FacebookTwitter

“Bercanda” di TPU Jeruk Purut

By on Oct 12, 2014 in Diary

Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Pernah diajak “bercanda” atau main-main oleh hantu? Jika belum, datanglah ke TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, seperti yang gue lakukan. Karena di TPU ini terkenal banget dengan hantu kepala pastur yang sempat dijadikan film tahun 2006 silam.

Lho kok, kenapa tiba-tiba gue main ke kuburan? Apakah gue pengin nyekar beberapa orang penting yang dikubur di sana? Oh, tentu tidak. Jadi, begini ceritanya…

Jumat malem, 10 Oktober 2014 kemarin, gue disuruh dateng ke liputan launching buku Jangan Dengerin Sendiri (JDS) yang diterbitkan sama Bukune. Ternyata, sebelum buku ini dibuat, JDS ini udah dibuat dalam bentuk siaran radio di 90,8 FM OZ Radio Jakarta, setiap hari Kamis, jam 23.00 – 24.00 WIB.

Program itu dibawain sama Naomi Angelia, si cewek indigo, Dito, si jomblo dua tahun yang sering diketawain kuntilanak, pernah digandeng perempuan gaib dan terjebak di tempat gelap, Cahyo, si cowok paling penakut, tapi paling jago mapping dan mahir mendokumentasikan penampakan. Dan Daya, announcer dan reporter 90.8 FM OZ Radio Jakarta yang punya modal nekat buat liputan ekspedisi malam di tempat-tempat angker. FYI, buku ini juga ditulis oleh Naomi dan tim JDS.

Dari kiri ke kanan: Dito, Naomi dan Cahyo.

Dan ini penampakan bukunya. Nampaknya seru buat kalian yang suka banget sama cerita horor dan punya jantung yang kuat!

jangan dengerin sendiri2

Awalnya, gue juga bingung sih, kenapa launching buku kali ini nggak diadain di toko buku kayak biasanya. Tapi, malah diadain di Bakoel Bir Cafe, Kampung Kemang. Gue seneng-senang aja sih, soalnya bisa makan makanan lucu dan rendah lemak di sana kayak nasi goreng dan martabak ovomaltine.

Tapi kesenangan gue itu tidak berlangsung lama. Karena, abis seneng-seneng, gue dan kawan-kawan lainnya malah diajak buat ekspedisi ke TPU Jeruk Purut yang lokasinya emang nggak jauh dari kafe itu. Tujuan dari ekspedisi tersebut adalah buat merasakan langsung kegiatan anak-anak JDS kalau lagi liputan di tempat angker.

Pas gue denger kalau kami mau dibawa ke sana, gue berasa dijebak. Ibaratnya kayak sapi yang mau dikurbanin di hari raya. Beberapa hari sebelum hari kurban, dikasih makan banyak-banyak dulu supaya gemuk, lalu dikurbanin dan tinggal menunggu ajal.

Tapi di sisi lain, gue sih penasaran sama TPU yang katanya paling serem itu. Apalagi, beberapa hari lalu, gue sempet kecewa sama film horor Annabelle yang ternyata kurang serem. Apa gunanya nonton film horor, kalau adrenalin kalian sama sekali nggak terpacu? Mungkin aja dengan ekspedisi ke kuburan, adrenalin gue jadi lebih tertantang.

Kalau kata yang lain sih, jangan sampe dateng ke sana kalau misalnya lagi dateng bulan atau punya gangguan jantung. Karena, denger-denger kuntilanak itu suka banget sama bau amis. Kalau lagi dateng bulan, biasanya lebih mudah dirasuki. Itulah mengapa gue nggak cocok jadi kuntilanak, karena gue nggak suka sama bau amis.

Karena jantung gue lumayan kuat dan lagi nggak dateng bulan, gue pun ikutan ekspedisi itu. Sebelum gue berangkat, gue pun sempet selfie di bus. Gue sengaja selfie di bus, karena gue nggak mau selfie di kuburan. Bukan karena takut. Tapi, kalau misalnya gue selfie di kuburan, muka gue bakal makin serem. Lebih serem daripada mukanya Annabelle.

jangan dengerin sendiri3

Saking nggak menguasai daerah Jakarta Selatan, gue juga baru tau kalau TPU Jeruk Purut itu letaknya nggak jauh dari Kemang. Maklumlah namanya juga anak Mangga Besar! Dan sampailah kami di TKP! Jadi nggak sabar buat nonton film horor secara langsung.

Dan gue juga baru tau di sini TPU adalah singkatan dari Taman Pemakaman Umum, bukan Tempat Pemakaman Umum.

Nah, kalau ini kuburan-kuburan yang ada di dalamnya. Pas masuk ke mari, gue sih nggak merinding atau ngerasain apa-apa tuh. Nggak tau deh sama yang lain. Oh ya, sorry banget kalau foto-fotonya kurang bersinar karena ambil fotonya cuma pake hape, terus udah malem banget.

jangan dengerin sendiri6jangan dengerin sendiri7

Sebelum melangkah lebih jauh, Babe Ook yang merupakan kuncen (juru kunci) di tempat angker itu memberi tahu kami beberapa nasihat penting. Beliau bilang, selama jalan jangan sampai melengkahi batu nissan karena itu dianggap nggak sopan, nggak boleh kencing dan buang sampah sembarangan, harus sering ngomong permisi. Kalau misalnya nggak sengaja nyenggol, lebih baik minta maaf. Jangan sampe panik atau lari, apalagi sampe ngomong jorok. Dan yang paling penting, berdoalah sesuai keyakinan masing-masing.

Ngomong-ngomong soal jorok, katanya pikiran kita juga nggak boleh jorok selama ekspedisi. Dan nggak boleh kosong, karena bisa kesambet. Untuk mencegah hal itu, lebih baik sering-seringlah melakukan aktivitas, kayak ngobrol sama temen yang ada di sana atau merokok. Biar ada kegiatan gitu. Tapi, gue nggak sampe nekat buat merokok juga, sih, karena gue kan masih di bawah umur.

Lalu, melangkahlah kami ke 3 tempat penting di sana.

 

1. Pohon Kembar dan Sumur

Kenapa dinamain pohon kembar, ya? Padahal setau gue semua pohon itu bentuknya mirip deh. Makanya, pas sampe di TKP, gue tanya sama yang lain.

“Mana pohonnya? Emang ada yang kembar?!” tanya gue dengan suara yang lumayan kenceng sampe disuruh kecilin suara sama yang lain. Mungkin takut ganggu penghuni di sana. Maklumlah namanya juga mata minus! Penglihatan suka kabur, meskipun udah pake contact lense.

Setelah gue perhatiin, eh iya, bener juga kayak kembar soalnya letaknya berdekatan banget. Udah gitu, gede dan tingginya juga sama. Gue kayak abis melihat seleb kembar Mary Kate dan Ashley Olsen.

Kalau di buku JDS, Naomi bilang kalau dia pernah melihat sesosok makhluk menyeramkan mirip genderuwo di tempat tersebut. Badannya gede banget, berbulu lebat dan matanya merah. Menurut Babe Ook, bukan cuma genderuwo yang eksis di sana. Tapi, masih ada makhluk halus yang lain, kayak hantu cewek yang meninggal karena bunuh diri sehabis disakiti cowok dan suka menggoda cowok, ada hantu anak kecil yang suka mengajak bercanda anak kecil yang lewat di sana dan kuntilanak.

“Ada juga hantu yang meninggal karena bakar diri, lho. Udah nggak ada bentuknya gitu,” timpal Babe Ook. Sontak membuat semua orang merinding, kecuali gue.

Penampakannya di mana kak?

Kayak begitulah suasana di sekitar pohon kembar. Sekali lagi maaf kalau fotonya gelap dan kurang jelas. Pas gue share foto itu di Path, banyak yang ngeri dan katanya banyak penampakan di foto itu. Terus gue bingung, penampakan dari mane?  Ya emang sih ada kayak bayangan hitam dan putih, tapi itu kan emang kebetulan aja udah malem, cuy!

Di tempat itu, selain ada pohon kembar, ada juga sebuah sumur fenomenal yang nggak kalah serem. Katanya, banyak jin dan kuntilanak di situ. Letaknya agak jauh harus nyebrang gitu, jadi gue nggak foto sumurnya.

“Ada yang mau coba tatap sumur? Babe temenin deh,” tantang Babe Ook.

Sebenarnya, gue pengin cobain, tapi lidah gue keluh buat bilang mau. Nyali gue jadi ciut. Tumben banget, kan! Tapi, ada satu agan-agan, gue lupa namanya dan dari media mana. Dia nekat buat cobain. Baru aja beberapa menit menatap sumur, dia langsung minta balik. Pas balik, kami semua melihat mukanya udah pucat banget dan kakinya lemes! Persis kayak abis terima surat pengumuman dari sekolah dan terima kabar kalau dia nggak lulus SMA.

Ternyata, ngeliat kuntilanak aja bisa bikin galau dan lemes. Coba deh bayangin gimana rasanya putus cinta. Hihihi..

 

2. Pohon Benda

Sayangnya, kami nggak diizinkan untuk memfoto pohon angker tersebut. Katanya sih, bisa membahayakan diri orang yang memfoto pohon benda, apalagi kalau fotonya pake blitz. Gue sih nggak terlalu percaya dengan mitos itu, tapi lebih baik nurut aja, sih. Pohonnya itu jauh lebih tinggi dibandingkan pohon kembar. Dahannya juga lumayan banyak. Kalau manjatin pohon itu nggak kebayang deh capeknya kayak gimana.

Katanya sih, pohon itu dinamakan pohon benda karena ada beberapa mustika di sana. Sampai sekarang, nggak pernah ada yang berhasil mengambil mustika di pohon itu. Mendengar kata mustika disebut berulang-ulang, yang muncul di pikiran gue malah merk kosmetik Mustika Ratu. Kalau gue sih, daripada ambil mustika di sana, mendingan gue beli kosmetik Mustika Ratu biar lebih menunjukkan rasa cinta terhadap produk lokal.

Pas di sana, gue sih nggak merasakan apa-apa. Sementara yang lain, udah ngerasain hal-hal aneh, bahkan beberapa di antaranya udah mutusin buat balik ke bus aja, sebelum mencoba buat mampir ke pohon benda. Cuma satu hal mistis yang gue temui. Gue mencium bau melati secara tiba-tiba. Baunya cukup menyengat. Abis itu baunya hilang begitu saja. Daya dan beberapa peserta lainnya juga mencium bau yang sama.

Tadinya, gue pikir di sana ada yang pake parfum aroma melati. Tapi, kalau dipikir-pikir, itu sih bukan wangi parfum, tapi emang wangi melati beneran. Lagian, aroma middle notes itu pasti udah menguap dari tadi siang dan hanya tersisa base notes-nya.

Di pohon benda ini, Naomi pernah lihat seorang nenek berdiri persis di depan pohon itu, tapi nenek itu cukup ramah dan nggak mengganggu. Mungkin beliau adalah neneknya Casper, si hantu baik hati. Dan menurut Babe Ook, asalkan nggak macem-macem di pohon benda ini, pasti selamat. Soalnya, udah ada beberapa korban yang meninggal dunia karena berbuat hal-hal aneh di sana. Kayaknya sih mereka terobsesi sama mustika dan iseng ambil foto di sana.

 

3. Makam Keramat

Disebut makam keramat karena di wilayah ini ada makam keramat Syeikh Waliallah Wan Salim yang akrab disapa Habieb Salim. Sebelum main ke sana, gue nggak tahu siapa itu Habieb Salim. Maklum, soalnya dulu kalau belajar Sejarah nggak pernah serius. Kalau udah kelar ujian, semua ingatan sejarah di kepala gue, gue buang semua, karena gue nggak pengin mengenang masa lalu.

Rupanya, Habieb Salim itu adalah seorang tokoh Islam yang dikagumi di Jakarta, terutama di daerah Jeruk Purut. Beliau udah meninggal ratusan tahun yang lalu. Nggak cuma beliau yang dikuburkan di sana, tapi juga keturunannya yang masih satu garis. Bayangan gue, mungkin keturunan beliau yang masih hidup kini tinggal di daerah Kemang dan menikmati hiburan malam di sana.

Makam Habieb Salim disebut makam keramat karena banyak orang datang ke sana untuk berdoa supaya permintaan mereka dikabulkan. Ada yang minta lulus ujian, ada yang minta pekerjaan dan lain-lain. Feeling gue sih, banyak juga jones yang berdoa minta dikirimkan jodoh. Sehabis tulisan ini dibaca, bisa jadi pengunjung makam keramat meningkat drastis.

Menurut Babe Ook, kalau kalian ingin melihat hantu di sekitar makam keramat itu, duduklah bertiga dekat batu nissan. Niscaya kalian akan diberikan kesempatan untuk melihat makhluk halus.

jangan dengerin sendiri10

jangan dengerin sendiri11

Kayak begitu deh wilayah makam keramat di TPU Jeruk Purut. Mereka yang lagi berdiri di sana, mencoba untuk duduk bertiga demi melihat hantu. Di sana juga ada peti mati bekas pakai. Gue juga nggak ngerti kenapa peti itu nggak dipindahin dan tetap ditaruh di sana.

***

Selama ekspedisi di sana, gue sih nggak mengalami kejadian seram atau apa pun yang membuat gue trauma. Gue cuma nyium bau melati. Dan gue juga baru sadar, selama di sana gue sama sekali nggak ucapin kata permisi atau apa pun. Hahaha.. Kurang ajar, ya! Gue cuma banyak berdoa dalam hati aja, sih.

Di sini, gue nggak cuma membeberkan apa yang gue rasakan selama ekspedisi. Kayaknya nggak seru, ya, kalau cuma gue yang berkomentar. Kalau peserta yang lain punya pengalaman berbeda yang bisa bikin kalian merinding.

 

Michan (Editor Gagas Media):

“Gue ditempelin sama hantu bakar diri dari belakang. Berasa banget, sampai-sampai gue mual dan asam lambung gue naik. Kebetulan banget, adik kecil ini (Mican sambil nunjuk anak SD yang juga ikutan ekspedisi) lihat gue pake jaket item dan ada tutup kepalanya, padahal gue pake kaos tangan pendek dan jaket merah.”

“Iya, tadi aku lihat awalnya si kakak pake jaket hitam dan ada tudungnya. Tapi, pas udah kelar ekspedisi, jaketnya langsung berubah jadi merah,” sahut si anak SD yang gue lupa namanya siapa.

“Berarti yang si adik ini lihat tadi itu kan hantu bakar diri. Bukan gue,” timpal Mican.

 

Fial (Editor Bukune):

“Nggak lagi-lagi deh main-main ke kuburan kayak begini. Perasaan jadi jomblo juga nggak kayak begini-begini banget! Pas tadi gue masuk ke kuburan, gue bingung sendiri sama apa yang gue lakukan. Gue bingung ngapain main ke kuburan. Baru sampe di gerbang aja gue udah merinding, padahal nggak lihat yang aneh-aneh. Dan gue pun berusaha sok jadi berani dengan cara sok perhatian sama peserta yang lain, padahal sebenarnya gue takut banget. Kapok banget!”

 

Bayu (Enter Media):

“Gue nggak sampe melihat secara langsung, sih. Tapi, gue hanya melihat temen-temen lain yang ditimpuk sama batu kecil, ada yang jalannya jadi cepet banget, nggak tau kenapa. Gue sih tetep berusaha santai dan jalan kayak biasa aja. Selama gue nggak ganggu, kayaknya nggak jadi masalah buat “mereka”. Kalau pun gue lihat ada bayangan atau apa pun, gue berusaha bikin mata gue jadi burem. Karena, gue emang nggak pengin sengaja cari-cari begituan.”

 

Edo (Editor Bukune):

“Pas di lokasi makam Habieb Salim itu, gue dengar ada suara tangisan. Kalau di pohon kembar, ada yang lagi duduk, terus ngelihat ke arah kita. Yang paling seram sih, yang di dekat makam Habieb Salim itu! Hiiii….”

 

Wulan (Pendengar 90,8 FM OZ Radio Jakarta):

Waktu nyampe di pohon kembar, hawanya udah panas banget. Aku sih ngeliat ada cahaya putih gitu. Pas di pohon benda, tercium bau melati yang menyengat. Kalau di makam keramat, ada suara tangisan terus-menerus.”

 

Funi (Editor Bukune):

“Pas di lokasi pertama (pohon kembar), gue hanya melihat sesosok hitam dan cahaya terang. Nggak tau itu apaan. Nah, pas dari pohon benda, kita menuju tempat terakhir (makam keramat), aku nggak berasa dikejar-kejar. Tapi, Ayumi tanya: ‘Eh, kayaknya ada yang ikutin deh, dari sebelah kanan!’.

Nah, gue bingung tuh, emangnya ada, ya? Tapi, pas gue angkat tas, berasanya ada yang pegang leher. Kata Babe Ook, kalau misalnya mau lihat hantu, jumlah orangnya harus ganjil. Tapi, aku nggak pengin lihat sih. Eh, nggak sengaja, aku malah duduk bertiga sama Ayumi dan (satu lagi lupa siapa namanya). Terus, aku lihat Ayumi ditepuk dan aku bangun. Pas aku bangun, kakiku sakit banget! Sakitnya pun berpindah-pindah. Dari kaki, bokong dan kembali ke kaki lagi. Nggak tau abis nginjek apaan.”

 

Ayumi (Penulis Bukune):

“Di tempat pertama, aku sempat menyandung anak kecil yang Naomi lihat. Makanya, dia langsung pergi dari situ. Terus, aku langsung samperin Naomi. Ada juga cewek yang duduk di atas batu nisan dan di balik tembok itu kan ada kebun. Di sana ada laki-laki duduk situ. Dia cuma lihatin kita aja sih. Di sebelah kiri kita juga ada cewek.

Kemudian, kita jalan ke pohon benda, ternyata kita diikutin sama cewek itu. Aku tadinya sempat nggak mau maju lagi karena di atas pohon itu ada si cewek itu dengan baju yang menjuntai. Di sekitar pohon benda juga ada anak kecil lari-larian. Bukan anak kecil sih, tapi lebih mirip makhluk kecil di antara semak-semak.

Di tempat terakhir gue ditimpuk sama batu kecil. Mungkin karena “mereka” udah kesal banget sama kita. Pas nggak sengaja duduk bertiga, aku juga lihat ada anak kecil lari-lari. Ada cewek yang tadi juga. Cewek itu yang paling iseng sih, karena suka nimpuk orang. Gue kaget banget ngeliat yang aneh-aneh, padahal baru pertama kali main ke tempat kayak begini! Lain kali gue nggak mau lagi, ya! Tolong ya, Mas Edo! TOLONG! NGGAK LAGI-LAGI!”

 

Komentar Kakak Naomi:

“Yang hantu bakar diri itu dari awal emang udah aku lihat. Di tengah rombongan kita, nggak tau kenapa, dia nyelip gitu dan nyamperin dia (nunjuk Michan). Dia sih nggak meluk, tapi cuma dipegang. Kalau kakak Funi yang kakinya sakit, itu karena kakinya dicubit gitu. Eh, bukan dicubit sih, tapi disenggol doang sih. Itu karena dia nggak sengaja nyenggol. Paling parah, paling besok kakinya biru-biru. Kayak lebam, tapi nggak ada sebabnya.”

***

Seperti itulah ekspedisi gue dan teman-teman baru di TPU Jeruk Purut. Seru banget! Walaupun rasa tegang yang didapet cuma sedikit. Setidaknya ada pengalaman baru yang bisa didapet. Kalau misalnya pengin ajak gue ke tempat fenomenal macam ini boleh banget, lho! Akhir kata, gue dan kawan-kawan mengucapkan see you. Bye-bye!

Foto: Mariska

 

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

Top
The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy