FacebookTwitter

Gue Hampir Jadi Anak Cum Laude

By on Oct 30, 2014 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Gagal, karena salah jurusan sekaligus salah pergahulan. Waktu memutuskan buat masuk ke kampus yang terkenal dengan predikat kandang burung (kampus nggak elite dan agak kumuh) itu, gue galau berat. Pasalnya, jurusan dan kampus yang gue masuki bukanlah impian gue. Gue pengin ambil jurusan Sastra, tapi nyokap gue lebih kepengin gue ambil jurusan Ekonomi dengan tujuan supaya gue bisa memajukan perekonomian Indonesia. Nyokap pengin banget supaya gue bisa jadi Sri Mulyani kedua di Indonesia.

“Mi, aku mau masuk UI (Universitas Indonesia) ambil Sastra Indonesia, ya,” bilang gue ke nyokap.

“Mau jadi apa ambil Sastra?”

“Ehmm.. Nggak tau, sih. Tapi kan bisa dicoba dulu.”

“Nggak ada gunanya, Ung. Udah gitu, mana bisa kamu masuk UI.”

“Hah, kok nggak bisa?”

“Muka Cina kayak kita nggak bakal bisa masuk ke sana. Susah. Yang diterima pasti pribumi semua.”

“Ih, nggaklah. Pasti ada.”

“Kalau ada pun, pasti jarang. Satu di antara seribu,” kata nyokap gue seolah-olah dia udah pernah survey di UI.

Mendengar celoteh nyokap barusan, gue agak ngeri juga sih, kalau mau coba kuliah di sana. Udah pengumumannya lama, belum tentu diterima. Kalau nggak diterima, gue bisa nganggur di rumah. Masa depan gue pasti jadi suram, karena nggak kuliah. Kebayang nggak sih pas isi kuesioner atau angket gitu, pas ditanya apa pendidikan terakhir Anda? Dan gue silang kotak bagian SMA. Malunya itu udah kayak abis nyolong mangga muda milik tetangga sebelah, terus ketangkep dan digebukin massa. Daripada kualat sama orangtua, dengan sangat terpaksa, kayak orang yang dipaksa kawin di usia muda, gue pun nurut sama nasihat nyokap, yaitu ambil kuliah Ekonomi.

Di hari pertama gue memulai kuliah di kampus IBII tercinta (sekarang namanya KBS/ Kwik Kian Gie Business School), gue kenalan ngasal dengan seorang cewek yang ternyata sekelas sama gue di kelas B. Di kelas itu,  astaga jadwalnya enak banget! Hari Senin nggak ada kuliah, terus kuliahnya dari Selasa sampe Jumat. Jamnya dari jam 7 pagi sampe 12 siang doang. Pulangnya bisa ngemal, nyantai atau bobok siang di rumah. Biasanya sih, abis pulang kuliah, gue suka banget nonton serial drama Oh Mama Oh Papa di ANTV. Sayang banget deh serial sebagus itu sekarang udah nggak tayang lagi. Padahal serialnya bukan cuma cengeng-cengengan, tapi juga ada pesan moralnya. Apalagi, ceritanya diambil dari kisah nyata. Lho kok, gue jadi kayak marketing ANTeve gini, ya? Padahal, programnya udah nggak ada.

Oh ya, kembali lagi ke kenalan pertama di tempat kuliah. Gue sih males sebut namanya.  Gue terpaksa kenalan sama dia, karena nggak ada anak dari SMA Budi Mulia (sekolah gue dulu) yang sekelas sama gue. Lalu, dengan mesra, masuklah kami ke ruang kelas dan belajar bareng. Gue lupa waktu itu belajar apaan. Pokoknya kalau soal mata kuliah, jarang yang  masih gue inget. Di dalam kelas itu, gue nggak hanya berkenalan dengan dia (sebut saja namanya Ani), tapi juga kenalan sama beberapa cewek lain. Sebut aja nama mereka Siti, Ambar dan Bunga.

Hubungan pertemanan kami baru berjalan beberapa jam, tapi kami sudah seperti kenal bertahun-tahun. Ketika pulang kuliah, kami nggak lupa menjaga hubungan baik dengan SMS-an pake kartu Jempol XL yang memberikan fasilitas gratis 100 SMS per hari. Sudah banyak kenangan manis yang XL kasih waktu itu. Dari awal, gue yakin kalau gue bisa cocok sama mereka. Setidaknya, meskipun gue nggak  suka dengan jurusan gue, gue bisa enjoy berteman dengan mereka.

Namun, semua kandas begitu saja. Ini bermula dari mata kuliah Pengantar Teknologi Informasi (PTI) yang mengharuskan kami buat kuliah di ruang komputer. Kebetulan banget, nomor absen gue jauh banget dari mereka. Terpaksa kami kuliah di ruangan yang berbeda.

Di ruangan komputer yang gue tempati itu, rupanya gue sekelas sama temen sekolah gue, si Felicia dan Afu (Fandy). Gue juga baru nyadar kalau ada temen yang gue kenal di kelas B tersebut. Felicia itu adalah temen gue di  SMP. Begitu pula dengan Afu. Bahkan, waktu SMA, kami ketemu lagi. Kuliah juga ketemu lagi. Dulu, gue sempet mikir, mungkin pas kerja, gue bakal ketemu lagi sama Afu. Nggak bisa gue bayangin kalau Afu juga kerja di majalah GADIS sama kayak gue. Dia pasti jadi cowok ngondek di sana.

Si Afu itu duduk di sebelah gue pas pelajaran komputer. Lumayanlah ada orang yang dikenal di kelas! Setidaknya bisa bantuin gue kalau gue nggak ngerti. Pas gue nengok ke kiri gue, gue melihat ada sosok cewek jutek yang kayaknya enggan untuk disapa. Sumpah, mukanya pengin gue cabein, karena galak bingit.

Tapi, gue nggak nyangka, malah dia yang ngajak kenalan duluan.

“Hai, nama lo siapa?” tanyanya.

“Mariska. Lo siapa?” tanya gue sopan banget buat memberikan kesan pertama yang baik. Setelah gue perhatikan mukanya mirip banget sama presenter Cici Panda. Cuma dia versi juteknya dan mukanya lebih tirus.

“Mastini,” jawabnya.

Dan nama itu nggak asing di telinga gue. Gue kayak udah pernah mendengar nama tersebut berkali-kali disebut pas masa perkenalan kampus beberapa hari lalu. Pas denger nama itu disebut-sebut, gue langsung mau ngakak. Emang masih ada, ya, orangtua yang kasih nama anak kayak begitu? Tadinya gue pikir dia orang Jawa, tapi pas lihat mukanya, rupanya sama aja kayak gue. Cina Kota (Cinko).

Pas mata kuliah PTI itu, gue ngantuk berat. Gue belum bisa menyesuaikan diri sama jam kuliah pagi. Maklumlah, kemarin-kemarin itu kan liburnya sampe empat bulan. Jam tidur pun jadi terbalik. Sesekali, gue melihat ke kiri dan beberapa kali pula gue eye contact sama Mastini. Matanya juga lesu banget. Lalu dia berbisik sesekali. “Ngantuk, ya.”

Bahh! Rupanya pikiran kami sama! Jam tidur dia pasti udah kebalik sama kayak gue. Gue yakin banget kalau dia juga kangen sama kasurnya di rumah. Dengan keadaan gue yang super ngantuk itu, gue jadi makin nggak ngerti apa yang diajarin dosen. Maklumlah, dari kecil, gue paling takut sama pelajaran Komputer. Gue pikir kalau ambil Ekonomi nggak bakal dapet pelajaran laknat kayak begini. Ternyata sama aja!

Keesokan harinya, kami harus menghadapi mata kuliah Akuntansi Keuangan Dasar (AKD) I. Denger namanya aja, gue udah mules pengin mencret. Gimana kalau belajar coba? Mungkin langsung kena ambeien. Waktu itu, gue bingung mau duduk di mana. Gue langsung teringat sama kenalan pertama gue. Si Ani dan kawan-kawan.

Gue langsung reflek tanya ke Ani. “Lo mau duduk di mana?”

“Depan aja, ya,” kata Ani. Begitu tau dia ngomong kata ‘depan’, gue langsung bisa menebak kalau si Ani ini pasti rajin dan pintar. Mana ada anak malas dan bodoh yang ajakin temennya duduk di belakang.

“Oke,” kata gue mengiyakan.

Baru aja mau duduk, tapi si Mastini tiba-tiba merebut perhatian gue dari si Ani. “Ris, duduk di sini aja, yuk!”

Saat itu, dia sebut gue dengan panggilan ‘Ris’. Kalau diinget-inget lagi, gue agak jijik sih kalau dipanggil ‘Ris’ atau ‘Mar’. Rasanya kayak bukan gue yang dipanggil. Tapi, kayak Miss Universe yang dipanggil.

Entah kenapa, gue kayak dihipnotis. Gue jadi murahan. Gue pun setuju sama permintaan Mastini buat duduk di belakang. Akhirnya, gue bilang sorry ke Ani, karena nggak jadi duduk bareng dia. Kok gue jadi kurang ajar, ya? Padahal, gue lebih mengenal Ani lebih dulu ketimbang Mastini.

Pas gue duduk di tempat yang agak belakang itu, gue baru bisa mikir. Baru hari pertama kuliah Akuntansi aja langsung duduk di belakang. Gimana mau pinter coba?

Kesimpulan gue adalah Mastini itu adalah anak yang …. karena memilih untuk duduk di belakang. Ah, sudahlah. Gue tidak sanggup mengisi titik-titik di atas. Pasti ketika membaca tulisan ini, Mastini langsung murka banget sama gue.

Karena dosennya cuek dan bersuara kecil, gue pun jadi punya kesempatan buat ngobrol sama Mastini. Gue jadi tahu kalau nama kokonya adalah Mastono. Masya Allah, kalau dilihat dari namanya, mereka lebih mirip kayak anak kembar ketimbang kakak beradik. Pas dikasih lihat fotonya, beh, kayak pinang dibelah kampak! Sumpah mirip banget!

Selain jadi tau soal kokonya, gue juga tau kalau Mastini punya pacar yang lagi kuliah di Amrik. Jadi, dia LDR-an gitu. Mereka udah pacaran dari kelas III SMP. Ya Allah, itu pacaran apa nyicil rumah? Lama bener! Dan masih banyak lagi fakta seru soal Mastini yang tidak bisa gue utarakan satu per satu. Kalau gue sebut semuanya di sini, cerita di blog ini nggak bakal kelar.

Abis memperkenalkan diri, Mastini juga nggak lupa kasih tau ke gue kalau dia lagi ulang tahun. Kayak minta diselametin gitu. Ih, kalau dipikir-pikir, dia cari perhatian gue banget, ya! Makanya, gue nggak lupa kapan pertama kali kami ngobrol panjang lebar di kelas, soalnya harinya bertepatan sama ultah dia. 16 September 2004.

Di kelas B itu, gue juga kenalan sama Caroline. Kami bertiga jadi akrab banget. Ke mana-mana selalu bareng. Lama-lama, gue juga akrab sama Jesslyn, yang merupakan temen SMA-nya Mastini. Kami bisa cepet akrab, karena pilihan konsentrasi jurusan kami sama nantinya. Otomatis, ke depannya kami bakal sering bareng. Kami lebih memilih Manajemen, ketimbang Akuntansi, karena Akuntansi itu sorry to say… TAI banget! Hahaha.. Hampir setiap hari, kami mengeluhkan hal yang sama. Keluhannya ya, seputar Akuntansi itu. Gue udah cukup lama kerjain soal Akuntansi jenis apa pun dan hasilnya nggak pernah balance. Ya elah, ribet banget kan harus balance segala. Kalau Akuntansi punya zodiak, zodiaknya pasti Libra, karena dia pasti menginginkan keseimbangan timbangan dalam hidupnya.

Sedangkan, kalau Ani dan kawan-kawan lebih memilih Akuntansi. Seiring berjalannya waktu, gue baru sadar kalau grup Ani dan kawan-kawan itu emang pinter-pinter. Setiap hari duduk di depan, rajin memerhatikan dosen, jago Akuntansi, hitung-hitungan dan IP-nya tinggi-tinggi. Bahkan, Siti itu jadi anak cum laude dan dapet beasiswa. Semua orang pun iri sama dia, termasuk gue. Gue yang nggak suka sama jurusan yang gue ambil aja bisa iri, apalagi yang emang udah suka sama Akuntansi.

Sementara, gue, Mastini, Jesslyn dan Caroline struggle banget dengan kerasnya perkuliahan di kandang burung. Caroline sih nggak terlalu. Kayaknya dia masih agak suka sama kuliah di kandang burung. Sementara kami bertiga, rasanya pengin cepet-cepet kawin aja deh sama pejabat kaya raya. Nggak peduli deh mukanya udah tua dan busuk. Kalau waktu itu gue memutuskan buat kawin, mungkin sekarang gue udah gendong cucu dan menikmati hari tua di rumah.

Ngomong-ngomong soal integritas, kampus gue itu terkenal sama integritasnya yang tinggi. Lebih tinggi daripada dagunya seleb Hollywood yang suka didongak-dongakin. Jadi, kalau mau lulus, harus belajar yang bener. Nggak boleh nyogok sama sekali! Meskipun kalian adalah seleb atau anak jendral sekalipun, sogokan kalian bakal ditolak mentah-mentah sama kampus. Beda sama kampus di bilangan Jakarta Barat itu. Kebanyakan dosen di sana pasti seneng banget kalau disogok, bahkan kalau bisa si mahasiswa kasih mobil atau menjual tubuh mereka. Makanya banyak yang bilang kalau masuk ke kandang burung itu gampang banget, tapi jangan berharap keluarnya juga gampang!

Tapi, ada satu dosen yang menerima sogokan dengan lapang dada. Ini bukan sekadar gosip, karena cerita ini sudah tersebar luas dan semua mahasiswa mampu menyimpan aib si dosen dengan sangat rapih. Selain untuk melindungi nama baik dosen, tentu saja para mahasiswa melakukannya untuk mempermudah hidup. Biar cepet lulus gitu. Doi ngajar Akuntansi gitu, deh. Kalau mau dapet nilai B bayar Rp 500 ribu. Kalau nilai C cuma bayar Rp 300 ribu! Dan kayaknya doi nggak terima sogokan buat dapet nilai A. Mungkin kalau semua mahasiswa dapet nilai A, takutnya ada yang curiga, kenapa tiba-tiba pada pinter semua.

Harga segitu emang terdengar mahal di tahun 2004, tapi kalau dipikir-pikir, itu worthy banget! Bayangin ye, buat yang otaknya pas-pasan, biasanya mereka memilih buat ikutan les privat sama kakak kelas yang pinter banget! Les privat Akuntansi itu nggak murah, lho. Mungkin biayanya hampir sama dengan biaya sogok menyogok-nyogok. Udah ngeles, tapi kalau masih bodoh dan nggak lulus ujian, terus ngulang dan harus bayar uang kuliah sisipan, jatuhnya kan mahal juga dan bikin bangkrut orangtua. Ya mendingan nyogok juga kan. Udah pasti lulus!

Sayangnya, gue nggak pernah dapet kesempatan diajar sama bapak itu. Sebut aja namanya bapak Budi. Padahal, udah berkali-kali pas ujian, kelas gue selalu dijaga sama beliau. Beliau itu mudah banget dikenali. Selain dikenal sebagai wadah penerima sogokan, penampilan beliau eye catching banget dengan perut gendutnya. Gendutnya itu bukan gendut yang sehat gitu, lho. Kelihatan banget nggak sehat. Karena lebar perutnya itu mirip sama lebarnya lapangan basket dan tanpa gue pegang pun, gue udah tau kalau perutnya keras banget. Keras dan siap meledak kapan aja. Serem!

Karena nggak pernah diajar sama bapak itu, gue pun harus berusaha keras menghadapi pelajaran Akuntansi jenis apa pun. Kalian pasti bertanya-tanya, gue kan ambil konsentrasi Manajemen. Kenapa belajar Akuntansi? Karena di semester satu sampe empat, semua jurusan tetap harus belajar Akuntansi dasar dan menengah. Bangkek kan!

Selama kuliah di sana, gue masih menyimpan harapan bisa diajar sama bapak Budi. Gue menyimpan harapan sampai harapan itu kandas, karena beliau meninggal dunia. Gue lupa tepatnya di tahun berapa. Yang jelas, meninggalnya itu gara-gara penyakit komplikasi yang cukup berat. Macam jantung, kolesterol, darah tinggi dan sebagainya. Kata orang -orang, meninggalnya cukup mengenaskan macam kena pintu hidayah gitu. Gue nggak terlalu tau detailnya, sih. Tapi, kalau ngebayangin, kayaknya ngeri juga. Kalau dengar cerita itu, rasanya gue pengin jadi pejabat yang bersih, bebas dari korupsi dan suka beramal.

Banyak juga yang udah terlanjut kasih sogokan. Pas ujian, mereka kerjain ujian asal-asalan, karena nilai B atau C udah di tangan. Tapi, karena bapak itu udah inalilahi wainalilahi rojiun, otomatis kertas ujiannya dipereksa sama dosen lain. Habislah masa depan mereka. Udah pasti nggak lulus. Impian untuk mendapatkan nilai B atau C pun kandas sudah.

Mengetahui bapak Budi telah tiada, usaha yang gue lakukan makin keras biar bisa lulus, mulai dari ikut kelas tambahan, les privat dan belajar sama temen, tapi ada mata kuliah Akuntansi yang nggak bisa gue lewatin dengan baik, yaitu Akuntansi Keuangan Menengah (AKM) I. Gue sampe ngulang sebanyak tiga kali. KZL nggak lo kalau jadi gue? Pengin nyilet-nyilet tangan sampe nadi putus kan rasanya?

mariskatracy-rock

Dari kejadian itu, gue langsung mikir, andai dari awal gue tetap melanjutkan pertemanan dengan Ani dan kawan-kawan, mungkin aja gue bakal ketularan sama pinternya otak mereka. Andai aja gue nggak menerima ajakan Mastini buat duduk di belakang waktu itu, pasti gue bisa kerjain ujian Akuntansi dengan lancar. Ya, andai waktu bisa diulang gitu. Soalnya, ada yang bilang kan kalau kita bergahul sama orang-orang pinter, kita bakal ikutan pinter. Begitu juga sebaliknya. Dengan begitu, gue udah menghilangkan kesempatan buat jadi anak cum laude. Grrr…

Tapi, gue mikir lagi. Kalau gue masuk ke kelompok anak-anak pinter itu, ya sukur bisa ketularan pinter dan ikutan jadi cum laude. Kalau nggak sesuai dengan yang gue harapkan, apakah mereka mau menerima otak gue yang pas-pasan ini? Apakah mereka sabar ngajarin gue ketika gue nggak ngerti? Belum tentu juga, sih. Kadang, orang pinter itu belum tentu mau berbagi ilmu, karena mereka takut disaingi. Mereka juga nggak mau kasih contekan, soalnya mereka kebanyakan trauma. Trauma karena temen yang nyontek itu nilainya malah lebih bagus dari nilai dia.

Seiring berjalannya waktu, mata gue jadi makin dibukain kalau kelompok mereka itu nggak asyik sama sekali. Gue menilai kayak begini bukan karena mereka ambisius dan kerjaannya belajar melulu. Tapi, karena gue melihat mereka itu makin kelihatan eksklusivitasnya. Di kelompok mereka, bisa dibilang Bunga adalah cewek yang level otaknya paling rendah ketimbang mereka. Dan nggak jarang, Bunga itu dicuekin sama mereka. Kayak nggak dianggap gitu. Makin lama, Bunga pun terlihat jarang jalan bareng mereka. Dia lebih memilih buat main sama anak-anak di UKM Rohis. Gue mencoba buat memposisikan diri gue sebagai Bunga. Pastinya, gue bakal merasa tertekan kayak narapidana di LP Cipinang.

Gue jadi merasa kalau keputusan gue buat duduk bareng Mastini itu sangat tepat. Gue memilih temen yang sama menderitanya kayak gue. Temen yang juga nggak suka sama Akuntansi. Temen yang sama-sama udah kecemplung bareng-bareng di got, tapi mau bangkit bareng-bareng. Tetep berusaha buat lulus dari kampus laknat itu, meskipun susah. Selain itu, sifatnya juga asyik, gokil, nggak jaim, meskipun mukanya jutek banget (kalau baru kenal). Dan yang paling penting, dia bisa menerima keanehan gue dari segi apa pun. Ah, kalau diinget-inget lagi, so sweet banget, Kak!

mariskatracy-rock

Sebenernya, gue pengin banget jadi anak cum laude. Bisa menyandang predikat cum laude itu keren banget tau! Pas wisuda dikasih cincin emas. Rasanya pasti bangga banget bisa pamerin cincin emas yang bertengger di jari! Kalau lagi nggak ada duit, cincinnya bisa dijual.

Selain itu, anak cum laude itu biasanya banyak yang suka dan semua orang salut sama dia. Contohnya, temen gue si Hellen yang masih nggak bisa lepas dari bayang-bayang mantan pacarnya yang cum laude. Satu hal yang selalu dibangga-banggai Hellen dari mantannya itu adalah ‘Dia itu keren tau! Cum laude lagi. Masa depannya pasti terjamin’. Iyalah, gimana nggak terjamin. Semua perusahaan pasti lebih milih anak pinter buat jadi karyawannya, ketimbang yang otaknya pas-pasan dan cuma bisa makan gaji buta.

Tapi, semua impian itu kandas, karena gue nggak suka sama kuliahnya dan “salah bergaul”. Sekarang, gue nggak menganggap bahwa cum laude itu adalah segalanya. Kesuksesan orang itu nggak dilihat dari ijazahnya, cum laude atau nggak. Ibu Susi Pudjiastuti yang nggak lulus SMA aja bisa jadi menteri. Jadi, buat apa cum laude, tapi suka merendahkan orang lain dan cuma mau temenan sama temen yang pinter juga! Mendingan biasa-biasa aja, tapi kehidupan sosial bagus. Aihhh sedap!

Statement barusan terdengar bijak, ya! Ini bukan semata-mata pengin bijak, sih, tapi karena gue udah capek kuliah. Hahaha… Kuliah gue nggak bakal selesai kalau kerjaannya cuma ikut kuliah sisipan demi memperoleh IPK tinggi. Gue males banget kalau harus berlama-lama di kampus laknat itu. Dengan penuh perjuangan, kami pun bisa lulus dari kampus laknat itu. Puji Tuhan! Gue pun nggak jadi menyayat urat nadi sampe putus.

Gue tulis blog kayak begini, bukan berarti gue memendam kebencian sama anak-anak cum laude. Karena, nggak semua anak cum laude itu menyebalkan kayak begitu. Masih banyak anak cum laude yang baik hati dan menyenangkan. Beberapa di antaranya juga masih berteman baik sama gue. Jadi, kalau pengin jadi anak cum laude nggak salah, lho! Hidup cum laude!

sarjana1

sarjana2

Foto: Dok. Mariska

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy