FacebookTwitter

Sepanjang Jalan Kenangan di Kaliurang

By on Jul 1, 2014 in Diary

Mariska Tracy Share On GoogleShare On FacebookShare On Twitter

Udah baca review bedak ketek MBK di post sebelumnya? Abis pake bedak ketek itu, gue kan langsung main ke Borobudur, Magelang. Setelah puas-puasin foto sama candi, pegang candi diem-diem tanpa sepengetahuan pengawas di sana, dan foto bareng orang-orang lokal (karena gue dikira bule Jepang), kami pun melanjutkan perjalanan ke Kaliurang.

Kaliurang adalah obyek wisata di kabupaten Sleman yang berada di lereng selatan Merapi. Kira-kira jaraknya itu 25 km dari Jogja. Kalau di Jakarta, kita akrab banget sama Puncak, nah, Kaliurang ini merupakan Puncak-nya kota Jogja. Jadi, kalau lagi di Jogja dan kangen banget sama suasana Puncak, main aja ke Kaliurang. Menurut gue ya, Kaliurang itu udaranya masih lebih sejuk ketimbang Puncak yang udah mulai panas karena makin ramai dan tercemar polusi udara.

Kalau dipikir-pikir, hebat juga ya, karena gue bisa tau berapa km jarak dari Jogja ke Kaliurang! Itu semua karena gue yang nyetir selama kami berlibur di Jogja. Hebat kan Kak Uung. Selain bisa menjahit, menyulam, masak, dan berkebun, dia juga bisa nyetir mobil. Kalau kalian percaya dengan apa yang gue bilang barusan, berarti kalian belum mengenal Uung yang sesungguhnya!

Di Kaliurang, banyak pedangang makanan yang jual sate kelinci. Meskipun di Alkitab nggak ditulis nggak boleh makan daging kelinci, tapi menurut gue haram aja kalau makan daging kelinci. Karena kelinci itu adalah binatang yang paling menggemaskan selain gajah. Bisa dibilang versi imutnya gajah. Jadi, begitu gue melihat pemandangan banyaknya kelinci yang dianiaya dan dijadikan pemuas nafsu kedagingannya manusia, gue pun jadi murka! Rasanya pengin menambah gelar gue sebagai duta, yaitu duta kelinci.

Nih, liat! Menyeramkan, kan!

Kelinci

Karena gue, Kak RG, Mastini, dan Susi sangat menyayangi kelinci, kami pun nggak berniat makan kelinci, tapi makan makanan lain yang normal aja. Pake baju boleh nggak etis, tapi kalau pilih makanan pilih yang etis aja deh!

Btw, tau nggak, apa yang bikin suasana jajanan Kaliurang mirip kayak di Puncak? Banyak lalat yang mampir ketika kami makan, bray! Buktinya, jidat aku aja dikecup sama lalat. Untung masih pake topi, jadi masih agak higienis.

topi

Sebelum duduk di sebelahnya Kak RG, gue duduk di sebelah Mastini buat sementara karena meja yang bakal gue tempati di sebelah Kak RG itu lagi kotor dan belum diberesin. Lalu, tiba-tiba ada dua orang pengamen bergitar yang mampir ke meja kami dan menyanyikan lagu lawas milik Tetty Kadi yang judulnya Sepanjang Jalan Kenangan. Karena lagunya bagus dan suara pengamennya indah, kami sih seneng-seneng aja.

Tapi, ketika si pengamen nyanyiin reff lagu tersebut, gue dan Mastini pun terbawa suasana romantis bak pasangan kekasih.

Sepanjang jalan kenangan

Kita selalu bergandeng tangan

(Kemudian kami bergandengan sambil senyum-senyum)

Sepanjang jalan kenangan

Kau peluk diriku mesra

(Kami pun berpelukan ala Teletubbies)

Hujan yang rintik-rintik

Di awal bulan itu

Menambah nikmatnya malam syahdu

(Kalau lirik yang ini sih nggak terlalu terpengaruh karena lagi nggak hujan dan masih siang pula)

Begitu pula seterusnya sampe lagu dan reff-nya diulang berkali-kali. Gerakan romantisme kami masih tetap sama. Sampai-sampai rasanya ingin sekali berteriak: ‘Woyy! Udahan nyanyinya dong! Capek banget begini terus!’

Dan kayaknya sih, kami lupa kasih para pengamen itu duit karena terbawa suasana romantis. Kasihan banget ya si kakak pengamen itu. Udah suaranya habis, nggak dapet duit pula. Udah gitu, dia cuma bisa liat orang gandengan tangan sama pelukan.

Ngomong-ngomong soal nyanyian, kayaknya semua orang juga tahu kalau yang namanya nyanyian itu adalah doa, meskipun nyanyian itu cuma didengerin. Dulu waktu Adele sedang jaya-jayanya lewat lagu Someone Like You (2011), setiap pagi sebelum kerja gue dengerin lagu itu terus lewat YouTube berulang-ulang. Sampai lagu itu meresap ke otak dan gue jadi galau beneran. Galau nggak jelas gara-gara apa, padahal gue kan cuma dengerin doang, nggak nyanyi secara langsung. Terus, gue juga nggak pernah punya mantan kayak Adele. Apa yang harus digalauin coba? Aneh banget, kan! Akhirnya, gue berhenti dengerin lagu itu dan mengganti playlist gue dengan lagu-lagu kekerasan. Dan galau gue langsung hilang seketika.

Sama kayak lagu Sepanjang Jalan Kenangan tersebut. Meskipun cuma si pengamen yang nyanyi, tapi gue dan si Mastini akhirnya terbawa terus dengan suasana di lagu itu. Buktinya, beberapa jam setelah mendengar lagu itu, kami pun bertambah mesra bak sepasang kekasih. Dan gue pun makin bingung, sebenarnya sama siapa gue pacaran? Kenapa gue malah makin mesra dengan Kak Mastini?

Ini semua berawal dari kunjungan kami ke air terjun di Kaliurang. Namanya air terjun, tapi ketika itu sama sekali nggak muncul air terjunnya. Soalnya lagi musim kemarau, jadi air tanahnya nggak naik. Bagus deh, jadi gue nggak perlu main air terjun sama mereka. Soalnya, gue kan takut sama air. Beda sama Mastini yang suka banget sama air. Kayaknya, dulu si Mastini itu lahirnya lewat kolam renang deh, makanya dia suka banget sama air.

Jadi, cuma bisa foto-foto aja di sana. Terus ye, kan si Mastini minta gue fotoin dia di depan air terjun yang jalanannya banyak batunya itu. Pas gue foto, gue cuma foto seadanya aja karena jujur gue males naik-naik ke atas. Gue males jalan di atas tanah berbatu dan lumayan tinggi pula. Gue anaknya kalau soal beginian emang cupu! Gue takut sama ketinggian, air dan tanah berbatu. Gue cuma berani sama makanan! Lo orang mau ngadu makan sama gue berapa banyak pun pasti gue ladenin.

Waktu gue foto dengan ogah-ogahan, ada bapak-bapak yang SKSD banget! Kesannya udah kenal banget sama kami selama bertahun-tahun.

“Kalau mau foto naik ke atas dong. Biar lebih bagus,” kata si bapak-bapak yang namanya tidak diketahui itu.

Gue seakan-akan terhipnotis dan naik ke atas. Pas gue naik ke atas, gue langsung nyesel ngapain gue ikutin dia ya? Aduh, kok kayak orang dodol!

“Fotonya ke sinian lagi. Di situ mah kurang bagus angle-nya,” saran si bapak-bapak itu lagi.

“Yaelah, di situ jalannya susah kali, Pak! Banyak batunya!” bilang gue.

“Masa begitu doang takut?”

Gue pun nggak pengin dianggep cupu dan gue tetep ikutin saran dia. Dan gue pun melakukannya dengan bersungut-sungut, terus foto mukanya Mastini. Begitu udah kelar foto, gue langsung kembali ke jalanan yang rata dengan susah payah karena gue masih pake dress batik. Masya Allah, bisa dibayangkan betapa anggunnya gue main ke air terjun pake dress batik? Terus,  gue juga lagi dateng bulan hari kedua saat itu. Bener-bener salah kostum!

Inilah hasil photo shoot Mastini di depan air terjun yang super kering itu. Bagus nggak fotonya?

mastini

“Sorry lho, Kak. Jadi ngerepotin. Bukan gue yang minta lo buat naik ke atas kan? Tapi dia yang minta,” ucap Mastini karena nggak enak sama gue.

“Iye-iye. Nggak ape-ape. Nanti kita sumpel aja mulutnya,” kata gue.

Baru mau gue sumpel mulutnya, eh, si bapak-bapak itu mengajukan sebuah pertanyaan yang mengubah hidup kami. Mengubah ke arah yang negatif menurut gue.

“Kalian mau ke Merapi nggak?” tanya dia. Dan saat itu hanya gue yang mendengar pertanyaan itu. Yang lain nggak denger apa-apa karena suara bapak itu cukup kecil, tapi masih kalah kecil sama suara Kak RG.

Seharusnya sih, gue pura-pura budek aja, tapi gue nggak tega. Akhirnya, gue tanya ke yang lain.

“Ditanyain tuh, mau ke Merapi nggak?” tanya gue ke yang lain.

“Gue sih mau-mau aja! Yang lain gimana?” seru Mastini antusias karena dia emang suka naik gunung.

Maklum, dia suka banget naik gunung karena sering diajakin nyokapnya naik gunung. Kalau nyokap gue, boro-boro ajakin gue naik gunung. Berenang aja nggak boleh karena takut badan jadi item! Yang ada, gue bakal diajakin ke salon terus setiap seminggu sekali supaya bisa jadi wanita sesungguhnya selama 24 jam.

“Eh, itu jauh lho,” imbuh Kak RG dengan muka cemas sambil nunjuk ke puncak gunung.

“Gue terserah yang lain. Yang lain oke, gue oke,” jawab gue. Ketika itu, gue masih menganggap main ke Merapi itu adalah hal yang cupu.

“Gue sih hayok-hayok aja,” sambung Susi.

Akhirnya, kami deal buat ikutin bapak-bapak itu ke gunung Merapi. Katanya sih, bapak itu hafal banget jalan menuju gunung Merapi, jadi kami menyimpulkan kalau beliau adalah seorang pemandu. Pemandu kepo dan sok ngatur sih menurut gue.

Baru beberapa tapak mendaki gunung, gue langsung teringat dengan peristiwa mendaki gunung beberapa tahun lalu di Mega Mendung, Puncak bareng anak gereja. Dan saat itu pula, rasanya gue pengin banget balik lagi ke bawah! Gue trauma naik gunung! Sumpah! Nggak suka! Capek, takut tinggi dan pastinya takut banget jatuh ke jurang. Amit-amit.

“Pak, ini masih jauh nggak?” tanya gue.

“Saya nggak bisa bilang ini masih jauh atau nggak. Kalau saya bilang udah deket nanti dibilang bohong,” jawabnya dengan nada kampret dan bikin muka gue makin asem kayak pantat orang dewasa.

kaliurang1

Karena si Mastini nggak enak lihat muka gue yang asem dan dia takut banget gue kesandung, dia pun langsung menggandeng tangan gue. Meskipun posisi berdiri dia adalah di depan gue. Beh, mesra banget! Sayang Kak RG nggak sempet fotoin dari belakang.

Dan itu cukup menghibur gue sih, karena gue langsung teringat dengan lagu Sepanjang Jalan Kenangan yang dilantunkan oleh si pengamen pas makan siang. Emang bener ye, kalau nyanyian itu adalah doa. Dan terkabulnya kok cepet banget, ye! Coba kalau nyanyi minta duit dan duitnya bisa langsung jatuh dari langit. Pasti hidup akan lebih indah.

Tapi, gandengan Mastini nggak bikin gue happy sama sekali karena pemandangan di sekitar gunung sama sekali nggak ada yang menarik. Banyak pohon terbakar dan rumah rusak di sana. Masih lebih enakan main di Lokasari Plaza, Mangga Besar.

kaliurang2

Makin gue bete, gandengan Mastini makin kenceng. Maklum, gue kalau jalan di jalanan rata aja nggak rapih, apalagi pas naik gunung. Udah gitu, pake rok pula! Habislah hidup gue. Gue jadi terharu karena Mastini begitu baik dan perhatian. Sementara itu, Kak RG berjaga-jaga di belakang supaya kami selamat sampai tujuan.

Karena gue dan Mastini gandengan, otomatis posisi berdiri kami jadi sebelahan dan itu bikin Kak RG jadi cemas.

“Mas, Ung, berdirinya jangan ke kanan. Agak ke kiri aja. Bahaya kalau berdiri ke kanan. Banyak bekas kecelakaan, lho, di tanahnya!” nasihat Kak RG.

“Iye-iye, Kak. Iye,” jawab gue. Gue dan Mastini betulin posisi berdiri, tapi abis itu terbawa suasana gandengan dan Mastini berdirinya agak ke kanan lagi.

“Kalau naik gunung begini, yang penting itu ada pemandunya biar aman,” celoteh si bapak pemandu tiba-tiba. Kesannya kedudukan dia tinggi banget sebagai seorang pemandu naik gunung.

“Emang ada yang nekat naik gunung sendirian, Pak?” tanya Mastini.

“Ada. Dulu ada bule Rusia yang nekat kayak begitu. Akhirnya dia hilang nggak balik-balik lagi,” kata si bapak pemandu.

“Tau dari mana kalau dia hilang, Pak? Emang ada yang cariin?” tanya gue.

“Pacarnya yang cariin.”

“Gila, kalau gue punya pacar kayak si Rusia yang suka naik gunung itu, bakal gue putusin dia, terus nggak bakal gue cari walaupun dia hilang di gunung!” ucap gue sungguh-sungguh. Mastini dan Susi pun tertawa terbahak-bahak.

Klimaks naik gunung pun terjadi waktu kami harus mendaki jalanan yang nggak bisa didaki hanya dengan menggunakan batu-batuan di sana. Tapi, harus pake tali. Ya Tuhan, kapankah derita ini berakhir? Bukan soal capeknya, ya! Capek itu biasa! Besok juga hilang, tapi gue males aja kalau harus diperhadapkan dengan ketinggian dan lain-lain yang bikin parno.

“Gue nggak bisa naik, Kak! Gue mau turun aja!” kata gue ke Mastini yang udah nangkring di atas.

“Serius, Kak? Udah tanggung, lho!” kata Mastini.

“Coba dulu. Pasti bisa. Masa begitu aja nggak bisa?” tantang si bapak pemandu sumber malapetaka.

“Yeeee, Bapak aja yang cobain naik gunung pake rok!” ujar gue emosi.

Dan gue juga lagi dateng bulan, woy! Rasanya pengin teriak kayak begitu di depan mukanya.

“Roknya kan lebar. Masih bisalah!” bilang si bapak pemandu kampret.

Kesel banget! Tau gitu, gue pake rok yang sempit sekalian biar dia suruh gue turun! Grrr… Batin gue membeludak.

Dengan terpaksa, gue naik ke atas pake tali. Hebat juga, ya, gue bisa naik ke atas pake tali dan masih pake topi. Gue bener-bener salut sama diri sendiri yang masih memerhatikan fashion ketimbang kenyamanan. Seharusnya, gue bisa dapet penghargaan dari ajang fashion show sekelas Jakarta Fashion Week (JFW).

kaliurang3

Dan Mastini pun kembali menggandeng tangan gue mesra hingga ke puncak gunung Merapi. Gue merasa pengamen tadi siang itu sudah mendoakan kami agar selamat hingga ke gunung Merapi. Begitu sampai di atas, si bapak pembina pun bercerita banyak hal. Termasuk tempat tinggal mendiang Mbah Marijan, tapi gue males dengerin karena nggak tertarik sama sekali. Gue nggak ada niat buat mengunjungi rumah beliau dan gue juga nggak tertarik mendengar sejarah soal gunung Merapi. Cuma si Mastini aja yang serius dengerin karena dia sudah menganggap bahwa gunung adalah belahan jiwanya.

kaliurang4

Diam-diam, Kak RG pun fotoin gue sama Mastini dari belakang. Gue suka banget sama foto ini. Bukan karena pemandangannya, sih, tapi karena gue kagum sama rambut merah gue. Kalau diinget-inget lagi sedih juga sih, karena merahnya udah luntur. Hiksss…

kaliurang6

Btw, rambut gue itu agak mekar-mekar dan keriting nggak jelas kayak begitu akibat perbuatan Kak RG yang bereskperimen dengan krim Gatsby-nya. Ternyata, krim rambut tersebut bisa bikin rambut jadi mengembang dan sedikit bergelombang. Menurut Kak RG sih, eksperimen dia untuk bikin rambut gue terlihat keren gagal. Tapi, menurut gue sih masih fine-fine aja. Ya, namanya juga Uung. Mau diapain aja tetep keren kan? Sehabis baca kalimat barusan, gue rasa lo orang pengin banget muntah.

Inilah pose terakhir kami. Terlihat jelas mana yang paling antusias dan mana yang pengin cepet-cepet pulang ke rumah. Saat itu gue pengin banget teriak-teriak ke penduduk di sana: ‘Pulangkan saja aku ke rumah orangtuaku! Aku muak berada di sini!’.

kaliurang5

Dengan kata lain, gue udah nggak mau lagi naik gunung atau pun terjebak sama kegiatan seperti ini. Jika lo orang bernasib sama kayak gue, gue saranin lo orang main ayunan aja di bawah. Main ayunan itu lebih menyenangkan lho, karena mengingatkan kita pada masa kecil.

Momen turun gunung adalah momen yang gue, Susi, dan Kak RG tunggu-tunggu. Berbeda dengan Mastini yang kayaknya seneng banget berada di atas. Kalau boleh memilih, mungkin aja Mastini bakal memilih buat berkeluarga dengan orang gunung dan membangun rumah di sebelah rumahnya mendiang Mbah Marijan.

Romantisnya, ketika turun gunung, gue dan Mastini tetap bergandengan tangan. So sweet banget, ya! Dan lagu Sepanjang Jalan Kenangan itu terus terputar rapi di otak gue. Gue salut sama orang yang bikin lirik lagunya! Dia bisa menghipnotis perempuan modern sejenis Uung!

kaliurang8

Karena gue anaknya konsisten, waktu turun gunung pun, muka gue tetep asem dong. Berbeda dengan Mastini dan Susi yang masih ceria. Buat menghabiskan waktu selama turun gunung, mereka pun berkaraoke lagu-lagunya Miley Cyrus. Sementara Kak RG sama kayak gue. Dia diem aja, tuh. Dia pasti nggak suka dengan kegiatan laknat seperti ini, meskipun di raut wajahnya terpancar rasa puas waktu udah bisa sampe ke puncak.

Begitu udah bener-bener sampe di bawah, si Kak RG beli minuman sama ibu-ibu. Lalu, si Kak RG curhat ke gue kalau dia baru aja diajak ngobrol sama si ibu-ibu penjual minuman.

“Ung, tadi si ibu-ibu yang jual minuman itu tanya sesuatu ke aku,” curhat Kak RG.

“Tanya apaan, Kak?” tanya gue sambil main ayunan.

“Dia tanya, abis dari mana? Kok mukanya capek banget? Terus aku jawablah abis naik gunung.”
“Terus?”

“Dia tanya lagi. Sama siapa naiknya? Sendirian? Aku bilang sama temen-temen berempat. Ada satu bapak pemandu juga. Lalu ibu itu kaget. Dia bilang kalau di sini itu nggak ada pemandu sama sekali.”

Seketika itu pula, bulu kuduk gue langsung merinding. Meskipun gue sama sekali nggak percaya sama hal mistis semacam itu.

“Ah, serius lo Kak? Jadi yang tadi nganterin itu siapa? Orang awam? Atau jangan-jangan orang Jakarta?” tanya gue cemas. Untungnya kami bisa turun gunung dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun.

“Ibu-ibu itu langsung suruh aku hati-hati. Takutnya, yang tadi nganterin kita itu bukan orang beneran. Takutnya makhluk dari mana gitu. Soalnya, di sini udah banyak yang hilang.”

Hening…

Jujur aja gue ngeri denger cerita kayak begini.

“HAHAHA… Gitu aja percaya! Bohong tau!” aku si Kak RG dengan gaya laknatnya.

“Monyong, lo! Jago banget bohongnya! Awas lo!” kata gue geram.

Udah berkali-kali gue dibohongin sama si Kak RG, tapi gue tetep aja nggak bisa belajar dari kesalahan. Si Kak RG itu kalau lagi kerjain orang, tampangnya serius banget. Dia bisa menyampaikan sesuatu dengan mimik muka datar dan tanpa ada rasa grogi sama sekali, jadi kelihatannya meyakinkan banget! Dia cocok banget jadi aktor Hollywood. Dan pasti bakal sering dapet piala Oscar. Awas kau RG! Gue sunat baru tau rasa!

Meskipun kegiatan naik gunung udah berakhir dan rasa bete gue terhadap gunung dan si bapak pemandu yang tadinya gue pikir hanya fiktif belaka itu udah hilang, tapi itu nggak mengurangi kemesraan gue sama Mastini. Malahan, keesokan harinya di pantai Depok, kami malah foto pre wedding ala-ala pecinta pantai.

kaliurang9

Foto: RG (Ronny Gunawan), Mariska, Bapak Pemandu (Sorak)

 

 

Top

Makasih udah baca sampai selesai kak!

Biar nggak ketinggalan post terbaru, like facebook page gue ya…

mariskatracy-rock

 

The official website of blogger, book author, and eating champion Mariska Tracy