”

Yaelah mentang-mentang gue Cina, dia tanya kayak begitu. Pikir gue. Rasis banget, sih!

“Nggak, Kak. Nanti kalau ada, gue kasih tau, deh.”

Boro-boro gue kasih tau jawabannya. Karena, gue nggak tahu siapa idola gue di dunia perseleb-an.

Lama-lama, orang-orang di kantor pun bisa menerima “kekurangan” gue yang satu ini. Mereka pasrah. Namun, di balik kekurangan itu, mereka bisa menemukan kelebihan. Biasanya, orang kalau udah ngefans banget sama seorang seleb, biasanya tulisannya jadi berbunga-bunga banget. Kesannya seleb itu holy banget kayak Dewi Kwan Im.

Sementara, kalau dia nggak suka sama selebnya, tulisannya jadi biasa aja. Nggak ada feel-nya gitu. Nah, berhubung gue nggak punya idola, jadi gue bisa menulis artikel apa pun secara netral. Sudut pandang gue bisa obyektif banget. Gue bisa nulis dengan rasa senang, tanpa melebih-lebihkan dan nggak menulis dengan penuh kebencian.

Ketika menghadapi seleb pun, gue bisa menghadapinya dengan tenang, meskipun orangnya itu ganteng dan baiknya seampun-ampun. Gue nggak langsung jadi norak dan salah tingkah. Bahkan, saking baiknya ada juga yang rela ganti baju di depan gue sampe buka celana. Dengan maksud menghemat waktu biar pemotretan cepet selesai. Kalau dihadapkan sama pemandangan kayak begitu, gue tetap bisa tenang dan gue tetap tatap mata si seleb. Bukan natap bagian bawahnya. Ya ada sih liat dikit, tapi cuma dikit. Nggak banyak. Suwer, Kak! Bukan karena gue nggak suka sama laki, tapi menurut gue nggak proper aja kalau ngomong sama orang nggak lihat matanya, tapi malah lihat ke bagian lain.

Dengan kelakuan gue yang kayak begitu, nggak jarang seleb-seleb pun jadi nyaman berhubungan sama gue. Mereka nggak perlu takut gue apa-apain, karena gue mencari mereka untuk tujuan profesionalisme. Nggak ada niat sama sekali untuk menzolimi mereka, apalagi bawa kabur duit mereka.

Mungkin terlihat menyenangkan dan mudah menghadapi seleb-seleb yang ramah kayak begitu. Tapi, belum tentu mudah saat menghadapi seleb yang kurang menyenangkan. Kebanyakan seleb yang gue temui itu ramah dan nggak resek sama sekali, tapi kadang ada juga yang kampret, walaupun cuma sedikit. Kalau disakiti kayak begitu, gue cuma bisa tawakal. Gue harus bisa menghadapi mereka dengan senyuman dan muka lempeng. Seolah-olah, mereka sama sekali nggak menyakiti gue. Awalnya memang berat dijalani, tapi lama-lama jadi terbiasa. Kalau cuma baik sama orang yang juga baik sama kita, itu mah anak kecil juga bisa. Kalau bisa tetep baik sama orang resek, itu baru namanya luar biasa!

Gue juga pernah wawancara anak band yang kelakukannya nggak proper. Si vokalis suka banget ngomong kata-kata binatang. Gue lupa pernah kasih pertanyaan apaan, tapi dia jawabnya begini: ‘Kalau lagi manggung itu, paling enak nyol* bareng-bareng! Hahaha!’.

Gue refleks bilang ‘oh’, terus pasang muka lempeng dan lanjut ke pertanyaan berikutnya. Dia pun kaget setengah mati. “Anjrit, bisa-bisanya dia cuma bilang ‘oh’!”

Mungkin dia pikir, gue bakal marah-marah atau salah tingkah kayak cewek-cewek pada umumnya.

Mampus lo.

mariskatracy-rock

Tingkat kelempengan gue pun makin teruji. Terutama, beberapa hari yang lalu ketika gue mendapatkan kesempatan buat wawancara seorang seleb yang cukup fenomenal. Denger-denger sih, walaupun doi cowok, tapi doi itu sensi kayak cewek lagi PMS dan datang bulan, resek dan suka meremehkan orang-orang, terutama jurnalis. Terus, kalau misalnya lo ketahuan ngefans banget sama dia, lo bakal dianggap rendah banget di mata dia. Aih, padahal harusnya seneng ya, ada yang ngefans.

Di hari itu, gue belum menyiapkan mental apa pun, tapi gue langsung disuruh wawancara doi. Semuanya serba dadakan.

“Ung, ternyata wawancara si AA (bukan nama sebenarnya) hari ini! Jam setengah 4!” kata Kak Asri kasih kabar gembira. Gembira menurut pemilik kulit manggis.

“Apee? Bukannya tanggal 11 dia baru dateng ke mari, Kak?”

“Gue baru baca emailnya. Si Olive juga nggak kasih tau gue kemarin. Padahal, kata si publicist film, dia udah kasih tau Olive dari kapan tau.”

“ARGGGHH! Gue belum siap, Kak. Belum siap. Kak, temenin gue dong.”

“Seeta aja. Tuh temenin Uung, plis!” bilang Kak Asri.

“Tapi, aku ada kerjaan, Kak,” jawab Seeta.

“Kan deadline-nya bukan besok. Udah temenin Uung aja. Kasihan dia.”

“Oke, Kak.”

Seeta juga penasaran sama si AA. Pengin liat dari deket orangnya kayak gimana. Tapi, dia lebih penasaran, apakah nantinya gue bakal dizolimi sama si AA atau nggak.

“Pertanyaannya nggak usah yang dalem-dalem, Ung. Dia kan sensi. Yang seputar film aja. Si publicist sih suruh tanya seputar ini.” Kak Asri kasih gue selembar kertas sebagai petunjuk yang sepertinya bisa memudahkan hidup.

“Nanti jangan lupa direkam, ya. Gue mau lihat Uung wawancara dia kayak gimana. Gue pengin tau, orang bermuka lempeng kayak dia bisa grogi atau nggak. Hahaha,” bilang Kak Asri sambil mengeluarkan tertawa laknatnya.

“Iya, rekam! Rekam. Rekam. Rekam,” timpal Ocha, Putri dan Vinty (anak Gosip lainnya).

“Ah, bangkek lo semua!” teriak gue.

Gue cuma bisa pasrah dengan interview yang bakal terjadi beberapa jam lagi. Yang gue bisa lakukan adalah cepet-cepet kelarin kerjaan gue hari ini, terus menyiapkan mental sebaik-baiknya. Apa pun yang terjadi, gue nggak boleh tersinggung sama sekali dan muka gue harus tetep lempeng. Lempeng adalah kunci terbaik supaya hidup bisa dijalani dengan mudah. Lempeng = tawakal.

Gue pengin tetap tenang, tapi gue teringat sama kejadian buruk yang menimpa temen gue, si Adis waktu wawancara doi beberapa tahun lalu (waktu dia masih kerja di kantor gue). Adis juga pernah curhat sama gue mengenai hal ini.

“Dulu gue wawancara dia karena bayar-bayaran sama suatu produk dan film. Artikelnya dua halaman gitu, tapi dia jawabnya pendek-pendek banget. Biodata juga diisi asal-asalan,” curhat Adis.

“Wah, kampret, ya.”

“Akhirnya, gue tanya terus sampe detail. Terus, dia malah kabur-kaburan. Dan dia bilang ke si publicist film kalau dia udah nggak mau diwawancara lagi sama yang namanya Adis. Bangkek nggak tuh?”

“Iya, Kak. Bangkek. Terus lo ketemu lagi sama dia?”

“Pernah ketemu lagi. Lalu, dia langsung inget sama muka gue dan bilang ‘you again?’.”

Seharusnya sih, gue nggak pernah denger curhat-an macam itu supaya tetep tenang. Tapi, kalau nggak tau ceritanya, bakal bikin penasaran dan nggak bisa tidur juga, sih.

Terus, begitu tau gue bakal ketemu sama AA, Shilla, temen kantor gue antusias banget!

“Kak, aku nitip tanda tangan dong,” pinta Shilla.

“Buat lo, Kak? Lo ngefans sama dia?”

“Bukan. Buat anjing aku, si Barry.” Lalu Shilla keluarin foto Barry dari dompetnya.

“Emang lo tau dari mana anjing lo ngefans sama dia? Dia pernah cerita sama lo?” Dan gue membayangkan Shilla ngomong sama si Barry pake bahasa guguk.

“Anjing aku itu gay, Kak. Dia kayaknya bakal suka sama si AA.”

“Lah, lo tau dari mana dia gay? Emang dia pernah curhat?”

“Soalnya, kalau ada cowok yang dateng ke rumah, dia seneng banget. Kalau lihat cewek, dia biasa aja.”

“Oh.”

“Tanda tangan di sini aja, Kak. Terus, suruh dia tulis: For Barry.”

“Oh, oke Kak.”

Semoga aja permintaan yang satu ini bisa diterima dengan lapang dada sama si AA. Dan semoga bisa bikin si Barry senang!

mariskatracy-rock

Begitu gue dan Seeta sampe di sebuah studio yang berada di jalan Gunawarman itu, kami baru sadar kalau kami dateng kepagian. Janji jam setengah 4, tapi udah sampe jam 3. Ya nggak apa-apa juga sih daripada telat. Sesampainya di sana, kami disuruh duduk dulu buat nunggu, soalnya si AA belum sampe di TKP.

Orang mah begitu sampe ditanya mau minum apaan. Lah ini malah dikasih remote TV sama salah satu penjaga rumah biar bisa pilih mau nonton channel yang mana. Ketika itu, gue berharap remote TV bisa menghilangkan dahaga dan kelaparan.

Nggak nunggu terlalu lama, tiba-tiba ada yang buka pintu rumah. Ternyata itu si AA. Hebat lho dia nggak telat!

“Hai,” sapa si AA duluan.

“Halo, Kak,” sapa kami.

Kami pun memperkenalkan diri masing-masing dan nggak lupa menyebutkan nama media.

“Kita bukannya janjian jam 5, ya?”

Tuh kan, belum apa-apa udah ngigo.

“Nggak, Kak. Jam setengah 4 katanya,” sahut gue santai.

“Oh, oke. Gue bikin kopi dulu, ya,” ucapnya. Tapi, nggak ajak-ajak kami buat ikutan seduh kopi. Sedih.

Begitu kelar seduh kopi, si AA pun ajak kami buat wawancara di teras aja, soalnya doi mau merokok. Terus, gue juga sedih, karena nggak ditawari rokok! Gue sih nggak merokok, tapi setidaknya tawarin kek, biar akrab gitu.

Gue langsung nyalain rekaman dan tanya ke doi. “Boleh ogut mulai, Kak?”

“Boleh,” bilangnya sambil nyeruput kopi dan mulai nyalain rokok.

Si Seeta udah keluarin kamera aja buat merekam aksi gue, tapi langsung dilarang sama si AA.

“Gue mau merokok, nih. Kayaknya nggak etis kalau divideo-in,” imbuh si AA sambil tersenyum.

Tumben banget dia senyum. Kayaknya mood bagus, nih.

“Oh, oke Kak,” kata Seeta.

Hahaha. Sukur lo nggak bisa rekam! Gue sedikit bersyukur dalam hati.

“Gue mulai tanya-tanya, ya, Kak,” bilang gue.

“Oke.”

“Ceritain dong gimana lo bisa terlibat di film ini!”

Pertanyaan pertama berhasil dijawab dengan lancar, tanpa keluhan apa pun. Gue pun bisa bernafas dengan lega.

“Apa yang bikin lo tertarik buat main film ini?”

Dijawab juga dengan lapang dada. Senangnya.

“Peran lo di film ini jadi siapa sih, Kak?”

“Karakternya namanya Garuda (bukan nama karakter yang sesungguhnya).”

“Karakternya Garuda ini mirip dengan karakter lo sehari-hari nggak, Kak?”

“Bedalah. Di film, gue jadi tentara (bukan karakter yang sesungguhnya). Di kehidupan nyata gue jadi orang biasa,” bilangnya nyolot.

Bukan begitu kampret. Gue juga tau lo jadi tentara, tapi tentara itu kan juga orang yang punya karakter. Misalnya, suka beramal atau suka marah-marah.

“Emangnya belum baca press kit-nya, ya?” tanya dia.

Mau silet-silet nadi sampe putus nggak lo kalau digituin?

“Belum, Kak. Soalnya disuruh ke sini aja dadakan banget. Baru dikasih tau tadi,” kata gue polos. Ya, emang bener dadakan juga, sih.

“Kenapa dadakan? Bukannya udah lama di-planning, ya? Sayang banget kalau gitu. Alangkah lebih baiknya kalau udah nonton video di Youtube dan baca press release-nya, jadi kita nggak perlu capek-capek bahas hal basic yang ada di sana. Mendingan go online dulu, deh.”

Gue sama Seeta lihat-lihatan. Kayaknya muka gue udah pucet gimana gitu. Denger kata go online, gue nangkepnya harus buka hape gue sendiri dan cari tau dulu tentang film ini. Gila, bahaya banget! Udah internetnya lemot banget lagi!

“Gini deh, gue keluarin laptop. Kita sama-sama nonton trailer dan diary behind the scene-nya, ya. Ada 4 video di YouTube. Masing-masing video cuma 3 menit-an.” Doi pun keluarin Apple MacBook-nya yang super canggih itu.

Lega banget gue, ternyata pake laptop doi. Jadi gue nggak usah pake alasan nggak ada sinyal internet.

Sebelum buka internet, AA pun tidak lupa meminta password internet sama si penjaga studio.

Oh, harus pake wifi! Pantesan dari tadi kampret banget internet-nya.

Dengan sabar, dia bukain link di YouTube tentang film-nya ini.

“Ini video-nya. Kalau misalnya udah kelar, lanjut ke video berikutnya aja.”

“Oke, Kak.”

Gue sama Seeta liat-liatan lagi. Terus nonton video trailer-nya dengan sepenuh hati. Berharap dapet ilham dari surga. Udah kelar nonton 1 video, gue nggak nyangka, dengan sabarnya dia bukain video yang lainnya lagi. Tadinya gue pikir, gue disuruh buka sendiri. Gue takut nggak bisa pake MacBook dan dibilang bodoh.

“Udah kelar, Kak. Hehehe,” bilang gue.

“Oke. Sekarang, mau langsung tanya-tanya lagi atau mau bikin pertanyaan dulu?”

“Langsung aja, Kak.” Karena gue udah nggak betah lama-lama ngobrol sama dia.

“Oke.”

Tapi, yang gue tanyain tetep seputar peran dan behind the scene. Hahaha.. Sebenarnya, nonton trailer atau nggak juga sama aja. Nggak ngaruh buat gue. Bodoh amat deh dia mikir apaan. Lah, orang si publicist film-nya aja suruh tanya soal hal itu. Lagian, di video itu kan kebanyakan ambil gambar. Quote-nya dikit banget. Nggak ada salahnya dong kalau gue tanyain lagi.

Nggak tau kenapa, tiba-tiba dia jadi baik banget kayak malaikat. Dia tetep jawab apa yang gue tanyain. Mungkin aja dalem hati, dia udah bosen sama pertanyaan itu, tapi cuma bisa pasrah sama kelakuan gue.

Lanjut ke pertanyaan berikutnya.

“Kan lo syuting di Sumba, ini pertama kalinya ke Sumba atau gimana? Menurut lo Sumba itu gimana?”

“Ini pertama kalinya gue ke Sumba. Sumba itu bagus banget, walaupun gersang dan panas! Gue kagum sama culture di sana…” jelas si AA panjang lebar.

Biasanya, gue suka iseng tanya lagi ke si seleb kayak begini:

Tapi, karena kata orang-orang dia sensi, gue pun mengurungkan niat baik itu. Padahal, pertanyaan kayak begitu kan lucu buat dimasukin ke majalah.

Lalu, gue melihat kertas yang dikasih dari Kak Asri. Dia bilang suruh tanya soal perubahan hidup yang dialami waktu tinggal di Sumba. Gue inget Kak Asri bilang kalau pertanyaan ini penting banget! Soalnya, semua pemain mengalami perubahan hidup yang sangat dahsyat.

“Selama di Sumba katanya pada mengalami perubahan hidup, ya, Kak?”

“Hah, kata siapa? Nggak ada perubahan hidup, tuh.”

Ih, bangkek banget. Jawab kek apaan gitu demi menyenangkan hati gue.

“Ya, kalau ada aja, Kak. Kalau nggak ada juga nggak apa-apa.”

“Di setiap film, pasti ada titik-titik tertentu yang merubah hidup. Di film ini juga pasti ada perubahannya,” jawabnya labil dan bikin gue bingung. Tadi bilangnya nggak ada. Sekarang bilang ada.

“Jadi bangun pagi gitu nggak sih, Kak?” tanya gue mancing.

“Ya, pastilah. Di Jakarta bangun pagi jam 7. Di sana harus bangun jam 4 setiap hari.”

Terus, gue pengin tanya kayak begini sebenernya:

Tapi, lagi-lagi gue takut dia tersinggung. Kalau gue punya pacar kayak begini, gue bisa tertekan tiap detik, karena dia nggak bisa diajak bercanda sama sekali. Gue pun harus mengubah pertanyaan menjadi lebih halus. Tumben banget tata bahasa gue agak dijaga.

“Pas di sana kan banyak latihan fisik, Kak. Berasa lebih sehat nggak badannya?”

“Oh, pastinya! Sehat banget. Badan pun berbentuk gitu. Tapi sekarang, semuanya sudah hilang,” ujarnya sambil nunjuk-nunjuk ke perutnya yang emang udah nggak sebagus dulu. Oh, ternyata dia nggak sesensitif yang gue bayangkan.

Obrolan pun makin lancar kayak jalanan lalu lintas di Jakarta 30 tahun yang lalu. Dan gue pun tanya pertanyaan yang bisa dibilang kayak pertanyaan wajib gitu.

“Untuk ke depannya ada proyek apa lagi, Kak? Ada main film lagi?”

“Film sih belum ada. Proyek lain sih ada.”

“Proyek apa, Kak?”

“Ada. Tapi, gue nggak mau cerita.”

“Oh, oke.”

Biasanya gue nggak berhenti mengorek. Tapi, kali ini gue udah nggak punya ilmu korek lagi. Mungkin gue udah lelah. Gue pun jadi bingung mau tanya apaan lagi, ya. Mau tanya yang lucu-lucu, tapi takut nggak bisa diajak bercanda. Kemudian, muncul lagi pertanyaan standar.

“Menurut Kakak, apa pesan moral dari film ini?”

“Waduh, nggak ada pesan moralnya. Hehehe.”

“Oh. Hehehe.” Gue terkekeh salting.

“Gue agak terganggu dengan yang namanya pertanyaan soal pesan moral. Kesannya harus ada pesan moral. Setiap film pasti punya cerita atau pesan yang ingin disampaikan, tapi nggak selalu pesan moral yang disampaikan.”

Iya deh, terserah lo. Batin gue pun mulai capek.

Dan gue makin bingung mau tanya apa lagi. Akhirnya, gue cuma tanya apa adegan yang paling sulit dan apa adegan yang disukai. Terus sisanya Seeta yang tambahin pertanyaan. Kayaknya Seeta bisa membaca kalau gue lagi bingung banget.

Wawancara pun kelar dalam waktu 10 – 15 menit. Dengan waktu segitu, udah bisa bikin artikel 2 halaman dan artikel online. Menurut gue sih, ini wawancara tersingkat yang pernah gue lakukan, karena sebelumnya gue bisa wawancara orang kurang lebih 30 – 45 menit. Kali ini skill mengorek gue mati begitu aja. Gue pun malu sama diri sendiri. Tapi, setidaknya gue udah mencoba untuk tetap tenang dan lempeng. Dan itu udah cukup berhasil.

“Udah segitu aja, Kak. Makasih, ya,” ucap gue dengan nada lembut ala bidadari.

“Oh, oke. Kalau gitu, gue ke dalam dulu, ya,” katanya sambil melempar senyum.

Tumben lo bisa senyum.

Sebelum doi beranjak ke dalam studio, nggak lupa, gue dan Seeta ajak doi foto bareng. Tadinya, gue males buat foto bareng, karena takut dianggap ngefans sama dia. Tapi, karena mood doi lumayan bagus, gue pun mau foto bareng dia.

Pas doi masuk ke dalam studio, gue dan Seeta cuma bisa cekikikan dan tos-tosan sambil keluar buat cari taksi.

“Bangkek, Kak. Bangkek. Hampir aja gue dizolimi!” curhat gue pas lagi nyari taksi.

“Tapi, tadi mood dia lumayan bagus, lho. Gue pikir, dia bakal ngambek, terus kita dicuekin. Ternyata dia masih baik mau bukain YouTube!”

“Iya juga sih, Kak. Gue juga deg-degan banget tadi.”

“Iye, hoki lo! Tadi lo keliatan banget groginya.”

“Masa sih? Gue udah berusaha tenang lho.”

Beneran. Gue udah berusaha tenang. Karena, menurut gue ujian Akuntansi jauh lebih sulit ketimbang ujian menghadapi AA. Ya, kalau tiap hari disuruh ketemu orang kayak gini, lama-lama kena stroke juga, sih.

“Iye. Saking groginya, ada beberapa pertanyaan lo yang nggak jelas, tapi tetep dijawab sama dia. Tumben diladenin. Biasanya dimaki-maki.”

“Ini pasti karena gue anaknya cuek dan lempeng, ya.”

“Iya. Kasian liat lo udah grogi.”

“Baguslah, Kak. Akhirnya hari laknat ini bisa terlewati dengan baik,” tutup gue sembari menghela nafas panjang.

Eh, eh tapi tadi udah foto bertiga, tapi lupa foto orangnya lagi sendirian dong! Untung anak majalah sebelah pernah foto doi di kantor, jadi bisa minta foto sama dia.

Terus, tanda tangan buat Barry juga lupa! OMG! Barry pasti sedih. Tapi, gue nggak bisa bayangin sih, kalau misalnya gue minta tanda tangan buat Barry, dia bakal bilang apa, ya?

Gue ngebayangin percakapannya bakal kayak begini:

 

Gue: Kak, anjing temen gue ngefans banget sama Kakak. Please, tanda tangani foto ini buat dia (sambil nunjukin foto anjing Golden Retriever).

AA: Menurut lo, anjing ngerti beginian? Lo tau dari mana dia ngefans sama gue?

Gue: Kata temen gue, anjingnya gay, Kak. Kemungkinan dia ngefans sama lo.

AA: Menurut lo, gue gay?

 

Tuh kan, bakal jadi panjang urusannya.

Dari pertemuan gue dengan MR. AA kemarin sih, gue membuat beberapa kesimpulan:

  1. Anaknya masih bisa dihadapi, asal harus sabar. Jangan dinyolotin balik.
  2. Alangkah lebih baiknya riset dulu.
  3. Mukanya masih cakep kayak dulu, tapi nggak secakep dulu. Karena faktor umur juga kali, ya. Udah menggemuk, kulitnya kusam, banyak flek dan bekas jerawat. Udah gitu giginya juga kuning. Kayaknya gara-gara sering minum kopi dan merokok.

Untuk ke depannya, apakah gue pengin wawancarain dia lagi? Boleh-boleh aja sih dicoba. Gue pengin liat apakah skill kelempengan gue makin meningkat atau nggak.

Foto: Dok. Mariska

 

 

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy